NovelToon NovelToon
MY DOCTOR

MY DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Contest
Popularitas:62.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: NOVIA IP

Untuk Viana seorang mahasiswa semester pertama menolak di jodohkan dengan seorang dokter muda dengan wajah tampan pilihan kedua orang tuanya tanpa tau siapa pria itu. Apalagi Viana masih muda dan masih butuh kebebasan saat ini.

Namun, setelah perjodohan itu ia malah bertemu dengan dokter sombong yang membuatnya benci. Putra Bagus Rahardian yaitu dokter dari rumah sakit ternama. Pertemuan dimana Viana tidak sengaja menabrak Putra dilorong rumah sakit.

Hingga, mereka menyadari bahwa ternyata dokter yang selama ini dia jodohkan adalah Putra dokter sombong yang selalu emosi setiap kali bertemu Viana.

Akankah Viana bisa menerima dokter Putra sebagai jodohnya? Dan apakah Viana dan Putra bisa saling mencintai? Karena kebencian yang mereka rasakan akan berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WEDDING

Selamat membaca 

Jangan lupa vote, komen dan jempolnya (👍)

***

“VIANA!!!”

Seseorang masuk, membuka lebar pintu hingga membuat Viana tersentak kaget. Viana sedang melihat penampilannya di dalam cermin. Tapi malah melihat makhluk Jadi-jadian berjalan ke arahnya. Tadinya ingin menenangkan hatinya karena dilanda kegugupan akan pernikahannya sekarang. 

Tapi seseorang telah membuat semua kacau balau. Siapa lagi kalau bukan Rasya. Saingan Viana dalam penampilan. Untuk hari ini tidak ada persaingan dan tidak mungkin juga Rasya memakai kebaya. Teman yang satu ini memang antik.

“Lo bikin gue kaget, *****. Gimana kalo gue kena serangan jantung!” Ketus Viana lalu mengusap dadanya. Jantungnya tambah bergemuruh tidak seimbang. Perasaan gugup malah bertambah dan punya teman bukannya membantu malah makin memperburuk suasana. 

Tidak elit sekali, kalau seorang gadis mati karena serangan jantung dihari pernikahan. Seperti film horror saja.

“ขออภัย.” Kata Rasya dalam bahasa Thailand. Dengan wajah bersalah tapi bikin Viana jijay. Muka sama sikap tidak sinkron. Begitu-begitu Viana sangat menyayangi Rasya yang sedikit gemulai itu. (K̄hxxp̣hạy: Maaf)

“Lo bikin gue semakin tegang!”

“Belum malam pertama udah tegang, Vi. Gimana nanti kalau digempur Pak Dokter tiap hari.” Goda Rasya sambil mencolek dagu lancip Viana.

Rasya begitu antusias apalagi saat melihat foto Putra yang ditunjukkan Bundanya.

Siapapun pasti tergiur. Putra mempunyai wajah dan tampang yang tampan, tubuh kekar. Semua jenis makhluk akan suka. Buktinya seorang Rasya blak-blakkan menyukai tampang Putra. Rasya itu tidak bisa lihat pria tampan dan macho. Sekali lihat matanya akan berubah love love seperti di dalam kartun.

“Ngomong dijaga. Masih perawan nih!”

Rasya menggeleng sambil menunjuk jari ke arah Viana dengan tangan gemulai. “Sebentar lagi, by the way lo bakalan buka segel keperawanan.”

Viana mengibas jari lentik Rasya, “Lo balik lagi deh ke Thailand, jangan balik-balik ke sini, kalo bikin gue bad mood.” Sewot Viana. 

Rasya bersidakep. “Baru juga nginjek tanah air langsung di usir. Pak Dokter kok mau sih sama modelan kayak lo begini.” Celetuknya mengejek.

“Gue guna-guna! Puas!”

“Pantesan. Ternyata main dukun.”

Teman kok sinting! Viana mencebik bibirnya.

Rasya manggut-manggut. Dia memakai kemeja batik yang sama seperti keluarganya. Terlihat lebih feminim dan cantik bukan tampan dan rambut  hitam telah berubah warna dengan warna pirang emas. Malah bukan Viana yang lebih mencolok tapi Rasya. Sungguh terlalu!

“Laudy mana?”

