Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Singa Melow...
Di kantor polisi...
"Selamat malam pak, saya orang tua dari Andika." Ucap Adam dengan raut wajah cemas.
Seorang polisi yang berjaga di depan, mengantar Adam kedalam.
"Silahkan duduk Pak Adam!" Masih dengan tataan cemas, Adam duduk di samping Dika.
"Kami minta maaf sebelumnya, jadi tadi siang kami melakukan pembersihan disebuah lingkungan perumahan yang sering dijadikan tempat berkumpul para preman untuk mabuk dan bermain judi, disaat kami menangkap para preman tersebut, putra bapak juga berada di tempat kejadian. Saat kami bertanya, dia mengatakan sedang bermain disana, jadi bisa dijelaskan Pak?"
Adam menghela nafasnya, mendengar penjelasan panjang dari pihak kepolisian semakin membuatnya tidak mengerti dengan pola pikir Dika. Melirik anaknya yang terlihat santai dan percaya diri seakan tidak terjadi apa-apa, semakin membuat Adam kesal.
Sikap Dika kali ini benar-benar diluar batas. "Saya minta maaf Pak, saya kecolongan kali ini, saya berjanji ini tidak akan terulang lagi, dia memang suka membuat masalah Pak." Ucap Adam lemah.
"Anak-anak yang kurang perhatian di rumah memang cendrung berbuat masalah Pak, putra bapak bukan satu-satunya yang berurusan dengan kami, dan beruntungnya lagi dia tidak sampai menggunakan narkoba atau minum alkohol, karena Andika tidak terbukti apapun, silahkan bapak tanda tangan disini supaya Andika bisa kembali ke rumah!"
Setelah menandatangani surat tersebut, Adam bersalaman dengan petugas diikuti Dika. "Kalo kamu nyari kesibukan, lakukan hal-hal yang positif, yang berguna buat kamu, kalo kamu nyari perhatian, katakan apa kemauanmu pada orang tua, jangan mencari jalan yang salah, mengerti! Saya tidak mau melihat kamu lagi disini!" Petugas tesebut menepuk bahu Dika pelan.
"Pak, remaja seperti ini, sebaiknya diberi perhatian lebih, mereka masih labil dalam berpikir, banyak orang tua yang menyesal setelah anaknya rusak, saya harap bapak mengerti!" Adam menggangguk paham, kembali menjabat tangan petugas tersebut, sampai akhirnya Adam kembali masuk ke mobil disusul Dika.
Mobil melaju dengan keadaan hening, tidak ada pembicaraan keduanya. "Yun, kamu bereskan resto ya! Aku tidak ke resto lagi." Tampa menunggu jawaban dari Yuni, Adam yang masih kesal langsung menutup telponnya.
"Masuk ke kamar kamu, nanti malam ayah mau bicara!" Jawab Adam begitu tiba di rumah.
Hari sudah sore, Rara juga sudah kembali dari bengkel. Melihat raut wajah Dika dan ayahnya terlihat berbeda Rara hanya bisa menatap bi Inah. Sementara bi Inah segera menghampiri Dika, membawanya ke kamar.
Rara bukan anak yang tertarik dengan urusan orang lain, begitu juga sebaliknya, dia tidak menyukai orang yang terlalu ikut campur dengan urusannya.
Bi Inah kembali ke dapur, tangannya sibuk membuat jus hangat serta membawa sepiring nasi dan air putih ke kamar Dika. Rara hanya melihat tampa bertanya sepatah katapun. "Bibi ke atas dulu ya Neng?" Rara hanya menganggukkan kepalanya.
Menjelang magrib, Yuni sudah kembali ke rumah. Beberapa laporan yang harus diperiksa oleh Adam juga ikut di bawa pulang. Rumah tampak sepi, Yuni mengarah ke dapur, ternyata disana juga sepi. Akhirnya, Yuni melangkah ke kamarnya karena sebentar lagi waktu shalat magrib tiba.
"Bi, Dika rindu ibu, Dika pengen ngerasa seperti apa punya ibu, Rara pasti senang banget Bi ya, tante Yuni selalu perhatian dan pasti sangat sayang sama Rara, sementara Dika, wajah ibu saja cuma bisa lihat di foto." Dika menumpahkan keluh kesahnya pada bi Inah. Dika tidur dengan kepala berada dipangkuan bi Inah.
