NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahkontrak / Duda / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Vivi NurC.

Bagaimana bila dirimu terjebak dengan orang yang baru kau kenal dan sayangnya dia menganggap dirimu itu adalah kekasihnya. Lebih mengejutkannya lagi, dia ingin segera menikahimu dengan statusnya yang adalah seorang duda beranak 3.

Kira kira bakalan diterima atau ditolak olehmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi NurC., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Ke Sekolah Aurora

...🌿🌾🌿...

Jasmine melambaikan tangannya kearah sebuah mobil yang baru saja berlalu dari rumahnya, atau lebih tepatnya adalah rumah suaminya itu.

Setelah melihat mobil itu sudah tak terlihat lagi, barulah jasmine melangkah masuk kedalam rumah. Sesaat sebelum masuk kedalam rumah, ada perasaan yang sedikit memberatkan langkah Jasmine untuk masuk kedalam rumah.

Sebenarnya dia baru saja mengantar kedua mertuanya yang akan kembali ke rumah mereka. Sebab sudah 6 hari keduanya berada disini.

Sejujurnya ketiga anak Venson tidak mengizinkan opa dan oma mereka pergi. Tapi pekerjaan opanya disana tidak bisa di tinggal. Makanya waktu kepulangan keduanya sempat terkendala karena rengekan Aurora.

Jasmine hanya bingung harus bersikap bagaimana pada ketiga anak suaminya yang bahkan belum bisa menerima kehadirannya. Selama 6 hari yang lalu, sikap ketiganya memang baik padanya. Tapi Jasmine tahu, kalau sikap mereka bertiga hanya sebagai topeng di depan orangtuanya Venson.

Banyak hal yang sudah Maria ceritakan padanya mengenai Venson dan ketiga anaknya itu. Dan kebiasaan apa saja yang sering keluarganya lakukan.

Sejauh ini, Maria selalu baik pada Jasmine. Dan dia sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Sikap Lian terhadap anak mantunya itu juga baik.

"Nyonya?" Panggilan itu membuat Jasmine sedikit tersentak.

"Iya?" Jasmine menatap kearah pelayan di depannya itu.

"Kenapa Nyonya melamun di depan pintu?" Mata Jasmine mengerjab pelan. Seakan tersadar oleh sesuatu. Jasmine hanya tersenyum kikuk.

"Saya tidak melamun. Ooh, ya. Tadi kenapa manggil saya."

Pelayan tadi langsung menunjuk kearah telpon rumah di tangannya itu. "Ini ada panggilan dari pihak sekolahnya non Aura."

Alis Jasmine terangkat satu. "Dari sekolahnya Aura?" beonya yang diangguki oleh pelayan tadi. Setelah menerima telpon itu dari tangannya, pelayan tadi pun pamit ke belakang.

Jasmine segera mendekatkan telepon itu ke telinganya. "Iya, saya sendiri. Ooh, baiklah saya akan segera kesana. Iya, terimakasih, Pak."

Jasmine bersiap - siap, begitu mendengar ucapan salah satu guru di sekolah Aurora yang meminta untuk datang ke sekolah. Dan hal itu ada kaitannya dengan anak keduanya itu.

...🌿   🌿  🌿...

Langkah kaki seorang perempuan yang baru saja tiba di koridor sekolah, membuat dirinya di perhatikan oleh beberapa siswa yang ada di luar kelas.

Untungnya ini bukan jam istirahat, jadi hanya segelintir orang saja yang memperhatikannya. Setelah tadi bertanya dimana ruang kepala sekolah, akhirnya Jasmine sampai di depan ruangan yang dia cari itu.

Diketuknya pintu itu membuat yang ada di dalam membukakannya. "Anda walinya Aurora?" Jasmine mengangguk atas pertanyaan dari guru di depannya itu.

"Silahkan masuk." Begitu masuk kedalam, Jasmine bisa melihat keberadaan Aurora yang kini tengah duduk di sofa. Tapi bukan hanya Jasmine saja, tapi ada beberapa siswi yang Jasmine tidak ketahui siapa namanya.

"Silahkan duduk, mbak."

Jasmine duduk disamping Aurora. Dia menatap sekilas kearah Aurora yang tak memperdulikan keberadaannya itu. Begitu banyak pertanyaan di pikiran Jasmine terkait pemanggilannya kesini.

Dan kira - kira apa yang telah Aurora perbuat, sampai - sampai orangtuanya harus dipanggil kemari.

"Mbak ini siapanya Aurora, ya?" Pertanyaan itu membuat pandangan Jasmine berbalik kearah si penanya.

"Saya, ..."

Jasmine sedikit ragu untuk mengakui statusnya sebagai ibu tirinya Aurora. Bukannya engan, tapi yang dia takutkan adalah Aurora akan marah padanya karena terang - terangan mengakui sebagai ibu tirinya itu.

Kepala sekolah dan beberapa orang di ruangan masih menunggu jawaban Jasmine. "Saya ibunya Aurora."

