Kisah ini menceritakan seorang anak kecil yang harus menjadi korban ke egois san orang tua... dia bernama Vera Arsiana... bayi berumur 8 bulan, dia terpaksa harus di bawa oleh sang kakek untuk menjauhi Keluarga baru dari Mamah dan papahnya
Ada yang penasaran ngga dengan cerita ini yuk kita mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intanpsarmy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Vera membawa kedua adiknya untuk membeli makanan dan dia pun mengajak Sabrina dan Mahesa ke tempat hiburan agar kedua adiknya merasa lebih baik
"Ayo... kita bermain, agar nanti saat sekolah kalian bisa rileks" ucap Vera dengan nada lembut kepada kedua adiknya. Sabrina dan Mahesa pun mengangguk, mata keduanya tidak bohong
Mereka terlihat bahagia saat mendengar akan pergi ketempat bermain, Vera dan kedua adiknya pun langsung masuk ke salah satu tempat bermain di kota itu.
.........
...
Tak terasa karena keasikan bermain mereka pun terkejut saat melihat jam sudah tiga jam mereka di sana, Vera lagi mengajak semua nya untuk makan. karena terlalu lelah mereka makan yang dekat
"Kita keasyikan bermain sampai lupa untuk makan, nanti setelah makan kita langsung pulang ya Teteh udah cape" ucap Vera
"Iya... Eca juga cape" jawab Esa. Sabrina hanya mengangguk, dia juga cukup cape karena setiap main selalu dia coba
Pesanan ikan lele Mahesa
Ikan patin pesanan Vera
Ayam bakar madu pesanan Sabrina
Mereka juga saling mencoba untuk merasakan, makanan yang di pesan itu enak tidak
Vera bisa melihat kedua adiknya makan dengan lahap, mata penuh kebahagiaan pun terlihat jelas di mata kedua adiknya itu
"Lelenya enak... ada rasa lelenya" ucap Mahesa. Vera menatap gemas bocah yang sedang bercanda itu
Mahesa menatap Vera yang sedang tertawa saat mendengar dia tadi, sedangkan Sabrina dia menatap kesal kepada adiknya itu
"Itukan emang lele, Esa.... pasti ada rasa ikan lele" jawab kesal Sabrina
"Oh iya Eca lupa, ini lele ternyata... hmm ayo makan nanti kebuyu dingin" ucap Mahesa. seolah memeringati kedua tetehnya itu
Sedangkan mang Hasan Bi Herti dan mbak Tini, mereka hanya tersenyum melihat ketiga majikan mereka begitu bahagia. walaupun masih berumur jalan sebelas tahun, Tapi dia bisa mengasuh kedua adiknya itu
"Andai juragan masih ada, mungkin beliau bahagia melihat neng Vera begitu perhatian terhadap kedua adiknya" ucap lirih Bi Herti
Mang Hasan pun menoleh ke arah istrinya dan dia pun hanya bisa mengganggu dan mengucapkan sesuatu agar istri dan Mbak Tini tidak menyebut juragan lagi di hadapan Vera
"Saat bersama dengan neng Vera, kalian jangan menyebut juragan.... karena Saya tidak ingin neng Vera tersedih kembali, apalagi saat kejadian ibunya datang tanpa rasa bersalah dan perhatian kepada anaknya itu" ucap mang Hasan
Kedua nya pun mengangguk, mengiyakan ucapan mang Tubi. Mereka pun melanjutkan makannya dan setelah makan mereka akan segera kembali ke villa
"Hali ini Eca bahagia cekali, kalna bica main belcama teteh Vela dan teteh Ina, apa kita nanti bica main lagi teh?" ucap Mahesa
"Tentu.... asal Sabrina dan Mahesa belajar dengan giat, agar pintar, dan bisa membantu Teteh, nantinya paham" ucap Vera
Mahesa pun mengganguk bahagia saat mendengar ucapan sang tetehnya, Sabrina juga bahagia, mendengar ucapan Vera, mereka pikir Vera itu akan sama seperti orang lain, yang akan mengusir dan menjauhi mereka
"Ayo kita pulang, waktu juga sudah sore kita juga harus istirahat, kalian nanti tidur di kamar Teteh ya" ucap Vera
"Iya teteh" jawab kedua nya
Saat sampai di rumah Mereka pun langsung turun dari mobil dan untuk kedua adiknya Vera diurus oleh Bi Herti dan Mbak Tini sedangkan Vera dia melihat Mang Tubi sepertinya ingin melaporkan sesuatu
"Teteh ke ruang kerja dulu ya.... kalian bersih-bersih dan istirahat, nanti kalau mau apa pun minta ke Bi Herti dan mbak Tini ya" ucap Vera
Kedua adiknya pun mengangguk mereka tidak mungkin mengganggu sang teteh, mereka pun menuruti ucapan Vera. dan mereka pun langsung pergi ke kamar Vera untuk bersih-bersih
Vera menatap mang Tubi, dan benar mang Tubi pun melaporkan. bila semalem kampung anu di datangin dua puluh orang preman, mereka di perintahkan oleh kepala desa untuk membakar kampung Anu itu
"Ternyata lelaki itu benar-benar ambisius sekali, dia Ingin menutup keburukannya dengan membakar satu kampung, bukankah itu benar-benar gila? lalu bagaimana preman-preman itu, apa kalian sudah melumpuhkannya? atau kalian sudah mengirimnya ke kantor polisi?" ucap Vera
"Mereka masih ada di gudang dekat pabrik tahu, yang dulu di bakar oleh salah satu staf desa neng" ucap mang Tubi
"Pabrik Tahu di bakar? kenapa? apa pemilik pabrik itu melanggar aturan?" tanya Vera
"Tidak neng, pemilik nya sudah sesuai prosedur, tapi dia tidak memberikan uang keamanan untuk salah satu staf desa, padahal dia sudah membayar keamanan kepada salah satu staf juga, tapi tetap yang satunya tidak ingin tahu Jadi dia disuruh membayar double kepadanya, dan pemilik pabrik tahu itu pun, tidak memberikan uang keamanan kembali, karena dia juga baru membuka pabrik tahu itu beberapa bulan" ucap mang Tubi
"Lalu kemana dia?" tanya Vera
"Itu... hmm... Mereka semua ikut terbakar di pabrik itu,. karena staf desa itu meminta salah satu preman yang kita amankan, untuk mengikat satu keluarga itu di pabrik tersebut Neng" ucap lirih mang Tubi. Vera dan mang Hasan mendelik
BRAK
TBC
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian ya
Like komen share dan vote
ohya thor si vera gk ada asistennya sendri gtu selain mang hasan ma mang tubi
lanjut thor