Hans seorang pemuda yang giat belajar. Berteman dengan dua orang Andika dan Febri.Mereka seperti saudara saling membantu dan menolong.
Tiba-tiba persahabatan itu sedikit tergoyahkan setelah datang seorang gadis jelmaan.Dia adalah cucu angkat dari nenek yang ditolong oleh Hans dan gadis yang sudah lama hilang.
Bagaimana persahabatan mereka selanjutnya,nantikan karyaku yang kedua ini
Nantikan detik-detik terkuaknya misteri Gedung Tua ini.
Terimakasih sudah membaca novelku yang kedua ini kritik dan saran dangat author harapkan agar menjadi naskah yang sempurna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Utiks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil Keluar
Hans dan Andika makan daging asap dengan lahapnya.Tidak menyadari dua orang sudah tak ada lagi di sebelah mereka.
Setelah kenyang mereka merasa haus mencari minum dan baru tersadar.
"Hans, mana dua orang tadi ?"
" Iya, kemana mereka ya? sudah minum dulu nanti tercekik "
Setelah itu mereka istirahat sejenak dan saling memandang. Dasar bukan anak penakut maka mentalnya lebih bandel. Apalagi Hans yang sering ketemu dengan makhluk halus. Gak tahu ngidam apa dulu ibunya ?
.
.
Pak Mardi yang masih berada di ruang masuk seketika bangun mendengar suara gemuruh.
Ada apa ini ? kenapa aku bisa tertidur di sini ? Kemana anak-anak ya ?
Semua pertanyaan ada dalam hatinya. Kemudian berdiri dan melangkah masuk ke dalam gua.
Saat melangkah masuk ia melihat ada ruangan. Diintipnya dan melihat Febri tertidur nyenyak di sana.
" Nak, bangun! nak ... ayo bangun !" Pak Mardi mengguncangkan tubuh Febri yang seperti mati. Kemudian mencari sedikit air untuk diteteskan pada wajah Febri.
" Emmss ... oahhh... " menggeliat tidur lagi.
Ya ampun anak ini susah sekali bangunnya.
Kemudian dengan sedikit keras pak Mardi mencubit hidung Febri. " Aaduuuhh.. aaauuu... "
" Bapak ...!! kenapa mesti cubit sih? Sakit pak ! "
" Biarin, dari tadi dibangunkan gak maunbangun. Lihat kamu tidur dimana coba? "
" Haaahh.. " Febri sangat terkejut melihat kondisi dirinya yang tidur diatas batu yang menyerupai tempat tidur.
" Hah, gimana? baru sadar? Trus teman-temanmu di mana? "
" La ... tadi...? " Febri mencoba mengingat kejadian sebelum tertidur. Tapi memorinya penuh dengan mimpi yang baru saja ia alami.
" Kenapa kamu? bengong gitu? "
Kemudian ia menceritakan sedikit mimpinya pada pak Mardi.
Dia bertemu dengan nenek dan gadis cantik. Mereka sepertinya yang menempati gua itu dilihat dari cara bersikapnya yang sangat hafal dengan seluk beluk gua itu. Mereka mengajak Febri makan daging asap yang masih hangat.
Cerita mimpinya terputus saat dibangunkan pak Mardi tadi. Padahal lagi enak-enaknya makan daging belum kenyang.
" Sudah Impen-impenen kamu ini, ayo masuk mau tidak? "
Mereka masuk ke dalam gua dan bertemu dengan Hans dan Andika. Mereka berdua duduk santai menghadap meja batu.
" Enak banget kalian lagi makan apa? " kata Febri.
" Daging asap, mau nih! " kata Hans.
" Ayo pak Mardi makan dulu sudah lapar, tadi cuma mimpi makannya"
" Mimpi apa kamu ? ha ha ... tidur di mana Febri tadi? "
" Kalian ninggalin, untung ada pak Mardi yang bangunin kalau tidak sudah kalian lupakan "
" Kita juga gak sadar di sini, tadi ada orang gak tahu sekarang hilang " kata Andika.
" Hilang gimana? tanya pak Mardi.
" Tau, Kami makan tiba-tiba ilang" sahut Hans.
" Cewek apa cowok hantunya? "
" Husss... hantu Gundulmu kui " kata pak Mardi.
" Ha ha ... dul gundul ... kepalamu pantes gundul ha ... ha..." kata Hans. 😁😁
Setelah merasa kenyang mereka mau melanjutkan pencarian. Setelah beberapa saat tak menemukan sesuatu akhirnya menyerah.
" Kita ke sini kapan-kapan lagi saja, ini sudah lama kita di sini, takutnya lupa pulang" ucap Hans
" Oke kita kembali ke tempat kita masuk tadi, ayo cepat !" kata Andika menarik tangan Febri yang masih bengong.
