NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Insiden Kamar Mandi

Sagara dengan sigap melayani pelanggan ibu mertuanya yang mulai berdatangan, makan di tempat, di meja-meja yang disediakan. Sedangkan ibu mertuanya itu tengah menangani pelanggan yang memesan makanan untuk dibawa pulang.

"Wahhh ... A Sagara, selamat atas pernikahannya dengan Teh Nara. Nggak sempat hadir kemarin karena kerja," sapa Dani, pria muda itu memang mudah akrab termaksud dengan. Sagara yang sebelumnya merupakan teman sebelah kamarnya.

"Iya, tidak apa-apa. Semuanya memang serba cepat kemarin. Jadi, ya ... begitulah," balas Sagara menyimpan pesanan pria muda itu di atas mejanya.

"Kaya pernikahan kilat ya, A," sambung Dani membuat Sagara terkekeh, membenarkan dalam hati seraya mengangguk samar.

"Tapi sebenarnya, perencana nikah itu sudah sejak lama. Baru terealisasi kemari saja, maklum saya sama Nara sudah sama-sama cukup umur untuk menikah. Hanya karena kesibukan saja dan beberapa hal. Jadi, terus ditunda-tunda," ujar pria itu, mulai merangkai cerita bahwa mereka memang adalah sepasang kekasih.

"Kalau rencana-rencana itu memang jadi agenda saja, mending langsung gaskan saja, A. Langsung halal, kan?" Dani menaik-turunkan alisnya, menggoda pengantin baru.

"A Sagara harus jaga baik-baik Neng Nara, dia itu sering sekali dijodohkan. Apalagi Bu Nurlela itu yang sering sekali mengenalkannya dengan pria-pria di kampung sebelah, belum lagi Juragan Didin yang genit sama Neng Nara." Mamat ikut nimbrung dalam pembicaraan itu.

"Bu Nurlela tidak percaya kalau Teh Nara sudah punya calon suami orang kota, makanya ngotot terus promosikan duda anak satu di kampung sebelah."

Salah satu alis Sagara naik. "Oh, ya?"

Dani mengangguk sebagai balasan. Melupakan makanannya sejenak, asik bergosip dengan pria gondrong itu.

"Mana yang lebih ganteng saya dengan duda itu?" tanya pria itu serius. Ia memperbaiki helaian poninya yang berantakan, lalu memasang senyum tampan.

Dani tampak diam sejenak. "Hmmm ... menurut saya, mah. Gantengan Aa lah kemana-mana, sudah hidung mancung, wajah tanpa jerawat, tubuh atletis. Mana bisa dibandingkan sama dia." Sagara angguk-angguk dengan wajah jumawa.

"Cuman ya, duda itu tampilannya kece, A. Rambutnya klimis, biar wajahnya pas-pasan. Pakaiannya rapi tiap pergi kerja ke pabrik. Kayaknya sih, manajer dia itu," lanjut Dani membuat senyum Sagara luntur seketika.

Jadi, maksud pria muda ini memuji atau menyinggungnya?

Sagara berdecih. "Ohh, ya, ya ... kamu silakan lanjut makan. Jangan lupa bayar, jangan ngutang mulu. Bisa tekorrr mertua saya!" ujar Sagara dengan nada ketus yang samar, meninggalkan meja Dani yang kini menggaruk hidung.

'Padahal kan tadi udah muji'. Begitu sekiranya raut wajah pria muda itu.

Sagara melirik jam di pergelangan tangannya, lalu berjalan menuju ibu mertuanya. "Bu, Sagara sudah harus pergi ke rumah Pak Bagja," beritahunya lagi setelah sebelumnya sudah memberitahu sang mertua sejak tadi subuh.

"Oh iya, Nak. Kamu hati-hati di jalan, jalanan desa banyak batu dan licin. Apalagi habis hujan kemarin," peringat ibu mertuanya itu.

Sagara mengangguk, mengulurkan tangan untuk salim. Ratna sejenak menghentikan pekerjaannya. "Pamit ya, Bu. Nanti kalau udah selesai, tunggu Saga untuk angkut perkakasnya," ujar pria muda itu sebelum pergi.

"Iya, Nak. Haduh, kamu sudah ingati Ibu berulang kali mengenai hal itu," kata Ratna dengan nada mengomel membuat menantunya terkekeh.

Sagara benar-benar pergi dan menuju rumah untuk membersihkan diri serta mengganti pakaiannya. Tas serta barang-barangnya yang lain telah berpindah ke rumah tersebut, kamar kos kembali di kosongkan.

