NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 17

"Pustaka Asteroid?" Dio mendengus pelan, namun ada binar antusiasme yang tak bisa ia sembunyikan. "Ayahmu benar-benar tidak suka membiarkan kita menganggur, ya? Baru saja aku berpikir untuk mencoba menanam cabai di kawah Copernicus."

Aan jemarinya bergerak cepat di atas proyeksi hologram yang kini menampilkan titik koordinat di Sabuk Asteroid, tepatnya di dalam kawah Ceres. "Sinyalnya sangat spesifik, Dio. Ini adalah enkripsi mekanik murni. Hanya bisa dibuka dengan kunci fisik yang memiliki resonansi berat aspal Bumi. Itu artinya, kita butuh motor lama Aryo—atau setidaknya, suku cadang asli yang masih tersisa."

Laras teringat pada tangki bensin motor Aryo yang ia selamatkan dari puing-puing ledakan EMP. "Aku punya piston utamanya. Ayah selalu bilang itu adalah 'jantung' dari segala perjalanannya."

Sang utusan cahaya berpendar, cahayanya merayap menyentuh proyeksi Ceres. "Pustaka itu berisi catatan tentang peradaban yang gagal, dan mereka yang berhasil. Pengetahuan di sana bukan untuk memberi kalian senjata, tapi untuk memberi kalian cermin. Agar manusia tahu siapa mereka sebenarnya sebelum mencoba menjadi siapa pun di antara bintang-bintang."

Para perwakilan dari Bumi terdiam. Sang petani, yang tadinya hanya memikirkan cara mengairi sawahnya, kini menatap peta galaksi itu dengan pandangan yang berbeda. "Jika kami bisa belajar dari kegagalan orang lain... mungkin anak cucu kami tidak perlu lagi mengenal kata perang."

"Itulah tujuannya," sahut Sinta tegas. "Laras, pergilah. Bawa Dio dan Aan. Aku akan tetap di sini bersama para tamu kita. Astra Mawar butuh seseorang yang tahu cara mengelola rumah saat para petualangnya pergi."

Laras mengangguk, lalu menoleh ke arah Dio. "Siapkan kapal kargo 'Mawar Hitam'. Pasang pendorong plasma baru yang kita dapatkan dari teknisi utusan ini. Kita akan melakukan perjalanan satu arah menuju Ceres."

"Satu arah?" Dio mengangkat alis.

"Karena setelah kita membuka pustaka itu, cara kita memandang dunia tidak akan pernah sama lagi. Kita tidak akan 'kembali' ke kehidupan lama kita," jawab Laras dengan sorot mata yang mirip dengan Aryo saat menatap jalanan tak berujung.

Di dermaga, mesin kapal kargo mulai menderu dengan suara frekuensi rendah yang stabil. Laras berdiri di pintu palka, menatap ibunya yang melambai dari kejauhan. Di lehernya, chip enkripsi itu bergetar, seolah ikut bersemangat menuju koordinat baru.

"Siap, Paman Aan? Dio?" tanya Laras saat pintu palka tertutup rapat.

"Gas pol, Lar," sahut Dio sambil menarik tuas kendali.

Kapal kargo itu melesat meninggalkan gravitasi Bulan, membelah kegelapan menuju Sabuk Asteroid. Di belakang mereka, Astra Mawar tampak seperti berlian kecil yang menjaga Bumi, sementara di depan mereka, rahasia alam semesta yang telah lama terkunci menunggu untuk dibuka oleh tangan-tangan yang masih berlumuran debu jalanan.

Kapal kargo "Mawar Hitam" membelah kesunyian ruang hampa dengan keanggunan yang tak terduga. Di dalamnya, denting logam dan desis sistem pendukung kehidupan menciptakan ritme yang menenangkan. Laras duduk di kursi pilot, jemarinya mengusap piston tua milik Aryo yang kini terpasang di tengah konsol utama sebagai kunci mekanik.

"Masuk ke wilayah Sabuk Asteroid dalam tiga... dua... satu," suara Aan terdengar melalui sistem komunikasi internal.

Di depan mereka, ribuan bongkahan batu raksasa melayang dalam tarian gravitasi yang mematikan. Namun, bukannya menabrak, kapal mereka seolah ditarik oleh jalur magnetik tak terlihat yang dipancarkan oleh piston tersebut.

