Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035: Selamat Tinggal, Surya Pradana, Sementara
Jakarta sedang menyiapkan medan perang.
Sebelum perang itu dimulai, Surabaya memberi Ardi satu pagi terakhir yang anehnya sunyi.
Ia berdiri di balkon apartemen, melihat Gatra dan Sari tidur di kamar kecil mereka. Dua koper anak sudah terbuka di dekat pintu. Baju Gatra dilipat rapi oleh Bu Endang. Boneka kecil Sari masuk ke tas paling atas karena anak itu menolak tidur kalau boneka itu terlalu jauh.
Di meja makan, piala dari Tokyo berdiri di samping dua kotak bekal.
Gatra bangun lebih dulu. Rambutnya berantakan, matanya masih setengah tertutup, tetapi ia langsung melihat koper.
"Ayah, hari ini kita pindah?"
Ardi berlutut di depannya. "Hari ini kita berangkat dulu. Nanti rumah baru kita siapkan pelan-pelan."
"Di Jakarta?"
"Iya."
Gatra menoleh ke kamar Sari, lalu kembali ke Ardi. "Nanti Ayah pulang cepat?"
Pertanyaan itu kecil, tetapi masuk lebih dalam daripada tepuk tangan Tokyo.
Ardi mengusap kepala anaknya. "Ayah akan sibuk. Tapi Ayah tidak pergi dari kalian."
Gatra menatapnya lama, lalu mengangguk seperti orang dewasa kecil yang memutuskan percaya.
Ponsel Ardi bergetar.
Nama Kevin muncul.
"Dokter Ardi," suara Kevin terdengar lebih cepat dari biasa. "Kita dapat nomor registrasi BPOM untuk Kardiofix. Jalur percepatan karena Bronkosol masuk pengawasan ketat dan data keamanan kita dianggap kuat. Tim regulasi baru keluar dari rapat."
Ardi berdiri perlahan. "Resmi?"
"Resmi. Dokumen elektronik sudah masuk. Distribusi awal ke rumah sakit rujukan bisa dimulai setelah batch release pertama. Dan satu lagi, BPOM mengeluarkan rekomendasi pembatasan keras untuk Bronkosol sambil menunggu audit penuh."
Di ruang makan, Bu Endang yang sedang menutup kotak bekal berhenti bergerak.
Ardi memejamkan mata sebentar.
Rangkaian itu akhirnya menyambung.
Dari kematian yang dicurigai.
Dari data yang tidak mau dilihat orang.
Dari podium nasional.
Dari formula yang dibangun malam-malam bersama Kevin.
Sekarang, obat yang lebih aman punya jalan masuk. Obat lama yang membunuh mulai kehilangan jalan keluar.
Panel biru muncul tanpa suara.
[Misi Berantai: Menemukan Kebenaran]
[Tahap 4/5 selesai]
[Target: Kardiofix melewati BPOM dan masuk jalur distribusi sebagai alternatif Bronkosol]
[Hadiah: 5000 PM]
PM: 7210 -> 12210
[Tahap 5/5 terkunci]
[Syarat pembuka: sumber kekuasaan Surya Perkasa terungkap]
Ardi membuka mata.
"Kevin," katanya, "jangan rayakan terlalu lama. Pastikan farmakovigilans aktif sejak batch pertama."
Kevin tertawa pendek. "Saya tahu Dokter akan bilang begitu. Tapi izinkan saya satu kalimat tidak profesional."
"Silakan."
"Hari ini kita memukul Surya Perkasa tepat di jantung uangnya."
Pukul sepuluh pagi, kalimat itu terbukti di Jakarta.
Di ruang RUPS luar biasa Surya Perkasa Group, layar saham merah menyala seperti luka terbuka. Bronkosol bukan sekadar produk. Ia adalah mesin uang, simbol dominasi, dan janji lama Surya Pradana kepada para pemegang saham bahwa pasar obat kardiovaskular tetap berada di tangannya.
Sekarang grafiknya jatuh.
"Pak Surya," seorang pemegang saham berkata dengan suara tertahan, "BPOM membatasi Bronkosol, Kardiofix masuk registrasi, dan media mengaitkan semua ini dengan dokter dari Surabaya itu. Apa penjelasan Anda?"
Surya duduk di kursi utama. Jasnya sempurna. Rambutnya rapi. Tangannya tenang di atas meja.
Hanya matanya yang tidak.
"Perusahaan akan mematuhi semua prosedur regulator," katanya. "Tim hukum dan farmakovigilans kami sudah bekerja."
"Saham turun lagi delapan persen sejak pagi."
"Pasar bereaksi berlebihan."
"Atau pasar baru melihat risiko yang selama ini kita abaikan?"
Ruangan menjadi dingin.
Surya menatap pemegang saham itu. "Hati-hati memilih kata."
Tetapi ancaman itu tidak lagi seberat dulu. Untuk pertama kalinya, Surya harus menjelaskan diri di depan orang-orang yang biasanya hanya mengangguk.
Di Surabaya, Ardi tidak menonton RUPS itu.
Ia berada di aula kecil RSUD Soetomo.
Tidak ada panggung besar. Tidak ada dekorasi berlebihan. Hanya beberapa kursi, meja dengan tumpeng sederhana, dan wajah-wajah yang pernah melihat Ardi dari titik paling rendah.
