**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: "Ini Istriku"
Bagas baru melangkah tiga meter ketika Gunawan menangkap lengannya.
"Mas Bagas, jangan bikin ribut."
"Lepas."
"Fajar cuma duduk makan. Lagi pula dia tidak tahu siapa perempuan itu."
Bagas menatap tangan Gunawan sampai dilepaskan. Di meja dekat jendela, Fajar masih mencondongkan tubuh kepada Kirana. Piring ayamnya didorong semakin dekat, meski Kirana jelas tidak menyentuhnya.
"Dia sudah ditolak," kata Bagas.
Gunawan mengikuti arah tatapannya. "Dari sini Mas bisa dengar?"
"Tidak perlu dengar. Lihat wajah Kirana."
"Kemarin katanya cuma saudara. Sebelum itu mantan istri. Kalau Mas datang marah-marah sekarang, seluruh kantin akan punya versi cerita baru. Atasan juga masih melihat urusan pribadi Mas."
Rahang Bagas bergerak.
"Dokter sudah memastikan kehamilannya," kata Bagas sangat pelan. "Usianya sesuai."
Mata Gunawan melebar. "Jadi benar anak Mas?"
"Ya. Jangan bilang siapa pun."
"Saya tidak akan bicara. Tapi ini bukan perkara kecil. Kalau Mas mengakuinya di sini, urusan keluarga itu pasti sampai ke meja atasan."
"Biar. Aku akan lapor melalui jalur yang benar."
"Dan kalau orang menghubungkannya dengan pengaduan lama?"
Bagas melihat Kirana yang masih menolak piring Fajar. "Aku sudah membiarkan ketakutan pada omongan orang membuatnya berdiri sendirian di gerbang. Cukup sekali."
Gunawan terdiam. Ia akhirnya menurunkan tangan dari depan Bagas, tetapi tetap memberi peringatan terakhir. "Kalau begitu jangan pukul Fajar."
"Aku tidak perlu memukul orang untuk membuatnya mengerti."
Gunawan merendahkan suara. "Secara hukum dia memang bukan istrimu sekarang."
"Sebentar lagi akan kami urus."
"Dia sudah setuju?"
Bagas tidak menjawab.
Di meja, Fajar mengatakan sesuatu yang membuat Kirana meletakkan sendok. Bagas kembali melangkah, tetapi Gunawan berdiri di depannya.
"Tunggu. Kalau Kirana memang tidak mau, dia bisa mengusir Fajar sendiri."
Bagas berhenti. Ia tidak suka kalimat itu, tetapi ia juga tidak ingin memperlakukan Kirana seperti perempuan yang tak mampu menentukan batas.
Ia mengambil nampan dan berdiri di antrean, mata tetap mengawasi meja dekat jendela.
***
"Saya hanya menawarkan teman makan," kata Fajar. "Kenapa Mbak tegang sekali?"
"Karena saya sudah menolak tiga kali, tapi Mas masih duduk di sini."
Fajar tersenyum, kali ini sedikit dipaksakan. "Saya tidak punya maksud buruk."
"Niat baik berhenti saat orang lain berkata tidak."
Beberapa prajurit di meja sebelah pura-pura fokus pada makanan. Kirana tahu mereka mendengarkan. Ia tidak ingin membuat adegan, tetapi membiarkan Fajar terus mendesak hanya akan mengundang keberanian yang lebih besar.
"Mbak bilang sedang menunggu suami," ujar Fajar. "Saya sudah bertanya kepada orang kantin. Tidak ada yang tahu siapa suaminya."
"Saya tidak wajib membuktikan hubungan pribadi kepada orang yang baru kukenal."
"Berarti mungkin belum ada."
"Saya sudah ada yang punya."
Suara Kirana cukup jelas untuk didengar meja terdekat.
Fajar menatap jari manisnya yang kosong. "Kalau benar, suruh dia datang dan bilang sendiri."
Sebuah nampan menghantam meja.
Tidak sampai membuat piring terbalik, tetapi bunyinya cukup keras untuk memutus semua percakapan di kantin.
"Permisi," kata Bagas.
Fajar mengangkat kepala. Senyumnya langsung hilang.
Bagas berdiri di samping Kirana, satu tangan menahan tepi meja. Seragamnya masih menyimpan debu latihan. Tatapannya turun pada piring ayam Fajar yang berada terlalu dekat dengan tangan Kirana, kemudian naik ke wajah perwira muda itu.
