Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kopi beraroma racun
Pagi hari.
Untuk pertama kalinya dalam 1.825 hari, Anna menikmati kebebasannya tanpa kode.
Tak perlu cadar. Tak perlu nunduk. Tak perlu sembunyi di balik semak kalau ada suara sepatu boot.
Kali ini dia berdiri tegap di halaman tengah rumah Jendral. Di atas marmer yang dulu saksi dia diinjak-injak lewat lirikan. Di bawah langit yang dulu saksi dia disumpah “mati kutu sebulan juga”.
Statusnya jelas. Sah. Nona Muda Pertama. Istri Pertama.
Gelar yang lima tahun dikubur, hari ini dia gali sendiri, dia pasang lagi di kening.
Anna menyesap secangkir teh panas di tangan. Uapnya naik, nyium bau melati. Pahit. Manis. Sama kayak rumah ini. Angin pagi ngembus, bawa bau embun, bawa bau... uang dan kekuasaan. Bau yang lima tahun lalu bikin dia mual. Sekarang? Dia hirup dalam-dalam. Biar paru-parunya apal. Biar otaknya catet: _ini aromanya kalau kau menang._
Matanya nggak ke teh. Nggak ke kebun. Nggak ke prajurit yang latihan baris.
Matanya ke satu titik.
Di ujung lapangan, bocah 4 tahun lagi "perang". Pedangnya? Ranting jambu. Lawannya? Tiga prajurit beneran, berseragam, bedil disenderin, sekarang malah pasang kuda-kuda lawan bocah.
"Serang, Prajurit Cikal!" teriak Cikal. "Demi Nona Besar!"
"Siap, Jendral Cilik!" sahut satu prajurit, pura-pura jatuh dramatis ketusuk ranting.
Tawa Cikal pecah. Renyah. Tulus. Ceria. Gema sampe ke pendopo.
Tawa yang dulu Anna sembunyiin. Tawa yang dulu cuma boleh keluar di gudang, pelan-pelan, takut kedengeran. Tawa yang dulu Cikal bagi sama kangkung dan wortel, sama tukang sayur di pasar, sambil bisik-bisik "main pedang ya, Bu?".
Sekarang tawa itu bebas. Di tempat seharusnya. Di rumah kakeknya. Di tanah ayahnya. Di antara pasukan yang harusnya lindungin dia.
Anna senyum. Tapi senyumnya nggak sampe mata. Karena otaknya, otaknya Profesor abad 21, lagi muter.
Kemunculannya \= kembang api. Cikal \= sumbu.
Cepat atau lambat, elit-elit pemerintahan, keluarga selir 1 sampai 10, kolega Widuri, semua bakal nyium bau "pewaris". Cikal bakal jadi sasaran empuk. Rebutan tahta. Politik paling kotor itu bukan di medan perang. Di ranjang. Di rahim. Di anak.
Dan Anna nggak akan biarin sejarah "kamar dibakar" keulang. Sekali lagi aja, dia bakal bakar rumah ini duluan.
"Anna."
Suara lembut. Tua. Tapi hangat. Buyarin lamunan kayak ngebangunin orang dari mimpi buruk.
Anna nengok. Chandrawati. Ibu mertuanya. Atau... ibunya. Satu-satunya.
Wanita tua itu jalan pelan, dipapah dayang. Kebaya encim-nya kebesaran. Badannya tipis, kayak kertas. Tulang pipinya nonjol. Tapi matanya... matanya hidup. Basah. Bahagia.
"Ibu masih tak menyangka hari ini akan datang," ucap Chandrawati. Tangannya yang keriput ngelus punggung Anna. Pelan. Gemeter. "Kamu kembali. Bahkan membawa kabar baik untuk keluarga kita. Cucu laki-laki. Penerus."
Anna natap Chandrawati. Bener-bener natap. Lima tahun nggak liat. Dulu ibu ini sehat, berisi, suaranya nyaring kalau marahin Chandra kecil. Sekarang? Kurus kering. Kulit pucat. Napasnya satu-satu.
Pasti disedot. Pelan-pelan. Lima tahun. Sama vampir. Vampir haus darah, haus harta, haus tahta. Namanya Widuri.
_Widuri ini memang perlu diberi pelajaran,_ batin Anna. _Bukan cuma karena kamar dibakar. Karena ini._
"Maafkan Anna, Bu," ucap Anna. Suaranya ikut lirih. "Selama ini Anna yang salah. Membuat Ibu khawatir. Membuat Ibu sakit."
