Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Matahari pagi mulai merangkak naik, menyelinap masuk melalui celah-celah jendela yang berdebu. Sinarnya yang keemasan menerangi partikel debu yang beterbangan di udara, menciptakan garis-garis cahaya tipis yang membelah ruangan sempit itu. Suara hiruk-pikuk kehidupan di luar mulai terdengar, namun di dalam rumah kecil ini, waktu seolah berjalan lebih lambat, berat, dan penuh dengan beban yang tak terlihat.
Naura membuka matanya perlahan, disambut oleh silau cahaya pagi yang membuatnya sedikit mengernyit. Tubuhnya terasa pegal dan kaku karena tidur di atas lantai yang keras dan dingin semalaman. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan gejolak di dalam dadanya. Ia tidak mengeluh, bahkan ia merasa bersyukur. Setidaknya malam ini, ia bisa tidur di tempat yang sama dengan anaknya. Setidaknya malam ini, Genesis tidak sendirian.
Pandangannya langsung beralih ke sudut ruangan di mana Genesis tidur.
Anak itu masih terbaring dengan mata terpejam rapat. Wajahnya yang biasanya tampak dingin dan tertutup saat terjaga, kini terlihat jauh lebih tenang. Napasnya teratur, dada nya naik turun dengan pelan. Untuk sesaat, Naura bisa melihat kembali bayangan Genesis kecil yang dulu sering ia timang, yang dulu selalu memeluk pinggangnya saat takut mendengar suara guntur.
Rasa rindu itu menyerang kembali, tajam dan menyakitkan.
“Gen…” bisiknya sangat pelan, nyaris tak terdengar, hanya getaran suara di dasar tenggorokan.
Ia mengulurkan tangan kanannya perlahan, jari-jarinya melayang di udara, berniat untuk menyentuh rambut anak itu, atau sekadar membetulkan selimut yang mulai turun ke bawah. Jarak antara mereka hanya beberapa langkah, begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangatnya napas Genesis, namun dinding pemisah di antara mereka terasa setinggi langit.
Tangannya terhenti tepat di atas bahu anaknya, berhenti karena sadar bahwa ia tidak lagi memiliki hak untuk melakukan itu. Ia bukan lagi Naura, ibunya. Ia hanyalah Alexa, seorang gadis asing yang kebetulan numpang tidur di sini.
Dengan hati-hati dan berat, ia menarik tangannya kembali. Ia bangkit berdiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengganggu tidur Genesis. Kakinya melangkah pelan menuju dapur kecil yang berada di sudut ruangan, tempat di mana ia menghabiskan sebagian besar hidupnya dulu.
Saat ia berdiri di depan kompor tua itu, matanya kembali memanas.
Semua masih sama persis. Panci yang penyok di bagian bawah, wajan yang hitam karena asap, rak piring yang miring dan hampir rubuh, serta toples-toples kaca yang berdebu. Bau khas dapur tua yang bercampur aroma kayu bakar seolah menyambutnya kembali, memeluknya dengan kenangan yang begitu kuat hingga membuat dadanya sesak.
Ia membuka toples beras, melihat isinya yang tinggal sedikit. Matanya mengamati sekeliling, mencari apa saja yang bisa diolah. Ada beberapa helai sayuran yang mungkin sudah mulai layu, dan sedikit bumbu yang tersisa. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat sesuatu yang hangat.
Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh asing ini, ia merasa memiliki tujuan. Ia ingin melakukan hal yang biasa ia lakukan dulu. Ia ingin menjadi ibu bagi anaknya, walau hanya lewat sepiring nasi hangat dan kuah sayur sederhana.
Api dinyalakan. Cret… suara api memakan kayu bakar terdengar renyah di tengah keheningan pagi. Asap tipis mulai mengepul, memenuhi ruangan dengan aroma yang begitu familiar. Naura mulai memotong sayuran dengan pisau tumpul, gerakannya luwes dan terbiasa, seolah tubuh baru ini pun ikut mengingat kebiasaan lama itu.
Ia memasak dengan penuh perasaan. Setiap adukan kuah, setiap takaran garam yang ia taburkan, semuanya dilakukan dengan hati-hati. Ia ingin rasanya sama persis seperti dulu. Ia ingin Genesis merasakan rasa "rumah" itu kembali, walau hanya untuk sesaat.
Suara air yang mendidih dan desisan api perlahan membuyarkan kesunyian pagi. Aroma masakan yang sederhana namun menggugah selera mulai menyebar ke seluruh penjuru rumah.