Dokter Fajar berdiri di depan, memegang mikrofon. Ia biasanya tegas, kadang galak, dan sangat pelit kata manis. Hari itu, suaranya serak.
"Saya tidak pandai pidato perpisahan," katanya. "Jadi saya bicara seperti di IGD saja. Singkat."
Beberapa orang tertawa pelan.
Fajar menatap Ardi.
"Dulu kamu datang ke sini dengan beban yang bahkan tidak semua orang mau dengar. Banyak yang ragu. Saya juga hati-hati. Tapi hari ini, saya bisa bilang: Soetomo beruntung pernah menjadi tempat kamu berdiri lagi."
Ardi menunduk sedikit.
Fajar turun dari depan, mendekat, lalu menggenggam tangan Ardi dengan kedua tangannya.
"Jakarta adalah medan perangmu," katanya pelan. "Tapi Soetomo selamanya rumahmu."
Kali ini tidak ada yang tertawa.
Rudi berdiri di samping pintu dengan mata merah, mencoba terlihat santai dan gagal total.
"Bos," katanya, "gue akan jagain sini."
Ardi menatapnya. "Jangan bikin IGD jadi tempat latihan stand-up."
"Itu fitnah. Gue cuma bikin pasien lebih cepat sadar."
Beberapa perawat tertawa. Rudi ikut tertawa, tetapi suaranya pecah di ujung.
Ia memeluk Ardi cepat, keras, lalu melepas seolah takut kalau lebih lama ia benar-benar menangis.
"Serius, Di. Pergi sana. Hajar Jakarta. Kalau ada yang ganggu, kabari. Gue datang bawa stetoskop."
"Stetoskop?"
"Iya. Senjata legal dokter."
Ardi tertawa.
Di sudut aula, Direktur Hendra mendekat membawa amplop resmi.
"Surat rekomendasi dan administrasi mutasi sementara," katanya. "SIP Jakarta Anda tetap perlu proses sesuai aturan, tapi RSCM sudah menyiapkan jalur konsultan tamu terlebih dahulu. Jangan lupa, sehebat apa pun Anda sekarang, administrasi tetap administrasi."
"Saya tidak lupa, Pak Hendra."
"Bagus. Orang besar yang lupa administrasi biasanya jatuh bukan karena musuh, tapi karena map yang salah."
Sore itu, Ardi membawa Gatra dan Sari ke Bandara Juanda. Bu Endang memeluk Sari terlalu lama. Pak Suroto menepuk bahu Ardi tanpa banyak bicara.
"Jaga anak-anak," katanya.
"Iya, Pak."
"Jaga dirimu juga."
Ardi mengangguk.
Dimas berdiri beberapa meter di belakang, membawa satu koper dan memantau sekitar tanpa membuat anak-anak gelisah. Chandra mengirim pesan bahwa Mutiara berjalan dengan tim operasional. Kevin mengirim foto batch pertama Kardiofix. Rudi mengirim stiker menangis yang langsung ia hapus, lalu menggantinya dengan pesan: Jangan ge-er. Itu salah kirim.
Di pesawat, Gatra menempelkan hidung ke jendela.
"Ayah, kita mau ke mana?"
Sari di sebelahnya memeluk boneka kecil dan ikut bertanya, "Ke mana, Yah?"
Ardi memasangkan sabuk pengaman Sari, lalu menatap dua anaknya.
"Ke Jakarta, Nak. Ke tempat yang lebih besar."
Pesawat lepas landas.
Surabaya mengecil di bawah awan.
Ardi melihat kota itu sampai hilang. Di sana ada penjara yang pernah menelannya, rumah sakit yang memberinya jalan kembali, ruang sidang tempat anak-anaknya memilihnya, klinik Mutiara yang baru menyala, dan musuh-musuh yang mengira ia hanya akan bertahan hidup.
Mereka salah.
Ia tidak lagi hanya bertahan.
Ia bergerak.
Saat pesawat mendarat di Jakarta, malam sudah turun. Lampu kota menyebar seperti medan listrik tanpa ujung. Begitu mode pesawat dimatikan, ponsel Ardi bergetar beberapa kali.
Pesan pertama berasal dari firma hukum yang mewakili Surya Pradana.
Dr. Ardi Pratama, sehubungan dengan pernyataan publik Anda mengenai produk PT Surya Perkasa Group, klien kami menilai terdapat unsur pencemaran nama baik dan kerugian usaha. Kami akan menempuh langkah hukum. Mohon bersiap menerima somasi resmi.
Ardi membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi.
Lalu ia tersenyum tipis.
"Cepat juga."
Sebelum ia memasukkan ponsel ke saku, panel biru muncul.
[Misi Berlian terdeteksi]
[Lokasi: RSCM Jakarta]
[Pasien: kandidat transplantasi jantung-paru pertama di dunia dalam parameter Sistem]
[Kesulitan: ekstrem]
[Hadiah: 10000 PM + Peti Harta Berlian]
[Batas waktu: menunggu aktivasi klinis]
Ardi mengangkat kepala.
Di depan pintu kedatangan, udara Jakarta terasa lebih panas, lebih padat, lebih bising.
Gatra menggenggam tangan kirinya. Sari menggenggam tangan kanannya.
Ardi melangkah keluar.
Jakarta menyambutnya bukan sebagai tamu.
Tetapi sebagai lawan yang akhirnya datang.
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