Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginginkan Anak
Setelah keributannya dengan pria yang datang ke rumah Sashi beberapa waktu lalu sehingga membuat Puguh babak belur. Dia menyadari satu hal. Kehidupannya belum sempurna. Dia menikah, bahkan memiliki istri siri, tetapi belum memiliki anak.
"Mas, harusnya kamu tidak perlu ke rumah Mbak Sashi. Kurasa kamu harus memilih antara aku atau dia, Mas. Jangan egois seperti ini!"
Puguh menggeleng. "Tidak, Nadya! Baik kamu maupun Sashi akan tetap menjadi istriku."
Sakit? Tentu saja Nadya sakit hati. Semakin hari Nadya semakin membenci Sashi. Semakin kuat wanita itu meminta cerai, Puguh kekeh mempertahankannya.
"Mas, kamu sudah menyakiti perasaanku," ucap Nadya lirih.
"Nad, kamu sadar atau tidak. Pernikahan kita semakin hari bukannya bahagia, rasanya hambar."
Glek!
Nadya susah sekali menelan salivanya. Dia memang benar-benar sakit hati pada suaminya, tetapi dia juga tidak mau mengalah dari Sashi.
"Jadi, maksudmu kita tidak bahagia dengan pernikahan ini, begitu? Atau, kamu sudah memutuskan salah satu dari kami, Mas?" Mata Nadya mulai berkaca-kaca. Dia yang menemani Puguh dari nol sampai berhasil seperti sekarang ini.
"Tidak seperti itu, Nadya. Sudah kukatakan dari awal kalau kita tidak akan bercerai."
"Lalu, maksudmu hambar itu yang seperti apa, Mas?"
Puguh menghela napas berat. Dia sebenarnya tidak ingin mengatakan ini karena akan menyakiti hati istrinya walaupun sebenarnya Nadya sudah sakit hati kepadanya.
"Aku menginginkan anak, Nadya."
Jeduar!
Rasanya Nadya ingin memejamkan mata untuk selamanya dan tidak akan pernah bangun lagi. Keinginan Puguh ini sangat sulit untuk diwujudkan.
"Mas, kamu tahu kan kalau ini bukan kehendak kita? Kita bahkan sudah berusaha semaksimal mungkin nyatanya belum berhasil juga. Apalagi sekarang kamu sudah menikah lagi. Bagaimana mungkin aku bisa berhasil hamil kalau pikiranku selalu kalut, Mas?"
Alasan yang dibuat Nadya ada benarnya. Namun, keputusan ini bukan murni keinginannya saja. Semua keinginan keluarga besarnya.
"Kita ke rumah orang tuaku, Nadya. Nanti kita bicarakan lagi mengenai hal ini. Kita bicarakan dengan ibuku bagaimana baiknya," ucap Puguh dengan santainya.
"Mas, apa kamu sudah tidak waras? Kalau kamu mau membicarakan ini dengan ibu, dia pasti akan menyudutkanku, Mas. Kurasa ini hanya akal-akalan ibu untuk memisahkan kita dan membuatmu menjadi suami Sashi satu-satunya."
Iri, dengki, marah, dan beberapa hal lain yang membuat Nadya semakin membenci Sashi. Nadya memang mencintai Puguh, itulah sebabnya selama ini dia tetap bertahan walaupun ibu mertuanya sering menanyakan perihal anak kepadanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Nadya. Aku mencintaimu. Dari awal sampai hari ini pun masih belum berubah."
Mengatakan kata cinta dalam situasi seperti sekarang ini rasanya sungguh tidak etis sekali. Bagaimana Puguh diam-diam menikah di belakangnya sudah cukup membuat Nadya kehilangan kepercayaan pada suaminya. Bertahan beberapa tahun tanpa kehadiran seorang momongan sudah menjadi masalah besar dalam pernikahannya. Sekarang, ditambah lagi keinginan suaminya yang sangat menggebu itu.
"Apakah aku masih bisa mempercayaimu setelah ini, Mas?" ucap Nadya sedikit gugup. Rasanya dia berada di Medan pertempuran. Dia juga yang menjadi incaran dari musuh.
"Bersiaplah. Kita akan pergi sebentar lagi," ucap Puguh yang kemudian meninggalkan Nadya begitu saja.
Tak bisa lagi mendebat selain mengikuti ucapan suaminya. Nadya masuk ke kamar melihat suaminya yang sedang mengganti kemejanya. Nadya sendiri mengambil pakaiannya kemudian masuk ke kamar mandi dan menggantinya di sana.
...***...
Di sinilah mereka sekarang. Rumah orang tua Puguh.
"Assalamualaikum," ucap Puguh dan Nadya secara bersamaan.
