Amy Sky menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya dibunuh tepat di luar pintu rumahnya ketika pembantaian tengah malam dilakukan oleh Jack Langton di Mansion keluarga Sky.
Derek Langton, sang pemimpin Klan keluarga Langton hanya butuh satu kali tatapan untuk memutuskan bahwa Amy harus jadi miliknya.
Tiada perasaan yg lebih besar selain kebencian yang dirasakan Amy pada musuh yang telah menghabisi keluarganya, namun harga diri dan perlawanan yang terus ia pertahankan apakah harus patah karna gairah yang tak bisa ia lawan?
Follow ig dianaz3348 & fB Dianaz ya. Thanks.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
** Wake Up **
Derek memandang ke arah ranjang, ke arah wajah Amy yang terlihat pucat. Gadis itu masih tertidur dengan infus masih terpasang di lengannya. Dokter Barkley yang semalaman merawatnya terlihat tertidur di atas sofa. Sinar matahari yang menembus kaca jendela menandakan hari sudah pagi.
Perlahan Derek menyentuh kening Amy, merasa lega karena kulit yang ia sentuh terasa sejuk. Semalaman gadis itu terserang demam. Obat yang diberikan dokter Barkley melalui infus langsung ke pembuluh darahnya sepertinya efektif dan bekerja dengan baik.
Menunggu mata biru itu membuka adalah keinginan utama Derek saat ini. Lebam membiru terlihat mengelilingi mata kanan Amy, Dokter Barkley mengatakan itu disebabkan benturan pada batu yang menyebabkan dahi gadis itu robek. Derek tak ingin tidur walaupun tubuhnya terasa lelah.
Tangan Derek mencari ke bawah selimut . menyentuh jari jari tangan Amy yang teraba hangat, tanpa sadar mengelusnya berulang-ulang.
Sentuhan yang terasa di tangannya membawa kesadaran Amy ke permukaan. Kelopak matanya perlahan membuka, lalu mata biru itu mengerjap ketika bertatapan dengan wajah Derek.
"Akhirnya kau bangun," bisik Derek pelan, kelegaan membanjiri nada suaranya.
Amy kembali mengerjap, mencoba menjernihkan ingatannya atas apa yang terjadi ... ia ingat ia pingsan di dalam hutan.
"Aku ...." Amy berhenti. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ia menelan ludah.
Segera Derek berdiri untuk mengambil gelas air. Lalu membantu menyangga punggung Amy sebelum mengangsurkan gelas ke bibir gadis itu.
"Minumlah ... jangan bicara dulu atau tenggorokanmu akan terasa sakit." perintah Derek pelan. Amy menurut, Ia bersyukur ketika air mulai membasahi tenggorokannya.
"Terima kasih," bisik Amy.
Derek mengangguk. Suara gerakan dari arah sofa membuat Derek menoleh dan melihat dokter Barkley sudah bangun dan memandang ke arah tempat tidur.
"Rupanya pasienku sudah sadar. Kenapa kau tidak membangunkan aku, Derek?" Dokter barkley melangkah ke arah ranjang. Mengambil peralatannya dan mulai mengecek tanda vital Amy. Ia mengecek nadi, mengukur tekanan darah dan suhu tubuh Amy.
"Well ... syukurlah. Semua baik baik saja sekarang, Derek. Kau menemukannya tepat waktu, Jika kau terlambat sebentar saja, gadis cantik ini akan menemui ajalnya karena hipotermia berat."
"Terimakasih, Dokter." Amy mencoba tersenyum ke arah dokter yang menolongnya.
"Panggil saja aku, Barkley. Cantik," ucap Barkley sambil mengedipkan mata.
Derek memandang tajam ke arah pria yang sudah mengabdi di keluarganya itu. Barkley sudah berumur lebih dari 50 tahun, tidak pernah menikah lagi sejak istrinya meninggal, dan sekarang pria tua itu mengedipkan mata pada Amy.
Derek berdehem. Beralih memandang Amy yang tersenyum.
"Sepertinya kau benar ....semuanya baik baik saja." ucap Derek datar.