Di atas kasur tipis, kelopak mata Genesis bergerak-gerak. Indra penciumannya menangkap sesuatu yang lama hilang. Sesuatu yang hangat, sesuatu yang membuat perutnya yang kosong terasa bergemuruh, dan sesuatu yang membuat hatinya yang beku terasa sedikit mencair.
Ia membuka matanya perlahan, belum sepenuhnya sadar.
“Hmm…” gumamnya pelan, suaranya berat dan serak karena baru bangun tidur.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang masuk. Pikirannya masih kosong, hingga aroma itu semakin kuat masuk ke hidungnya. Aroma masakan rumahan. Aroma yang selama ini hanya ada di dalam ingatan dan mimpi buruknya.
Dengan gerakan lambat, ia bangkit dan duduk. Pandangannya langsung tertuju ke arah dapur.
Di sana, di tengah ruangan yang kumuh itu, berdiri sosok gadis asing yang semalam ia izinkan masuk. Gadis yang berpakaian bagus, yang seharusnya tidak pantas berada di tempat seperti ini. Namun yang membuat Genesis terpaku bukanlah penampilannya, melainkan caranya bergerak.
Gadis itu, Alexa.
Sedang mengaduk panci dengan punggung membelakanginya. Postur tubuhnya, cara ia memegang sendok, bahkan cara ia sedikit menunduk saat mengecek rasa kuah itu… semuanya terasa begitu… tepat. Begitu familier.
Seolah-olah… bayangan itu adalah milik orang yang paling ia rindukan di dunia ini.
Genesis terdiam, tubuhnya kaku. Ia tidak berani bergerak, tidak berani bersuara. Ia takut jika ia mengeluarkan suara, momen ini akan hilang. Ia takut jika ia berkedip, sosok di depannya akan berubah menjadi asap dan menghilang.
“Sudah bangun?”
Suara itu memecah lamunannya. Alexa menoleh, menatapnya dengan senyum tipis. Senyum yang lembut, senyum yang tidak seharusnya diberikan oleh orang asing.
“Mandi sana, terus siap-siap makan. Masakan nya udah jadi,” ucap Naura, atau lebih tepatnya Alexa, dengan nada bicara yang begitu alami. Nada bicara yang penuh perhatian, nada bicara yang biasa digunakan orang tua pada anaknya.
Genesis masih diam, menatapnya lekat-lekatkan. Ada kebingungan di sana, ada rasa tidak percaya, dan ada sesuatu yang lain yang mulai tumbuh perlahan di dasar hatinya.
“Lo…” suaranya serak, ia berdeham sebentar untuk melancarkannya. “Lo masak apa?”
“Cuma sayur sop sama nasi hangat. Bahan nya emang dikit, tapi semoga cukup,” jawab Naura sambil mematikan api kompor. Ia mulai menyiapkan piring dan sendok dengan gerakan yang sangat luwes.
Genesis mengamati setiap gerakannya. Gadis ini aneh. Sangat aneh. Kalau dilihat dari baju dan kulitnya, jelas dia anak orang kaya. Dia tidak terbiasa dengan tempat kotor seperti ini, apalagi memasak di kompor yang berasap. Tapi kenapa dia terlihat begitu nyaman? Kenapa dia terlihat seperti sudah puluhan tahun tinggal di sini?
“Kenapa liatin Aku kayak gitu?” tanya Naura saat menyadari tatapan anaknya yang tak berkedip. Ia sedikit gugup, takut ada yang salah dengan penampilannya, atau takut sampai ketahuan.
“Enggak…” Genesis membuang muka, berdiri dan mengambil handuk lusuhnya.
“Cuma aneh aja. Cewek cantik kayak lo, kok bisa masak di tempat kayak gini. Dan caranya… kayak udah biasa aja.”
Naura tersenyum getir dalam hati. Biasa saja? Tentu saja biasa, karena ini adalah kehidupannya selama puluhan tahun.
“Dulu… aku sering bantu pembantu di rumah,” jawabnya berbohong pelan, mencari alasan yang paling masuk akal.
“Aku enggak manja kok.”
Genesis tidak menjawab. Ia hanya berjalan keluar rumah menuju tempat mandi di halaman belakang. Namun, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Kenapa rasanya semua hal tentang cewek ini terasa begitu dekat? Kenapa rasanya kayak… aku udah kenal dia lama banget?