Mereka segera berbalik menuju pintu Goa. Dengan berjalan dengan cepat. Rasanya sudah seharian penuh di dalam lupa tidak melakukan ibadah juga.
Tuhan ampuni mereka yang khilaf, tak mengulanginya lagi demi obsesi.
Tiba di pintu gua mereka baru tersadar, pintunya tertutup. Kebingungan saling menatap satu sama lain.
" Loh ... kog tertutup pintunya ? gimana kita bisa keluar ?" ucap Febri mulai panik.
"Tenang kita harus berpikir jernih. Oh ya Hans mana cincin itu coba kamu keluarkan ! "ucap Andika
Hans merogoh saku celananya dan terdiam beberapa saat.
" Tidak ada di sakuku, mungkin apa jatuh ya? " Hans mencoba mengingat - ingat kejadian setelah masuk gua.
" Oh ya, tadi di dalam aku sempat naruh cincin itu di sebelahku pada saat makan daging. Waduh gimana ini? apa kita masuk ke dalam lagi? "
" Iya to nak , bagaimana kita bisa keluar tanpa cincin itu? kita sudah terkurung didalam goa ini" kata pak Mardi.
Hans baru saja akan beranjak dari depan pintu goa, namun dari arah samping ruang muncul sosok gadis dan seorang nenek yang mereka temui tadi.
" Hah ... kalian ada disini juga ? Kukira tadi menghilang seperti hantu " kata Andika mencoba mendekati dua sosok itu.
Pak Mardi yang belum menyadari kehadiran gadis dan nenek tadi berpaling menatap mereka. Sejenak memicingkan mata berharap mereka salah satu anggota keluarganya.
Wajah mereka memang hampir mirib tapi tidaklah sama. Atau mungkin karena bertahun-tahun tak bertemu akhirnya berubah? entahlah.
" Kamu siapa? " tanya pak Mardi penasaran ingin segera tahu identitas mereka setelah cerita Hans dan Andika di dalam goa tadi.
Mereka membisu dan hanya menatap orang -orang yang datang dan mengusik ketenangannya di dalam gua.
Tangan nenek menunjuk pada arah pintu batu goa dan terbukalah sedikit demi sedikit batu itu bergeser. Setelah terbuka lebar mereka berempat segera melangkah ke arah pintu dan terus menatap pada nenek dan gadis yang di dalam goa.
" Ayo ikutlah kami keluar, tidak baik kalian berada disini berdua !" ajak pak Mardi yang masih menunggu reaksi dari keduanya.
" Pak Mardi cepatlah ! pintu segera tertutup lagi !" teriak Hans yang sudah berada di batas pintu. Sedangkan Febri dan Andika sudah diluar goa.
" Ayo nek, nak ! aku akan merawat kalian ikutlah aku " pak Mardi masih mencoba membujuk keduanya. Namun tangannya segera ditarik oleh Hans untuk keluar goa.
Dengan sedikit memaksa dorong pak Mardi mereka berhasil keluar gua dan pintu segera tertutup.
Air terjun yang mengalir tenang berubah menjadi deras lagi. Mereka segera berlari terengah -tengah keluar dari derasnya air terjun.
" Huft ... untunglah kita tadi sudah makan jadi punya tenaga buat lari " kata Febri sambil merebahkan tubuhnya di tepi sungai.
" Iya, hah ... hah.. ( ngos-ngosan) dan akhirnya bisa keluar juga " sahut Andika.
" Pak? Gimana masih kuat jalan? " tanya Hans pada pak Mardi.
Tak ada sahutan, pak Mardi memejamkan mata ikut merebahkan diri disamping Febri. Kelihatannya sangat lelah sekali. Hans hanya bisa menatap bergantian dengan Andika.
Pak Mardi masih belum tua sebenarnya. Tapi karena kondisinya tak terurus selama ditinggal keluarganya maka tubuhnya mudah sekali kelelahan.bKurang nutrisi mungkin mungkin ya?
Hari sudah beranjak sore. Setelah beristirahat sejenak mereka kemudian bangkit dan mulai beranjak dari air terjun itu. Berjalan beriringan karena jalan setapak itu hanya bisa dilewati satu orang saja.Tanpa suara hanya terdengar rumput yang mereka injak.
" Hai, aku baru ingat nenek dan gadis itu tadi kan bisa bicara saat kita belum makan ya Hans? " Andika tiba-tiba berhenti dan menatap Hans.
" Iya ya? Tapi kenapa mereka tadi diam saja waktu kita mau keluar ? "
****
***Sampai ketemu episode selanjutnya.
Like and vote kutunggu 💖💖💖💖
🌼🌼🌼🌼🌼🌼✒📖***
tetap semangat thorr.💪
Thanks thorr udah mau mampir🙏🤗😁