"Shhh... tidak, Nak," Chandrawati geleng. Cepet. Takut Anna nyalahin diri. "Pirasat Ibu sangat kuat. Malam kebakaran itu, Ibu nggak percaya. Mayat rambut panjang? Rambutmu pendek. Ibu bilang ke Arjuna, 'Itu bukan Anna'. Tapi nggak ada yang denger. Ibu cuma bisa... nunggu. Dan benar. Itu benar. Kau pulang."
Matanya nerawang. Ke langit pagi yang cerah. Ke Cikal yang lagi "nangkap" prajurit. "Sejak kecil Ibu sudah tau kamu, Nak. Ibu dan ibumu, Kinan, berteman baik. Dari jaman gadis. Waktu Kinan meninggal pas lahirin kamu, Ibu yang gendong kamu pertama. Tangan Ibu yang nyuapin bubur. Tangan Ibu yang ngajarin jalan. Sama seperti Ibu membesarkan Chandra."
Dia tarik napas. Berat. "Pirasat hati seorang ibu tak akan salah. Ibu tau kau hidup. Ibu tau kau bakal pulang bawa anak Chandra. Ibu cuma nggak tau kapan."
Dada Anna sesek. Bukan sedih. Haru. Hangat. Di rumah neraka ini, ternyata ada satu sudut surga. Dari dulu.
"Ibu memang bukan ibu mertuaku," bisik Anna. Matanya panas. "Ibu... ibuku."
Chandrawati ketawa. Kecil. Batuk dikit. "Ya udah. Panggil Ibu aja. Jangan Nyonya Besar. Pusing."
Mereka diem sebentar. Nikmatin angin. Nikmatin Cikal teriak "Mampus kau, Penjahat!" ke prajurit yang kasian.
Terus Chandrawati nyerobot lagi. Pelan. Kayak ragu. "Tapi... Ibu heran, Nak."
Anna nengok. "Heran kenapa, Bu?"
"Dari kemarin semua orang bisik-bisik. Soal Widuri. Soal kebakaran. Soal... mayat. Apa... apa Widuri tau sesuatu?" Mata tua itu polos. Lugu. Nggak nyangka istrinya Arjuna yang satu lagi itu dalang.
Anna neken bibir. Rapat. Rahang ikut keras.
_Belum, Bu. Belum saatnya Ibu tau._
_Kalau Ibu tau Widuri yang bakar aku, yang mau bunuh Cikal di perut, Ibu bisa serangan jantung sekarang juga. Badan Ibu nggak kuat denger itu._
_Widuri nggak akan dikasih mati gampang. Dia harus rasain dulu. Dipermalukan. Dikucilin. Miskin. Baru... mati._
_Balasanku harus setimpal. 5 tahun. Dibayar 5 tahun juga._
"Anna nggak tau, Bu," jawab Anna akhirnya. Datar. Bohong demi kebaikan. "Mungkin cuma gosip. Ibu tau sendiri kan, rumah besar, gosipnya lebih besar dari genteng."
Chandrawati manggut-manggut. Percaya. Karena yang ngomong Anna. Anaknya.
Tapi belum sempat napas lega, tubuh Chandrawati ngejang.
"Uhuk... uhuk... UHUUK!"
Batuk. Keras. Kering. Badannya kebungkuk. Tangannya nyekel dada. Muka merah padam. Kayak ada yang nyek dari dalem.
"Bu!" Anna reflek. Cangkir teh jatuh. _Prang._ Pecah. Dia nangkep lengan Chandrawati. "Bu! Duduk! Duduk!"
Dayang panik. "Nyonya! Nyonya!"
Anna papah Chandrawati ke kursi marmer terdekat. Dudukin. Ngesot. Ngelap keringet dingin di jidat tua itu. "Ibu, tarik napas. Pelan. Ikut Anna. Satu... dua..."
Chandrawati nurut. Batuknya reda. Jadi napas ngos-ngosan. Lemah.
"Ibu... Ibu sakit?" tanya Anna. Padahal dia udah tau jawabannya. Dia cuma mau denger dari mulut Ibu.
