PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Akting Kelas Oscar dan Dilema Kursi Raksasa
Sinar matahari siang yang menembus jendela kaca patri Paviliun utama kediaman Duke Wiraatmadja tampak menari-nari di atas permukaan meja marmer, menciptakan pantulan cahaya yang menyilaukan mata siapa pun yang memandangnya. Namun, di balik kemegahan itu, sebuah ketegangan yang ganjil masih menggantung di udara, mencekik setiap helai napas anggota keluarga yang duduk di sana.
[Sistem Peri Nana (Berbicara melalui antarmuka batin):]
{"Nona, demi martabak diskon di supermarket dimensi yang sedang saya incar, tolong jaga sikap Anda! Jangan pasang muka detektif yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan berantai atau agen intelijen yang sedang membedah konspirasi negara! Nona harus terlihat polos, sabar, lembut, dan santuy! Ingat, Nona itu sekarang adalah Putri Rosalind yang lemah lembut, rapuh bagaikan kaca porselen yang retak, dan penyakitan. Bukan mantan agen rahasia berdarah dingin yang hobi interogasi penjahat di pasar loak Beijing! Ayo, akting sedikit kenapa sih, Nona? Masukkan mode 'Putri Suci' sekarang juga sebelum mereka curiga!"}
Rosalind , yang masih duduk diam di kursinya, mendengus pelan di dalam pikirannya. Sudut matanya berkedut kecil, menahan diri agar tidak memutar bola matanya di hadapan Duke Lyon yang sedang menatapnya dengan pandangan intens.
[(Rosalind):]
["Iya, iya, Sistem Nana cerewet! Kamu itu benar-benar punya hobi mengomel yang luar biasa, ya? Padahal kalau dilihat-lihat, visualmu sebagai peri sistem itu cantik membahana seantero jagat raya, semanis madu merah dari pegunungan Himalaya, dan secemerlang bintang di langit malam terdalam... tapi kok hobinya ngomel mulu kayak ibu-ibu kosan yang galak karena aku telat bayar sewa tiga bulan? Oke, oke, demi kedamaian dunia persilatan Astasura dan demi makanan enak, aku bakal akting jadi gadis polos yang nggak tahu apa-apa. Perhatikan ini, Nana, aku akan menunjukkan padamu akting level Oscar yang bisa bikin para juri di duniaku menangis tersedu-sedu!"]
Rosalind kemudian mulai bergerak. Gerakannya begitu halus, hampir menyerupai gerakan daun yang jatuh tertiup angin. Ia sengaja mengatur pernapasannya agar terdengar sedikit tersengal-sengal, sebuah teknik pernapasan dangkal yang biasa ia gunakan saat harus menyamar sebagai sandera yang kelelahan. Bahunya yang kecil tampak sedikit gemetar, memberikan kesan bahwa hanya untuk duduk tegak di sofa itu saja, ia membutuhkan usaha fisik yang luar biasa besar.
Dengan gerakan tangan yang sengaja dibuat gemetar—begitu presisi hingga terlihat sangat dramatis—ia menjangkau satu potong macaron berwarna merah muda di piring perak. Ujung jarinya yang pucat menyentuh kue itu seolah-olah kue itu adalah harta karun yang bisa hancur jika disentuh terlalu keras. Rosalind kemudian mengangkat wajahnya perlahan, menatap Duke Lyon dengan mata bulat yang besar, jernih, dan mulai berkaca-kaca secara otomatis melalui manipulasi kelenjar air mata yang sangat terlatih.
"Terima kasih, Ayah... Ibu... Rosalind merasa... sangat bahagia hari ini," ucapnya dengan suara yang lirih, parau, dan bergetar, seolah suaranya bisa hilang ditiup angin kapan saja. Ia sengaja menjeda kalimatnya, memberikan tatapan yang begitu mendalam dan penuh kerinduan. "Selama ini... Rosalind hanya melihat makanan seindah ini di dalam mimpi... atau mungkin... di dalam sebuah kehidupan yang sangat jauh sebelum ini."
