NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Tamu yang Sulit Dipuaskan

​​Pagi itu, Hanifah sudah terbangun sejak azan Subuh berkumandang. Setelah salat, ia berjalan pelan menuju dapur.

Seperti beberapa hari terakhir, Arkana sudah lebih dulu menyiapkan sebagian bahan masakan agar istrinya tidak terlalu lama berada di dekat kompor.

​"Mas, biar aku saja yang melanjutkan," ucap Hanifah sambil meraih pisau.

​Arkana menoleh sambil mengiris wortel. "Kamu yakin tidak mual, Dek?"

​"Insyaallah kuat, Mas."

​Arkana menyerahkan talenan itu kepada Hanifah. "Kalau mulai mual, langsung bilang ya. Jangan dipaksa."

​"Iya, Mas."

​Tak lama kemudian, aroma bawang mulai memenuhi dapur. Hanifah refleks menutup hidungnya dengan punggung tangan.

​"Huek..." Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela.

​Arkana dengan sigap langsung mematikan api kompor. "Sudah... Mas saja yang teruskan."

​Hanifah menggeleng, matanya agak berair. "Tidak apa-apa, Mas. Aku cuma butuh sebentar lagi."

​Arkana menghela napas pendek. "Jangan dipaksa, Dek. Mas tidak mau kamu kenapa-kenapa."

​"Iya, Mas."

​Setelah sarapan selesai, Arkana bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Sebelum pergi, ia melangkah ke ruang tamu dan menatap Bibi Ratna.

​"Bi, Hanifah masih harus banyak istirahat ya," ucap Arkana mengingatkan.

​Bibi Ratna mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Iya. Kamu tenang saja."

​Arkana kemudian menyalami bibinya, lalu beralih Hanifah mencium punggung tangan Arkan.

"Assalamu'alaikum, Dek."

​"Wa'alaikumsalam, Mas. Hati-hati."

​Motor Arkana perlahan meninggalkan halaman rumah. Suasana di dalam rumah kembali sunyi. Hanifah baru saja hendak membereskan piring-piring bekas sarapan di meja makan ketika suara Bibi Ratna terdengar memecah keheningan.

​"Hanifah."

​"Iya, Bi?"

​"Sayur bening paginya tadi agak hambar, ya," kritik Bibi Ratna sambil meletakkan sendok.

​Hanifah terdiam sejenak, menelan ludah. "Oh... maaf ya, Bi. Mungkin tadi saya kurang takaran garamnya."

​Bibi Ratna mengangguk datar. "Lain kali dicicipi dulu sebelum dihidangkan."

​"Iya, Bi."

​Hanifah segera membawa piring-piring kotor itu ke dapur. Belum sempat ia menyalakan keran air untuk mencuci semuanya, suara Bibi Ratna kembali terdengar dari ruang tamu.

​"Hanifah."

​"Iya, Bi? Ada apa lagi?" Hanifah melongokkan kepalanya dari balik sekat dapur.

​"Teh hangat buatanmu tadi juga kurang panas. Airnya kurang mendidih sepertinya."

​Hanifah menoleh sambil memaksakan senyum ramah. "Maaf, Bi. Nanti saya buatkan air panas yang baru lagi."

​Bibi Ratna hanya menganggukkan kepalanya pelan.

​Beberapa menit kemudian, secangkir teh hangat yang baru kembali tersaji di meja. Bibi Ratna menyeruputnya sedikit. "Hm. Nah, begini baru enak rasanya."

​Hanifah tersenyum kecil. "Syukurlah kalau begitu, Bi."

​Menjelang siang hari, Hanifah kembali ke dapur untuk menyiapkan menu makan siang. Ia memasak dengan sangat perlahan sambil beberapa kali terpaksa berhenti karena rasa mual yang datang pergi. Saat semua masakan selesai, Bibi Ratna kembali duduk untuk mencicipinya.

​"Nasinya terlalu lembek ini, Hanifah," ucap Bibi Ratna setelah kunyahan pertama.

​Hanifah langsung menundukkan kepala. "Maaf, Bi. Tadi saya kurang memperhatikan takaran air di rice cooker."

​"Tidak apa-apa. Tapi lain kali harus lebih teliti lagi. Memasak itu butuh fokus," tambah Bibi Ratna datar.

​"Iya, Bi."

​Hanifah membawa piring bekas makannya sendiri ke dapur. Ia bersandar di pinggiran bak cuci piring lalu mengembuskan napas panjang. Tanpa sadar, kedua matanya mulai berkaca-kaca menahan sesak.

​Bukan karena ia dimarahi dengan kata-kata kasar. Melainkan karena sejak pagi hari, tidak ada satu pun pekerjaannya yang berhasil membuat bibinya merasa puas.

​Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu disusul salam dari luar rumah.

​"Assalamu'alaikum."