“Lagi godain Om Duda kesayangan lo.”

“Ngapain si tuh anak. Segala godain Om gue. Dia bosan hidup? Nggak bakalan ke goda!” Hina Viana dan adik kandung Ardan, sangat susah di dekati wanita setelah ditinggal istrinya.

“Biarin lah, usaha namanya juga.”

“Gue cantikan?”

“Beautiful...tapi calon suami lo lebih hot!”

Dasar kucing garong.

***

Ruang tamu sudah di dekorasi sedemikian rupa. Acara akad sebentar lagi akan dimulai dan Viana duduk di sisi Putra yang siap menjabat tangan Ayahnya sebagai wali nikah.

Suasana tegang tercipta namun masih kondusif. Bukan hanya suasana tapi wajah tampan Putra dama tegangnya. Entah apa yang dirasakannya sekarang. Seseorang sudah mengintruksi Ardan dan Putra bersiap.

Putra sekilas memamerkan senyum lebar untuk pertama kalinya. Ia sedikit terperangah karena melihat Putra tersenyum begitu hangat, karena biasanya pria tersebut akan bersikap sangar dan galak kalau berdekatan dengannya. Beda dengan sekarang malah terlihat seperti dibuat-buat dan terlihat palsu. 

Putra memakai setelan berjas hitam melekat pada tubuhnya dan sebuah kopeah yang membungkus area kepalanya. Tampak tampan dan berwibawa tidak kalah saat berpakaian dinas menggunakan jas snelli-nya.

Jantung Viana sudah mulai berdetak. Dadanya bergemuruh saat Putra menjabat tangan Ardan. 

Ardan menghembus nafas dan membuka suara mengucapkan ijab, kemudian kini giliran Putra yang melakukannya. Ada rasa takut. Tapi yakin kalau Putra pasti lebih lebih gugup dari Viana. Matanya bisa melihat begitu jelas tangan Putra bergetar saat tautannya masih belum lepas dari tangan Ayahnya. 

“Saya terima nikah dan kawinnya Viana Liliana Pangestu binti Ardan Pangestu dengan maskawin tersebut dibayar tunai.” Ucap Putra dengan sekali tarikan nafas. Keringat dingin sudah membanjiri kening dan tangannya.

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah.”

“Alhamdulillah…”

Semua yang hadir turut haru dan bahagia. Putra mengulur tangannya dan disambut senang hati oleh Viana. Menempel bibir di punggung Putra yang sudah ‘Sah’ menjadi suami dan imannya. 

Tidak ada bisikan atau kata manis yang keluar dari mulut Putra. Seakan apa yang terjadi tidak begitu berarti baginya. Apa Viana sedih? Tidak hanya saja, tapi sedikit kecewa. Setidaknya ada ucapan selamat atau terima kasih. Tapi nihil. Meski mereka menikah atas perjodohan tapi setidaknya menghargai pernikahan yang suci.

Kemudian Putra menarik wajah Viana kemudian mencium keningnya lama. Merekapun bertukar cincin sampai pada inti pernikahan mereka akan menghadapi resepsi pernikahan. Yang ditunggu para undangan.

Viana dan Putra berganti pakaian menggunakan gaun kebaya mocca tanpa kain atau kemben saat dipakai saat akad tadi. Gaun kebaya modern yang mudah diajak bergerak.

***

Suasana siang, sudah banyak orang-orang datang dan suasana halaman rumah keluarga Pangestu tampak indah dengan nuansa putih, bunga-bunga yang berjejeran rapi. Acara resepsi garden party wedding yang diharapkan malah diluar ekfentasi. Mereka ingin sesuatu yang sederhana tapi malah terlihat mewah. Sama saja bohong. Komplain pun percuma sudah terjadi. 

Beberapa jam mereka berdiri dan bersalaman, ada banyak rekan bisnis dua keluarga, tetangga dan rekan mereka berdua berdatangan, saling menyambut memberikan selamat. 

“Selamat bro, akhirnya nikah. Cari bini cantik begini, gimana nyarinya, Put. Bagi-bagi ilmu dong jangan disimpan sendiri.” Sahut seorang pria entah siapa namanya Viana tidak kenal. Ia hanya kenal Dastan, Aryan, Dastan dan Bima di acara pernikahan. Bicara soal Bima, Viana kesal karena Putra tidak mengundangnya. Undangan memang terbatas.

