Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya, Herlina terpaksa menikah dengan Harlord, seorang CEO muda yang tampan, namun terkenal dengan sifat dingin dan kejam tanpa belas kasihan terhadap lawannya.
Meski sudah menikah, Herlina tidak bisa melupakan perasaannya kepada George, kekasih yang telah ia cintai sejak masa SMA.
Namun, seiring berjalannya waktu, Herlina mulai terombang-ambing antara perasaan cintanya yang mendalam kepada George dan godaan yang semakin kuat dari suaminya.
Harlord, dengan segala daya tariknya, berhasil menggoyahkan pertahanan cinta Herlina.
Ciuman Harlord yang penuh desakan membuat Herlina merasakan sensasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Entah kenapa aku tidak bisa menolaknya?" Herlina terperangah dengan perasaannya sendiri. Tanpa sadar, ia mulai menyerahkan diri kepada suami yang selalu ia anggap dingin dan tidak berperasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Nasihat dari Ibu
"Berhenti menangisinya, HERLINA!!" Liana berteriak keras pada putrinya, sejak kemarin Herlina terus saja menangis dari pagi hingga malam.
Liana jadi khawatir, kalau begini terus bagaimana Herlina bisa tampil cantik pada hari pernikahan bisa-bisa malah sakit demam, belum lagi kedua matanya sudah bengkak sejak kemarin saat bertemu George terakhir kalinya.
"Kompres kedua matamu sekarang, dan jangan menangis lagi!!" perintah Liana.
Herlina mengangguk lemah, lalu dengan perlahan mengusap air mataNya menggunakan sapu tangan. Hatinya masih terasa pilu seolah terperangkap dalam kesedihan yang mendalam, namun ia tahu ibunya tak mau membiarkannya larut dalam kesedihan terlalu lama.
"Dengarkan, nak. Setelah menikah dengan Harlord, kamu akan hidup di rumah besar dengan banyak pelayan. Tak perlu repot masak atau bersih-bersih, cukup duduk manis dan menyuruh. Kamu juga bisa berbelanja apa saja yang diinginkan dengan uang suamimu. Hidupmu akan lebih baik, tidak perlu menangis lagi," kata Liana menasihati dengan tegas.
"Tapi Ma–, aku sama sekali tidak mencintai Harlord."
Sejenak sang ibu menghela nafas panjang dan memijit pelipisnya. "Sayang, seiring waktu, kamu akan belajar mencintainya. Lupakan George. Ketika sudah tinggal serumah, kamu pasti bisa menyukainya. Harlord pria baik, dia akan menjaga dan melindungi mu. Yang penting, layani suamimu dengan baik, Mama yakin benih-benih cinta di antara kalian akan tumbuh." Nasihat Liana mengalir panjang, lahir dari pengalaman 25 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, di mana suka dan duka telah ia lalui bersama suaminya.
Baik apanya, dia terus saja membuat ku menangis.
Nasihat ibunya memang tidak salah, sejak dulu, Herlina memang terlalu fokus kepada George, tanpa pernah melirik pria lain, rasanya tidak adil juga kalau tidak memberikan kesempatan pada Harlord untuk lebih dekat mengenal calon suaminya itu.
Sebagai seorang ibu, Liana sangat memahami sifat putrinya yang materialistis. Sejak kecil, Herlina selalu terbiasa dengan barang-barang bagus, sehingga rasanya mustahil baginya untuk hidup sederhana bersama George yang hanya memiliki gitar dan puisi.
...*****...
Seminggu sebelum hari pernikahan.
Herlina setuju makan malam bersama calon suaminya, Harlord. Ia ingin mengenal pria itu lebih dekat lagi, meskipun di dalam hati masih ada sedikit keraguan. Namun, ia merasa ini adalah kesempatan yang baik untuk mengenal lebih jauh seperti apa sifat pria yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Seperti biasa, Harlord selalu memperlakukan calon istrinya dengan penuh perhatian. Saat ia datang menjemputnya, Harlord dengan lembut mencium tangan Herlina yang terbalut kaos tangan, seolah ingin menunjukkan rasa hormat dan kelembutan yang tak terbantahkan.
Herlina hanya tersenyum canggung, namun tak bisa mengelak dari rasa kagum yang muncul di hati, Herlina jadi terlena pada ketampanan dan kesopanan yang Harlord perlihatkan.
Sesampainya di restoran, Harlord juga menuntun Herlina dengan hati-hati, mengarahkan langkahnya perlahan-lahan. Setiap gerakannya penuh kesopanan, hampir seperti dalam kisah-kisah romantis yang sering ia baca di novel percintaan dalam bahasa asing. Herlina merasa seakan ia berada dalam dunia lain, di mana semuanya tampak sempurna dan indah.
"Apa kamu suka daging ayam turkey ini...??" tanya Harlord tiba-tiba saat makan.
"Hmm... iya tentu saja, ini daging ayam terenak yang pernah aku makan." jawab Herlina merasa sedikit gugup.
"Bagus, setelah kita menikah kamu akan sering memakan daging ini," ujarnya sembari menyesap segelas wine.
Herlina hanya tersenyum tipis mendengar perkataan itu. Herlina tetap merasa ada yang belum ia pahami sepenuhnya tentang Harlord. Meski sikapnya sangat sempurna.
Apakah dia benar-benar seperti yang terlihat, atau hanya memainkan peran untuk memikat ku?
.
"Herlina! Wow... Kebetulan sekali!" tiba-tiba muncul suara cempreng seorang wanita.
Herlina langsung menoleh kearah suara itu, matanya terbelalak, ia terkejut saat melihat dua sosok yang ia kenal.
"Tidak kusangka kamu dan calon suamimu juga makan malam di tempat mewah ini," ucap Irene dengan lantang sampai mengundang perhatian orang-orang sekitar.
Irene teman SMA Herlina dulu, wanita yang tak kalah cantik dengannya hingga sekarang, ia mengenakan gaun berkilau dan syal bulunya, namun Irene menggandeng lengan seorang pria yang tidak lain tidak bukan adalah....
"George...!!" Herlina terkejutnya, mendapati mantan kekasihnya datang dengan setelan jas rapi sambil bergandengan mesra dengan Irene si musuh bebuyutan.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️
**Jangan lupa meninggalkan jejak kebaikan dengan Like, Subscribe, dan Vote ya...~ biar Author makin semangat menulis cerita ini, bentuk dukungan kalian adalah penyemangat ku...😘😘😘**