Mutia Syakila
Seorang gadis desa yang berparas cantik dan di juluki kembang desa, ia berumur 20 tahun, mempunyai adik perempuan satu , namun orang tuanya bercerai saat ia masih SMA. sesuatu yang sangat mengharuskan jika anak perempuan pertama pasti menjadi tulang punggung keluarga, apalagi ayahnya memiliki sakit jantung.
Ia bekerja siang malam untuk menhidupi keluarga dan pengobatan ayahnya. Dan cobaannya tidak sampai disitu, karena ia bertemu dengan sorang lelaki Yaitu Rangga aditiya yang membawa cinta sekaligus luka bagi mutia
Bagaimanakah kelanjutannya, ???
#Tinggalkan jejak setelah membaca yaa para readers tercintah🤗❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
Mutia sangat canggung karena rangga manatap mutia dengan intens jadi mutia sedikit gugup ketika di tatap seperti itu oleh rangga.
“heyy.. “ rangga malah bengong
“rangga.. ngga..” panggil mutia sambil mengibaskan tanggannya di depan wajah rangga
“ehhh.. i.. iya hay.. sory soryy tdi gue sedikit memikirkan sesuatu ucap rangga dengan gugup
“ayo berangkat,” rangga langsung menggandeng tangan mutia,
“makasih mel, kita berangkat dulu” pamit rangga pada amel
“Oke, semoga lancar acaranya” jawab amel dengan senyum yang ramah
15 menit perjalanan akhirnya rangga dan mutia telah sampai di caffe X tempat dimana rangga sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuk mutia.
Rangga bergegas keluar dan membukakan pintu untuk mutia,
Mutia kaget karena biasanya rangga tidak seperti ini,
“kenapa dia berubah menjadi manis seperti ini perlakuannya,” gumam mutia sebelum menyambut uluran tanggan rangga
“heyy malah ngelamun” ucap rangga sambil menyentil jidad mutia
“aww… kebiasaan banget sihh sakit tau” kesal mutia sambil mngerucutkan bibirnya
“udah jangan cemberut gitu, nanti cantiknya ilang, ayo turun” ucap rangga sambil tersenyum maniss
Satu senyuman tulus rangga mampu membuat kekesalan mutia sirna megitu saja, sehingga ia langsung menyambut uluran tangan rangga dan bergegas keluar, mereka memasuki area caffe dan langsung menuju ke tempat outdoor yang sudah di hias sedemikian rupa,
“tunggu dulu” ucap rangga
“ada apa?” tanya mutia dengan bingung
Rangga berbalik menghadap mutia dan menatap wajah cantik itu dengan tatapan yang tulus,
“aku punya suatu kejutan untukmu, namun sebelum itu, kamu harus menutup matamu terlebih dahulu”
“lohhh kenapa harus di tutup?
“yakan kejutan, gimana sih, dasar gadis bodoh” ucap rangga mengejek mutia
“ishhh dasar, yaudh iya” mutia menutup matanya, namun mutia merasakan rangga yang semakin mendekat kepadanya bahkan wangi khas rangga sudah sangat tercium oleh mutia, jantung mutia berdegup kencang, lalu rangga sedikit memeluk mutia untuk menutupi mata mutia dengan telapak tangannya,
“ko di tutup pake tangan segala”
“biar kamu gak ngintip, ayo jalan” mutia hanya menurut saja
“nah udah sampai, dalam itungan ke tiga baru kamu boleh membuka matamu”
“iya” jawab mutia dengan perasaan yang sudah tak menentu
“satu… dua…tiga..”
Mutia membuka mata dan langsung menyunggingkan senyumnya ia sangat takjub dengan kejutan yang di berikan rangga
“benarkan ini kejutan untukku” tanya mutia dengan mata yang berbinar
“bukan” jawab rangga singkat, mutia yang mendengar itu seketika senyumnya memudah, dan terlihat bahwa saat ini iya sudah kesal
Rangga memegang kedua tangan mutia, mendekatkan wajahnya dan berkata
“mutia… ini untukmu, hanya untukmu, aku berharap kamu menyukainya” ucap rangga dengan suara yang lembut
Hati mutia kembali berbunga-bunga karena seumur hidupnya baru kali ini ia mendapatkan kejutan seperti ini, hatinya sesak, bukan karena kesedihan melainkan karena kebahagiaan.
“terimakasih” ucap mutia dengan senyuman manisnya
“ayo duduk” rangga menarik tangan mutia menuju meja dan kursi yang sudah di siapkan
Mutia mengamati meja yang ada di hadapannya, meja yang berbentuk hati, di hias dengan bunga mawar merah, minuman dan makanan yang di hias sedemikian indah membuat hati mutia semakin terharu, melihat sekeliling terdapat kolam renang di hias dengan lilin dan di taburi mawar merah. Tiang lampu yang berjejer di balut dengan kain putih dan di ikat dengan daun rambat beserta bunga melati menambah kesan romantic, tak lupa alunan biola yang mengiringi acara makan malam mereka.
Setelah selesai mengamati di sekitarnya mutia menengok kembali pada rangga dan betapa terkejutnya ia melihat rangga yang sedang menatapnya dengan seulas senyuman di wajahnya,
“gimana, kamu suka sama tempatnya?”
“suka.. banget malah.. hehee” jawab mutia dengan semangat
“yaudah makan dulu yah” ucap rangga sambil mengelus pucuk kepala mutia dengan lembut, mutia yang mendapatkan perlakuan manis hanya terlihat kikuk dan malu-malu
“ehh.. iya”
rangga yang dari tadi mengamati mutia sungguh sangat terpesona hingga ia tidak bisa memlingkan tatapannya , lalu ia mengambil ponsel dari saku celananya dan trettt rangga memotret mutia diam-diam.
mutia yang sadar langsung menengok pada rangga," kamu poto aku?"
"nggk" jawab rangga dengan terburu-buru memasukan kembali ponselnya
mutia hanya memeutar matanya ia sudah tau jelas-jelas tadi rangga memotret dirinya,
"ah sudahlah, makanan ini sudah menggoda cacing di perutku dari tadi" seloroh mutia dengan senyum semangatnya"