Sebuah insiden kecelakaan pesawat mengakibatkan Elara menjadi salah satu korbannya.
Gadis berusia 24 tahun itu tidak ditemukan dalam keadaan masih bernyawa, maupun jasad. Alhasil, Elara pun dinyatakan hilang.
Pada kenyataannya, Elara hidup, dia terdampar di sebuah hutan hingga mempertemukannya dengan sosok pria pendaki gunung, Shane Gladwin.
Shane merawat Elara dalam keadaan sulit dan mereka saling jatuh cinta satu sama lain.
Akan tetapi, saat kembali pada kehidupan awal, Elara menemukan fakta baru yang membuat Elara harus menyadari posisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kenapa harus berbohong?
Saat Anton pulang dari menjenguk Shane di Hamburg, Elara langsung menghadang kepulangan pria paruh baya itu.
Memang Anton tidak lama berada di kota itu karena ia juga tak bisa meninggalkan Elara sendirian di Apartmen kecuali Elara benar-benar sudah membaik sepenuhnya.
"Ayah, bagaimana kabar Shane?"
"Dia di ICU, dua hari disana ayah terus mengunjunginya namun belum ada perubahan."
Tentu Elara merasa sedih mendengar hal ini, ditambah ia tak bisa menyaksikan secara langsung bagaimana keadaan pria yang menyita seluruh perhatiannya itu.
Ada banyak tanda tanya dalam benak Elara, salah satunya adalah kenapa bisa Shane se-kritis itu sampai dia harus dirawat cukup lama di dalam ruangan ICU?
"Dokter bilang apa soal keadaannya, Yah?"
Anton melihat raut khawatir yang kentara diwajah sang putri. "Kamu sangat mengkhawatirkannya, ya?" tebaknya.
Elara menunduk lesu. Tentu saja ia sangat khawatir dengan keadaan Shane yang tidak baik-baik saja.
Anton memegang kedua pundak Elara, menatap lekat ke dalam netra sang putri.
"Ela, apa kamu menyukai Shane?" Anton mencoba menerka melalui jendela hati Elara yang terpancar lewat sorot mata gadis itu.
Terkadang, seorang Ayah dapat melihat dan membaca gelagat anak-anaknya meski dia lebih banyak diam. Akan tetapi, kali ini Anton tak ingin berdiam diri, ia memilih untuk memastikannya-- dengan menanyakan langsung pada Elara.
"Ela cuma khawatir sama Shane, Ayah," sangkal Elara. Ia mencoba menangkis dugaan Ayahnya, meski Elara yakin ayahnya itu akan mengetahui jika ia sedang berbohong.
"Ayah harap juga begitu, semoga perasaan kamu itu hanya sekedar khawatir biasa, karena ayah gak mau kamu memiliki rasa terhadap Shane yang sudah memiliki istri," kata Anton to the point.
Dan pernyataan Anton itu justru membuat Elara mematung, tenggorokannya mendadak kering seketika. Elara seakan kehilangan suara untuk menanyakan perihal ujaran Ayahnya lebih lanjut.
"Mak--maksud Ayah ... Shane sudah menikah, begitu?" Elara bertanya setelah ia dapat menemukan suaranya kembali, meski pertanyaannya itu sangat menyesakkan dadanya.
Anton mengangguk, mengiyakan. "Istrinya sedang mengandung. Begitulah yang ayah lihat," paparnya.
Elara tersenyum getir, mencoba bersikap biasa saja di depan Ayahnya, padahal jika boleh jujur--kakinya saat ini sudah lunglai nyaris tak dapat berpijak.
Elara pun berpegangan pada dinding di sisinya, tanpa berani menatap pada sang Ayah.
Hingga akhirnya, Elara kembali berkata untuk menyuarakan rasa ingin tahunya.
"Apa Ayah tidak salah mengenali? Mungkin itu saudaranya atau---"
"Elara, Ayah sudah mengkonfirmasinya dan ibu Shane sendiri yang mengatakan jika wanita hamil itu adalah istri Shane, makanya mereka sangat mengharapkan Shane segera sadar, agar saat istrinya melahirkan nanti ... Shane sudah dalam keadaan yang lebih baik."
Anton menepuk pundak Elara yang membeku dengan bola mata berpendar nanar seperti ingin menangis.
"Ayah harap, kamu bisa memilah dan meletakkan perasaan pada orang yang tepat, Ela. Mungkin Shane adalah penolong kamu saat di Hutan, tapi dia bukan pria yang tepat untuk kamu harapkan," kata Anton memperingatkan anaknya.
Elara mengangguk samar, dengan sisa-sisa kekuatan yang ia punya, Elara memasuki kamarnya dan akhirnya menangisi kenyataan yang ada.
Untuk sesaat, Elara merasa seperti gadis bodoh yang dimanfaatkan Shane. Akan tetapi, ia segera menampik hal itu. Mungkin segala hal yang ia beri untuk Shane adalah harga yang pantas untuk jasa yang telah Shane lakukan selama masa sulitnya ketika di Hutan.
"Kenapa kamu harus bilang mencintaiku, Shane? Kenapa?" Elara menangis tersedu-sedu. Ia tak menyangka jatuh cinta untuk pertama kalinya justru membuatnya sesakit ini.
"Elara! Kenapa kau bodoh sekali, sejak awal seharusnya kau tidak jatuh pada pesonanya, seharusnya kau menolaknya dan seharusnya kau tidak menggubris pernyataan cintanya! Tapi nyatanya kau benar-benar terperosok pada pria itu!" Begitulah batin Elara yang seakan menghardik dirinya sendiri.