"Sudah Den, jangan sedih terus, bibi yakin suatu hari nanti Aden pasti bisa ngerasain kasib sayang seorang ibu, udah, sekarang bangun, shalat magrib dulu, nanti ayah Aden marah lagi."
Tampa mereka sadari, Yuni mendengar semua keluh kesah Dika. Hatinya terenyuh mendengar anak dari temannya memiliki perasaan mendamba kasih sayang seorang ibu.
Shalat magrib dilaksanakan masing-masing individu di rumah tersebut. Malam ini pertama kalinya Yuni dan Rara tinggal di rumah Adam. Setelah shalat magrib, Yuni dan Rara langsung ke dapur.
"Karena malam ini malam pertama kita disini, gimana kalo kita buat menu special?" Tanya Yuni pada Rara. "It's ok, Mom." Jawab Rara.
Bi Inah keluar dari kamarnya untuk menyiapkan makan malam, betapa terkejutnya bi Inah saat melihat seorang anak perempuan dengan lihai bermain dengan pisau dan kompor.
"Sini Bi, malam ini biar kami yang siapin makan malam ya!" Ucap Yuni tersenyum ramah. "Dika mana Bi?" Tanya Yuni yang masih tersenyum melihat tingkah bi Inah termenung melihat Rara memasak.
"Bi... Dika mana? Gak ikut turun?" Yuni kembali bertanya dengan sedikit menggoyang lengan Bi Inah yang masih fokus melihat Rara.
"Eh, maaf Buk, Bibi kagum sama si Eneng, ternyata kecil-kecil cabe rawit ya?" Bi Inah masih geleng-gelang kepala.
Akhirnya, makan malam kali ini sudah tersaji di meja makan dengan sempurna. Bi Inah memanggil Adam juga Dika untuk makan malam.
Makan malam pertama mereka terasa berbeda, tidak ada kata yang keluar dari mulut Dika, Adam juga hanya sesekali bertanya tentang pekerjaan pada Yuni. Sementara Rara hanya diam menikmati makanannya.
Adam tidak mengatakan apapun tentang makan malam kali ini, dia yakin menu kali ini pasti Yuni yang buat. "Ayah tunggu kamu di kamar!" Ucap Adam berlalu ke kamarnya.
Yuni yang menahan rasa penasarannya, seketika bangkit duduk di disamping Dika. "Ada apa? Tidak biasanya muka ayah kamu horor seperti itu." Tanya Yuni, sementara Rara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah mamanya.
"Dika ketangkap polisi tadi siang gara-gara main di daerah para preman mabuk sama judi." Mulut Yuni seketika terbuka dengan mata membulat mendengar penuturan Dika.
"Ya ampun, kamu kalo mau bandel yang berkualitas dikit dong, ah, malu-maluin tante aja kamu, temuin ayah kamu sekarang, sebelum mukanya tambah horor!" Ucap Yuni meninggalkan Dika dengan santainya.
Tok....tok....
"Masuk!"
Dika masuk ke kamar ayahnya dengan perasaan cemas. "Duduk!" Titah sang ayah.
"Kamu tau kesalahan kamu? Sejak kapan kamu bergaul dengan preman? Ayah tau kamu bisa karate, tapi itu saja tidak cukup Dika. Hari ini kamu benar-benar kelewatan, mulai sekarang kamu di larang keluar rumah, dan jangan coba-coba kabur! Ayah gak mau berurusan dengan polisi lagi, ngerti kamu? Sekarang kembali ke kamarmu!"
Sementara di dapur, Yuni sedang melakukan wawancara dengan bi Inah sambil mencuci piring.
"Apa Dika pernah berurusan dengan polisi sebelumnya Bi?" Bi Inah menggelengkan kepalanya, "Apa yang sebenarnya Dika mau Bi? Kalo dia mau punya ibu kenapa dia gagalin perjodohan ayahnya? Saya bingung dengan pemikiran anak itu Bi." Yuni menggelengkan kepalanya tanda tidK mengerti.
"Den Dika sebenarnya anak yang baik Bu, Bibi bersamanya dari dia lahir, tumbuh besar tampa kasih sayang serta perhatian seorang ibu tentu berbeda, rumah ini terlalu besar untuk hati yang kesepian Bu." Bi Inah menatap Yuni dengan tatapan sendu menyiratkan kesedihan dihatinya.
Rara yang mendengar semua pembicaraan itu juga ikut mengerti dengan keadaan dan keinginan Dika yang meminta mereka untuk tinggal di rumahnya.
***
Like...
Komen...
Vote...
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