"Lar, lihat radar!" Dio menunjuk ke arah gumpalan batuan di depan mereka. "Asteroid-asteroid itu... mereka tidak bergerak acak. Mereka membentuk pola. Seperti barisan penjaga."

Memang benar. Saat mereka mendekati Ceres, asteroid di sekitarnya mulai berpendar dengan warna amber, menciptakan lorong cahaya yang menuntun mereka menuju kawah terdalam. Di dasar kawah itu, sebuah pintu gerbang masif berbentuk gir mesin raksasa mulai berputar perlahan.

"Itu dia," bisik Laras. "Pustaka milik Ayah."

Kapal mendarat dengan getaran halus. Begitu pintu palka terbuka, mereka tidak disambut oleh debu, melainkan oleh keheningan yang terasa suci. Ruangan di dalam Ceres itu luasnya tak terukur, dipenuhi oleh jutaan kristal memori yang tersusun seperti rak-rak buku di perpustakaan tua, namun masing-masing menyimpan proyeksi sejarah peradaban.

Laras berjalan ke tengah ruangan, di mana sebuah meja mekanik kosong menunggu. Ia meletakkan piston Aryo di atasnya. Seketika, seluruh ruangan menyala. Proyeksi hologram muncul di sekeliling mereka—bukan tentang perang, melainkan tentang kegagalan-kegagalan kecil: sebuah planet yang hancur karena keserakahan air, sebuah ras yang punah karena lupa cara berkomunikasi secara fisik, dan sebuah peradaban yang runtuh karena terlalu memuja mesin.

"Ini bukan pustaka teknologi," Aan menyentuh salah satu kristal dengan takjub. "Ini adalah pustaka nurani. Ayahmu ingin kita melihat apa yang terjadi jika kekuatan Arca digunakan tanpa empati."

Tiba-tiba, sebuah proyeksi yang sangat akrab muncul di depan mereka. Itu adalah sosok Aryo, namun dalam versi digital yang jauh lebih muda, mengenakan jaket kulit yang sama dengan yang dipakai Dio sekarang.

"Jika kalian sampai di sini, artinya kalian sudah belajar bahwa mesin bisa diperbaiki, tapi jiwa yang rusak butuh lebih dari sekadar kunci inggris," suara Aryo digital itu bergema, hangat dan penuh kerinduan. "Laras, teknologi Arca hanyalah alat musik. Kaulah yang harus menentukan lagunya. Pustaka ini adalah catatan tentang nada-nada yang salah di masa lalu. Pelajari, agar mawar kita tidak layu di tangan yang salah."

Dio mengusap matanya yang mulai basah. "Bahkan di sini pun, dia masih sempat menceramahi kita."

Laras tersenyum tipis, tangannya gemetar saat menyentuh proyeksi wajah ayahnya. "Dia tidak menceramahi kita, Dio. Dia sedang memberikan peta terakhir."

Laras menoleh ke arah Aan dan Dio dengan tekad yang baru. "Kita tidak akan membawa semua ini kembali ke Bumi dalam satu malam. Kita akan menjadikannya kurikulum. Astra Mawar di Bulan akan menjadi sekolahnya, dan Pustaka Ceres ini adalah sumbernya. Kita akan membangun peradaban yang tidak hanya pintar, tapi juga bijaksana."

Di luar Ceres, bintang-bintang seolah bersinar lebih tenang. Misi mereka kini telah berubah. Mereka bukan lagi sekadar pelarian dari Bumi, melainkan para pemegang kunci sejarah galaksi.

"Ayo kita mulai mendata," ujar Laras sambil meraih kristal memori pertama. "Kita punya banyak waktu, dan alam semesta siap menunggu kita."

Laras menarik napas panjang, jarinya menyentuh salah satu kristal memori yang berpendar dengan warna biru laut. Seketika, proyeksi di depan mereka berubah. Bukannya menampilkan mesin raksasa, kristal itu menunjukkan jutaan jalur cahaya yang saling terhubung—seperti akar pohon, namun melintasi angkasa.

"Ini bukan peta bintang biasa, Paman Aan," bisik Laras. "Ini adalah peta 'Arus Frekuensi'. Ayah ingin kita melihat bahwa Bumi bukan sebuah pulau terpencil. Kita adalah bagian dari sistem saraf yang lebih besar. Setiap kali kita merusak lingkungan di Bumi, getarannya dirasakan sampai ke sini."

