"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Retaliasi Singa yang Terluka
Hawa panas kemarahan seolah menguap dari dinding-dinding ruang kerja pribadi Deon Prawijaya di lantai puncak menara utama. Pintu ganda ruangan itu baru saja ditutup dengan dentuman keras oleh Vano, yang melangkah masuk dengan setelan kemeja yang masih menyisakan noda cipratan air hujan dari koridor barat. Wajah pria itu kaku, kehilangan seluruh senyum manis yang biasa ia gunakan sebagai senjata diplomasi.
Deon tidak sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia berdiri membelakangi meja, menatap jalinan lampu kota Jakarta yang mulai berpendar di balik kaca besar. Ponselnya yang beberapa menit lalu dimatikan sepihak oleh Baskara Dirgantara masih tergenggam erat di tangan kanannya hingga buku jarinya memutih.
"Jadi, Baskara turun langsung ke lapangan?" suara Deon mengalun rendah, sarat akan tekanan intimidasi yang pekat.
"Benar, Pak Deon," Vano menyahut sembari meletakkan draf perintah eksekusi yang kini telah basah dan tak berguna di atas meja. "Baskara menggunakan hak klausul jalan logistik tunggal untuk memblokir seluruh alat berat kita. Tim legal mereka bahkan sudah menyiapkan draf tuntutan pelanggaran batas komersial jika kita nekat maju satu jengkal pun."
Deon membalikkan tubuhnya dengan sentakan lambat namun berbahaya. Sepasang matanya menyipit tajam. "Dan Aruna? Kau biarkan anak itu dibawa olehnya?"
Vano mengepalkan tangannya di sisi tubuh, ada kilat harga diri yang terluka di balik tatapannya saat mengingat bagaimana Baskara menggendong tubuh Aruna dengan begitu protektif di depan warga desa. "Kondisi fisik Aruna drop di lapangan sebelum eksekusi dimulai. Baskara mengambil alih situasi sebelum tim medis kita sempat mendekat. Saya tidak punya celah hukum untuk menahannya karena status jalan tersebut memang milik Dirgantara Group."
Deon melempar ponselnya ke atas meja hingga memicu bunyi benturan yang nyaring. Ia berjalan mendekati Vano, memangkas jarak dengan aura otoritas konglomerat yang menuntut kepatuhan mutlak.
"Baskara tidak sedang membela petani-petani busuk itu, Vano. Dia sedang menggunakan Aruna sebagai pion untuk mendikteku," desis Deon, rahangnya mengetat sempurna. "Anak itu... Aruna selalu saja menjadi celah keamanan terbesar di dalam keluarga ini. Sejak di London hingga kembali ke Jakarta, dia tidak pernah berhenti membawa masalah."
Vano menegakkan punggungnya, mencoba mengembalikan posisinya sebagai penasihat hukum tepercaya. "Lalu apa langkah kita selanjutnya, Pak Deon? Baskara mengancam akan merilis laporan anomali audit kita ke otoritas bursa efek jika kita kembali menyentuh lahan sekunder di koridor barat."
Deon terdiam beberapa sekon, otaknya yang dipenuhi kalkulasi bisnis tingkat tinggi berputar cepat. Seringai dingin yang kejam perlahan muncul di sudut bibirnya yang berkerut.
"Jika Baskara ingin bermain catur menggunakan pionku, maka aku akan mengubah aturan permainannya," ujar Deon dingin. "Hubungi firma hukum mitra kita. Siapkan draf pengalihan hak asuh medis dan pengawasan hukum atas nama Aruna Prawijaya. Nyatakan bahwa kondisi psikologis dan fisiknya tidak stabil akibat trauma masa lalu, sehingga segala bentuk tindakan hukum yang ia lakukan atas nama Prawijaya Group atau relawan dinyatakan tidak sah di mata undang-undang."
Vano tertegun sejenak. Taktik Deon kali ini benar-benar kejam ia berniat mematikan seluruh pergerakan hukum Aruna dengan cara melabeli putrinya sendiri sebagai orang yang tidak cakap secara mental. Namun, alih-alih menolak, sudut bibir Vano perlahan ikut terangkat tipis. Ambisi kotornya untuk menguasai posisi di perusahaan kembali membakar logikanya.
"Drafnya akan selesai subuh nanti, Pak Deon," jawab Vano penuh kepatuhan yang manipulatif.
Di saat yang sama, mobil sedan mewah Baskara akhirnya berhenti di depan lobi sebuah rumah sakit swasta eksklusif milik jaringan Dirgantara Group. Hujan masih turun dengan intensitas sedang, menciptakan tirai air yang membatasi pandangan.
