Meyra merasa sangat aneh karena kini dia berada di sebuah pulau yang dia tidak tahu entah di mana, sejauh mata memandang hanya ada lautan saja.
Setelah dia mencari tahu, ternyata Meyra terdampar di dunia lain. Demi bisa kembali ke bumi, dia rela menerima tawaran untuk menikah dengan siluman singa jantan yang dia temui di sana.
"Apakah aku bisa pulang ke bumi jika menikah denganmu?"
"Tentu saja, aku juga bisa membantumu untuk mengungkapkan kejahatan yang menimpa ayahmu."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Langsung kita kepoin yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Merindu
Liliana terlihat menatap Lion dengan tatapan penuh rindu, air matanya terlihat jatuh berurai membasahi kedua pipinya.
Dia benar-benar tidak menyangka jika pria muda yang ada di hadapannya itu adalah buah hatinya bersama dengan Lucas, bayi lelaki yang dua puluh lima tahun lalu dia lahirkan.
Dia ingin sekali memeluk putranya tersebut, tapi dia merasa tidak sanggup. Dia takut jika Lion akan marah karena selama ini dia tidak pernah mengurus putanya itu.
Jangankan menemani putranya itu, hanya sekedar untuk menanyakan kabarnya saja Liliana tidak pernah bisa.
Karena dia memang tidak tahu ke mana harus mencari Lucas, dulu memang dia pernah datang ke dunia Lucas. Namun, pintu itu kini tertutup dengan rapat dan dia tidak bisa lagi masuk ke dalam dunia Lucas.
Hal itu membuat dirinya sering merindukan suami dan putranya itu, dua lelaki yang sangat dia cintai. Sebenarnya dia juga menyesali pernikahannya dengan William, karena dia masih menjadi istri dari Lucas kala itu.
Namun, ayahnya berkata kepada William jika dirinya masih seorang gadis. Belum pernah menikah dan melahirkan, beruntung saat malam pertama mereka Wiliam mabuk berat.
Hal itu membuat William tidak mempertanyakan apakah Liliana masih perawan atau tidak, Tuhan masih berpihak kepada dirinya.
"Kenapa anda hanya diam saja? Sebenarnya mau anda apa?" tanya Lion.
Lion merasa kesal saat melihat Liliana yang hanya diam saja seraya menatap dirinya, padahal Lion bisa melihat sendiri binar rindu di netra ibunya tersebut.
Air mata Liliana semakin luruh tanpa jeda, tanpa banyak bicara lagi Liliana langsung memeluk Lion dengan sangat erat.
Rasa rindu yang sudah dia tahan selama dua puluh lima tahun itu tidak bisa dia tahan lagi, dia ingin menyalurkan rasa rindunya terhadap putranya tersebut.
Ada rasa hangat yang menjalar sampai ke dasar tubuhnya yang paling dalam, dia benar-benar merasakan debaran jantungnya seakan menyatu dengan putranya tersebut.
Dari dulu dia sangat ingin memeluk putranya tersebut, sayangnya tidak pernah kesampaian, entah dengan cara apa kedua orang tuanya menutup akses agar dirinya tidak bisa bertemu dengan Lucas kala itu.
Dia bahkan pernah beberapa kali pergi ke bukit bunga untuk mencari pintu menuju dunia Lucas, sayangnya pintu itu seakan tertutup begitu saja setiap kali dia ke sana.
Dia hanya bisa menangis saja, tanpa bisa bertemu dengan kedua lelaki yang dia cintai. Dia sungguh tersiksa.
"Maaf," ucap Liliana lirih.
Lion begitu senang karena ibunya itu memeluk dirinya dengan sangat erat, dia juga merasakan senang yang luar biasa karena ibunya itu langsung mengenali dirinya.
Karena buktinya dari pertama Lion datang Liliana terus saja menatap wajah Lion, dari situ Lion yakin jika ibunya itu langsung bisa tahu jika dirinya adalah putranya bersama dengan Lucas.
Lion terlihat memejamkan matanya, dia sedang menikmati pelukan hangat dari ibunya itu. Namun, baru saja tangannya terangkat untuk membalas pelukan dari ibunya tersebut, william datang dan langsung menarik tubuh Liliana dengan kasar.
"Oh, jadi seperti ini kelakuan kamu di belakangku! Pantas saja sejak tadi kamu tidak segera menyusul aku, kamu ingin menggoda suami dari Meyra, hem?" tuduh Wiliam dengan penuh amarah.
