Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Nyonya Kapten Tiba di Kompleks
Mobil Bram melewati gerbang Kompleks TNI Malang menjelang tengah hari.
Laras menurunkan kaca sedikit. Deretan rumah dinas berdiri rapi di bawah pohon-pohon tua. Beberapa anak bermain sepeda, sementara ibu-ibu menjemur pakaian atau berbicara dari teras.
"Gugup?" tanya Bram.
"Tidak."
"Kamu memegang kotak sketsa seperti akan memukul orang."
Laras mengendurkan pelukannya. "Sedikit gugup."
"Mereka tetangga, bukan tim pemeriksa."
"Tetangga lebih cepat membuat kesimpulan daripada tim pemeriksa."
Bram tidak membantah.
Sejak mobil berbelok ke blok perwira, beberapa kepala mulai menoleh. Nomor kendaraan Bram dikenal. Wajah perempuan di sampingnya belum.
Laras mengenakan blus putih sederhana yang ia jahit ulang sendiri, celana panjang cokelat, dan kerudung tipis warna tanah. Tidak ada perhiasan mencolok selain cincin nikah. Namun potongan pakaiannya pas, sikap duduknya tegak, dan tatapannya tidak gelisah menghadapi orang yang mengamati.
Mobil berhenti di depan rumah kecil bercat krem.
"Ini?" tanya Laras.
"Ini rumah kita. Dua kamar, satu ruang kerja kecil, halaman belakang cukup untuk jemuran dan mungkin meja potong."
Laras menoleh cepat. "Kamu ingat meja potong?"
"Saya ingat semua yang membuatmu menatap rumah sewaan terlalu lama."
Halaman depan belum luas, tetapi bersih. Ada pohon jambu di sisi pagar dan teras yang cukup untuk dua kursi. Untuk Laras, rumah itu terasa jauh lebih besar daripada ukurannya karena tidak ada satu pun pintu yang akan dikunci dari luar.
Bram mematikan mesin. "Saya harus mengambil berkas serah terima di asrama perwira. Lima belas menit. Tunggu di mobil atau turun?"
"Turun. Kalau saya menunggu, orang-orang tetap mengintip. Bedanya hanya kaca."
"Kunci rumah ada di tas depan. Jangan angkat kardus besar."
"Siap, Kapten."
Bram menatapnya. "Nada itu mencurigakan."
"Pergilah sebelum berkasmu kabur."
Ia berjalan menuju gedung dua lantai di ujung blok. Laras turun sambil membawa kotak sketsa dan tas dokumen.
Percakapan di teras seberang berhenti.
Seorang prajurit yang sedang mengangkat galon hampir menabrak tiang. Dua lainnya keluar dari ruang bersama dengan alasan yang tidak jelas. Dari jendela lantai dua, tirai bergerak.
Laras menutup pintu mobil, lalu memandang nomor rumah.
"Dua puluh tujuh B," gumamnya.
"Betul, Mbak."
Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan mendekat sambil membawa wadah makanan. Senyumnya terbuka, tetapi matanya tajam mengamati.
"Saya Ratna, rumah dua pintu dari sini. Suami saya Pak Darmawan. Bram bilang kalian datang hari ini."
Laras mengulurkan tangan. "Laras, Bu. Terima kasih sudah menyambut."
"Panggil Bu Ratna saja. Ini sayur asem. Dapur baru biasanya belum siap."
"Justru dapurnya mungkin siap sebelum kamar. Terima kasih, Bu."
Bu Ratna tertawa. "Bagus. Berarti Bram tidak akan kelaparan."
"Kalau dia kelaparan, dia bisa memasak mi sendiri."
Tawa Bu Ratna semakin keras. Dua ibu yang mendengarkan dari teras saling pandang.
Laras tahu gosip apa yang mungkin beredar. Istri baru Kapten Bramantya datang tiba-tiba. Perempuan tanpa keluarga jelas. Menikah setelah kejadian di penginapan. Ada konflik dengan Tania dan preman.
Ia tidak berniat membela diri kepada setiap pintu.
"Barang kalian masih banyak?" tanya Bu Ratna.
"Satu mobil bak menyusul. Kebanyakan buku, alat desain, dan pakaian."
"Alat desain?"
"Saya membuat pola dan desain pakaian. Masih merintis lagi dari awal."
Mata Bu Ratna berbinar. "Kebetulan sekali. Banyak ibu di sini susah mencari jahitan yang potongannya bagus. Nanti saya bawa beberapa orang."
"Boleh, tapi jangan hari ini. Mesin saya masih di dalam kardus."
"Saya suka orang yang langsung bicara soal kapasitas."
Mobil bak memasuki blok. Laras memberi tanda agar berhenti dekat pagar tanpa menutup jalan. Ia mencocokkan jumlah kardus dengan daftar, memeriksa segel, lalu mengarahkan barang sesuai label.
Prajurit pengintip semakin banyak.
"Masukkan kotak buku ke ruang depan," katanya kepada pengangkut. "Yang bertanda kain ke kamar kecil. Mesin jangan dimiringkan."
"Baik, Bu."
Ketika salah satu kardus hampir jatuh, Laras menahannya dari sisi bawah dan meminta dua orang mengangkat bersama. Ia tidak panik atau berteriak.
Bu Ratna membantu membuka pintu. "Kamu sudah sering pindah?"
"Cukup sering. Tapi ini pertama kali pindah ke rumah yang benar-benar terasa milik saya."
Bu Ratna menatapnya sesaat, lalu tidak mengorek.
"Kalau butuh apa pun, ketuk rumah saya. Di kompleks seperti ini, suami bisa berangkat mendadak. Para istri harus saling menjaga."
"Saya akan ingat."
Di ujung jalan, dua ibu lain berbisik.
"Katanya dia perempuan kampung."
"Cara mengurus barangnya tidak seperti orang yang tidak tahu apa-apa."
"Cantik juga. Bukan cantik genit."
"Pelankan suara."
Laras mendengar sebagian, tetapi memilih mengukur sudut ruang kecil dengan langkah. Tiga meter lebih sedikit. Cukup untuk meja lipat, rak pola, dan satu mesin jahit.
Ia berdiri di ambang pintu ketika seorang prajurit muda lewat untuk ketiga kalinya membawa map kosong.
"Mas, map itu belum sampai tujuan?" tanya Laras.
Prajurit itu membeku. "Siap, sudah, Bu. Maksud saya, belum."
"Kalau begitu, sebaiknya segera diantar."
Bu Ratna menutup mulut menahan tawa. Prajurit itu berbalik terlalu cepat dan hampir menabrak temannya.
Dari lantai dua gedung asrama, Bram keluar membawa map serah terima. Ia berhenti ketika melihat semakin banyak orang berada di sekitar rumahnya.
Tiba-tiba suara seorang prajurit menggema dari bawah tangga.
"Woy, ada Bu Kapten turun!"
Semua kepala menoleh.
Bram menatap tajam ke arah sumber teriakan.