Damian yang mulai menutup diri setelah memilih pergi dari rumah. tiba-tiba mengetahui bahwa ayahnya telah “membeli” seorang pengantin untuk merawatnya. Gadis pengantin tersebut bernama Elia yang merupakan siswinya di sekolah. Elia muncul di depan pintunya, dan menyatakan bahwa Dia dikirim oleh ayah Damian untuk menjadi pengantinnya.
Elia terpaksa menerima takdirnya sebagai istri yang tak di inginkan oleh Damian, demi membantu orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Toma.
"Namaku adalah Elia. aku disini untuk menjadi pengantinmu." ~Elia
"Aku adalah Gurumu." ~Damian
Menjadi seorang pengantin 18 tahun untuk gurunya sendiri, apakah Elia mampu mencairkan jiwa gunung es suaminya?
ig : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan, Perjuangan dan Rangkaian kembang
“Bagaimana jika karena itu semua, Pak Damian jadi sungguh menaruh hati dan jatuh cinta juga dengan bu Amanda?”
Begitulah dia menjelaskan kekhawatiran dan ketakutannya.
ku pikir dia adalah gadis yang sekalipun bukan terbaik dalam suatu hal. namun, ia telah memperjuangkan sesuatu dengan cara yang benar, sehingga tiap tetesan air mata yang jatuh ke pipinya menjadi serangan yang menyentuh dasar hatiku begitu dalam dan sentimentil. aku pun merasa sedikit terharu dan bangga telah menjadi suaminya, memiliki seorang gadis yang membuatku merasa di miliki dan di inginkan karena ia mencintai dan memperjuangkan ku. sekalipun, sering merasa risih menghadapi keaktifan dan kebodohannya.
setiap kali aku merenungkan hubungan kami, aku tenggelam dalam keharuan, jiwaku yang telah lama mati dan kosong jadi terasa penuh dan segar. aku tak bisa berbohong, aku ingin terus bersamanya. caranya tertawa dan melayani ku, caranya bicara dan terdiam, begitu akrab dalam ingatan, dan senantiasa menghantuiku dalam kesendirian.
aku ingin dia terus di sampingku. ku ingin menatapnya sepanjang waktu, sepanjang hayat. hingga, di luar dugaanku, ketika pertama kali ku coba menyentuhnya secara intim, ketika aku hanyut dalam buaian pesonanya yang memabukkan. itu semua, malah membuat keadaan kami sekarang tersudut dan jadi bumerang yang siap menghancurkan kami kapan saja.
Aku segera memeluknya, erat sekali. dan dia pun tenggelam dalam dadaku, menggambarkan gairah emosional yang sama hebatnya dengan yang ku miliki. aroma harum rambutnya yang legam dan tipis ini tercium masuk ke hidungku, merasuk dalam jiwa. rasanya aku sedang mabuk dan kecanduan sebuah wangi parfum, wangi yang langsung ku cium biangnya, seperti bunga yang baru mekar saat musim semi.
sambil terus terisak, ku hapus air mata di pipinya dan ku buka rambut yang menutupi sisi kiri dan kanan wajahnya sambil ku elus-elus pipinya yang agak berisi.
"Dengarkanlah aku Elia, aku tahu dan mengerti kerisauan mu. kamu pun mengetahui, aku bukanlah pria yang mudah akrab, mengobrol dengan orang lain apalagi menghabiskan waktu dengannya seharian benar-benar membuatku risih, bahkan dengan mu pun kadang aku masih sering canggung. andai ada pilihan lain, aku juga tak ingin memilih sesuatu yang memuakkan seperti ini. tapi, saat ini tak ada lagi yang bisa kita lakukan selain mengikuti alur Amanda. aku tak ingin kamu berhenti sekolah, karena pendidikan itu adalah hak mu sebagai remaja dan pelajar."
ku tatap wajahnya lagi dalam-dalam. kemudian ku alihkan pandangan saat pelupuk matanya tak mampu lagi membendung bulir bening itu. terasa perih. kini, aku tak lagi memiliki keberanian untuk menatapnya. matanya, serta raut wajah kesedihannya seakan menekan ku, memberi isyarat agar aku segera memberikan jalan terbaik yang di inginkan olehnya. aku tak tahu cara menghadapinya sekarang.
ku telan saliva lagi, sekedar memberi jeda agar aku mampu menegakkan kepalaku lagi di depannya.