Liliana langsung menggelengkan kepalanya mendapatkan tuduhan seperti itu dari William, dia bingung harus berkata apa.
Selama ini William tidak mengetahui jika dirinya mempunyai anak, bahkan William tidak tahu jika dirinya pernah menikah sebelum menikah dengan dirinya.
"Jawab Liliana! Kenapa kamu menjadi seorang wanita yang genit seperti itu? Apakah permainanku di atas ranjang masih kurang untukmu?" tuduh Wiliam dengan kasar.
Bahkan dia terlihat mengempeskan tubuh Liliana dengan kasar, melihat akan hal itu Lion langsung menangkap tubuh ibunya yang hampir saja terjatuh.
William semakin marah melihat akan hal itu, baru kali ini dia bertemu dengan Lion. Namun, dia merasa jika Lion seakan datang untuk merebut istrinya tersebut.
"Lepaskan istriku!" teriak William seraya menunjuk ke arah Lion.
"Aku akan melepaskannya, tapi bersikaplah lebih lembut terhadapnya. Dia seorang wanita, makhluk yang harus diperlakukan dengan sangat lembut. Bukan disakiti! "kata Lion dengan penuh penekanan.
"Tau apa kamu tentang rumah tangga kami? Lebih baik kamu pergi dari sini! Lagi pula Meyra hanya anak dari teman istriku, pergi sana!" kata William dengan kasar.
William terlihat mengusir Lion, dia bahkan terlihat ingin memakan Lion secara utuh. Matanya terlihat melotot, kedua tangannya terlihat terkepal erat.
Lion seakan tidak menggubris perkataan dari William, dia malah menatap Liliana dengan lekat. Kemudian, dia menunduk lalu berkata tepat di telinga ibunya.
"Dulu anda menikah dengan pria itu karena anda ingin menyelamatkan perusahaan ayah anda, sekarang ayah anda dan juga ibu anda sudah meninggal. Lalu, siapa yang ingin anda bela lagi? Jika anda tidak bahagia hidup bersama dengan lelaki pemarah seperti itu, maka berpisah."
Mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, Liliana terlihat menatap wajah Lion dengan lekat. Ingin sekali dia membenarkan kata yang disebutkan oleh Lion tersebut, tapi rasanya tidak semudah itu dia bisa lepas dari William.
Melihat Liliana dan juga Lion saling tatap, William terlihat begitu marah. Bahkan dia hendak memukul wajah Lion, dia sudah terlihat bersiap untuk memukul putra dari istrinya tersebut.
Namun, dengan cepat Lion menghindar. Lalu, dia terlihat membawa Liliana ke laur dari ruang makan dan mengambil kota kecil yang sudah disiapkan di saku kemejanya.
Kemudian dia memberikannya kepada Liliana secara diam-diam, dia berikan kotak itu di telapak tangan Liliana.
"Ini ada titipan untuk anda, terimalah dari orang yang sangat merindukan anda. Kumohon, lepaskan lelaki pemarah seperti itu. Jika memang anda ingin bahagia, berbahagialah tanpa pria itu, karena ada juga patut bahagia."
Setelah mengatakan hal itu, Lion terlihat meninggalkan Liliana. William terlihat menyusul dari dapur dan menghampiri istrinya.
"Apa yang tadi kamu lakukan dengan suami dari Meyra, Hah?" tanya William seraya mencengkram lengan istrinya.
Liliana terlihat ketakutan, selalu saja seperti itu setiap lelaki itu marah. Berbicara kasar dan selalu berani memukul.
"Tidak ada, tadi aku... aku hendak jatuh, dia menolongku," dusta Liliana.
"Jangan bohong ka--"
"Stop! Jangan berantem, kamu itu kenapa sih Kak Will? Selalu saja cemburu buta, jangan kasar terus sama Kak Liliana. Dia juga punya hati,'' bela Lolita.
"Cih! Punya hati tapi sampai saat ini tidak mau memberikan hatinya untuk aku, entah siapa yang ada di hatinya!" kesal William.
Setelah mengatakan hal itu, William nampak pergi meninggalkan Liliana bersama dengan Lolita. Dia seakan enggan untuk berada di sana dan berdebat dengan adik dari istrinya tersebut.
****
Selamat malam kesayangan, selamat bobo malam. Satu bab untuk menemani malam kalian, jangan lupa like dan komentarnya.