WARNING!!
INI HANYA SEKEDAR CERITA KHAYALAN SEPINTAS. TANPA MENGIKUTI NORMA HUKUM DAN AGAMA.
BIJAKLAH DALAM MEMBACA, KHUSUS YG SUDAH MENIKAH SAJA.
Apa yang harus di lakukan, jika tiba-tiba gadis yg belum menikah, dan merasa tidak pernah melakukan hubungan badan dengan seorang lelaki manapun, tetapi tiba-tiba di perut nya ada janin yang sudah tumbuh.
"Tidak,, ini semua mustahil, apa iya di jaman sekarang masih ada perempuan yang hamil, tanpa lelaki. Seperti jaman Siti Maryam."
Naura menangis sambil menekuk kakinya, dia bingung dengan apa yang menimpanya.
PENASARAN???
BACA CERITA PERTAMA AKU YA,,
MOHON MAAF, SAYA PENULIS PEMULA, PASTI BANYAK SALAH-SALAHNYA, MOHON MAKLUM, DAN JANGAN LUPA KRITIKNYA..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Lalu bagaimana nasib perempuan itu sekarang? Aldi teringat sama seseorang yang hampir saja dia miliki secara paksa.
"Naura." Aldi tersenyum saat mengingat nama itu, sebenarnya Aldi tidak ada niatan jahat sebelumnya, tapi mengingat penolakan perempuan itu terhadap nya, sepertinya akan sangat susah untuk mendapatkan Naura dengan cara baik-baik.
Aldi benar-benar penasaran sama Naura, dan kalau di tanya soal perasaan, Aldi memang mempunyai perasaan yang beda, tidak seperti perasaan ke wanita-wanita sebelumnya.
Dia hendak mengambil jaket dan kunci mobil. Namun, saat melihat jarum jam yang sudah menunjukan angka sebelas lebih lima puluh menit, Aldi mengurungkan niatnya itu, dengan mendudukan kembali bokongnya.
Aldi nampak menghubungi seseorang. "Segera, kamu cek kamar yang aku suruh buat bawa perempuan itu. Sekarang!" Perintah nya mutlak, Aldi tampak gelisah dengan ekspresi tak sabar, sambil terus menatap ke arah ponselnya.
Saat melihat ponsel miliknya menyala, dengan cepat Aldi membuka pasword ponselnya.
081123xxxxxx
Bos, kamarnya sudah kosong. Tadi juga ada beberapa orang yang melihat perempuan keluar dari kamar pribadi bos.
Aldi membaca pesan itu tanpa membalasnya, kini hati Aldi sedikit lega. "Kayaknya Naura emang sudah pulang."
Sebenarnya, yang Aldi takutkan, efek dari obat yang dia masukan, jujur Aldi belum mengetahui cara kerja dari obat itu, dia hanya mendengar dari kata orang, Aldi berpikir mungkin efeknya akan hilang dengan sendirinya.
****
Seorang leleaki sedang berdiri di atas balkon. Pikirannya masih terbayang kejadian semalam, betapa baj*ngan dirinya, saat dengan bringas, melakukan tindakan terlarang, kepada gadis yang sedang tak sadarkan diri, karena pengaruh alkohol yang di minum gadis itu.
Vino tidak mengerti, kenapa pula dirinya menjadi seperti itu, jika dengan akal sehat, Vino tidak akan mungkin melakukan hal menjijikan seperti itu. Apalagi dengan gadis polos seperti Naura.
Sebenarnya Vino tidak ada niat untuk melakukan hal bej*t dan meninggalkan Naura.
Flashback on
Vino berjalan dengan langkah besar, menuju kamar yang biasa dia tempati, namun dia lupa membawa kartu akses. Setelah melihat pintu sebelah yang terlihat menyala, tanda tidak di kunci, tanpa berpikir Vino langsung masuk ke dalam.
Dirinya sempat tertegun, saat melihat perempuan yang sedang berbaring di atas ranjang. gadis yang belakangan ini sudah berhasil membuat perasaan aneh pada hatinya.
Awalnya Vino hanya ingin menggunakan kamar mandi yang ada di kamar itu. Namun, diluar kehendaknya, hawa panas yang semakin menjalar di sekujur tubuhnya, semakin tak tertahan, seolah memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu yang lebih pada gadis itu.
"Shit, kenapa gue gak bisa nahan, gue gak bisa ngendaliin diri gue sendiri," Vino terus mengerang sambil melakukan kegiatannya.
ditengah kegiatannya, tiba-tiba terdengar beberapa kali getaran dari ponsel yang ada di dalam tas Naura. Vino menghentikan kegiatannya, dengan lancangnya, melihat ponsel milik Naura yang menampilkan nama siapa yang menelfon.
Ibu is calling...
Vino sempat mengerutkan kening, ada apa tengah malam ibunya Naura menelfon. Vino berniat mengangkat panggilan itu, tapi panggilannya keburu berhenti.
