Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.
Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.
Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Akhirnya Ada Yang Tahu
Jawaban Pak Ode, membuat pikiran Faizal kacau. Dimana dirinya masih tidak percaya. karena yang Faizal tahu, Zaen punya hubungan dengan Sela. Bahkan sering dirumah Sela.
"Apakah Zaen pulang setiap hari Pak?"
"Kalau masalah pulang tiap hati Pak Ode tidak paham. Tapi, tiap sore saya pulang, tidak pernah bertemu Mas Zaen."
"Pak Ode makasih ya Informasinya."
Sama-sama.
Tangan Faizal mengepal. Emosinya mulai naik. Faizal tidak menyangka jika sahabatnya sudah mempermainkan istri sahnya. Faizal merasa sahabatnya sangat kelewat batas. Membuat hati seorang wanita terluka, dan selingkuh dari Aulya.
"Kok ada Mas Faizal." Sapa Aulya.
"Ya sudah Pak Ode permisi, Mas Faizal, Mbak Aulya. Monggo,"
"Hati-hati Pak ode." pesan Aulya.
Setelah Pak ode pergi, Faizal menghampiri Aulya.
"Boleh saya masuk?"
"Diteras saja ya Mas."
"Kamu takut sama Zaen,"
"Bukan takut, tapi tidak pantas saja." Jawab Aulya.
Mereka duduk di kursi yang tersedia di teras. Ada batas meja ditengah-tengah mereka.
"Kenapa kamu tidak jujur, ada apa sebenarnya, dan apa hubunganmu dan Zaen,"
Pertanyaan Faizal membuat Aulya tidak paham.
"Maksudnya?" Aulya mengernyitkan dahinya.
"Kamu itu istri sah Zaen, tapi kenapa kamu mengatakan, kalau kamu pembantu Zaen. Apakah kamu takut sama Zaen. Atau kamu memang menginginkan pernikahan seperti ini."
Aulya terkejut..
"Siapa yang memberitahu Mas Faizal." masih heran
"Pak Ode."
Aulya menunduk.
"Kalau kamu memang istri sah Zaen, kenapa kamu pulang. Seharusnya kamu temui Zaen. Kamu itu istri sahnya, kenapa kamu biarkan suami kamu bersama orang lain." ujar Faizal iba melihat Aulya.
Aulya tetap diam, baginya percuma, karena bagaimanapun wanita yang saat ini bersama Zaen adalah cinta pertama Zaen.
"Maaf, Mas. Saya tidak bisa mengubah perasaan Mas Zaen, untuk bisa menerima saya dan mencintai saya. Karena saya tahu, cintanya untuk Wanita itu." Jawab Aulya, Air matanya cukup membuktikan bahwa dirinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan hatinya terluka.
"Perjuangkan pernikahan kalian, orang ketiga dalam hidupmu, harus kamu singkirkan."
"Tapi, Mas. Pernikahan, saya dan Mas Zaen, hanya demi orang tua kita. Biarkan, semua berjalan sesuai keinginan Mas Zaen. Saya akan memilih diam, sampai Mas Zaen sendiri yang akan menyuruh sata pergi. Ini jalan hidup saya, apapun itu, demi ayah dan Almarhum ibu."
"Ya Allah, Aulya. Kamu akan tersiksa dengan keadaan ini. Baru kali ini saya bertemu wanita seperti kamu,"
"Allah sudah menaqdirkan kisah hidup saya seperti ini, Mas. Karena Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya. Aulya yakin, ada hikmah di balik semua ini."
Kali ini Aulya tersenyum menatap Faizal, seorang yang pertama kali, perduli pada keadaannya.
"kamu yakin dengan semua ucapanmu, kamu yakin dengan keputusanmu.:
"Iya, saya sangat yakin. Terimakasih, Mas sudah perhatian kepada saya.”
"Jika keputusanmu seperti itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi kamu tidak sendiri, saya siap bantu kamu. Dan siap membelamu." ucap Faizal.
Faizal langsung pamit pulang, karena hari sudah malam. Aulya tetap duduk diteras. menyandarkan tubuhnya ke kursi, memikirkan semua yang telah terjadi.
Aulya masuk ke dalam, dan langasung beristirahat. Banyak cerita yang dilalui Aulya di hari itu.
Di kediaman Sela, Zaen langsung istirahat, Saat hendak tidur, handphonenya bunyi, ada pesan wathsapp. Zaen terperangah membacanya. diambil kunci mobilnya dan langsung menghampiri sela, didepan cermin.