"Ini istriku."
Kantin seketika sunyi.
Fajar berdiri begitu cepat sampai lututnya membentur meja. "Maaf, Letda Bagas. Saya tidak tahu."
"Sekarang tahu."
"Saya hanya mengajak kenalan. Mbak ini tidak bilang siapa suaminya."
"Dia tidak perlu memberitahumu nama siapa pun agar penolakannya dihormati."
Bagas menunjuk kursi yang diduduki Fajar. "Dia bilang kursi lain masih kosong?"
Fajar menunduk. "Ya."
"Dia menolak makananmu?"
"Ya."
"Berarti masalahnya bukan kamu tidak tahu siapa aku. Masalahnya kamu mendengar kata tidak dan menganggapnya tantangan. Jangan ulangi kepada perempuan mana pun, bersuami atau tidak."
Beberapa wajah di meja sekitar berubah serius. Kemarahan Bagas bukan lagi tampak seperti dua lelaki memperebutkan perempuan. Ia sedang menegur seorang perwira yang gagal menghormati batas paling sederhana.
Fajar berdiri lebih tegak. "Saya mengerti. Saya salah."
Wajah Fajar memerah. Pangkat mereka sama, tetapi Bagas lebih lama bertugas di satuan itu dan sering memimpin latihan yang melibatkan kelompok Fajar. Lebih dari pangkat, reputasi Bagas yang tenang namun tak mudah digeser membuat perwira muda itu tidak berani membalas.
"Benar. Saya salah." Fajar menoleh kepada Kirana. "Maaf, Mbak."
Kirana mengangguk singkat. "Saya terima."
Fajar mengambil nampannya.
"Ayamnya," kata Bagas.
Fajar berhenti.
"Jangan tinggalkan makanan yang tidak diminta di meja orang."
"Siap."
Ia membawa nampan pergi di tengah puluhan pasang mata. Dua temannya di sudut menunduk, tidak berani menyambutnya dengan ejekan.
Bagas menarik kursi yang ditinggalkan dan duduk di hadapan Kirana.
Kirana mengambil sendok lagi. "Istrimu?"
"Makan dulu."
"Aku mantan istrimu. Akta cerainya ada di koper."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa berbohong di depan satu kantin?"
Bagas mulai makan seolah tidak ada puluhan telinga menunggu jawabannya. "Lebih cepat daripada menjelaskan seluruh riwayat kita."
"Kamu bisa bilang aku bukan urusannya."
"Aku sudah bilang dengan cara yang lebih jelas."
Kirana menatapnya. "Bagas, kita belum rujuk."
"Akan kita urus."
"Kapan? Kemarin kamu masih minta waktu."
"Aku tetap perlu mengatur pelaporan dan dokumennya. Tapi hasil dokter sudah jelas. Anak-anak itu milikku. Kamu ibu mereka. Aku tidak akan membiarkan orang mengira kamu bebas diganggu hanya karena kita belum selesai mengurus status."
Kirana seharusnya marah karena ia kembali membuat keputusan sepihak. Namun kata `istriku` masih bergaung di kepalanya.
Pada akad pertama, Bagas mengucapkan kabul karena tekanan keluarga. Setelah itu ia tidak pernah memperkenalkan Kirana kepada siapa pun. Hari ini, di tengah tempat kerjanya sendiri, ia menyebut hubungan itu tanpa ada orang tua atau keluarga yang memaksanya.
"Setidaknya tanya aku dulu sebelum mengumumkan sesuatu," kata Kirana.
"Kalau kutanya di depan Fajar, kamu akan menjawab apa?"
"Bahwa aku sudah ada yang punya. Aku sudah mengatakannya."
Sendok Bagas berhenti di udara. "Kamu bilang begitu?"
"Berkali-kali."
"Punya siapa?"
Kirana mengangkat alis. "Katanya lebih hemat tenaga membuat orang diam dengan tatapan. Kenapa sekarang banyak bertanya?"
Wajah Bagas tetap datar, tetapi ketegangan di bahunya mengendur. "Aku perlu memastikan."
"Fakta dulu, baru percaya. Itu prinsipmu, kan?"
"Benar."
"Kalau begitu faktanya, aku menolaknya sebelum kamu datang."
Bagas mengangguk dan kembali makan. Namun suasana hatinya terlihat membaik dengan cara yang hampir memalukan.
Gunawan datang membawa minuman. Ia duduk di meja sebelah, tidak berani bergabung tetapi juga terlalu penasaran untuk pergi.