Saat Vino hendak menyimpan kembali ponsel milik Naura, ponsel itu menyala kembali, terlihat tanda pesan masuk.
Ibu : Ra, kamu pasti lagi tidur ya? maaf Ibu ganggu, tiba-tiba Ibu keinget sama kamu.
Ibu: Kamu pasti merasa terbebani ya sama omongan Ibu tadi siang? gak papa kok sayang, kalau kamu emang gak ada uang nya.
Setelah membaca pesan itu, Vino menghapus nya, Vino melihat isi kontak Naura, bibirnya tertarik ke atas saat menemukan nama kontak dengan tulisan no rekening Ibu. Vino menyalin nomornya, kemudian menyimpan kembali ponsel Naura.
Vino kembali memandangi wajah polos Naura. Lelaki itu menelan ludahnya saat matanya kembali melihat bagian lain yang semakin membangkitkan gairahnya.
"Enggak! gue gak bisa kaya gini terus." Vino segera memungut semua pakaian Naura, dengan perlahan, memakaikan nya kembali. Tidak lupa Vino juga membersihkan semua jejak yang di tinggalkannya.
Sambil memejamkan matanya Vino melakukan itu. "Gue harus segera pergi dari sini, kalau enggak, pasti gue gak akan pernah puas ngelakuin itu sama elo, Ra."
Setelah memakaikan pakaian Naura, Vino juga memungut, dan memakai pakaian miliknya. Vino memandang wajah cantik Naura, sambil mengusap pipi dan bibirnya. "Naura, maafin aku. Aku janji akan bertanggung jawab." Vino berkata dengan lirih.
Setelah mengecup kening dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Naura, Vino langsung pergi dari kamar itu.
Flashback off
"Woyyyy, ngapain lo! tumbenan elo ngelamun, habis hamilin anak gadis orang lo?"
Vino menoleh ke arah suara yang membuatnya kaget. Pikirannya kembali berkelana. "Gimana kalau Naura hamil?" Vino bergumam dalam hati.
Merasa pertanyaannya tidak mendapat jawaban, Aldi yang berdiri di dinding pintu langsung mendekati sepupunya. Aldi menepuk pundak Vino, "Kenapa sih lo? gue panggil-panggil gak nyaut, gak taunya lo di sini. Lagian ini rumah sepi banget, pada kemana emang?"
Dengan kasar Vino menepis tangan Aldi. "Nyokap ada panggilan mendadak dari rumah sakit, kalau bokap, gue gak tau dia kemana. Ngapain sih lo kesini?"
Aldi merotasikan matanya. "bete gue, lagi kesel juga sih gue, pengen ngebagi cerita gue ke elo."
Vino merotasikan matanya malas. "Kayak cewek aja lo!" Vino duduk sambil menikmati kopi yang tadi di buatkan pembantunya.
"Bantuin gue dong Vin, gue gagal mulu dapetin tuh karyawan lo."
"Siapa?" tanyanya dengan wajah datar.
"Karyawan elo, yang paling cantik itu, yang waktu itu gue ceritain, Naura."
Vino yang sedang meminum kopinya, langsung tersedak, tidak ada lagi nama Naura di kantornya, cuma satu nama, yang tak lain perempuan yang semalam dia rampas kesuciannya.
"Cari cewek yang lain."
Aldi menggeleng sambil tersenyum, "gue enggak mau yang lain, kali ini gue serius, bahkan gue sudah janji sama diri sendiri, kalau gue bakalan berubah kalau bisa dapetin dia." Aldi merebut gelas yang isinya baru Vino habiskan setengahnya.
"Kopi nya gak enak, dingin, sama kaya muka elo, Vin," ucap lelaki itu sambil menatap remeh kearah Vino.
Vino melirik Aldi dengan tatapan permusuhan. Dengan wajah polos, Aldi hanya tersenyum, mengangkat kedua tangan nya, tanda perdamaian. "Wiihh, santai dong brother."
Tatapan Aldi berubah sendu. "Akhir-akhir ini, gue nurutin apa mau bokap gue, gue jadi semangat berangkat kantor itu semua demi masa depan gue, gue mau serius sama dia." Terlihat keseriusan yang terpancar dari sorot matanya.
Vino menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan kasar, Vino teringat, waktu kecil dia pernah berjanji.
Flashback on
"Vino, kamu harus sayang ya sama Aldi, anggap dia sebagai adik kandung kamu sendiri, kasian dia, kalau bukan kita yang peduli sama dia, siapa lagi."
Vino mengucapkan janji nya di depan Anita, wanita yang menjadi ibunya. Dia akan berusaha mewujudkan keinginan adik sepupunya itu, bahkan karena janji nya itu, Vino selalu mengalah meskipun barang yang dia sayang sekalipun selalu dia berikan untuk Aldi.
Flashback off
Tapi, kalau urusan nya seperti ini, apa harus, Vino meninggalkan perempuan yang sudah dia rusak kesuciannya, demi Aldi. Demi janji pada mamanya.
Bersambung...
emang enak🤪