Elara merasa sakit sampai ke urat nadinya, kenapa Shane harus membohonginya soal perasaan. Terlebih, mendengar pernyataan Ayahnya tadi yang mengatakan jika istri Shane sedang mengandung. Kenapa Elara harus terjebak cinta dengan suami orang? Dan itu adalah Shane? Bahkan Shane berjanji untuk menemuinya dan meminta alamatnya yang ada di Hamburg.
"Kau tega sekali Shane! Jika yang kau inginkan hanya tubuhku, seharusnya kau bisa mengatakan itu hanya sekedar having s-e-k-s untuk memenuhi kebutuhanmu! Kau tidak perlu menambahkan dengan pernyataan cinta!" kata Elara memaki Shane di dalam hatinya.
Hingg akhirnya, Elara tertidur dengan hati yang sakit dan pipi yang basah oleh airmata.
...***...
Hari-hari yang dilalui Elara setelahnya-- cukup monoton. Ia kembali ke kampus tempatnya mengajar sebagai asisten dosen. Ia berniat mengkonfirmasi pekerjaannya untuk ke depan hari. Elara berharap, ia tak jadi ditugaskan ke Hamburg sebab ia tak ingin sampai bertemu dengan Shane disana nantinya.
Mengenai Shane, Elara mencoba untuk mengubur perasaannya meski itu terasa sangat sulit, tetapi saat mengingatnya pun terasa sangat menyesakkan bagi gadis itu.
Elara tidak pernah mendengar kabar mengenai pria itu lagi, meski demikian Elara berharap jika Shane sudah pulih dan keluar dari ruang ICU.
Ya, Elara tetap mendoakan yang terbaik bagi seorang Shane Gladwin. Elara mencoba realistis, melupakan kata cinta Shane padanya dan menganggap yang terjadi diantara mereka hanyalah hubungan semalam yang tidak berarti apa-apa.
Ayah Elara juga sudah kembali ke Indonesia setelah melihat Elara sudah mulai bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala.
"Maaf Elara, kau tetap harus bertugas ke Hamburg karena surat tugasmu sudah diterima sejak dua bulan yang lalu di Universitas yang ada disana." Mr. Aldrik mengatakan secara terus-terang pada gadis itu.
"Tapi, Mister? Saya pikir semuanya sudah selesai dan soal rahasia Anda yang saya ketahui juga tidak pernah menyebar kemana-mana, kan?"
"Aku tau," kata Mr. Aldrik. "Tapi, mau bagaimanapun kau harus profesional, aku tidak mungkin menarik kembali surat tugas yang sudah dilayangkan ke Hamburg. Dan lagi, pihak universitas disana telah lama menanti kedatanganmu, mereka membutuhkan Asisten dosen dan itu adalah dirimu."
Baiklah, kali ini Elara mengaku kalah. Walau bagaimanapun ia mendebat Mr. Aldrik, nyatanya Elara akan tetap mengikuti peraturan yang dititahkan oleh pria itu.
"Baiklah, saya akan segera bertugas disana, Mister. Selamat sore," kata Elara lesu.
Elara keluar dari ruangan Mr. Aldrik dan menemukan Sania sudah menunggunya disana.
"Kau jadi dipindahkan?"
Elara mengangguki pertanyaan teman seprofesi nya itu.
"Sudah ku duga. Mr. Aldrik itu sulit untuk diubah. Kalau dia bilang A, nyatanya kau harus A dan tidak boleh jadi B apalagi C," omel Sania.
"Sudahlah, mungkin memang nasibku," kata Elara pasrah.
"Come on, Ela! Kenapa kau tidak keluar saja dan mencari universitas lain yang masih berada di Berlin!" saran Sania.
"Aku tidak bisa," ujar Elara lirih.
"Why?"
Elara terdiam, haruskah ia mengaku pada Sania jika karirnya sudah tergantung keputusan Mr. Aldrik sekarang? Hanya karena ia mengetahui skandal sang rektor, maka mengenai pekerjaan--Elara tak bisa berbuat banyak, apalagi ia tidak memiliki koneksi di negara ini. Untuk itulah, Elara tak mau bertingkah karena bisa saja Mr. Aldrik membuatnya di deportasi dan dipulangkan ke Indonesia meski ia tidak melakukan kesalahan.
"Intinya aku tidak bisa menolak permintaan Mr. Aldrik karena aku berhutang budi padanya," ujar Elara berdusta.
"Hutang budi? Hah, klise sekali," kata Sania memutar bola matanya.
Elara hanya tersenyum mendengar ujaran temannya itu. Ya, mau bagaimana lagi, mulai lusa ia akan kembali melanjutkan pekerjaannya ke Hamburg. Tentu Elara masih trauma menaiki pesawat dan ia akan menggunakan jalur darat.
Semoga perjalanannya kali ini selamat, terutama selamat dari pria yang menjadi momok untuk hidupnya di belakang hari. Shane Gladwin.
...Bersambung ......
mksud dari gk pernah bisada hamil anak Shane itu gmna??jgn bilang klo rahimnya jg diambil Thor?? please jgn sampek..kasian Elara.nya..
dan sebagai wanita baik2 penting punya harga diri,agar tak sembaranfan membuka paha utk laki2 yg bukan suami..error semua tokohnya
yg baca juga sewot
hahaja🤣🤣🤣