“Mau tahu rahasianya?”

Pria itu mengangguk semangat. “Rasanya doa sama Allah biar dapat jodoh yang cantik.”Kata Putra membuat pria itu kesal. 

“Orang serius!”

“Aku serius, Rafael.”

Oh namanya Rafael. Viana tegang saat Rafael sudah berdiri di depannya. “Selamat ya, semoga kuat sama dokter galak kayak Putra.” Serunya malah membuat Viana terkekeh pelan. 

“Istri kamu cantik, Put.” Goda Rafael. 

“Sana turun. Banyak undangan ngantri. Jangan macam-macam sama istri orang!” Putra terus mendorong badan Rafael agar menjauh dari Viana. 

“Cemburunya kumat.”

“Rafael jangan didengar. Otaknya sedikit miring.” Ucap Putra pada Viana. Sebenarnya kalau boleh jujur. Viana terlihat sangat cantik hanya sialnya mulut Putra terasa kelu. Sejak tadi susah sekali berbicara kalau sudah berhadapan dengan gadis tersebut.

Viana hanya mengangguk.

Rafael sudah pergi kini bergantian memberikan selamat beberapa tamu sampai akhirnya seorang pasangan suami-istri berdiri diantara Putra. Dan bisa dilihat kalau Putra tampak terkejut.

“Selamat atas pernikahan kamu, Nak Putra. Maaf, seharusnya…” 

“Terima kasih. Yang lalu biarlah berlalu. Terima kasih sudah datang.” Putra menyela ucapan pria paruh baya tanpa memberikan kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya. 

Kata ‘Maaf’ yang Viana tangkap, merasa kalau kedua pasangan suami-istri itu terlihat sangat mengenal Putra.

“Saya doakan semoga kalian berdua berbahagia. Selamat sekali lagi.” Kata pria paruh baya. Yang Viana lihat istri pria itu menangis setelah mereka bersalaman. Hatinya terasa menjanggal. Mereka jadi pusat perhatian.

Siapa mereka?

“Nanti saya ceritakan.” Bisik Putra pada Viana. Ia mendongak menatap Putra, suaminya. Seakan tahu apa yang dirasakannya.

“Ya.”

Acara berlangsung lancar tanpa hambatan dan cuaca sangat mendukung. Acara resepsi selesai lumayan lama, sampai malam. Membuat kedua pengantin kewalahan karena berdiri berjam-jam lamanya. 

***

Selesai acara mereka langsung membersihkan badan mereka. Tidak ada ritual lainnya yang diinginkan mereka adalah ranjang untuk mereka tidur. Rasa pegal seluruh badan mereka dirasa begitu remuk. 

Viana dan Putra sedang duduk bersila di ranjang milik Viana. Mereka sudah resmi suami-istri dan sah dimata Agama.

“Kita akan tidur di ranjang yang sama. Jadi kamu nggak perlu khawatir kalau saya akan berbuat macam-macam. Saya tidak menyentuh kamu tanpa izin kamu.” Kata Putra tampak datar dan biasa. 

Apa sebutannya kalau berbicara diatas ranjang? Pillow talk kan? Tapi bagi keduanya malah agak terdengar seperti pembicaraan tawar-menawar barang. 

“Oke.” Viana membuat pembatas menggunakan guling di tengah mereka.

Putra diam-diam melihat segala gerak-gerik yang dilakukan Viana. Gadis itu memakai baju piyama bermotif doraemon dan berbalik dengan Putra yang memakai baju piyama bermotif stripe biru.

“Tapi, sebelumnya kita harus bicara perihal kita berdua. Maksud, saya, kita mencoba saling kenal lebih dulu sebelum ke tahap selanjutnya.” Ucap Putra. Lebih enak bicara ditelepon daripada secara langsung malah terdengar kaku dan sikap Putra terlihat bodoh.

“Oke.”

“Saya ingin hubungan ini berjalan seperti air mengalir.”

Viana mengangguk. “Oke…kamu juga sudah pernah bilang begitu. Jadi saya setuju.” Kata Viana tampak santai.

“Dan soal tadi...dua pasangan suami-istri itu, mantan calon mertuaku.” Putra memberitahu karena tadi siang dia sudah janji pada Viana.

