Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.
Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17~ Sesuatu mulai tumbuh
Rinjani sudah bangun pagi-pagi, jika sudah menjadi kebiasaan, maka mentari yang belum terbit menyinari belahan bumi bagian benua Amerika pun akan malu karena kalah cepat bangun dari Jani.
Disaat para penghuni mansion masih terlelap kecuali para penjaga di depan, Jani sudah berkutat di dapur. Marriot saja belum memulai pekerjaannya, masih berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu kamar.
Jani melirik sekilas mesin kopi disana, hanya saja ia tak tau bagaimana cara menyalakannya, biasa minum kopi sachetan ya begini, dikasih mesin kopi ya buntu otaknya.
"Biji kopi di dalam toples kaca, nona...." suara Mathew tiba-tiba mengejutkannya. Nyatanya pria itu sudah terbangun meski tampilannya belum serapi biasanya, terkesan masih berwajah bantal.
"Begini," ia mengambil alih mesin, tangannya terulur melewati Jani demi mengambil toples berisi biji kopi di lemari yang berada di belakang bagian atas Jani, kemudian ia haluskan.
Suara penghalus biji kopi tak mengganggu Mathew untuk memandangi nona'nya itu, yang berwajah lucu saat memperhatikan mesin kopi.
"Ohhh, kaya gitu...udah halus dimasukin kesini?" tanya Jani diangguki oleh Mathew, apa ini? Sebuah debaran? Apakah ia jatuh cinta terhadap nona'nya, yang harus ia sebut apa? Istri Loui? Bukan! Karena jelas Loui tidak menikahi Rinjani, hanya mengandung anaknya secara tak sengaja.
Selama ini, Loui selalu mengajaknya, Oscar, dan Stainley untuk menikmati jaaa lank, namun kesemuanya tak ada yang sampai memerankan hati, murni hanya menikmati tu buh mereka saja demi menuntaskan hazrat semata, bahkan tak jarang mereka melakukannya dengan kasar.
Mathew tersadar menyalakan pemanasnya, lalu dengan telaten menyeduh bubuk kopi menjadi aliran kopi espresso.
"Wahhh, hebat-hebat!" seru Jani memuji seraya menepuk-nepuk bahu kekar Mathew.
Mata bening Jani membulat sempurna, "Jani coba, ya!" ia meraih cangkir kecil berisi kopi dan meneguknya tanpa ampun, sejurus kemudian ia memuntahkan itu sambil meringis, "belum dikasih gula!"
Mathew tertawa melihat reaksi dan ekspresi Jani lalu memberikan tissue padanya demi mengelap cairan kopi di sekitar dagu Jani.
"Makasih," ucap Jani.
"Ya udah kalo gitu, Jani masak dulu...sebelum si borokokok bangun," ucap Jani melengos berlalu. Seperti biasa, ia mengikat rambutnya secara sembarang menjadi satu cepolan tinggi, memperlihatkan leher putih nan jenjang miliknya, tanpa sadar jika sejak tadi sudah ada beberapa orang yang memperhatikannya.
Loui sungguh tak suka dengan adegan barusan, yang memperlihatkan kedekatan Mathew dan Jani.
"Nona, pagi buta sudah bangun?" tanya Marriot baru saja keluar dari kamar lengkap dengan celemek yang senantiasa menemani aktivitas Marriot di rumah ini.
Rinjani melirik ke arah Marriot dan tersenyum, "sini--sini, ngopi bareng!" ajaknya.
"Ibu Marrie bisa cobain kopi buatan Jani, coba rasain enak apa engga?!" pinta Jani. Seperti bocah yang baru mendapatkan mainan baru, Jani begitu antusias mencoba mesin kopi.
"Ini masuk kesini....terus abis halus ini dinyalain...terus dipakein ini," prakteknya berucap persis bocah menirukan apa yang tadi Mathew lakukan tadi, Mathew yang sudah duduk manis dengan secangkir kopi tak bisa untuk tak terhibur, sementara sosok yang berada di atas mulai turun ke bawah untuk bergabung, begitu angkuh dan gengsinya.
Loui berjalan congkak lalu duduk tanpa permisi disana.
"Tadaaa!" secangkir kopi espresso hitam hanya ia beri gula sedikit tersaji untuk Marriot.
"Buat ibu, semoga suka..." ucapnya, namun baru saja Marriot berucap terimakasih, cangkir kopi itu tiba-tiba ditarik seseorang yang tak diundang, dia yang tak boleh disebut lubang hidungnya.
Mereka cukup terkejut dibuatnya, sementara Jani, mendadak berwajah sengit menampakan permusuhan pada si pelaku.