"Begini, Elia. sebelumnya aku mohon maaf karena mencium mu tak lihat tempat, seharusnya aku menyadari ini dari awal; aku sungguh tak menyangka ini semua terjadi. hanya saja, sekarang aku hanya ingin kamu mengerti jika kamu pun mampu berjuang untuk menjadi istri dan meluluhkan hatiku, maka pahamilah aku juga ingin berjuang untukmu sebagai istri dan juga siswiku. bagiku, kamu berhak memiliki masa depan bahkan lebih baik setelah menikah denganku."
kemudian, kami saling memandang dan hening. ku hapus kembali air mata dan ku tegarkan pundaknya.
"Aku janji padamu, aku akan memikirkan jalan keluar yang lain secepatnya. tetapi, untuk sekarang tolong maafkan jalan yang ku pilih ini. kita saling berjuang, aku tak akan macam-macam karena aku bukan pria yang suka mempermainkan ikatan."
tak ada jawaban darinya, dia hanya kembali memelukku. harum rambutnya hadir kembali dalam jiwaku. aku mengelus-elus punggungnya yang basah, sementara ia terisak di dadaku. terharu. kemudian ku angkat wajahnya, ku tegakkan layaknya sebuah arca dan ku benahi rambutnya yang kusut.
"Agar tetap cantik," kataku.
dia jadi tersenyum manis, lalu ku rangkul kembali tubuh kecilnya dan sesekali mencium kepalanya lembut agar tak ketahuan olehnya.
...****************...
Pagi harinya, kami kembali bersiap dan berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan aku berpikir, ini lah saat dimana pernikahan yang baru seumur jagung ini di uji, tentang kesetiaan ku dan ketegarannya sebagai sepasang suami istri. mampukah dia bertahan menyaksikan perempuan lain mendekati suaminya terang-terangan? dan bisakah aku terus meyakinkannya untuk percaya?
sesampainya di sekolah, aku langsung ke kantor dan duduk. sebelumnya Elia sudah ku turunkan lebih dulu di halte bus, sedikit lebih jauh dari jalan yang kemarin.
Amanda menyambut ku dengan gaya yang khas, "Pagi yang baik, kan Pak Damian? semua akan berjalan lancar, dengan kerja sama yang baik," ia berdiri di depan mejaku dengan tangan kanan menyandar, seakan dialah penguasa diriku sekarang.
Aku mengernyitkan dahi, dia ini memiliki pembawaan yang mirip dengan Renna Owen, seorang bintang film yang ku benci peran antagonis nya : Elegan, berani mengambil resiko, dan pandai bicara. "Jika kamu tidak menyetujui, maka jangan salahkan jika foto antara kalian berdua menyebar.. " ucapnya bangga padaku kemarin. hanya saja, tindakannya yang berani mengambil resiko lebih tak masuk akal kalau dalam dunia nyata, membuatnya sedikit berbeda dari Renna.
ku sandarkan tubuh di kursi empuk belakang meja yang di penuhi buku latihan siswa. tanpa menghiraukannya, ku buka kembali hasil kuis kemarin sambil memprediksi berbagai kemungkinan nilai dan remedial yang akan berlangsung nanti. sesekali rasa kantuk kembali menyerang ku, membuatku berkali-kali harus memijat mataku yang nanar dan perih. aku kembali kurang tidur, karena semalaman memikirkan Elia yang jadi lebih dingin.
"Kamu kelihatan sangat lelah, padahal hari ini adalah hari yang baik." Amanda membuyarkan konsentrasi ku dari tulisan-tulisan di lembar jawaban siswa.
dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari lengan kirinya, yang dari tadi di sembunyikan ke belakang. dan... yang keluar dari situ adalah sebuah rangkaian kembang.
"Untuk menghiasi meja kerjamu biar lebih berwarna," katanya.
"Tidak usah berlebihan, kesepakatan kita hanya mengobrol," timpal ku.
rangkaian bunga ini, jika di perhatikan, memiliki desain yang tidak biasa. bunga mawar berwarna merah pekat yang di kelilingi mawar putih hingga memenuhi garis terluar lingkaran, ada pula beberapa tangkai lili berwarna merah muda dan di ujung sekali menggantung secarik kertas kuning yang bertuliskan : Aku akan menemanimu dalam menumbuhkan perasaanmu kepadaku.
Ini pasti dampak pembicaraan kami kemarin yang penuh dengan drama dan sentimentalia. aku sangat risih, tolong mengertilah Amanda.
"Kamu salah, kesepakatan kita adalah kamu memberikan ruang untukku dan aku akan memperjuangkan kamu."
ku tatap dia dingin sambil mendengus. aku tak punya pilihan lain selain menerima rangkaian bunga itu. tapi, ini tidak berarti aku menerima permintaan Amanda yang amat berharap untuk ku jadikan kekasih. bagaimanapun, aku bukan pria bujangan, aku telah beristri dan istri ku adalah Elia.