NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 ​Percikan Api di Antara Dua Dominasi

Atmosfer di sudut selasar gedung konvensi itu mendadak berubah menjadi sangat pekat, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis dalam sekejap. Pertemuan tak terduga antara Vano Brahmanta dan Baskara Dirgantara menciptakan garis tegangan tinggi yang tak kasatmata. Baskara berdiri dengan tubuh tegapnya yang dominan, rahangnya mengencang kokoh di bawah sorot lampu ruangan. Pancaran aura posesif yang teramat kuat menguar dari setiap jengkal tubuh sang mantan profesor, mengunci pergerakan Aruna seolah sedang menegaskan kepemilikan mutlak di depan pria lain.

​Vano, yang sejak awal memiliki kepekaan tajam sebagai seorang arsitek, perlahan membetulkan letak kacamata berbingkai hitamnya. Sepasang netra di balik lensa itu menyipit, menatap gestur protektif Baskara dengan dahi yang berkerut samar. Sebagai pria dewasa, Vano tentu tidak bodoh. Ia bisa membaca dengan sangat jelas kilatan permusuhan dan rasa terancam yang terpancar dari mata elang Baskara. Ada sesuatu yang tidak beres di sini, dan insting Vano langsung mengirimkan sinyal kecurigaan yang kuat.

​"Jadi... Pria dewasa didepanku ini siapanya kamu, Aruna?" tanya Vano, memecah keheningan dengan nada suara yang sengaja dibuat santai, namun matanya tetap mengunci pandangan pada Baskara.

​Baskara baru saja akan membuka bibirnya untuk mengklaim posisinya, namun Aruna lebih dulu memotong dengan suara yang teramat dingin. "Bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang kebetulan mengenal keluargaku."

​Jawaban ketus dan tanpa emosi dari Aruna bagai siraman bensin di atas api yang sedang merayap di dada Baskara. Hatinya berdenyut ngilu, namun ia sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menunjukkan kerapuhannya di depan Vano. Baskara melangkah satu jengkal lebih maju, memperkecil jarak antara dirinya dan Aruna, lalu menatap Vano dengan tatapan mengintimidasi yang biasa ia gunakan untuk membungkam lawan bisnisnya.

​"Saya memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan Aruna hari ini. Dan saya rasa, urusan lama kalian sebagai teman sekolah sudah cukup dibahas di sini," ucap Baskara dengan suara beratnya yang rendah, sarat akan perintah terselubung agar Vano segera menjauh.

​Mendengar kalimat posesif yang keluar dari mulut Baskara, Vano justru mengulas sebuah senyuman tipis yang sarat akan provokasi. Bukannya terintimidasi atau mundur ketakutan, arsitek muda itu justru tampak tertantang. Vano sepertinya mulai bisa membaca tipe pria seperti apa Baskara ini, seorang pria berkuasa yang terbiasa mendikte, namun sedang dilanda kepanikan luar biasa karena takut kehilangan kendali atas Aruna.

​Vano sengaja memiringkan kepalanya, lalu beralih menatap Aruna dengan binar jenaka yang sengaja dibuat-buat untuk memanas-manasi situasi. "Wah, Aruna... sepertinya 'penjagamu' yang satu ini sangat ketat, ya? Protektif sekali, sampai-sampai mengobrol dengan teman lama saja harus dibatasi waktu. Apa di London dulu kamu juga selalu dikurung seperti ini?"

​Kalimat sindiran Vano menembus tepat pada sasaran, memicu gemuruh amarah yang tertahan di balik dada bidang Baskara. Kepalan tangan Baskara di sisi tubuhnya kian mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

​Namun, Vano belum selesai. Ia kembali menatap Baskara dengan tatapan menilai yang terkesan meremehkan, mengabaikan sepenuhnya wibawa besar yang sedang dipamerkan sang CEO. "Lagipula, Tuan... kalau Aruna sendiri yang bilang Anda bukan siapa-siapa, rasanya tidak etis kalau Anda mengatur dengan siapa dia boleh bicara. Kecuali... Anda sedang memaksakan kehendak, bukan?"

​Ketegangan di antara kedua pria itu kini berada di titik didih. Mereka saling melempar pandangan tajam, saling mengunci dalam pertarungan ego maskulin yang siap meledak kapan saja. Udara di sekitar mereka terasa begitu panas, dipenuhi oleh percikan api permusuhan yang nyata.

​Di tengah situasi yang kian meruncing, Aruna hanya berdiri membeku. Sepasang netranya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sangat datar dan kosong. Berbeda dengan wanita pada umumnya yang mungkin akan merasa panik atau justru membela salah satu pihak, Aruna memilih untuk tetap berada di posisi netral. Ia sama sekali tidak berniat membela siapapun.

​Aruna tidak membela Baskara, karena baginya, keposesifan pria itu hari ini adalah hal paling konyol dan terlambat yang pernah ada. Ia juga tidak membela Vano, meskipun Vano adalah teman lamanya yang berniat baik untuk membantunya lepas dari jeratan Baskara. Bagi Aruna yang hatinya telah membeku, pertarungan ego di depannya ini terasa hambar dan tidak menarik. Ia tidak ingin menjadi piala bergilir yang diperebutkan oleh dua dominasi pria.

​"Sudah selesai bicaranya?" suara Aruna terdengar begitu tenang, namun kedatarannya sanggup memotong konfrontasi tak bersuara antara Baskara dan Vano seketika.

​Aruna melirik Vano sekilas, memberikan anggukan kepala yang formal. "Vano, terima kasih atas informasinya hari ini. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa lagi lain waktu."

​Setelah berpamitan pada Vano tanpa menunggu jawaban dari Baskara, Aruna langsung membalikkan tubuhnya dengan anggun. Ia melangkah lebar meninggalkan selasar konvensi, mengabaikan kedua pria yang masih terpaku di tempat mereka berdiri.

​Melihat Aruna berjalan menjauh, keposesifan Baskara kembali mengambil alih. Tanpa memedulikan Vano lagi, Baskara langsung berbalik dan melangkah cepat, mengikuti jejak kaki Aruna yang bergerak konstan membelah keramaian gedung. Ia tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun terbuka untuk pria lain masuk ke dalam hidup wanita yang sedang diperjuangkannya itu, meskipun ia tahu, langkahnya hari ini justru kian menebalkan dinding es di dalam hati Aruna.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!