Sequel Menaklukkan Bos Killer
Jhon Louis , pria berdarah Australia yang lahir di Singapura dan memegang perusahaan di Jakarta, terlibat skandal dengan sekretarisnya. Tiga tahun mereka tinggal bersama layaknya suami istri.
Namun karena keadaan, mereka pun berpisah. Hingga satu waktu Jhon kembali mencari sang kekasih. Tapi sayang, sang kekasih sudah sangat berubah. Dia menjadi wanita yang tak pernah Jhon bayangkan sama sekali.
Hingga akhirnya, Jhon pun mulai mengikuti perubahan itu, demi memantaskan diri.
Mampu kah Jhon merebut kembali kepercayaan Tina dan mengambil hati kedua orang tuanya yang ternyata pemilik pesantren terbesar di kampung itu?
Mampukah ia memantaskan diri dan bersaing dengan santri kesayangan yang sang ayah jodohkan untuk putrinya?
Cekidot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memuji Lawan
“Bi.”
Hasna menyenggol siku suaminya, karena sedari tadi Utsman hanya diam dan tidak menjawab permohonan Jhon yang terdengar santun itu.
“Hm.” Utsman masih menimbang. “Apa kamu sudah sholat lima waktu?”
“Sedang proses, Bi,” jawab Jhon cepat.
“Kalau Ramadhan, kamu puasa?”
“Ya, tentu saja,” jawab Jhon. “Walau ada bolong beberapa hari. Tapi saya akan mengganti,” sambungnya.
Kepala Utsman mengangguk. Entah mengapa ada keraguan di sana. perasaan Utsman dan Hasna bertolak belakang, mungkin karena cara pandang pria berbeda wanita. Utsman menilai dengan logika, sedangkan Hasna menilai dengan hati.
Tak lama kemudian, Tina dan Arafah menghampiri kedua orang tuanya yang duduk di ruang tamu bersama Jhon. Itu pun karena Arafah yang mengajak adiknya untuk keluar dari balik lemari dan ikut bergabung di sana. Alif sedari tadi pun berada di sana. Namun, pria itu tak bayak bicara. Alif hanya menjadi pendengar dan sesekali bertukar pesan pada Al.
“Nah, ini dia Bira,” ucap Hasna senang.
“Sini, Nak!” Hasna mengajak sang putri untuk duduk tepat di sampingnya.
Tina pun duduk di samping sang Ibu. “Ada apa, Mi?” tanya Tina pura – pura tidak tahu, padahal sedari tadi ia mendengar jelas percakapan itu.
“Ini loh, ternyata bos kamu ke sini ingin melamarmu. Bagiamana?” tanya Hasna tersenyum sembari melihat ke arah Tina dan Jhon bergantian.
Jhon pun melirik ke arah Tina sekilas. Namun, ia tak berani menatap lama Tina karena Utsman terus menatao ke arahnya.
Tina pun menatap ke arah sang ayah, seolah bertanya apa boleh ia mengangguk dan menyetujui pinangan Jhon, karena jujur setelah apa yang ia lakukan, Tina tidak berani lagi untuk membantah sang ayah. Setelah kembali pulang dan diterima dengan tangan terbuka oleh kedua orang tuanya, Tina berjanji tidak akan lagi membangkang dan menolak keinginan sang ayah.
Utsman menatap putrinya. “Bagaimana Bira?”
“Terserah, Abi,” jawab Tina. “Bira manut sama Abi, karena Bira tahu Abi selalu ingin yang terbaik untuk Bira.”
Sontak, jawaban Tina membuat Jhon lemas. ia seolah tidak mendapatkan dukungan dari Kekasih yang selama ini menuntutnya untuk minta dinikahi. Tina memang tidak seperti Tina-nya yang dulu dan Jhon merasa sedang berjuang sendiri.
“Sayang, apa yang kamu katakan? Aku datang ke sini untukmu, untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah aku lakukan.”
Seketika, Tina menganga. Begitu pun dengan Arafah. Tidak, Jhon tidak boleh keceplosan, karena ia tidak ingin sang ayah terkena serangan jantung dan mati berdiri mengetahui kelakuan putrinya di sana.
“Apa maksudnya?” tanya Utsman.
Arah mata Hasna pun melihat ke arah Tina dan Jhon bergantian, seolah bertanya juga maksud dari pernytaan Jhon tadi.
“Apa selama ini, di Jakarta kalian berpacaran?” tanya Utsman.
Jhon mengangguk. “Iya, Bi. Kami berpacaran. Bukan begitu Tina.”
Kepala Tina tidak bisa mengangguk. Antara bingung dan takut menjadi satu. Tina melihat sorot mata Utsman yang tak bisa diartikan tertuju padanya.
“Bukankah, pacaran sudah mendekati zina? Dan saya ingin menghalalkan Tina agar terhindar dari itu,” ucap Jhon seperti orang benar. Walau malam ini, ia memang benar – benar ingin menghalalkan kekasihnya secara benar.
Tangan Utsman mengepal. Ia merasa kecolongan. Walau ia yakin bahwa di sana, sang putri pasti bisa menjaga diri. Hanya saja, ia kecolongan karena putrinya pernah berpacaran, sedangkan kedua kakak Tina tidak ada yang menikah dari proses pacaran, semua dengan taaruf yang hanya hitungan bulan lalu, di khitbah dan menikah. Ia juga mengajarkan pada santri – santrinya untuk tidak berpacaran. Tapi apa? putrinya sendiri melakukan itu.