"Kenapa sayang, kok kelihatan bingung gitu."
"Aku harus segera kembali, kerumah. 2 jam lagi, papa dan Mama sampai."
"Boleh, tapi jadikan belikan aku berlian."
"Iya, jadi lah. Tapi setelah Mama pulang ke surabaya."
"Oke aku akan sabar nunggu kamu,"
Zaen segera pergi. Pikirnya kembali kacau, karena orang tuanya akan datang.
tak lama kemudian Zaen sampai kerumahnya, dia langsung membuka gerbang dan memasukkan mobilnya halaman rumahnya.
Zaen buru-buru sekali menuju kamar Aulya. Saat, hendak mengetuk pintu, terdengar Aulya sedang mengaji di musholla. Zaen, diam, mendengar suara Aulya saat mengaji membuat hatinya tenang.
"Ya Allah. Hamba sangat berdosa sudah menyakitinya. Membiarkannya sendiri tersakiti oleh perbuatan Hamba."
Zaen yang berdiri didepan musholla, tidak menyadari, jika Aulya berdiri di belakangnya.
"Ada apa Mas?"
Zaen terkejut, dan berbalik arah.
"Mama sama Papa nanti malam kesini."
"Apaa? Bagaimana dengan kita, kalau Papa, dan Mama tahu. Aulya takut Mas. Apa lebih baik kita jujur sama Papa dan Mama?" Aulya panik.
jika sampai terdengar ibu irma, maka hal buruk akan terjadi.
"Semua baju saya, tolong bantu pindahkan ke kamarmu. Karena mulai saat ini kita, akan satu kamar dulu. Tolong kamu pahami ya, saya tidak bisa berbuat banyak dengan hubungan ini. Hanya saja saya berusaha mencari jalan keluar yang terbaik.
"Baiklah jika itu kemauan Mas Zaen. Aulya bantu Mas pindahin baju-bajunya duĺu."
Setelah selesai memindahkan semua baju Zaen, Aulya tampak sangat lelah sekali, Jam menunjukkan pukul 23.00. Aulya duduk dikursi.
"Tidurlah? Saya lihat kamu sangat capek. Saya tidur di sofa, kamu di tempat tidur."
"Tidak Mas, saya yang dikursi, mas saja yang di tempat tidur."
Zaen keluar dari kamarnya, duduk diruang tamu, sambil mengotak atik laptopnya. karena masuk awal bulan, Zaen memlihat rincian keuangan Zaen yang dipakai oleh Aulya. Terkejut, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Apa-apaan ini, bagaimana bisa selama lebih dari satu bulan, Aulya tidak memakai uangku, lalu dari mana dia dapat untuk kehidupan sehari-harinya."
Zaen menyandarkan tubuhnya, masih tidak bisa berkata apa-apa. Segera Zaen masuk, karena hendak menanyakan alasannya.
Tapi Aulya sudah tertidur pulas di sofa. Zaen merasa Iba melihatnya. Diangkat tubuh mungil itu, saat membaringkannya, mata Zaen menatap wajah polos Aulya, yang tanpa make up, tapi terlihat cantik selali. Zaen sadar, wanita dihadapannya adalah miliknya. Tapi Zaen tidak ingin menyakiti Sela, dengan menatap lama-lama wajah cantik Aulya. Karena detak jantung Zaen berdetak kencang sekali.
Aulia sangat terkejut karena dirinya sudah tertidur di tempat tidur, Aulya merasa bahagia karena Zaen masih peduli padanya.
"Mas, terimakasih masih memperhatikanku." Batin Aulya, lalu bagung karena harus mengambil air.
Aulya terkejut, saat di dapur, ada wangi masakan yang enak sekali. Saat sudah di dapur, Aulya terkejut.
"Mama, Papa." yang ternyata kedua orang Zaen yang ada di dapur, sudah memasak.
"Mama 30 menit yang lalu sampai, sengaja tidak membangunkan kalian, kasihan."
"Jangan seperti itu Ma, justru saya merasa bersallah. Mama sama Papa malam-malam datang tidak Aulya masakin, eh masak sendiri sampai sini." Aulya merasa bersalah.
"Kalian harus banyak berdua, karena Papa sama Mama pengen kalian cepat-cepat punya anak," Ujar Bapak Fakhri.
Aulya merasa ucapan Pak Fakhri sangat menyakitkan Aulya. Untuk menjawab Aulya merasa berat mulutny. Dia hanya menunduk.
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..