"Lah? Kalo nggak mau bunuh diri ngapain duduk di situ?"
"Emang kalo duduk disini harus orang yang mau bunuh diri?"
"Iyalah, orang yang duduk disini tuh artinya pengen didorong setan biar jatoh, jadi alesannya meninggal bukan karna bunuh diri, tapi karena didorong setan terus mati"
"Gila Lo!! Jaman gini masih percaya sama tahayul..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulut apes Cinta
"Nggak papa La, kalo Bapak Gw nikah sama Ibu Lo, kita udah nggak perlu jadi anak yatim-piatu"
"Nggak nggak nggak, Gw nggak mau jadi adek Lo yang ada Gw bukan anak tapi malah jadi babu Lo lagi"
"Ya nggak lah, emang Gw sejahat itu apa?"
"Iya, baru sadar Lo?"
"Idih, serah dah"
...~~~...
Tett... Tett... Tett...
"Yeahhhhhh"
Sorak riuh seluruh siswa dan siswi terdengar di seluruh penjuru sekolah.
Ila buru-buru mengemasi bukunya kedalam tas, agar dapat cepat pulang dan melarikan diri dari hukuman Pak Citro.
"Ayo buruan lah Cin, lelet banget dah Lo"
"Sabar ngapa, mana lagi nih koin Gw"
"Yaelah ngapain sih Lo nyariin duid koin segala, Lo kan orang kaya"
"Ini pesen dari nyokap Gw, Gw disuruh buat bawa uang kembalian koin soalnya mau dibuat kerokan"
"Ya Allah Cintaaa..... Udah deh cepetan ntar Gw kasih duid koin Gw deh di tas ada, tapi cepet buruan!"
"Oke deh, yuk"
Tanpa mereka sadari bahwa Pak Citro dan Fedri sudah menunggu Ila diambang pintu kelasnya. Kalian tidak boleh melewatkan ekspresi kesal Fedri karena Pak Citro sedang mencengkeram kerah bajunya.
Melihat mangsanya sudah akan meninggalkan kelas, mereka mengambil langkah mundur, yaitu didepan kelas yang tepatnya disamping pintu, tujuannya adalah untuk mengagetkan Ila sehingga Ila tidak bisa kabur.
"Ehhhhh Pak, hati-hati dong!! Ntar kalo leher saya copot gimana nanti Bapak jelasin ke Mama saya?"
"Sebelum Mama kamu tau, saya pasang lagi lah leher kamu"
"Emang Bapak kira saya ini boneka Barbie apa bisa dipasang copot lehernya?"
"Loh? Kamu baru tau kalau kamu ini memang seperti boneka Barbie?"
"Bapam..."
Pak Citro membungkam mulut Fedri dengan tangannya, takut jika Ila menyadari keberadaan mereka berdua dan mereka asik berdebat bisa-bisa ia kehilangan mangsa empuk lagi.
"Pak, kita ngapain sih sembunyi gini, kan tinggal samperin itu orang udah selesai"
"Hussttttt diam saja kamu, jangan banyak tanya udah nurut saja"
"DORRRR"
"Allah Hu Akbar La Haula Walakuwadailabillah"
Ila terkejut saat tepat berjalan melewati pintu tersebut, bukan karena apa, sekolah sudah mulai sepi terus tiba-tiba ada suara dor ditambah lagi ia paling terkejut melihat wajah Pak Citro yang sudah keriput dan sering terpapar sinar matahari itu.
"HUAAHAHAHA..."
Suara Pak Citro membuat Ila, Cinta dan juga Fedri merasa merinding, tawa jahat dan wajah yang mendukung tersebut ia menjadi seorang penjahat.
"Ih Bapak serem banget deh, udah kayak penjahat yang mau culik kita aja"
Cinta begitu blak-blakan memang mulutnya, tidak peduli siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Mulut tersebut seakan tidak ada rem dan tidak pernah disekolahkan.
Sedangkan 2 manusia lainnya yaitu Ila dan Fedri justru menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju akan ucapan yang dilontarkan Cinta kepada Pak Citro.
"Kurang ajar kalian"
Set... Set... Set..
Ucap Pak Citro dengan memoles kepala 3 manusia dihadapannya. (dalam istilah Jawa berarti memukul kepala dengan jari ditekan pada permukaan kulit kepala).
"Huwaaa... Bapak melakukan kekerasan dilingkungan sekolah, saya bakalan ngaduin Bapak ke Kepala Sekolah"
"Apa-apaan kamu ini, drama sekali, saya cuma pelan molesnya..
"Cinta, kamu juga ikut mereka ke halaman belakang sekolah sekarang!!"
"Loh Pak, kok saya juga sih, kan mereka yang melanggar peraturan saya enggak"
"Kamu memang tidak melanggar peraturan, tapi kamu sudah tidak sopan kepada saya"
"Yailah, skip baperan"
"Cinta!!! Hukuman kamu saya tambah menjadi 2 kali lipat, yaitu untuk hari ini dan besok!!"
"Ya Allah Pak, iya maaf deh kalo gitu"
"Tidak ada maaf, cepat selesaikan hukuman kalian, saya akan mengawasi kalian dari jauh. Jangan pernah kalian berpikir untuk kabur dari hukuman ini, atau kalian akan mendapatkan konsekuensinya"
"Iya-iya Pak"
Jawab mereka dengan serentak kemudian meninggalkan kelas dan menuju ke halaman belakang sekolah.
Mereka bertiga menyelesaikan hukuman masing-masing dengan diiringi canda tawa, sehingga tanpa mereka sadari halaman belakang sekolah sudah bersih, dengan begitu mereka telah menyelesaikan hukuman yang diberikan dan dapat pulang lebih cepat.
Bersambung.....
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen dan vote, terimakasih:)