Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Pukulan Balik Luka Batin
Sejak konfrontasi di kafe dengan Clara, aku meningkatkan pertahananku, tetapi mengorbankan diri sendiri. Siang hari di rumah sakit aku harus tampil sempurna, berhadapan dengan pasien dan mengabaikan ketegangan dari telepon Arvino yang mencoba mengganggu. Malam hari, aku harus kembali ke rumah, menjalankan peran sebagai ibu dan istri yang diasingkan, tidur dengan lampu kamar dimatikan (sesuai kemauan Arvino), dan menahan rasa takut (nyctophobia) sendirian.
Dinding pertahananku yang tinggi mulai retak, dan luka batin itu menemukan jalannya keluar melalui tubuhku.
Aku mulai sering mengalami sakit kepala hebat yang tak tertahankan. Ini bukan migrain biasa; ini adalah sakit kepala tegang yang dipicu oleh stres kronis dan kurang tidur berkualitas.
Sore itu, aku baru pulang dari rumah sakit. Aku segera mengganti pakaian dan langsung ke kamar Lili. Saat aku membungkuk untuk mengambil Lili dari boksnya, pandanganku tiba-tiba berkunang-kunang.
"Nyonya Aluna, Anda tidak apa-apa?" tanya Sus Rini khawatir.
"Ya. Aku hanya sedikit pusing," jawabku, memaksakan diri tersenyum.
Aku segera menggendong Lili dan duduk di sofa. Tapi begitu lampu kamar Lili dinyalakan, sakit di kepalaku terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Aku menyandarkan kepala ke sandaran sofa, memejamkan mata erat-erat sambil memeluk Lili.
Lili, yang merasakan ketidaknyamanan, mulai merengek.
"Sus, tolong ambilkan aku parasetamol," pintaku, suaraku terdengar seperti desahan.
"Baik, Nyonya." Sus Rini segera beranjak.
Saat itulah Arvino masuk. Dia baru pulang, masih mengenakan jas kerjanya, raut wajahnya terlihat lelah dan sinis.
"Drama apa lagi ini?" tanyanya saat melihatku memejamkan mata di sofa dengan Lili di pelukan. "Kau ingin Lili sakit juga karena aura negatifmu?"
Aku mencoba menegakkan tubuh. "Aku hanya butuh istirahat sebentar, Kak. Aku sedang pusing."
"Pusing? Alasan klasik. Kau mencari perhatian," Arvino berjalan mendekat, mencoba merebut Lili. "Berikan dia padaku."
Aku menggeleng, tanpa membuka mata. Aku tidak sanggup berdebat, dan aku takut jika aku membuka mata, sakit di kepalaku akan membuatku pingsan. "Jangan, Kak. Aku akan baik-baik saja."
"Aku bilang berikan!" Arvino menarik Lili dari pelukanku dengan kasar.
Gerakan tiba-tiba itu membuat kepalaku seolah meledak. Aku tidak lagi bisa menahan diri. Aku mencengkeram kepalaku dengan kedua tangan dan berteriak kecil. Bukan teriakan kemarahan, tapi teriakan kesakitan yang murni.
Aku melengkungkan punggung, kehilangan kendali ototku, dan jatuh dari sofa ke karpet di bawah, masih mencengkeram kepalaku erat-erat. Aku tidak pingsan, tapi aku tidak bisa bergerak. Aku tahu ini adalah episode migrain terburuk yang pernah kualami.
Arvino, yang sudah berhasil mengambil Lili, terkejut melihat reaksinya. Dia berhenti sejenak, melihatku yang menggeliat di lantai.
"Aluna?" panggilnya, nadanya berubah sedikit panik, tapi tetap penuh kecurigaan. "Jangan berakting."
Aku tidak bisa menjawab. Air mataku mengalir deras bukan karena kesedihan, tapi karena rasa sakit. Aku terus menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
Sus Rini masuk membawa segelas air dan obat. Dia menjatuhkan gelas itu ke lantai saat melihatku tergeletak.