"Ya. Aku akan mengganti obatnya dengan kapsul yang harus dia minum. Jadi infus ini akan segera ku lepas. Ingat asupan nutrisi harus masuk untuk mempercepat pemulihannya," saran dokter Barkley tanpa menyadari perubahan yang terjadi pada wajah Derek.
"Kalau begitu cepat kerjakanlah. Agar Mike bisa kembali mengantarkan mu pulang dan kau bisa cepat beristirahat." nada suara Derek yang dingin dan terkesan mengusir itu membuat dokter Barkley menoleh. Seketika ia tertawa terbahak bahak ....
"God ... Anak muda, simpan kecemburuanmu! Nona cantik ini akan segera kuserahkan dalam perawatanmu."
Rona merah melintas di wajah Derek ketika dokter Barkley menggodanya dengan kata cemburu. Namun dengan cepat wajahnya kembali datar sehingga Amy ragu telah melihat lelaki itu merona.
"Kau butuh istirahat juga Derek, kau terlihat lelah. Aku akan baik baik saja setelah ini." ujar Amy
"Ya ... kau sebaiknya pergi mandi dan bercukur anak muda! Kau terlihat mengerikan!" Dokter Barkley kembali terkekeh dengan kata-katanya yang sengaja menggoda Derek. Seketika lelaki itu menyentuh rahangnya yang sudah dipenuhi rambut.
"Kerjakanlah apa yang perlu kau kerjakan. Lalu pulanglah ... Aku akan mengurus diriku sendiri!"
Jawaban Derek membuat dokter itu kembali tertawa, dengan sigap ia melepas infus di lengan Amy dan menutup bekas tusukannya dengan kapas steril. Lalu membereskan semua peralatannya.
"Ingat perkataan ku Nona cantik, kau harus makan dan minum obat agar cepat pulih, kau butuh tenaga yang besar untuk menghadapi Singa Langton yang satu ini."
"Aku akan mengantar mu Dok! Bergegaslah!" seru Derek tajam.
Tawa geli dokter Barkley kembali menggema.
"Kau selalu bisa menghiburku Derek ... persis seperti yang dirasakan ayahmu." dokter Barkley melangkah meninggalkan kamar. Derek segera mengikutinya menuju pintu.
"No ... kau tak perlu mengantarku, aku tahu arahnya. Jaga saja si cantik itu" dokter Barkley kembali mengedipkan matanya pada Amy sebelum pergi dan menutup pintu.
Derek duduk di pinggir ranjang memandang perban yang menutupi luka di kening Amy. Lalu ke mata kanannya yang dikelilingi lebam, kearah bahu Amy yang tertutup selimut, Derek tau ada luka goresan memanjang di kulit mulus gadis itu, juga di telapak kakinya.
"Apakah aku semengerikan itu?" Amy menatap Derek yang tak berhenti memandang ke arah perban di keningnya.
"Ya. Kau seperti panda yang sudah tidak makan berhari-hari."
Mata Amy melebar mendengar ucapan Derek. Derek sangat ingin bertanya pada Amy mengapa ia memasuki hutan, kemana tujuannya ... apakah gadis itu memang berniat kabur.
Namun sekuat tenaga ia menahan semua pertanyaan itu. Waktunya tidak tepat, fikir Derek.
"Kalau kau sudah merasa lebih baik, Aku akan pergi mandi dan mengganti pakaianku." Derek memandang dirinya yang kusut. Amy segera mengangguk, tersenyum meyakinkan Derek agar tidak ragu meninggalkannya.
Derek membungkuk, menyentuhkan bibirnya ke kening Amy yang di tutupi perban, Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Amy. Mengelus pelan bibir Amy dengan bibirnya. Jantung Amy berdetak lebih cepat menerima perlakuan lembut yang dilakukan Derek.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Reggie akan datang membawakan makanan untuk mu."
Derek berbisik di bibir Amy lalu menegakkan tubuhnya, memandang wajah Amy yang terlihat terkejut mendengar nama Reggie untuk kemudian berlalu dari kamar itu.
💘💗💗💗💟💟💟💙💙