Bening, gadis berusia 18thn, harus rela mengandung benih pria yang tak dikenalnya melalui inseminasi buatan. Karena keadaan yang membuatnya menerima perjanjian kontrak sebagai ibu pengganti. Ayahnya yang sedang di penjara juga ibunya yang sakit keras, membutuhkan biaya besar untuk operasi. Ketidakberdayaannya, membuat Bening merelakan rahimnya disewa untuk melahirkan keturunan pria tersebut sebagai ibu pengganti. Apakah penderitaan Bening akan berakhir sampai anak itu lahir, atau justru itu awal dari penderitaan dia yang sesungguhnya. Inilah kisah gadis cantik yang berjuang hidup untuk ibu juga putranya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liliana *px*, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Setelah keluar dari penjara, Bening berusaha menenangkan pikiran dengan pergi ke tepi pantai. Ombak yang bergulung disertai angin bertiup menampar halus tubuhnya. Udara yang terasa lembab bercampur aroma garam begitu menenangkan pikiran yang campur aduk, antara benci, marah, kecewa juga sedih dengan kehidupan dirinya saat ini.
Merasa diri lebih baik setelah beberapa saat di pantai. Ia berniat untuk meninggalkan tempat itu. Namun matanya menangkap sosok bocah dengan punggung yang sangat di kenalinya. Meski pun ia tak ingat dengan pakaian yang di pake anak itu. Tapi ia tahu pasti jika itu punggung putranya, Dimas.
"Sedang apa dia disana? Kenapa tidak pulang habis dari sekolah? Apa ia bolos sekolah setelah nilai ujiannya jelek?"
Begitu banyak pertanyaan yang Bening simpan untuk putranya. Hingga ada orang berteriak jika ada gulungan ombak besar juga tinggi terarah ke seorang bocah. Bening yang menyadari itu segera berlari cepat menghampiri putranya. Kini ia yakin jika Dimas berusaha menyakiti dirinya, ketakutan menyelimuti hati Bening. Secepat kilat ia raih tubuh putranya saat gelombang itu menerjang kearah mereka. Ia menyesali sikapnya yang terlalu keras pada putranya. Dia tak ingin kehilangan lagi. Setelah kehilangan putra yang satunya. "Maafkan Bunda sayang!"
Di keluarga Dewantara.
Suasana di dalam rumah sedikit kacau, karena para penghuninya kini sedang cemas mencari keberadaan cucu termuda di keluarga tersebut. Hari sudah hampir gelap namun Kean belum juga pulang kerumah. Hal ini pun baru pertama kalinya bagi anak itu keluar sendiri selama ini. Membuat para tetua keluarga Dewantara menjadi cemas. Meskipun Kean di perlakukan dingin oleh Papanya, namun tidak dengan Kakek dan neneknya. Mereka sangat sayang dan memanjakan Kean.
"Cari dan temukan Kean! Jangan pulang sebelum cucuku kalian temukan!" Perintah Tuan Dewantara pada kepala asisten rumah tangganya tak berselang lama setelah Kean berlari ke luar rumah tadi.
Pria paruh baya itu terlihat cemas juga gelisah. Berjalan mondar mandir di ruang utama keluarga sambil menatap kearah gerbang utama. Berharap saat itu cucu kecilnya datang . Namun semua harapannya sirna membuatnya membuang nafas kasar berkali kali.
" Dimana anak brengsek itu setelah membuat cucuku kabur dari rumah?"
"Kau itu seperti tidak tahu dengan putramu aja, diakan gila kerja, pasti sekarang masih ada di kantor, mana mau dia memikirkan soal anaknya. Kapan ia memberikan perhatian tulusnya pada Kean?" Guratan kekecewaan jelas terlihat diraut wajah wanita paruh baya itu.
"Anak itu benar benar membuatku marah. Sampai kapan ia tidak memperdulikan keluarganya sendiri. Bersikap seolah semua orang ingin menyakitinya, hah!"