Mendengar jawaban itu malah membuat beberapa orang di sana terbelalak tak percaya. "Benarkah?" Jasmine mengangguk pelan.

Suasana mendadak canggung. Beberapa orang menatap Jasmine dengan pandangan tak percaya dan sedikit menyelidik. Bagaimana mungkin usia ibunya dan anaknya hanya terpaut beberapa tahun saja.

"Jadi, untuk apa saya dipanggil kemari?"

Sang kepala sekolah berdehem pelan. "Begini, Mba-- Bu. Anak ibu ini sudah beberapa hari ini tidak berangkat sekolah tanpa alasan yang jelas. Dan tadi juga dia beserta teman - temannya ketahuan saat akan membolos."

Perkataan itu membuat Jasmine terkejut dan sedikit bingung. Setahunya, Aurora selalu berangkat ke sekolah. Bahkan saat berangkat pun selalu diantar oleh ayahnya ataupun supir.

Tapi, kenapa bapak kepala sekolah ini bilang, kalau Aurora sudah beberapa hari tidak masuk ke sekolah. Dan lagi, tadi dia berniat untuk membolos.

"Tapi, Pak. Anak saya selalu berangkat sekolah. Bahkan selalu diantar oleh ayahnya."

"Ibu bisa tanyakan pada anaknya sendiri. Apakah dia berangkat atau tidak." Jasmine menatap kearah Aurora seolah meminta jawaban. Tapi Aurora tidak kunjung buka suara.

Jasmine menghela napas panjang. "Jadi, apakah putri saya ini akan dihukum?"

"Sesuai dengan peraturan sekolah, maka Aurora akan di skors selama 3 hari. Begitupun dengan ketiga temannya ini."

Arah pandangan Jasmine tertuju pada ketiga siswi yang duduk di sampingnya Aurora. Dalam sekali lihat, Jasmine bisa menyimpulkan seperti apa pergaulan ketiganya itu.

Bukan berniat menghujat, tapi penampilan ketiganya sudah menjelaskan bagaimana karakter mereka. Bagaimana bisa anak sma berpakaian seragam seperti kekurangan bahan begitu. Dan lagi, dari tatapan salah satu siswi itu kepada Jasmine terlihat sekali seperti meremehkan.

Jasmine tak ambil pusing atas sikap siswi di samping Aurora itu. Toh dia tidak punya urusan dengannya. Dan lagi, untuk apa Jasmine mengurusi orang lain. Kalau urusannya sendiripun belum kelar.

Setelah semuanya selesai, Jasmine izin pamit pada pak kepsek dan guru bk di sekolah ini. Dan Jasmine juga sudah meminta izin agar Aurora pulang lebih awal. Dan untungnya diperbolehkan.

Kini Jasmine berjalan di samping Aurora. Dibelakangnya ada ketiga siswi tadi. Sejenak dia menghentikan langkahnya. "Kalian bertiga tidak kembali ke kelas?"

Jasmine hanya heran saja, kenapa ketiganya malah terus mengikutinya, bukannya kembali ke kelas mereka. Bahkan saat ini, posisi mereka sudah hampir mendekati parkiran sekolah.

"Memangnya kenapa? Masalah buat lo. Toh gue juga nggak ngikutin lo."

"Lah terus? Aku dan Aurora mau pulang. Kalian bertiga masuk ke kelas saja."

"Suka - suka guelah. Ngatur banget hidup loh." balasnya ketus.

Jasmine mencoba bersabar menghadapi orang di depannya itu. "Ya, sudah. Terserah kalian. Ayo kita pergi, Ra."

Baru saja Jasmine ingin menggenggam tangan Aurora. Tapi lebih dulu ditepis oleh sang empunya. "Siapa juga yang mau pulang. Aku mau pergi sama mereka."

"Kau mau pergi kemana?"

Aurora menatap tak suka kearah Jasmine. "Kepo banget sih jadi orang. "

"Bukannya kepo. Tapi kamu baru saja di hukum. Masa mau keluyuran. Kalau ayahmu tahu masalah ini gimana?"

Pandangan Aurora seketika menajam menatap ibu tirinya itu. Untuk mengakui sebagai ibu tirinya saja Aurora sudah sangat engan. "Jangan ikut campur dengan hidupku. Dan jangan sok baik padaku!"

"Kau bahkan hanya orang asing yang tiba - tiba datang, lalu mengacaukan kehidupanku. Harusnya kau sadar akan hal itu!" Marahnya yang membuat Jasmine terdiam.

Dalam benaknya Jasmine, 'Apa seperti itu tanggapan Aurora terhadap dirinya'. Belum sempat dia berbicara, Aurora lebih dulu menyelanya.

"Jangan pernah bersikap seolah kau ibuku. Karena sampai kapanpun, kau tidak akan pernah jadi ibuku!"

"Aura,-"

"Kau tahu, aku muak melihatmu sok baik didepan omaku. Bersikap sok manis didepan daddyku! Aku benar - benar muak?!" Bentak Aurora dengan napas memburu.