Ia memberikan senyum yang sangat tipis, sebuah senyuman melankolis yang tampak begitu indah namun menyimpan kesedihan yang mendalam. Saat itulah, setitik air mata yang bening jatuh membasahi pipinya yang mulus—sebuah tetesan yang ia "peras" secara paksa menggunakan teknik tekanan saraf di pangkal hidung.
Duchess Elena langsung menutup mulutnya dengan sapu tangan sutra. Bahunya bergetar hebat, dan isak tangis yang tertahan mulai terdengar. Air matanya benar-benar tumpah ruah melihat pemandangan menyedihkan itu. Sebagai seorang ibu, ia merasa hatinya seperti disayat oleh ribuan belati. Ia merasa menjadi wanita paling keji di seluruh kekaisaran karena telah membiarkan putrinya sendiri membusuk dalam kesepian dan kelaparan, sementara ia sendiri mandi dalam kemewahan dan gaun sutra.
[(Rosalind):]
["Hiks... lihat itu! Ibu Duchess langsung nangis bombay sampai sapu tangannya basah kuyup. Aktingku emang nggak ada obat! Kualitas akting agen Ghost Viper emang di atas rata-rata. Padahal sebenernya aku nangis itu karena menyesal... kenapa nggak dari dulu saja aku transmigrasi ke tubuh ini? Kalau tahu jadi putri bangsawan itu makanannya seenak surga begini, aku nggak bakal repot-repot kejar-kejaran sama teroris internasional di kehidupan lama sampai badanku kena ledakan bom berkali-kali. Mending jadi putri rebahan sambil makan kue kancing pelangi tiap hari! Tarik maaang! Enak banget maaang! Rasanya mau goyang dangdut tapi badan ini isinya cuma tulang!"]
Di sisi lain meja, Xander, Julian, dan Celine yang mendengar teriakan 'Tarik Mang' yang menggelegar di frekuensi batin mereka hanya bisa memegang dahi secara serempak. Mereka semua merasa pusing tujuh keliling, seolah-olah otak mereka sedang diputar di dalam mesin cuci dimensi.
Perasaan mereka benar-benar kacau. Di depan mata, mereka melihat seorang putri yang sangat lembut, rapuh, polos, dan sangat menyedihkan—pemandangan yang membangkitkan insting perlindungan paling dasar dalam diri mereka sebagai ksatria dan keluarga. Namun, di saat yang bersamaan, gendang telinga batin mereka dipenuhi suara teriakan cewek bar-bar yang ingin berjoget karena kegirangan makan macaron stroberi. Perbedaan drastis antara visual yang 'Suci' dan audio batin yang 'Gila' ini membuat mereka merasa sedang mengalami gangguan jiwa massal yang tidak bisa disembuhkan.
Masalah Kursi yang Terlalu Besar
Sambil terus mengunyah macaron dengan gerakan yang sangat sopan dan elegan (padahal batinnya sudah ingin melahap seluruh isi piring dalam satu suapan besar), Rosalind mulai merasakan ketidaknyamanan fisik yang cukup mengganggu. Kursi ruang tamu Duke ini didesain untuk orang-orang dewasa bertubuh tegap, bangsawan tinggi yang memiliki postur tubuh besar dan kuat.
Sementara Rosalind, meskipun secara usia sudah mencapai 14 tahun, memiliki perawakan yang sangat mungil—hampir menyerupai anak usia 10 tahun—akibat malnutrisi kronis selama bertahun-tahun di paviliun lama. Tubuhnya yang kurus kering seolah "tenggelam" di antara busa kursi yang empuk dan luas. Kaki Rosalind bahkan tidak menyentuh lantai; kedua kakinya yang berbalut kaus kaki renda putih hanya menggantung di udara dengan menyedihkan.
