(Baca Ulang, Sudah aku edit)
Harap Bijak karena beberapa episode mengandung adegan dua puluh satu plus. Thankyou 😘😘
***
Nasta Ayruma
Gadis itu sedang duduk bersimpuh diatas tempat tidurnya. Bahu nya bergetar hebat merasakan sakit yang menusuk dalam kerelung hatinya. Kedua tangannya mencengkram kuat sprei yang terlihat mulai lusuh.
Tangis yang seharusnya terdengar keras, kini hanya tercekat didalam tenggorokan.
Tak mampu dia bagikan.
Langkah nya tidak bisa mundur. Tak ada pilihan dalam situasi yang sulit ini untuk mengatakan Tidak ataupun Menolak.
Dia tidak punya kuasa saat harus terpaksa menikah dengan laki-laki penguasa yang arogan itu.
Pandu Bragistandara.!
Nasta : Bagaimana bisa aku egois memilih masa depanku sedangkan ibu sedang membutuhkan bantuan ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AioraAghfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbedaan Sudut Pandang
Acara rumit yang sangat melelahkan telah usai ketika petang datang. Mobil pengantin membawa sepasang suami istri bernama Nasta dan Pandu ke sebuah hotel berbintang.
Disana, dengan canggung Nasta dan Pandu disambut petugas recepshionis yang mengantarkan mereka menuju lift ke kamar khusus yang sudah dipesan oleh Maria, katanya sebagai hadiah atas pernikahan mereka.
Nasta sempat menolak. Namun diurungkan begitu saja ketika melihat binar bahagia di wajah mama mertuanya. Nasta enggan merusak kebahagiaan wanita itu, meskipun sekarang dia sendiri yang harus menanggung akibatnya.
Sikap hormat dan profesional petugas resepsionis membuat Nasta sadar, sekarang hidupnya sudah berbeda. Dulu, hampir setiap hari Nasta menerima penghinaan kini telah berubah menerima penghormatan.
Namun, hal itu rupanya tidak membuat Nasta gelap mata. Lantas sombong dan membanggakan diri. Justru,
Nasta tersenyum getir. Perselisihan antar manusia di dunia memang sangatlah kejam. Dan tidak bisa dielak-kan, bahwa uang masih memegang kendali dalam menentukan pemenang.
"Selamat masuk, Tuan dan Nona. Semoga puas dengan pelayanan kami." Sang resepshionis membukakan pintu dan mempersilahkan Nasta dan Pandu masuk.
"Ehm.." Jawab Pandu singkat. Ketika petugas hotel itu tersenyum ramah kepada nya.
Membuat Nasta mendelik tidak menyangka. Lihatlah si arogan ini. Bagaimana bisa dia bertindak seperti raja begini? ini kan bukan di daerah kekuasannya.
Lagian apa susahnya sih menjawab petugas hotel dengan ramah.?
"Terimakasih, kak." Nasta menyela, merasa tidak enak dengan petugas hotel yang nampak pias dengan sikap Pandu.
"Oh iya Tuan, ini Cardlock-nya Tuan."
"Berikan pada istri saya, dan segera tinggalkan kita berdua." Jawab gorila gila, lagi-lagi dengan nada datar dan dingin yang membuat Nasta tutup muka.
Malu dengan sikap sang suami yang sangat Arogan.
"Baik, ini Nona. Selamat malam."
"Terimakasih kak." Nasta menjawab dengan senyum yang sangat ramah. "Maafkan suami saya ya?"
Petugas recepshionis hanya tersenyum smirk. Dia akan segera meninggalkan kamar, namun urung ketika suara Pandu kembali terngiang dari balik kamar.
"Tunggu.."
Dengan wajah yang berbinar, petugas itu menghentikan langkah dan segera menjawab. "Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Lain kali, bersikaplah baik kepada tamu." Lagi-lagi dengan nada dingin dan mengintimidasi. "Terlebih lagi, dia istriku. Atau aku akan mengadukan ke pada managermu? Kau bisa di pecat malam ini juga."
"Maaf Tuan, maaf kan saya..."
"Mas Pandu..." Nasta berteriak kesal. Sikap arogan Pandu benar-benar tidak bisa ditoleransi.
Bisa-bisanya dia berkata seperti itu? Padahal petugas itu sudah sopan dan baik. Apa laki-laki itu tidak tau bagaimana sulitnya mencari pekerjaan jika dia benar-benar dipecat?
"Meminta maaflah pada istri ku."
"Maafkan saya Nona,"
Sekarang Nasta yang merasa tidak enak hati. Nasta tidak merasa bahwa sikap recepshionis itu buruk. Dan dia tidak seharusnya meminta maaf atas apa yang tidak dia lakukan. "Tidak apa-apa kak..."
"Sekarang pergilah."
"Baik Tuan, terimakasih."
Nasta menutup pintu dengan wajah yang teramat sangat kesal kepada suami baru nya itu. Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu kepada orang lain? Astaga...
"Mas Pandu bisa ga sih mas... rendah hati dikit aja. Dia bukan karyawan kamu lo mas, jangan seenaknya ngancem lapor sana lapor sini. Kasian tau... Dia pasti sedih dan takut banget tadi."