"Waalaikumsalam. Eh, kalian. Ayo masuk!"
Sebagai orang tua, Lutfiah sangat senang kedatangan anak dan menantunya. Ini memang hal yang tidak biasa karena selama Puguh bekerja, Nadya datang sendiri. Terkadang hanya untuk berbincang dengan ibu mertuanya, terkadang mengirim makanan untuk mereka.
"Terima kasih, Bu," jawab keduanya bersamaan.
"Tumben kalian ke sini."
"Begini, Bu. Aku mau meminta pendapat Ibu. Aku dan Nadya sudah berusaha untuk memiliki momongan, tetapi sampai saat ini kami belum diberikan keturunan. Apakah Ibu mempunyai solusinya?" ucap Puguh.
Lutfiah tersenyum. Akhirnya putranya mau jujur tentang masalahnya.
"Kamu sudah ke mana saja?" Lutfiah ingin tahu seberapa besar usaha keduanya.
"Kami sudah ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan, Bu. Dokter bilang kalau kami berdua sama-sama sehat. Tidak ada masalah."
Lutfiah memandangi menantunya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia teringat istri siri putranya. Memang dari segi penampilan, Nadya dan Sashi sangat berbeda. Begitu juga dengan kesehariannya. Nadya merupakan ibu rumah tangga, sementara Sashi wanita kantoran.
"Kalau kalian sama-sama sehat, berarti seharusnya bisa kan memberikan Ibu cucu?"
Glek!
Ucapan Lutfiah barusan sangat menyakiti hati Nadya. Dia tidak menyangka kalau akan seperti ini jadinya. Suaminya diam saja melihat perlakuan ibunya pada Nadya.
"Mas, kamu jangan diam saja! Katakan pada Ibu kalau kita memang sudah berusaha dan Allah belum berkehendak," ucap Nadya meminta perlindungan suaminya.
"Bu, aku ke sini meminta solusi. Seharusnya Ibu tidak mengatakan seperti itu," balas Puguh.
"Ibu bisa apa, Puguh? Kalian sudah berusaha dengan cukup keras. Kalaupun belum berhasil, apa yang bisa Ibu sarankan? Kalaupun Ibu memiliki saran, apa kamu mau mendengarnya?" ucap Lutfiah yang terlihat santai sekali.
Sebenarnya baik Puguh maupun Nadya mengharapkan solusi yang baik untuk masalah ini. Namun, mereka salah besar. Sekarang, Lutfiah terkesan memaksakan kehendak agar mereka segera memiliki keturunan.
"Bu, katakan saja sarannya. Agar kami bisa mempertimbangkan lagi untuk mencobanya," bujuk Nadya pada ibu mertuanya.
"Ehm, begini. Bukankah istri Puguh tidak hanya kamu, Nadya?"
Deg!
"Apa maksud Ibu?" tanya Nadya.
"Kalaupun kalian belum bisa memiliki anak, kenapa Puguh tidak mencoba program kehamilan dengan Sashi, istri sirinya?"
Dunia Nadya seakan runtuh. Keinginannya untuk memiliki anak malah berujung kekhawatiran Nadya tentang pernikahannya. Bisa saja setelah Puguh dan Sashi berhasil, Nadya akan didepak begitu saja menjadi istri Puguh. Posisi Nadya saat ini cukup sulit. Bertahan sakit, melepaskan pun sulit.
"Bu, jangan seperti itu! Harusnya Ibu mendukung kami, bukannya malah mendukung Mas Puguh dengan Mbak Sashi. Ibu juga tahu kan kalau pernikahanku dan Mas Puguh saja yang diketahui oleh orang banyak. Apa Ibu tidak malu memperkenalkan Mbak Sashi sebagai maduku?" ucap Nadya meradang.
Lutfiah menanggapinya dengan cukup tenang. "Bukankah kamu meminta saran. Sekarang Ibu sudah memberikan saran, malah sikapmu seperti itu pada Ibu. Lagi pula apa salahnya kalau Puguh memiliki anak dengan Sashi? Dia juga sama-sama istrinya."
Deg!
"Bu, tolong posisikan Ibu menjadi diriku. Aku di madu dan Ibu mertuaku malah bersikap tidak adil pada menantunya. Ibu mulai memihak Mbak Sashi. Jujur, aku kecewa sama Ibu. Bukannya malah meredam rumah tangga anaknya supaya baik-baik saja, tetapi malah menyulut permasalahan baru," ucap Nadya dengan amarahnya.
Keinginan mereka untuk memiliki anak nampaknya bukan perkara gampang lagi sekarang. Apalagi Ibu mertuanya malah mendukung Puguh memiliki anak dengan istri sirinya. Rasanya Nadya ingin berteriak sekencang mungkin.