Aan mendekat, sensor mekanik di matanya melakukan pemindaian cepat. "Laras, lihat koordinat di sektor Bumi. Ada jalur yang terputus. Jalur itu mengarah tepat ke Lembah Mawar. Sepertinya, selama puluhan tahun, Arca di bawah desa kita bekerja sebagai 'sekring' yang mencegah kerusakan frekuensi Bumi meluap ke galaksi. Ayahmu menghabiskan hidupnya menjaga agar sekring itu tidak meledak."

Dio, yang sedang memeriksa barisan kristal di sisi lain, tiba-tiba memanggil mereka. "Lar! Paman! Sini, lihat ini. Ada bagian khusus tentang 'Mawar Hitam'. Tapi ini bukan tentang geng motor kita."

Laras dan Aan bergegas menghampiri Dio. Di sana, sebuah proyeksi memperlihatkan sejarah sebuah kelompok kuno yang disebut The Black Rose Keepers. Mereka adalah para mekanik lintas dimensi yang bertugas memperbaiki "kebocoran" energi di planet-planet yang baru berkembang.

"Jadi, Mawar Hitam bukan sekadar nama yang dipilih Ayah karena keren?" Dio tertawa getir, namun matanya penuh kekaguman. "Kita mewarisi nama organisasi penjaga galaksi tanpa kita sadari. Pantas saja Ayah begitu keras melatih kita soal disiplin dan kehormatan jalanan."

Laras tertegun. Ia menyadari bahwa setiap perang jalanan, setiap malam yang dihabiskan untuk memperbaiki mesin di bengkel kumuh, adalah pelatihan untuk tanggung jawab yang jauh lebih besar.

"Pustaka ini menunjukkan bahwa Bumi sedang berada di titik kritis," ujar Laras sambil menunjuk pada proyeksi Bumi yang mulai memerah di beberapa bagian. "Krisis energi yang dialami manusia bukan karena kekurangan sumber daya, tapi karena mereka memutus hubungan dengan frekuensi Arca. Mereka mencoba mengambil paksa apa yang seharusnya mengalir secara alami."

Tiba-tiba, suara statis terdengar dari perangkat komunikasi di kapal "Mawar Hitam". Itu adalah sinyal dari Sinta di Astra Mawar.

"Laras! Apa kalian bisa mendengarku? Ada pergerakan aneh di Bumi. Sisa-sisa Konsorsium... mereka tidak lagi mencoba menyerang kita. Mereka sedang melakukan penggalian besar-besaran di kutub utara. Sensor Arca di sini mendeteksi getaran yang mirip dengan frekuensi parasit Surya, tapi skalanya ribuan kali lebih besar!"

Laras menoleh ke arah kristal memori di depannya. Sebuah peringatan muncul dalam bahasa cahaya: PROTOKOL PENYELAMATAN INTI DIAKTIFKAN.

"Mereka mencoba mencari 'Jantung Arca' yang lain di kutub," Aan menganalisis dengan cepat. "Jika mereka membukanya dengan paksa menggunakan cara Surya, mereka tidak akan mendapatkan energi. Mereka akan memicu arus balik yang bisa membelah atmosfer Bumi."

Laras mengambil piston Aryo dari meja pusat, lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong jaketnya. "Pustaka ini sudah memberi kita cukup pengetahuan. Kita tahu cara menghentikan mereka sekarang. Bukan dengan senjata, tapi dengan menyelaraskan kembali frekuensi yang mereka rusak."

"Dio, panaskan mesin plasma," perintah Laras, suaranya kini penuh dengan otoritas seorang pemimpin ksatria. "Kita tidak akan pulang ke Bulan. Kita akan langsung menuju kutub utara Bumi. Kita akan menunjukkan pada mereka bagaimana cara seorang mekanik Mawar Hitam bekerja."

"Siap, Bos!" Dio berlari menuju palka kapal dengan semangat yang kembali membara.

Saat kapal "Mawar Hitam" melesat meninggalkan Ceres, Pustaka Asteroid itu perlahan meredup, kembali menjadi batuan sunyi di tengah sabuk asteroid. Namun di dalam kapal itu, tiga orang manusia kini membawa beban sejarah galaksi di pundak mereka, siap menyelamatkan dunia yang pernah membuang mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!