"Mas Bagas," katanya pelan, "sekarang saya harus menjelaskan apa kalau orang bertanya?"
"Bilang Kirana istriku."
"Secara administrasi?"
"Sedang diurus."
"Kalau atasan bertanya?"
"Aku yang jawab."
Gunawan mengusap wajah. "Kemarin saya disuruh bilang saudara. Hari ini istri. Besok jangan-jangan saya harus bilang ibu dua anak."
Kirana tersedak air.
Bagas menatap tajam. "Jaga mulut."
Gunawan langsung sadar bahwa tebakannya terlalu dekat dengan rahasia. "Saya cuma bercanda."
"Jangan bercanda tentang urusan ini."
"Baik."
Gunawan pindah lebih jauh. Namun teguran tersebut terlambat mencegah beberapa prajurit saling berpandangan. Mereka belum tahu tentang kehamilan, tetapi kalimat `ibu dua anak` memberi bahan spekulasi baru.
Kirana menurunkan suara. "Kamu baru saja membuat rahasia kita lebih menarik."
"Gunawan akan membereskan ucapannya."
"Semakin dibereskan, semakin orang penasaran."
"Kalau ada yang bertanya kepadamu, jangan jawab."
"Aku bisa menjaga rahasiaku sendiri."
"Aku tahu."
Bagas mengatakannya tanpa nada meremehkan. Kepercayaan kecil itu membuat Kirana terdiam.
Ia kembali menyantap nasi. Kehamilan membuat rasa laparnya datang tiba-tiba, dan perdebatan panjang tidak mengurangi nafsu makan. Dalam beberapa menit, sayur dan ayam di piringnya habis.
Bagas tidak banyak bicara. Ia hanya memperhatikan setiap kali Kirana memilih bagian yang tidak pedas dan mendorong gelas air lebih dekat sebelum diminta.
"Kenapa melihatku terus?" tanya Kirana.
"Memastikan kamu tidak tersedak lagi."
"Aku tersedak karena Gunawan, bukan karena makanan."
"Tetap saja."
Kirana menghabiskan suapan terakhir, lalu menyadari lauk Bagas hampir tidak disentuh. "Kamu tidak lapar?"
"Aku sudah makan."
"Kapan?"
Bagas tidak menjawab.
Kirana mendorong piring kecil berisi tahu ke arahnya. "Makan. Aku tidak mau calon ayah anak-anakku pingsan saat latihan."
Sorot mata Bagas berubah saat mendengar sebutan itu.
"Calon ayah?"
"Secara biologis sudah. Secara tindakan masih diuji."
Bagas mengambil tahu tersebut. "Aku akan lulus."
"Percaya diri sekali."
"Aku berlatih untuk tidak gagal."
"Menjadi ayah tidak sama dengan latihan lapangan."
"Karena itu aku akan belajar."
Jawabannya sederhana. Kirana teringat cara Bagas mencatat gejala bahaya di ruang USG, bertanya dua kali tentang makanan, dan berdiri di depan pintu kamar tanpa melewati ambang. Mungkin laki-laki itu benar-benar tidak tahu cara menjadi suami. Namun ia tahu cara mempelajari tanggung jawab sampai menjadi kebiasaan.
Keyakinan pendek itu membuat jantung Kirana kehilangan satu ketukan.
Bagas selesai makan, lalu berdiri. "Habis ini aku ada urusan. Jangan ke mana-mana. Kembali ke wisma setelah makan."
"Urusan apa?"
"Seseorang harus mulai menjawab pertanyaan tentang malam di vila dan surat pengaduan itu."
Kirana langsung tahu siapa yang dimaksud.
"Melati?"
Bagas mengambil topinya. "Aku tidak akan menuduh tanpa bukti. Aku hanya akan melihat reaksinya."
"Aku ikut."
"Tidak. Kamu istirahat."
"Dia kakakku."
"Dan kamu sedang hamil kembar. Biarkan aku yang menghadapi dia kali ini."
Bagas berbalik meninggalkan kantin. Kerumunan terbelah memberinya jalan, sama seperti penghuni wisma malam sebelumnya.
Kirana menatap punggungnya sambil memegang dada yang masih berdetak terlalu cepat.
Beberapa menit lalu, Bagas memanggilnya istriku di depan semua orang.
Sekarang ia pergi mencari perempuan yang telah menghancurkan pernikahan mereka.