[(Rosalind):]
["Aduh, ini sebenarnya kursi atau lapangan bola sih? Gede banget, gila! Bokongku rasanya tenggelam di antara busa-busa empuk ini sampai aku hampir tidak bisa melihat permukaan meja. Mana kakiku gantung-gantung begini lagi, berasa kayak anak TK yang lagi nunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Kalau aku mau ambil teh di ujung meja sana, aku harus merangkak dulu apa gimana? Estetikaku sebagai Putri Suci yang rapuh bisa hancur berantakan kalau aku mendadak nyungsep ke lantai gara-gara kursinya kegedean. Nana! Kamu kan sistem canggih, ada nggak fitur buat bikin kursi ini menyusut otomatis? Atau minimal kasih aku ganjalan bantal kek sepuluh lapis biar aku bisa sejajar sama mereka!"]
[Sistem Peri Nana:]
{"Nona, sabar! Jangan buat gerakan mencurigakan! Gunakan teknik posisi duduk 'Merak Anggun' yang ada di database etiket bangsawan. Condongkan sedikit tubuh ke depan, sangga dengan kekuatan otot perut agar Anda tidak merosot. Itu akan membuat Nona terlihat lebih elegan, waspada, dan secara visual menutupi fakta bahwa kaki Nona sebenarnya pendek."}
[ (Rosalind):]
{"Otot perut?! Nana, kamu bercanda atau memang sirkuitmu lagi konslet? Tubuh Rosalind ini isinya cuma tulang rapuh sama kulit tipis yang transparan, nggak ada otot perutnya sama sekali! Yang ada kalau aku paksa condong ke depan tanpa otot penyangga, aku bakal jatuh freestyle ke depan, hidungku bakal menghantam meja marmer, dan bikin semua orang di sini panik panggil seluruh tabib kerajaan untuk operasi plastik dadakan. Hadeh, penderitaan jadi orang mungil di dunia raksasa ini bener-bener nyata. Tapi tenang, aku punya ide yang lebih cerdas untuk mendapatkan simpati."]
Rosalind kemudian sedikit menggeser posisinya di sofa besar itu. Ia membuat tubuhnya terlihat semakin rapuh dan kecil di tengah luasnya kursi beludru tersebut. Ia memeluk dirinya sendiri dengan gerakan yang sangat halus, menggosok-gosok lengannya seolah-olah ia sedang merasa kedinginan atau tidak nyaman, yang secara otomatis langsung memancing perhatian tajam dari Duke Lyon.
"Rosalind? Ada apa, Nak? Apakah kursinya tidak nyaman? Atau... apakah kau kedinginan?" tanya Duke Lyon dengan nada sigap yang penuh kekhawatiran, matanya memindai seluruh tubuh putrinya seolah mencari luka yang tak terlihat.
[ (Rosalind):]
["Pancingan dimakan dengan sempurna! Ayo Ayah Singa, tunjukkan kasih sayangmu yang selama ini terpendam di bawah tumpukan dokumen militer terbalik itu! Beri aku perhatian lebih banyak lagi!"]
"T-tidak Ayah... Rosalind tidak apa-apa," jawabnya dengan suara bergetar yang sengaja ia tahan, memberikan tatapan mata anak kucing yang kehujanan dan menggigil. "Hanya saja... kursi ini terasa sangat... luas. Rosalind merasa sangat kecil dan sendirian di sini..."
Seketika itu juga, Duke Lyon merasa jantungnya seperti diremas oleh tangan raksasa. Rasa bersalah yang membakar kembali menghantam dadanya. Ia segera berdiri dengan suara kursi yang berderit nyaring di lantai marmer.
"Pelayan! Bawa ke sini kursi khusus yang paling nyaman dan lebih kecil! Ambilkan bantal beludru terbaik dari kamar Duchess!" teriak Lyon dengan nada memerintah yang sangat keras, membuat para pelayan di luar ruangan langsung berlarian panik.