“Assalamualaikun,” suara sahabat Utsman pun terdengar.
Orang – orang yang duduk di ruang tamu dan tengah menegang, seketika menoleh ke arah pintu. Raut wajah Utsman berubah setelah melihat kedatangan Kiyai Mustofa.
“Gus Mus.”
Utsman langsung berdiri dan menghampiri teman seperjuangan saat menimba ilmu di Mesir. Mereka langsung berpelukan. Pemilik nama yang disebut Ustman tadi langsung menyambut pelukan sahabatnya.
“Apa kabar?” tanya Utsman saat pelukan itu melonggar.
“Alhamdulillah, baik. bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu juga terkena asam urat?”
Utsman tertawa. “Ya, begitulah, maklum sudah uzur.”
Mustofa ikut tertawa. “Aku kira, aku saja yang sering mengeluh sakit.”
Dibelakang Mustofa ada istrinya dan dua putranya. Saat Utsman berdiri, Hasna pun mengikuti suaminya dari belakang. para istri itu pun ikut berpelukan seperti para suaminya.
Tina menangkap sosok Randy, teman SMA Bilqis sekaligus salah satu karyawan di perusahaan rekanan Jhon. Namun, Jhon tidak begitu mengenal Randy seperti Tina mengenal pria itu.
“Ayo duduk!” pinta Utsman pada rombongan keluarga sahabatnya.
“Wah ada tamu juga toh,” ucap Mustofa saat duduk di ruang tamu yang cukup besar dan terdapat banyak kursi.
“Arafah, Bira, tolong buatkan minuman!” pinta Hasna pada dua putrinya.
Arafah dan Tina pun mengangguk. Mereka kembali ke dalam.
“Wah, ternyata adik Mbak banyak yang rebutin,” ledek arafah pada sang adik.
“Ck. Apa sih, Mbak.” Tina malu.
“Kamu pilih siapa?” tanya Arafah. “Pasti bosmu, ya?”
Kepala Tina pun mengangguk.
Walau ia pernah sakit hati pada Jhon karena tidak memilihnya saat itu dan selalu membuatnya menunggu, tapi menurutnya tidak akan ada pria yang menerimanya apa adanya seperti Jhon. Walau kemungkinan Al mengetahui apa yang ia lakukan di Jakarta, mengingat Randy, adik Al tahu betul sepak terjangnya di sana, tapi Tina takut suatu hari nanti saat Al melakukan kesalahan, pria itu akan minta dimaklumi karena kesalahannya di masa lalu.
Sungguh, Tina dilema. Bukan dilema karena ia tak lagi mencintai Jhon, tapi dilema antara baktinya pada sang ayah, atau cintanya. Namun, Tina tak lagi ingin membantah sang ayah. Ia hanya berharap Utsman menerima pinangan Jhon.
“Sir Jhon?” tanya Randy yang mengenal Jhon. Namun, Jhon tak mengenal Randy, karena posisi Randy hanya staff biasa di perusahaan milik Ammar.
Mustofa ikut melirik ke arah Jhon. “Sepertinya, saya pernah melihatmu. Di mana ya?”
Mustofa tampak berpikir. “Ah, ya. Di rumah Ustad Abdullah bukan?”
Bibir Jhon pun terulas senyum. Di antara orang – orang asing yang sama sekali tidak mengenalnya, ternyata ada yang mengenalnya. Ia pikir ia adalah alien yang datang dari planet berbeda.
“Ustad Abdullah?” tanya Utsman yang mengenal betul pemilik nama itu.
Abdullah adalah Kiyai yang juga pernah menimba ilmu di mesir dan bergelar LC, tapi karena begitu tawadhu, Abdullah tidak pernah mau dipanggil Kiyai, ia lebih suka dipanggil ustadz.
“Ya,’ jawab Mustofa menganguk.
“Apa hubuganmu dengan Ustadz Abdullah?” tanya Utsman pada Jhon.
“Beliau yang membimbingku mengucap syahadat. Beliau juga yang mengenalkanku pada islam.”
Seketika, Utsman memejamkan mata. ia salah karena telah meremehkan kemampuan Jhon, karena ia tahu betul bagaimana anak yang didik Abdullah.
“Kamu tahu siapa yang membantu mengatur sistem di pondok pesantrenku?” Mustofa mengarahkan matanyapada Utsman, karena Utsman sempat bertanya kecanggihan sistem di pondok pesantren milik sahabatnya itu.
“Itu adalah perusahaan K-Net. Dahulu pimpinannya Alexander, sekarang Jhon Louise. Apa itu kamu?” tanya Mustofa lagi dengan semangat.
Jhon un mengangguk.
Utsman kembali menatap Jhon. Satu point untuk Jhon. Dan satu point itu mampu menghilangkan keraguan Utsman karena insiden di meja makan tadi. Namun, satu point itu pun tidak langsung membuat Utsman menyetujui pinangan itu.
Apalagi saat Utsman menatap Al. Al tampak bersahaja, walau sebenarnya hatinya tengah bertarung. Al cukup kesal karena sang ayah justru memuji lawannya.
dasar cwo suka janji2 tapi gk bisa setia.
Alhamdulillah Jhon dan Tina jadinya nikah.
aku mendoakan Rendy dan Al bakal dapet balesan setimpal dg niat GK baiknya aamiin
mgkn krn John lebih badboy 😊