Jasmine tak membuka suara. Sebab ada bagian dalam hatinya yang mencelos akibat mendengar ucapan itu. Apakah selama ini sikapnya hanya dianggap pura - pura dan cari muka?

Apakah tidak ada sedikitpun kesempatan bagi Jasmine untuk bisa diakui sebagai ibunya. Kalaupun bukan menjadi ibunya. Bisakah mereka bertiga menganggapnya sebagai seorang teman. Bukan sebagai musuh yang akan terus mereka musuhi.

Aurora yang tengah diliputi perasaan marahpun langsung mendorong Jasmine. Karena tidak siap, Jasmine pun terhembas dan jatuh. Bahkan dirinya sempat terbentur pinggiran tong sampah.

Setelah melakukan tindakan tadi, Aurora langsung berlalu pergi dari sana. Jasmine menatapnya dengan sendu. Bahkan dia tidak sadar kalau lengannya tergores akibat pinggiran tong sampah tadi.

Ketiga siswi tadi sejenak menatap kearah Jasmine kemudian ikut berlalu mengikuti langkah Jasmine. Tapi siswi yang berjalan paling belakang itu sejenak menghentikan langkahnya.

Dia menatap kearah Jasmine yang masih menatap kemana langkah Aurora pergi tadi. "Ck, kasihan."

Mendengarnya membuat Jasmine mendongak menatap kearah siswi tadi. Dan ternyata siswi ini adalah siswi yang sama yang tadi melayangkan senyum remeh ke arahnya.

"Apa?"

"Nasibmu begitu menyedihkan, ya." Senyuman remeh kini bersarang di bibir siswi tadi. Sejenak Jasmine menatap kearah nametag yang ada di bahu seragam siswi ini.

Yoela, itulah nama yang tertera di baju seragam siswi ini. Tak ingin berlama - lama, Yoela pun berlalu pergi setelah memberikan senyum sinis ke arahnya.

Sejujurnya Jasmine sendiripun merasa bingung dengan sikap kurang ramah yang ditampilkan gadis itu padanya. Padahal dia sama sekali tidak pernah bertemu gadis itu sebelumya.

Tak ingin memikirkan hal itu, Jasmine lantas berdiri dari posisinya. Karena gerakannya saat akan berdiri itulah, membuat Jasmine sadar kalau tangannya mengeluarkan darah dan itu menimbulkan rasa sedikit perih.

Jasmine mencari tissu di tasnya untuk mengelap darahnya yang keluar itu. Setelah selesai, barulah Jasmine meneruskan langkahnya menuju ke parkiran.

...🌿 🍁 🌿...

...❤  ❤  ❤...

...🍁 Terimakasih sudah menanti cerita ini💖🍁...

1
Bunda Puput
Luar biasa
Bu Dewi
Yach....
knp Wilson GK jodoh dg Syifa Thor
😢
Bu Dewi
baru dipart ini aku benar2 nangis Thor.
knp Jasmin bodoh banget sih klo GK bisa ngejelasin semua mending pergi saja😭
Ririn Nursisminingsih
ini ceo kok bodoh banget...ya diselidikilah
Ririn Nursisminingsih
udahlah jasmin klau kmu ndak dihargai mending pergi aja
Ririn Nursisminingsih
iyaa neh jasmin kok ndak bertindak tauwilson di bully kok ndak greget gituyaa
Irene
suka ceritanya
Vitamincyu
...
Vitamincyu
..
Khoerun Nisa
novel bikin Gedeg sbnrnya di cerita ini mengisahkan apa ko GK jelas bgt
Khoerun Nisa
teka teki tp GK di kasih jwban
Khoerun Nisa
bukan nya Daddy knp JD ayah
Khoerun Nisa
knp pula JD bdoh jad bilang aja ank2 yg memaksa mentdtangi kontraknya
Khoerun Nisa
aku GK suka sikap ibu tirinya keliatan sabodoan BKN nya nyelsein mslh mlh ikut2n nyembunyiin cari ke orng yg suka bully itu laporin ke guru toh udh kenal ini eh mlh ikut diem gmn mau ngambil hati anak2 klu lmbek gtu
Khoerun Nisa
mnghdpu orng ky gtu harus di bikin tegas tor jngn lebay gtu
Khoerun Nisa
kurang cocok harusnya JD Mak tiri yg tegas buat anak tiri yg congkak gtu
Imelda Sipayung
seru ceritanya
AR Althafunisa
entahlah.. mungkin Venson punya sesuatu rencana, tapi rencana itu malah nyakitin istri, secara ibu hamil ga boleh banyak pikiran. sama aja, membunuh secara perlahan kamu mah Version Version, udah taunya nyari duit doang. permasalahan anak-anaknya main diserahin kenistri, dia kagak mau tau. 😏
AR Althafunisa
knp ya nyeseknya sampe tangan tuh rasanya ada aliran listrik. perihhh
AR Althafunisa
semakin berat permasalahannya.. 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!