"Ya Tuhan! Panggil Tuan Wijaya!" Sus Rini panik.
"Tidak perlu!" bentak Arvino. Dia menyerahkan Lili pada Sus Rini. "Bawa dia keluar!"
Arvino berlutut di sampingku. Dia menyentuh dahiku. Tangannya langsung menarik diri.
"Kau terbakar," bisiknya. Bukan karena demam, tapi karena tekanan darah tinggi dan sakit kepala yang ekstrem.
Aku menggenggam pergelangan tangannya. Dalam kegelapan mataku karena rasa sakit, aku mencoba bicara. "Gelap... Kak... tolong... jangan gelap..."
Permintaan itu, ditambah dengan wajahku yang pucat dan tubuhku yang gemetar bukan karena kemarahan, akhirnya menembus dinding pertahanan Arvino. Dia tahu ini bukan akting. Ini adalah trauma. Trauma yang sering kuceritakan padanya saat aku kecil dulu: Nyctophobia.
Arvino, sebagai seorang dokter (meski di ranah manajemen), tahu betul bahwa sakit kepala sekuat ini, ditambah ketakutan yang mendalam, adalah indikasi dari trauma psikologis serius. Trauma yang dia sebabkan.
Dia mengangkat tubuhku dengan hati-hati. Aku terlalu lemah untuk melawan. Dia membawaku ke kamar utama.
Dia tidak meletakkanku di ranjang. Dia meletakkanku di lantai, tempat yang sudah kukenal. Tapi kemudian, ia kembali. Kali ini, ia membawa botol air hangat dan minyak angin.
Dia duduk di sampingku, lalu, dengan gerakan kaku dan enggan, dia mulai memijat pelipisku.
Sentuhan itu, meskipun dingin dan tanpa cinta, membawa sedikit kelegaan dari rasa sakit yang tak tertahankan.
"Parasetamol tidak akan mempan," bisiknya. "Kau butuh obat penenang, Aluna. Kau mengalami krisis kecemasan."
Aku tahu dia benar.
"Aku akan memberimu obat penenang, tapi kau harus makan dulu," katanya, suaranya kembali datar dan profesional, seolah sedang menangani pasien di IGD.
Arvino pergi ke dapur, kembali membawa bubur hangat dan obat. Dia duduk di pinggir ranjang, mengawasiku yang berusaha menyuap bubur. Dia tidak mengatakan kata-kata lembut. Dia tidak menunjukkan simpati. Hanya tatapan yang tak bisa kuartikan.
Setelah aku menelan obat dan bubur itu, aku merasakan mataku mulai berat. Aku tahu obat penenang itu mulai bekerja.
"Kenapa Kakak tidak membawaku ke rumah sakit?" bisikku sebelum tertidur.
Arvino menatapku lama. Wajahnya yang tegang menunjukkan konflik batin.
"Papa akan tahu," jawabnya singkat. "Dan dia akan mengambil Lili dariku."
Aku tertidur. Tapi sebelum benar-benar terlelap, aku merasakan sentuhan di dahiku. Bukan sentuhan yang menenangkan, melainkan sentuhan medis—Arvino mengecek suhu tubuhku.
Dan saat itu, Arvino berdiri, menatapku dengan ekspresi yang sangat rumit.
Inner Monologue Arvino:
Kau bukan aktris, Aluna. Itu bukan akting. Tapi, kenapa? Kenapa kau harus selemah ini? Kenapa kau harus membuatku merasa bersalah? Kau yang membunuh Sarah. Kau seharusnya yang menderita. Jangan membuatku goyah.
Arvino menarik bantal dan selimutnya, tapi kali ini, dia tidak pergi ke kamar tamu. Dia berbaring di sofa kamar utama, tidak jauh dari tempatku terbaring di ranjang.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arvino membiarkan dirinya menjadi saksi dari kebenaran yang menyakitkan: wanita yang dia benci, menderita di bawah tekanan yang dia ciptakan. Dan untuk pertama kalinya, kebenciannya berhadapan langsung dengan rasa bersalah.
...****************...
Bersambung...
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️