"Heh!" ia menjengkit berseru tak ikhlas kopi buatannya diambil Loui, sementara Marriot menarik kembali tangannya yang kosong.
"Tak apa nona, biar saya buat sendiri." ujar Marriot ingin meredam amarah Jani.
Loui menyeruput kopi buatan Jani, "pahit. Kopinya terlalu banyak, entah karena kau yang membuatnya jadi pahit," ia mencebik menghina, namun tak urung ia minum.
Jani mendesis selagi matanya menyipit, "pait kok diminum?!"
Lalu Jani melemparkan tatapan sengitnya, "lidah kau saja yang kebanyakan dosa, jadinya pahit! Lagipula itu punya ibu Marrie, bukan untukmu! Tak ada yang mengundangmu kesini." Usirnya berani.
"Kau mengusirku, dari rumahku sendiri?" balas Loui menaruh cangkir kopi dan kini menatap wanita yang mendongak sengak tak kalah angkuhnya, membuat perseteruan itu tak terelakan di pagi hari, Marriot dan Mathew yang merasa berada di posisi netral menjadi serba salah dibuatnya.
Padahal biasanya suasana pagi di mansion ini tenang dan damai, berbeda dengan pagi dimana Jani mulai mengisi kekosongan, menjadi rival Loui.
Jani memilih waras, ia membuang mukanya dari aksi tatap menatap itu dan melengos dari hadapan Loui.
"Lelaki menyebalkan!" desisnya dan Loui tertawa melihat wajah kesal Jani, sepertinya ia terhibur setelah membubar jalankan Jani dan Mathew. Kini bergantian, ia yang duduk disana memperhatikan Rinjani sambil duduk menikmati kopi espresso itu, Jani nampak semakin sexy nan menggemaskan saat ini di matanya, apakah karena perut yang membuncit itu?
Hasil karyaku, benak Loui tersenyum.
Pagi ini, meski Rinjani memasak dengan perasaan tak ikhlas. Bahkan Jani dengan sengaja membubuhkan cabe banyak ke dalam masakannya, "mencreett, mencrettt lu!" dumelnya, lalu menyajikan itu di atas meja makan, "kalo bisa Jani santet!"
Loui tersenyum senang disana, tak sadar jika sesuatu telah tumbuh di hatinya terhadap Rinjani.
Oscar masuk ke dalam rumah, menyaksikan drama dapur meleduk ini, yang satu nyiapin makanan sambil misuh-misuh dan yang satu menyantap hidangan sambil terkekeh-kekeh meskipun ia sudah banjir keringat karena rasa pedas.
"Lou, siang nanti ada pertemuan bersama kartel Tunisia," ucap Oscar menghentikan senyuman riang Loui. Jani menarik kursi disana sedikit menjauh dan di sebrang Loui.
"Siang ini?" Loui kini mengalihkan pandangan pada Jani yang mulai makan di sebrangnya sambil melihatnya sengit, "apa, liat-liat?!"
"Mathew!" panggil Loui, namun tatapannya tak lepas menatap Jani.
"Kapan dia melakukan pemeriksaan kandungannya?" tanya Loui menunjuk Jani dengan dagu.
"Sore nanti." Mathew mendekat. Loui menoleh pada Oscar, "berapa lama pertemuanku dengan Thompson?"
"Hanya sekitar 1 hingga 2 jam saja," jawab Oscar.
"Aku yang akan mengantar Rinjani periksa," lirihnya.
"Apa?!!" seru Jani, Oscar, dan Mathew terkejut.
"Kenapa?" tanya Loui membuat wajah-wajah terkejut itu segera menyadarkan diri.
Lain halnya dengan Oscar, Mathew buka suara, "bukankah mengantar nona Rinjani sudah kau percayakan padaku, tuan?"
"Kali ini aku ingin melihat sendiri bagaimana perkembangan calon penerusku," jawabnya.
"Tak perlu. Biar Mathew saja!" ketus Jani, apa jadinya jika ia pergi bersama Loui, rumah sakit mungkin akan luluh lantah.
Loui hanya menyeringai sambil berdiri dari kursi, "atur jadwalku, Os, sesuaikan dengan jadwal pemeriksaan kandungan Rinjani."
Ia meninggalkan sisa sarapan miliknya dan berlalu, "Oscar, bisa ikut aku untuk membicarakan pekerjaan?" ajaknya diangguki Oscar.
Rinjani, berdecih merengut, "cih! Kenapa pula dia mau ikut!" ia memanyunkan bibirnya.
.
.
.
.
.
nih qu bantu sadarkan👊👊👊