Nyonya Yenny melangkah mendekati suaminya. Dengan lembut mengelus lengan tangannya." Sudahlah,,, kita tahu kenapa Ravendra bersikap seperti itu, semua juga karena ibu kandungnya. Jangan membebani hatimu lagi, ini sudah bertahun tahun, lepaskan amarah juga kebencian dan penyesalan di hatimu!"
"Kau benar Yenny, aku juga sudah lelah dengan semua. Aku hanya berharap anak brengsek itu tidak membuat kekacauan saat makan malam besok, saat kita mengumumkan pertunangan nya dengan Julia. Putri walikota itu sudah lama mencintai Ravendra. Dari pernikahan ini posisi kita semakin kuat nantinya."
"Tenanglah semua akan baik baik saja!" Nyonya Yenny mengajak suaminya duduk di sofa. Ia ingin menenangkan suaminya yang terlihat begitu lelah.
Tuan Dewantara menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia pun memejamkan mata, mengingat masa lalu yang membuat sakit hati semua orang terutama putranya Ravendra. Karena keegoisannya ia menghancurkan hidup seorang wanita yang begitu mirip dengan mendiang istri pertamanya yang sangat dicintainya. Hingga memaksa menikahi wanita itu hingga terlahirlah Ravendra.
Namun kebencian Mama Ravendra pada Papanya begitu dalam. Karenanya ia harus terpisah dari kekasih yang sangat dicintainya. Apa lagi ia tidak pernah menerima hadirnya anak hasil pemerkosaan Dewantara saat itu, membuatnya juga membenci Ravendra dan memperlakukan anaknya sendiri dengan buruk. Hingga malam tragis itu terjadi, di mana Mama Ravendra ingin membunuh putranya sendiri menggunakan pisau namun gagal karena Dewantara yang menghalanginya. Hingga wanita itu pun bunuh diri dengan membakar kapal pribadinya sendiri.
Di perusahaan Dewantara Group.
Ravendra sedang sibuk berkutat dengan laptop juga berkas berkas yang ada di meja kerjanya. Ia nampak tenang meski hatinya cemas memikirkan putranya yang sejak pagi keluar dari rumah sendirian. Hingga terdengar dering ponselnya. Ia segera mengangkat sambungan itu.
"Hallo! Bagaimana?"
"Tuan Muda, kami sudah menemukan Tuan Muda kecil, sekarang kami menuju ke mansion." Terdengar suara kepala pelayan dari sambungan telepon.
"Bagus! Jangan biarkan ia keluar dari kamar!"
"Baik Tuan Muda!" Jawab kepala pelayan sebelum Ravendra menutup sambungan tersebut.
Ravendra menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia memijat pelipisnya sejenak karena kepalanya terasa pusing.
Suasana hening di ruangan yang terlihat elegan dengan penataan ruangan juga pemilihan warna pada dindingnya serta furniture yang mahal, membuat orang betah berlama lama di dalam ruangan jika bukan pria dingin itu yang menempatinya.
'Ceklekk,,!"
"Tuan Muda?" Ravendra tidak menanggapi suara orang yang kini memasuki ruangannya.
Dan kini tepat berdiri di hadapannya.
"Besok anda disuruh pulang ke mansion, karena,,," Hans sang asisten pribadi menjeda ucapannya sesaat. Ia memperhatikan raut wajah atasannya yang tidak berubah sedikit pun tetap datar juga dingin.
"Hubungi wanita itu, suruh datang ke kantor sekarang juga, waktunya ia menjalankan perjanjian kami!"
"Baik Tuan Muda." Hans segera melakukan perintah atasannya, mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.
'Permainan kita mulai Ayah!" Seringai kejam terbit di bibir Ravendra.
bersambung 🌸 🌸🌸🌸🌸🌸🌸
hati hati dengan Pak Hendra Bening dia sungguh licik
semangat bening 💪💪
tp km masih punya satu anak laki2 lagi
apa pria kaya itu gk tahu ya klo Bening puya anak kembar 🤔