“Pantesan. Mereka kelihatan sedih banget saat melihat kamu bersanding sama saya. Kayak nggak rela gitu.” Balas Viana. Ingat kejadian tadi amat terlihat kedua tidak rela kalau Putra bersamanya. 

“Ya, itu sudah berlalu juga. Saya nggak pernah ingin berhubungan dengan masa lalu lagi.”

Viana mengalihkan topik karena memang topik sebelumnya sudah tutup oleh Putra. “Boleh saya mengajukan pertanyaan.”

“Tentu saja, boleh.”

“Untuk panggilan, saya harus panggil kamu apa? Rasanya agak baku kalau bicara saya-kamu, agak aneh.” Ini semacam komplain. Viana merasakan kalau cara bicara mereka terdengar formal lebih tepatnya seperti sedang acara tanya-jawab yang dilakukan dosen dan mahasiswa. Padahal Viana dan Putra adalah sepasang suami istri.

“Baik kita mulai bicara aku-kamu saja. Untuk panggilan, terserah kamu.” Kata Putra setuju. 

Dia juga ingin membicarakan perihal ini, tapi lebih dulu Viana cetuskan. 

“Aku panggil dengan sebutan Mas atau Abang? Menurut kamu enaknya yang mana?” ia minta pendapat pada Putra. Karena Viana juga harus dapat persetujuan dari pria itu langsung. Agar satu hati satu jiwa. 

Putra sedikit berpikir. “Aku lebih suka dipanggil Abang. Lebih terdengar akrab.” Kalau dipanggil ‘Mas’ malah tidak nyaman.

“Aku juga suka.”

“Suka aku?”

Viana reflek mengangguk, tapi langsung sadar dan menggeleng. “Eh, bukan maksudnya suka sebutan Abang. Geer.”

“Aku kira kamu suka aku.” Putra dengan rasa percaya diri tinggi. Sok pasti berbangga diri dengan wajah tampannya. 

Coming soon, maybe! Tapi bodohnya Viana terbawa perasaan, beruntung hanya berkata dalam hati.

Benar yang dikatakan Laudy, kalau Putra sangat mudah membuat wanita jatuh cinta meski tidak melakukan apapun. Terbukti hampir saja Viana terlena. 

Putra bisa melihat kalau wajah gadis itu sudah terlihat sudah mengantuk dan mengakhiri acara obrolannya, “Kita tidur. Kamu capek juga kan?”

Viana mengangguk, “Ya,”

Keduanya berbaring, tidak lupa lampu meja di matikan. Mereka lelah untuk pertama kalinya mereka berada di satu tempat tanpa adanya perdebatan.

“Selamat tidur, Bang.”

“Selamat tidur, Ana.”

***

Keduanya masih kaku, kalau mereka kalem agak aneh ya, kalau berantem gregetan

Next bikin mereka berantem 😜

1
Paulina
ketemu dong.,.jodoh ditagan author🤭🤭🤭
Agus Ahmad
tidak puas gaada kelanjutannya
Amelia septiana
kok lama bget up ny
uciha sasuke
crazy up
HANABI
kapan up lagi
Maya Jihan
padahal seru sayang lama up y, udah sayang padahal sm cerita y
Maya Jihan
jangan lawan up y thor biar tambah banyak yg vote, semangat terus
Septi Hariyani
suka Thor lanjut smngat 💪😊😘
Dara Daniah❤️
gemes bnget
Ratna0789
yeeee akhirnya lanjut juga
sibungzhu
uuwwuuuwwwuuuuuu
jan lama² doonkk thoorrr
Dian Sulistyo
asyiiiiikkk mb Novia udah up lagi.... lanjut terus mb ...SEMANGAT 💪💪💪
Desi Nofita Sari
lanjut thor
Chi Dolpin
akhirnya
Penikmat Sunyi
Yang di tunggu tunggu akhirnya up lagi, lanjutkan kak Novi😄
Amelisa cherry Salsabila
abang.... ahaaaa jadi keingat pernikahan yg viral itu
Sri Utami
lanjuttttt thor
heidiy
up lagi author, nunggu ceritanya
heidiy
up lagi author
Tasya
lama amat lu up thor kmna aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!