NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Tentang Payung, Hujan, dan Perasaan yang Belum Selesai

Kadang kau tak perlu berdiri di samping seseorang untuk menjaganya. Cukup diam-diam, dari jauh, sambil memastikan ia tetap pulang dengan selamat.

...Happy Reading! ...

...*****...

Berbeda dari Cayra yang tampak termenung di rumah seberang, Saka justru sedang menikmati makanan hangat buatan Mama Cayra.

Dulu, dia memang mengenal wanita itu dengan cukup baik. Saka tahu kalau di balik gaya bicara yang terdengar galak, Mama Cayra adalah sosok yang sangat perhatian. Dulu waktu SMA, beliau sering memberinya dukungan, bahkan saat kalah lomba sekalipun.

Kalau keluarganya sendiri mungkin akan sibuk menyalahkan, Mama Cayra justru datang membawa pelukan dan semangat. Padahal beliau bukan wali kelasnya. Tapi karena menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang Humas, beliau sering ikut campur dalam urusan siswa-termasuk saat dirinya butuh dukungan yang tidak bisa diberikan siapa pun.

Saka masih ingat bagaimana sikap Miss Widya selalu tulus. Tidak seperti guru-guru lain yang berlomba bersikap manis saat tahu dia anak pemilik yayasan sekolah. Ada yang mendadak sok hormat, ada pula yang berlebihan dalam memuji.

Untungnya, hanya beberapa orang yang tahu status dirinya. Para siswa tidak pernah tahu, dan itu memang keinginannya. Saka tidak suka menjadi pusat perhatian.

Miss Widya tahu siapa dirinya, tapi tetap bersikap sama-sejak sebelum tahu hingga sudah tahu. Tidak berubah. Tidak basa-basi. Tidak menjilat. Dan justru karena itu, dia terlihat paling tulus.

Saka tidak hanya menyukai sikap beliau, tapi juga masakannya.

Dulu, saat Cayra masih rajin membawa bekal ke sekolah, kadang Cayra menawarkan beberapa potong lauk untuknya. Alasannya waktu itu karena kebanyakan. Padahal, Saka yakin itu cuma alasan manis khas remaja.

Kenangan itu muncul kembali saat suapan terakhir berhenti di mulutnya. Saka mendadak terdiam. Kenangan-kenangan kecil itu menyerbu seperti ombak-apalagi setelah mengingat soal stiker kutu buku yang katanya sudah dilupakan Cayra. Tapi Saka tahu, perempuan itu belum benar-benar lupa.

Selesai makan, dia beranjak ke ruang tengah. Rumah itu sunyi. Heningnya sampai terasa asing, meskipun dirinya sudah bersahabat lama dengan sepi sejak kuliah di luar negeri.

Matanya tanpa sengaja tertumbuk pada paper bag yang tadi diberikan Cayra. Tas belanja cokelat itu tergeletak di meja. Saka meletakkannya di sana karena terlalu tergoda mencicipi makanan lebih dulu.

Perlahan, dia membuka paper bag itu. Di dalamnya ada payung, masker, dan jas hujan-persis seperti apa yang dia berikan kepada Cayra. Bedanya hanya di masker. Cayra tampaknya membeli yang baru. Modelnya masih sama, hanya saja tidak ada stiker kutu buku di bagian plastiknya.

Satu per satu, Saka mengeluarkan barang-barang itu. Dan satu per satu pula, ingatannya kembali ke momen-momen saat semua itu bermula.

...*****...

Payung.

Sore itu, dia baru saja selesai meeting di sebuah kafe bersama Gilang. Begitu hendak pulang, dia mendengar keributan di dalam kafe. Awalnya dia tidak memperhatikan. Tapi kemudian dia melihat wajah yang sangat familiar-Cayra. Bersama seorang pria yang memiliki badan tegap.

Saka ingin pergi, tapi langkahnya berhenti.

Datang seorang perempuan lain yang menghampiri keduanya. Drama semakin menarik, dan Saka secara refleks memberi kode ke Gilang.

"Saya mau ke toilet dulu. Kamu bisa langsung tunggu di mobil aja."

Gilang mengangguk pelan, lalu keluar dari kafe. Tapi Saka tidak ke toilet. Dia tetap duduk. Matanya memperhatikan dari kejauhan, layaknya paparazzi yang sedang mengintai idolanya.

Percakapan mereka cukup jelas terdengar karena jarak yang tidak terlalu jauh. Saka menyimak semuanya-mulai dari Cayra yang memutuskan pertunangan, sampai fakta bahwa perempuan yang baru datang itu ternyata adalah tunangan dari tunangan Cayra. Iya, serumit itu.

Ada perasaan aneh di dadanya. Campuran antara iba dan nyeri. Entah karena ikut merasakan sakitnya Cayra, atau karena hatinya yang belum selesai.

Saka keluar dari kafe. Hujan mulai turun. Dia melihat Cayra berjalan sendirian dengan langkah pelan seperti orang yang kehilangan arah.

Saat itu, Saka berkata pada dirinya sendiri bahwa ia seharusnya tidak peduli. Tapi nyatanya, dia tidak bisa pura-pura tidak melihat.

Dia masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Gilang. Duduk diam, tanpa kata. Hujan mulai membasahi kaca mobil, membuat Saka tiba-tiba merasa gelisah.

"Pelan aja, Lang. Jalannya licin," katanya.

Gilang hanya mengangguk. Tidak banyak bicara. Tapi Saka justru menatap trotoar sepanjang jalan. Dia mencari. Atau lebih tepatnya-menunggu.

Dan dia menemukannya. Cayra sedang berteduh di halte, bersama beberapa orang.

"Berhenti di situ," ucap Saka pelan.

Tanpa menjelaskan apa-apa, dia membuka dashboard mobil, mengambil payung yang selalu dia bawa. Lalu turun. Tanpa payung. Tanpa jas hujan. Langsung diterpa hujan deras.

Dia berjalan mendekati halte. Tidak sampai benar-benar dekat. Dia hanya meminta bantuan seorang wanita yang juga berteduh di sana.

"Permisi, bisa tolong berikan payung ini untuk perempuan yang berdiri itu?"

"Tapi tolong jangan berikan secara langsung. Kau bisa menaruhnya di samping perempuan itu saat dia duduk nanti."

Wanita itu menatapnya, agak bingung. Tapi kemudian mengangguk dan menerima payung dari tangan Saka. Saka menunduk sebagai ucapan terima kasih, lalu cepat-cepat kembali ke mobil.

Basah kuyup.

Gilang menatapnya seperti melihat makhluk asing.

"Habis ngapain, Bos?"

Saka tidak menjawab. Hanya menghembuskan napas dan berkata pelan, "Memberi payung ke teman."

Gilang mengangguk, walau di dalam hatinya penuh dengan tanda tanya.

Mobil perlahan melaju. Saat melintasi halte, Saka melirik lewat kaca mobil.

Di sana, Cayra sudah duduk. Payung itu ada di sampingnya.

Hatinya menghangat. Ia berdoa dalam hati, semoga perempuan itu tahu bahwa payung itu untuknya. Dan semoga dia pulang dengan selamat meskipun dalam diam, Saka masih ingin jadi tempat teduhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!