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk bersila berhadapan di atas lantai yang dingin. Di antara mereka terbentang kain batik lusuh yang digunakan sebagai alas makan. Dua piring nasi dengan kuah sayur yang masih mengepul hangat terhidang di depan mereka.
Suasana hening, tapi tidak lagi sesak dan menekan seperti kemarin. Ada aroma hangat yang mengisi ruangan itu.
“Makan…” kata Naura pelan, matanya menatap penuh harap. Ia ingin melihat anaknya makan dengan lahap. Ia ingin melihatnya sehat kembali.
Genesis mengambil sendoknya. Ia menyuap sedikit nasi dan kuah sayur itu ke dalam mulutnya.
Saat rasa itu menyentuh lidahnya, tubuhnya langsung menegang.
Rasanya… persis sama.
Tidak lebih asin, tidak lebih hambar. Rasanya persis seperti masakan ibunya. Kombinasi rempah yang sederhana tapi begitu pas di lidah, rasa yang selalu membuatnya merasa aman dan nyaman.
Ia menelan ludah, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia menatap gadis di depannya lagi, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih dalam.
“Gimana? Enak?” tanya Naura cemas, melihat Genesis yang diam saja.
Genesis mengangguk pelan, suaranya tercekat di tenggorokan.
“Enak…” jawabnya singkat, tapi nadanya terdengar bergetar. “Enak banget.”
Ia mulai menyuap makanannya lagi, kali ini lebih cepat. Seolah-olah takut rasa ini akan hilang jika ia makan terlalu pelan. Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia bisa makan dengan lahap. Untuk pertama kalinya, perutnya terisi bukan hanya oleh makanan, tapi juga oleh rasa hangat yang lama hilang.
Naura melihat itu, dan air matanya hampir jatuh. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai basah, lalu ikut menyendok makanannya dengan perlahan. Rasanya pahit bercampur manis. Ia bahagia melihat Genesis bisa makan lagi, tapi ia sedih karena ia harus menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya.
“Makan yang banyak ya…” bisik Naura tanpa sadar. Kalimat itu keluar begitu saja, penuh dengan kasih sayang seorang ibu.
Genesis berhenti mengunyah sejenak. Ia menatap gadis di depannya yang kini menunduk.
“Lo…” Genesis mulai bicara, suaranya pelan tapi tegas. “Lo boleh tinggal di sini dulu.”
Naura mengangkat wajahnya, matanya membelalak kaget. “Hah?”
“Gue bilang, lo boleh tinggal di sini,” ulang Genesis, menghindari tatapan mata Naura seolah ia malu dengan perkataannya sendiri.
“Selama lo belum punya tempat tujuan. Gue… gue butuh bantuan juga sih buat urus rumah berantakan ini.”
Itu bohong besar. Rumah ini tidak butuh dibersihkan separah itu. Yang butuh bantuan adalah dirinya sendiri. Dirinya yang kesepian, dirinya yang hancur, yang entah kenapa merasa tenang hanya dengan kehadiran gadis asing ini.
Wajah Naura seketika bersinar. Mata nya berbinar penuh haru dan kelegaan yang luar biasa.
“Beneran? Kamu bolehin aku tinggal?” tanyanya tak percaya.
“Iya, tapi dengan syarat,” Genesis mendongak, menatapnya dengan wajah datarnya yang biasa, meski di pipinya terselentum semburat merah tipis.
“Jangan banyak tanya, jangan banyak bacot, dan… jangan pernah ninggalin gue seenaknya.”
Kalimat terakhir itu terdengar seperti permintaan. Permintaan yang rapuh dari seorang anak laki-laki yang takut ditinggalkan lagi.
Naura mengangguk cepat, air matanya akhirnya tumpah, tapi kali ini adalah air mata bahagia.
“Iya… aku janji. Aku enggak bakal pergi kok. Aku bakal di sini sama kamu.”
Di dalam hatinya, ia berteriak penuh syukur. Takdir memang kejam, memberinya tubuh baru dan menjauhkannya dari peran sebagai ibu. Tapi takdir juga baik, karena kini ia punya kesempatan kedua. Kesempatan untuk tetap berada di sisi anaknya, walau dengan nama dan wajah yang berbeda.
Mereka kembali melanjutkan makan pagi itu dalam diam. Namun, di antara keheningan itu, sebuah ikatan baru mulai terbentuk. Ikatan yang aneh, ikatan yang salah, tapi terasa begitu benar bagi keduanya.
Alexa tinggal sementara. Atau mungkin, untuk selamanya.