Sedangkan Pandu, yang tengah di omeli oleh Nasta nampak tidak peduli. Lelaki itu melepas jas putih nya dan menanggapi Nasta santai. "Bagaimanapun sekarang posisi mu adalah istri ku. Dan aku tidak suka kalau ada orang lain yang meremehkan orang-orang ku."
Apa tadi? Meremehkan katanya?
"Meremehkan bagaimana? Orang dia ramah begitu. Dia bahkan tersenyum tadi Mas. Ya Tuhaaaan... kamu nemu titik meremehkan dari sudut pandang sebelah mana sih, mas" Nasta menghela nafasnya jengah. Gadis itu kembali mengatur luapan emosinya agar tidak semakin tinggi.
Yaa, mungkin kami memang memiliki sudut pandang yang berbeda ! Begitulah Nasta menenangkan batinnya sendiri.
Nasta memilih diam bersamaan Pandu yang sepertinya enggan memberi jawaban. Dan sebagian otaknya berfikir bagaimana nanti dia menjalani hidup bersama manusia seperti Gorila Gila ini? Kepala Nasta rasanya pusing sekali. Rasa pusing yang tiba-tiba datang menyerang membuat Nasta kehilangan keseimbangan.
Rupanya hal itu di sadari oleh Pandu.
Lelaki itu segara meraih tubuh Nasta dan membawanya dalam rengkuhan. "Kau baik-baik saja?" Pandu membawa Nasta duduk di sebuah sofa tak jauh dari tempat Nasta berdiri. Gadis itu tampak kelelahan dengan acara pernikahan yang memang cukup menguras energi.
"Tolong, ambilkan obat di tas ku mas."
Pandu menurut. Tubuh Nasta yang tampak menahan sakit kepala membuatnya tidak tega kalau harus mengajaknya berdebat perang kata.
"Yang ini?"
"Iya.."
Pandu menyerahkan obat itu beserta air putih yang dia ambilkan kepada Nasta. Dan gadis cantik itu pun segera menelan pil nya. "Terimakasih mas"
"Hem" Pandu kembali meraih gelas kosong bekas Nasta, dan meletakkannya ke sebuah meja di sudut ruangan. Untuk sesaat kemudian, Pandu kembali ke sisi sang istri. "Istirahatlah sebentar, kalau sudah baikan segera bersihkan diri dan pergi tidur."
Sekarang, Nasta yang menurut. Gadis itu hanya diam dan merebahkan dirinya di sofa panjang.
Untung saja, tadi di acara pernikahannya Nasta memilih riasan make up yang setipis mungkin. Dan juga, hiasan kepala yang se-simpel mungkin. Hanya mahkota kecil ala princess sehingga membuatnya tidak terlalu sulit untik melepaskannya.
Pandu yang duduk di sofa kecil sampingnya nampak khawatir pada keadaan Nasta. Lelaki itu diam merenung. "Lain kali, kalau ada apa-apa ngomong"
"Mas Pandu khawatir ya?" Jawab Nasta lirih. Gadis itu memejamkan mata, namun ekspresi wajahnya nampak menahan senyum seolah mengejek Pandu.
"Jangan Ge-er... aku cuma gak mau repot." Ucapnya sengit.
Seketika, Nasta menarik nafasnya panjang. Kemudian melepaskannya pelan. "Iya-iya, gitu aja kok mau ngamok. hehe" Gadis itu kembali tersenyum kecil.
Senyumnya yang diam-diam membuat Pandu ikut tersenyum juga. "Lagian aku sudah terbiasa begini Mas, tinggal minum obat dari dokter paling juga sembuh kok. Jadi gak perlu takut aku repotkan."
Entah kenapa, ucapan Nasta yang terakhir membuat sudut hati Pandu mencelos. Lelaki itu sedikit merasa menyesal sudah mengatakan sesuatu yang sengit tadi.
Namun, Pandu memilih diam. Takut berucap dan kemudian salah lagi.
Tak berselang lama, Nasta membuka mata dan kemudian perempuan itu duduk manis seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal saking khawatirnya Pandu sampai enggan beranjak dari sofa disebelah Nasta.
"Haah, sudah. Sekarang sudah baikan. Nasta membersihkan diri dulu ya mas." Nasta melenggang begitu saja meninggalkan Pandu dengan wajah datarnya duduk di sofa. Entah apa yang sebenarnya lelaki itu pikirkan, Nasta sendiri kurang paham.
Bahkan, Ruang hotel yang di hias sedemikian romantis ini tak nampak dalam tangkapan mata Nasta. Gadis itu seolah abai dengan bunga mawar yang be-terbaran diatas ranjang.
Pandu yang kini menatap ranjang pun ikut menggelengkan kepalanya dan berucap lirih. "Mama..."
Belum sampai lelaki itu menutup mulutnya, terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi. "Mas Panduuuu..." Yang seketika membuat Pandu kaget dan bergegas menghampiri Nasta dengan jantung berdebar penuh rasa khawatir.
buat mas ato kak Arya,ntar sama Rista aja ya,dia ga kalah cantik n baik ko ma nasta🤭
please..Jan lama² ya ndah resign nya🤭