Baskara tidak mengizinkan petugas medis lobi untuk menyentuh Aruna. Dengan gerakan konstan yang teratur, ia kembali mengangkat tubuh ringkih Aruna yang masih terbungkus selimut wol ke dalam gendongannya. Ia melangkah lebar menembus pintu kaca otomatis, diikuti oleh Rian yang langsung berkoordinasi dengan kepala dokter spesialis.
Begitu Aruna dibaringkan di atas brankar ruang perawatan VVIP, beberapa perawat dengan cepat memasang draf selang oksigen tambahan di hidung wanita itu untuk menstabilkan pernapasannya yang masih pendek-pendek.
Baskara berdiri mematung di sudut ruangan, kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana bahan hitamnya. Sepasang netra elangnya tidak sedetik pun beralih dari wajah pias Aruna yang kini mulai mendapatkan kembali sedikit rona hangat berkat kehangatan ruangan dan bantuan oksigen. Guratan cemas di rahang Baskara perlahan mengendur, namun ulu hatinya masih menyisakan denyut rasa bersalah yang teramat pekat.
Ia teringat kembali momen beberapa jam lalu di dalam mobil, saat Aruna dengan mata berkaca-kaca menuduhnya melakukan semua ini atas dasar belas kasihan. Baskara mengepalkan tangannya di dalam saku.
Aku tidak mengasihanimu, Aruna, batin Baskara berbisik lirih, sebuah monolog yang sarat akan intensitas emosional yang tertahan. Aku hanya terlalu takut... takut jika dunia yang kejam ini kembali merenggut napasmu sebelum aku sempat menebus seluruh draf kesalahan yang kubuat di masa lalu.
Baskara tahu betul watak Aruna yang setinggi langit; gadis itu lebih memilih hancur bertarung daripada harus hidup di bawah bayang-bayang kasihan orang lain. Dan justru karena ego Aruna yang seperti itulah, Baskara harus tetap memakai topeng esnya yang angkuh. Ia harus menjadi musuh yang tangguh di luar, agar Aruna tetap memiliki alasan untuk berdiri tegak dan melawannya, sementara di balik bayang-bayang, ia diam-diam memotong setiap duri yang bisa melukai fisik rapuh gadis itu.
"Pak Baskara," Rian berbisik pelan dari ambang pintu kamar, memecah keheningan ruangan.
Baskara melangkah keluar dengan ritme kaki yang pelan agar tidak mengusik istirahat Aruna. Begitu pintu kayu kedap suara itu tertutup rapat, Rian langsung menyodorkan sebuah draf pesan singkat yang baru saja dikirim oleh informan internal mereka di Prawijaya Group.
"Deon Prawijaya bersama Vano sedang menyusun draf dokumen klausul ketidakcakapan mental untuk membatasi seluruh hak hukum Nona Aruna, Pak. Mereka ingin mengunci pergerakannya di koridor barat secara permanen," lapor Rian dengan nada suara yang merendah cemas.
Sepasang netra Baskara seketika berkilat penuh amarah yang teramat dingin, memancarkan aura intimidasi raksasa yang membuat udara di selasar rumah sakit itu mendadak mencekam. Seringai tipis yang sekeras pahatan marmer muncul di wajah tampannya. Deon Prawijaya rupanya sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya demi ambisi bisnis.
"Mereka ingin bermain kotor?" suara bariton Baskara mengalun berat, sarat akan penekanan yang mendikte. "Rian, hubungi seluruh jajaran komisaris bursa efek yang berada di bawah jaringan investasi kita. Berikan draf laporan awal anomali audit Prawijaya Group yang dikumpulkan Aruna semalam ke meja mereka sekarang juga. Jangan tunggu sampai besok pagi."
"Tapi Pak, jika itu dirilis sekarang, nilai saham Prawijaya Group akan drop dalam hitungan jam, dan itu bisa berdampak pada posisi Nona Aruna juga.."
"Justru itu tujuanku," potong Baskara tanpa ampun, tatapannya mendingin tanpa celah. "Aku akan meruntuhkan dinding istana Deon Prawijaya hingga pria tua itu tidak memiliki sisa ruang untuk menyusun draf hukum bodohnya. Biarkan saham mereka hancur. Dengan begitu, Prawijaya Group tidak punya pilihan selain menyerahkan seluruh kendali koridor barat... ke dalam tangan Aruna secara mutlak."
Baskara memutar tubuhnya, kembali menatap siluet Aruna di balik kaca pintu kamar perawatan. Laga catur korporasi ini kini telah resmi berubah menjadi perang retaliasi yang sarat akan intrik berbahaya. Baskara siap menjadi iblis yang menghancurkan kerajaan Prawijaya, demi memastikan bahwa sang mangsa yang berada di dalam kamar itu bisa keluar sebagai pemenang sejati di akhir permainan, tanpa pernah tahu bahwa sang pemburu telah mengorbankan sebagian takhtanya untuk melindunginya.