​Hanifah segera mengusap sudut matanya dengan ujung jilbab sebelum membuka pintu. "Wa'alaikumsalam. Oh, Bu Sulastri."

​"Ibu kebetulan lagi lewat depan rumahmu, Nak," ucap Bu Sulastri ramah. "Ini ada sedikit pepaya sama pisang dari pasar. Kemarin suami Ibu yang beli, sekalian kasih belikan kamu juga."

​Hanifah menerima kantong plastik itu sambil tersenyum tulus. "Wah, terima kasih banyak ya, Bu. Repot-repot sekali."

​Bu Sulastri terdiam sejenak, memperhatikan wajah Hanifah dengan saksama. "Kamu tidak apa-apa, Hanifah? Wajahmu kok kelihatan capek dan agak pucat begitu?"

​Hanifah buru-buru menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa kok, Bu. Cuma bawaan bayi saja."

​Tiba-tiba Bibi Ratna keluar dari dalam ruang tengah. "Oh, ada tamu... silakan masuk, Bu."

​Bu Sulastri tersenyum sopan. "Terima kasih, Bu."

​Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tamu. Obrolannya hanya seputar hal-hal ringan. Tidak lama kemudian, Bibi Ratna pamit masuk ke kamar untuk beristirahat siang.

​Begitu pintu kamar utama tertutup rapat, Bu Sulastri langsung menoleh pelan dan menggeser duduknya mendekati Hanifah.

​"Hanifah," bisik Bu Sulastri pelan.

​"Iya, Bu?"

​"Bibi kamu itu... tipe yang banyak menyuruh dan menuntut ya?" tanya Bu Sulastri dengan tatapan menyelidik.

​Hanifah langsung menggelengkan kepala, berusaha membela. "Tidak kok, Bu. Beliau tidak menyuruh yang aneh-aneh. Cuma suka memberikan masukan saja untuk saya."

​Bu Sulastri menghela napas pelan, menepuk lutut Hanifah. "Kamu itu tidak usah sungkan atau takut cerita sama Ibu."

​Hanifah tersenyum tipis. "Benar, Bu. Aku baik-baik saja kok di rumah."

​Bu Sulastri tahu jelas kalau Hanifah sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, beliau memilih untuk tidak memaksa menantunya bercerita lebih jauh. Sebelum pamit pulang, Bu Sulastri menggenggam erat tangan Hanifah.

​"Ingat, kalau kamu merasa capek... langsung istirahat. Jangan semuanya dipendam sendiri di dalam hati ya, Nak."

​Hanifah mengangguk terharu. "Iya, Bu. Terima kasih banyak."

​Menjelang sore hari, Arkana pulang dari kantornya lebih awal dari biasanya. Begitu memarkirkan motor, ia melihat Hanifah sedang duduk termenung sendirian di kursi teras.

​"Kenapa melamun di luar begini, Dek?" tanya Arkana sambil melepas helm.

​Hanifah tersentak, lalu tersenyum. "Eh, Mas sudah pulang. Tidak ada apa-apa kok, Mas."

​Arkana meletakkan tasnya lalu duduk di samping istrinya. Ia meraih tangan Hanifah yang terasa dingin. "Kita jalan-jalan keluar sebentar yuk, Dek?"

​"Hm? Mau ke mana sore-sore begini, Mas?"

​"Kita beli roti bakar di depan kompleks. Sekalian biar kamu bisa cari udara segar di luar."

​Wajah Hanifah yang semula kuyu perlahan kembali cerah. "Boleh, Mas. Aku ambil dompet dulu."

​Setelah berpamitan singkat kepada Bibi Ratna yang berada di kamar, keduanya pergi berboncengan sebentar menuju minimarket dekat kompleks. Tidak sampai satu jam menghabiskan waktu di luar, keduanya sudah kembali ke rumah.

​Namun, begitu mereka melangkah masuk melewati pintu depan, Bibi Ratna sudah berdiri di ruang tengah sambil melihat ke arah meja ruang tamu.

​"Baru pulang kalian?" tanya Bibi Ratna dengan nada suara meninggi.

​"Iya, Bi. Cuma dari depan kompleks sebentar," jawab Arkana sambil menaruh kantong belanjaan.

​Bibi Ratna menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan wajah masam. "Untuk Ibu hamil itu tidak boleh keluar waktu mau Maghrib, entar anaknya sakit-sakitan." ucap Bibi Ratna, "kalau kalian sering pergi dan meninggalkan rumah begini... rumah ini nanti jadi kelihatan berantakan sekali."

​Arkana dan Hanifah spontan saling berpandangan satu sama lain dengan raut bingung. Padahal, kondisi seluruh sudut rumah kontrakan itu masih tampak sangat rapi dan bersih, sama persis seperti saat mereka tinggalkan satu jam yang lalu.

​Arkana hanya bisa menarik napas panjang, menahan kata-kata di tenggorokannya. Sementara itu, Hanifah kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!