Chandrawati ngangguk. Lemah banget. Kepalanya nyender ke bahu Anna. "Sudah... sudah 5 tahun, Nak. Sejak... sejak kau 'pergi'. Badan Ibu drop. Makan nggak enak. Tidur nggak nyenyak. Dokter Kodam, dokter dari Batavia, tabib dari gunung... nggak ada yang tau obatnya."
Dia ketawa. Pahit. "Mungkin... mungkin waktu Ibu sebentar lagi habis. Ibu cuma seneng... sempet liat kau. Sempet gendong cucu."
"Jangan ngomong gitu, Bu," potong Anna. Cepet. Tegas. "Jangan."
Tanpa nunggu izin, dua jari Anna udah di pergelangan tangan Chandrawati. Ngetes nadi. Jempol di bawah dagu, rasain kelenjar. Matanya merem. Fokus.
Dunia Anna senyap. Cuma ada _tuk... tuk... tuk..._ Detak nadi. Aliran darah. _Tuk... sret... tuk... sret..._
Nggak normal. Ada jeda aneh. Ada "pasir" di alirannya. Ada denyut yang kepaksa. Kayak selang air kemasukan kerikil.
Otak Profesor abad 21 langsung kerja. Diagnosa keluar otomatis: _Toksik kronis. Logam berat. Arsenik dosis kecil jangka panjang. Atau... racun akar tuba. Dicampur makanan. Setiap hari. Lima tahun._
_Deg._
Darah Anna berdesir. Dingin. Panas. Marah.
Racun. Bukan sakit. Bukan tua. Diracun.
Dan siapa yang punya akses ke dapur? Ke teh? Ke bubur? Ke obat? Siapa yang 5 tahun ini "ngurus" Chandrawati pas Anna nggak ada?
Widuri. Sama dayang-dayangnya. Sama Ratna yang bolak-balik bawa "jamu".
Anna buka mata. Pelan. Dingin. Topengnya balik. Topeng Profesor. Topeng Algojo.
Dia narik napas. Senyum. Ke Chandrawati. Senyum paling lembut sedunia. "Ibu cuma kecapean. Kurang istirahat. Nanti Anna bikinin ramuan. Buatan sendiri. Dijamin seger."
Chandrawati senyum balik. Percaya. "Iya... Ibu percaya sama kamu. Dari kecil kamu pinter..."
Di dalam kepala Anna, perang baru dimulai. Lebih gede dari Widuri. Lebih gede dari Ratna.
Rumah ini bukan rumah. Ini sarang iblis. Sarang yang isinya bukan cuma selir haus tahta. Tapi pembunuh. Pelan-pelan. Pake teh. Pake bubur. Pake "perhatian".
Menyingkirkan Ratna dan Widuri? Itu gampang. Itu cuma pion.
Yang penting sekarang: Chandrawati harus sembuh. Harus hidup. Harus jadi saksi. Harus liat Widuri jatuh.
Kebenaran soal racun? Anna kunci dulu. Rapat. Di otaknya. Di dadanya. Biar bom waktu. Biar pas meledak, yang kebakar bukan cuma Widuri. Tapi semua yang terlibat.
"Nak Cikal!" panggil Anna. Kenceng. Ceria. Nutupin badai di matanya. "Sini! Kasih Nenek minum!"
Cikal lari. Bawa gelas air putih dari meja. "Nenek minum! Biar kuat main pedang sama Cikal!"
Chandrawati ketawa. Minum. Tangannya gemeter, tapi mata hidup lagi.
Anna ngelus kepala Cikal. Ngelus tangan Chandrawati.
Dua orang yang harus dia lindungi. Di tengah sarang iblis.
Di kejauhan, dari jendela lantai dua, Ratna ngintip. Liat adegan "keluarga bahagia". Liat Chandra turun dari tangga, jalan ke arah mereka, kaku tapi matanya... hangat.
Api di dada Ratna yang tadi malem dikipas, sekarang disiram minyak.
Dan Anna? Anna ngerasain tatapan itu. Dia nengok sekilas ke jendela. Senyum. Miring. Nantang.
_Mainmu kurang panas, Ratna. Mau main racun? Oke. Profesor udah lulus S3 Toksikologi._
Pagi ini dia menang. Tapi malam nanti? Malam nanti dia mulai nyampur "ramuan" pertama.
Buat Chandrawati. Penawar.
Buat Widuri. Racun balik.
Komen ya, thor. Kalo ada rezeki traktir author kopi biar kuat begadang bikin Widuri kejang-kejang ☕❤
lnjut thor