"Assalamualaikum," salam Sagara saat memasuki rumah yang pintunya tertutup, namun tidak di kunci.

Nara berada di rumah, katanya mau bersih-bersih dulu sebelum ke warung. Wangi pembersih lantai menguar di setiap sudut, lantainya telah mengering dan bisa dipijaki.

Sagara langsung menuju kamar mandi, tidak terlalu menghiraukan keberadaan Nara yang tak terlihat. Tangannya memegang ganggang pintu kamar mandi, dan bertepatan dengan itu pintu tersebut terdorong ke belakang membuat tangan dan tubuh Sagara refleks ikut maju.

"Argghhh!" teriak Nara mendapati pria itu yang berada di depan pintu kamar mandi tersebut. Mana tumbuhnya hanya terlilit handuk sebatas paha, ia bergerak mundur dengan wajah syok.

"Nara!!!" panggil Sagara saat gadis itu mulai terjungkal ke belakang karena tidak memperhatikan langkahnya. Dengan gerakan cepat, pria itu meraih pinggang si gadis yang kepalanya hampir terantuk bak mandi.

Tatapan keduanya bertemu, terkunci satu sama lain dengan wajah yang begitu dekat. Bahkan, napas satu sama lain terasa menerpa wajah. Jantung keduanya pun berdegup tak karuan, berlomba-lomba hampir ingin keluar. Sampai mata Sagara salah fokus pada dua gunung kembar yang kembang kempis sedikit mencuat. Ia mengedip sekali, menelan ludahnya. Ya ampun, ini ujian berat. Matanya mulai berkabung.

"Yakkk! Apa yang kamu lihat?!" teriak Nara menjambak rambut pria itu dengan kedua tangannya.

Sagara mengaduh, kepalanya miring ke kiri, miring ke kanan. Posisi keduanya yang belum berdiri tegak, membuat kesulitan. Jika tidak memikirkan cedera otak dan sang mertua, sudah pasti Sagara menghempaskan tubuh mungil istri kilatnya ini.

"Yak!!! Kamu kurang ajar, mesum, berandal!!!" teriak Nara masih dengan aksinya. Rambut gondrong bak sutra Sagara yang dirawatnya penuh kasih, bahkan rela menghabiskan berjuta-juta dapat dipastikan rontok di tangan gadis ini.

Tidak tahan dengan kegilaan itu, dengan sekali sentakan, tubuh mungil Nara telah terimpit ke tembok dengan kedua tangannya dikunci oleh Sagara di sisi kiri dan kanan, wajah pria itu begitu dingin saat melakukannya.

Bibir mungil Nara terkatup rapat, bahkan untuk bernapas pun tidak berani. Tatapan pria itu terlalu tajam dan dingin, membuatnya membeku begitu saja.

Mata kelam Sagara melihat ke arah dua tangan Nara bergantian, helaian rambutnya yang rontok masih tertinggal di tangan gadis itu. Tatapannya semakin dingin saja.

"I-itu salahmu, s-siapa suruh mesum. A-aku hanya—"

"Mesum?!" ucapan Nara terpotong oleh suara rendah tertahan pria itu.

Okeyyy, sekarang Nara dapat melihat kemarahan pada pria ini. Ia tidak boleh semakin memprovokasinya.

"Mn," angguknya refleks. "Eh, m-maksunya tidak, eh, tapi iya! Kamu itu ...." Hais! Sudah ia ingatkan dirinya untuk tidak memprovokasi, tapi dasarnya ia yang selalu saja mulutnya bergerak lebih cepat dari otaknya. Wajah gadis itu memelas, apalagi saat melihat seringai dari bibir pria itu.

"Hm, aku mesum! Memang benar! Dan aku akan tunjukkan padamu seberapa mesumnya pria ini." Sagara mengikis jarak di antara keduanya, sampai dada keduanya saling menghimpit tak terelakan. Hanya beberapa helaian benang yang menjadi penghalang. Degupanya bisa saling di rasakan.

Wajah Nara pucak dengan mata terbelalak, ia memberontak, berusaha keluar dan lari dari situasi tersebut. Tapi malah terdengar geraman tertahan dari pria itu yang membuat tubuh Nara kembali membeku.

"M-maaf," ujar Nara putus asa.

Sagara terlihat memejamkan mata menahan sesuatu. Oh ayolah, dia pria dewasa!

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!