Lyon bahkan hampir saja melangkah maju untuk mengangkat Rosalind sendiri ke dalam pelukannya, namun ia ragu sejenak karena takut tangannya yang besar dan kasar bekas peperangan itu akan melukai kulit putrinya yang sehalus sayap kupu-kupu.
[ (Rosalind):]
["Nana, lihat itu! Kak Xander... dia memegang dahinya kuat banget sampai uratnya keluar. Apa dia lagi mikirin cicilan kuda perangnya yang belum lunas ya? Atau dia lagi pusing karena pedangnya nggak tajam-tajam setelah dipakai mengasah tadi? Sini Kak, aku kasih tahu rahasianya sebagai mantan agen... kalau mau asah pedang itu pake batu asahan berlian dari supermarket sistemku, sekali gesrek langsung bisa motong gunung Everest! Tapi sayang, aku harus tetap konsisten akting jadi adek kecil yang nggak tahu apa-apa soal senjata. Uhukk... uhukk... Aduh, dadaku sakit sekali... (palsu banget nih batuknya, tapi mereka pasti percaya)."]
"Rosalind! Kau baik-baik saja?!" seru Xander sambil berdiri dengan panik dari sofa di seberangnya. Saking terkejutnya, pedang panjang yang tadi sedang ia pegang hampir saja jatuh mengenai kakinya sendiri.
[ (Rosalind):]
*["Waduh, si Kakak Sad Boy ini gercep banget kalau soal urusan kesehatan. Santai dong Kak, aku cuma akting batuk sedikit biar dapet simpati lebih banyak dan mungkin dapet tambahan puding cokelat. Hehehe. Nana, lihat itu muka Kak Evelyn. Dia liatin aku kayak lagi liat hantu yang muncul di siang bolong. Pasti dia lagi membatin dalam hatinya: 'Kok adek gue jadi cantik banget pas lagi penyakitan gini? Apa rahasia skincare-nya?'.
Tenang Kak Evelyn, kecantikanmu nggak bakal luntur kok kalau cuma bersaing sama aku, cuma ya itu... otaknya perlu diservis sedikit di bengkel terdekat biar nggak gampang bucin sama Pangeran Sampah Cedric itu. Serius deh Kak, seleramu rendah banget, masa suka sama cowok yang kalau kulihat lewat pemindaian sistem, mukanya mirip pantat panci yang gosong kelamaan kena api?"]*
Evelyn hampir jatuh dari kursinya saat mendengar metafora 'pantat panci gosong' itu meledak di dalam kepalanya. Ia benar-benar pusing tujuh keliling menghadapi dua kepribadian adiknya yang muncul bersamaan dalam frekuensi audio batinnya. Secara fisik dan visual, Rosalind di depannya sangat manis, tenang, rapuh, dan mempesona—sebuah gambaran putri bangsawan yang sempurna. Namun secara batin dan suara batin... Rosalind adalah preman pasar yang sedang menyamar jadi biarawati dan hobi mengomentari fisik orang lain.
Perpaduan ini benar-benar sangat berbahaya bagi kesehatan jantung dan kewarasan seluruh keluarga Wiraatmadja. Duke Lyon memegangi dadanya, merasa seolah ia harus segera meminum obat penenang dosis tinggi sebelum ia pingsan karena guncangan emosional dan musikalitas dangdut dari putrinya.
"Bawa teh hangat yang dicampur madu hutan!" perintah Lyon lagi, suaranya kini terdengar sedikit putus asa. "Cepat! Putriku sedang tidak enak badan!"
Rosalind pun hanya bisa menunduk malu-malu, menyembunyikan senyum licik di balik telapak tangannya yang kurus. Rencana berjalan lancar, pikirnya puas sambil kembali membayangkan lirik lagu dangdut berikutnya untuk konser malam nanti.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...