NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 18

Ujung belati berkarat itu mendarat di permukaan Batu Uji Energi tanpa sedikit pun gertakan angin atau raungan energi spiritual yang memamerkan diri. Tidak ada benturan nyaring yang menggetarkan tanah pelataran, tidak pula ada percikan api atau pendar cahaya berwarna-warni yang membumbung ke udara.

Tung!

Suara yang tercipta hanyalah ketukan halus yang teramat ringkas, tak ubahnya seperti sebatang ranting kering yang menepuk permukaan dinding batu tua di pinggir jalan.

Di atas panggung pengawas, instruktur pembantu memiringkan kepalanya, mengerutkan dahi sambil menanti alur-alur ukiran pada pilar batu itu menyala. Namun, detik demi detik berlalu dalam kecanggungan yang merayap dingin. Pilar batu abu-abu gelap itu tetap membisu. Tidak ada satu pun alur lingkaran yang memancarkan pendar cahaya, dan di permukaannya yang licin bahkan tidak berbekas goresan sekecil apa pun.

Gelak tawa riuh seketika meledak dari barisan depan murid-murid asal kota besar, memecah heningnya udara pagi di Lapangan Bintang.

"Hahahahaha! Lihat itu!" jerit seorang pengikut Lu Fan sambil memegangi perutnya yang kram akibat tertawa. "Bahkan goresan benang pun tidak ada! Dia cuma menempelkan belati rongsoknya ke batu!"

Lu Fan menyilangkan kedua tangannya di dada, tertawa meremehkan dengan raut wajah puas yang membuncah. "Aku sudah duga," cemooh Lu Fan dengan nada suara lantang sengaja agar terdengar oleh seluruh lapangan. "Anak sampah dari desa perbatasan tetaplah sampah! Belati berkarat itu bahkan tidak sanggup mengikis debu di permukaan Batu Uji!"

Sorak-sorai mengejek dari puluhan murid kota bergema riuh. Beberapa murid dari desa terpencil menundukkan kepala mereka dengan rasa malu yang menggantung, merasa dipermalukan oleh penampilan Shen Jue yang tampak begitu menyedihkan.

Namun, di tengah gelombang cemoohan yang memekakkan telinga itu, Shen Jue sama sekali tidak memperlihatkan wajah kecewa atau panik. Matanya yang gelap tetap tenang bagai permukaan telaga purba di tengah malam. Ia menurunkan tangannya perlahan, merogoh saku jubah linen abu-abunya, lalu memasukkan kembali belati kecil berkarat itu dengan gerakan yang amat santai.

"Instruktur," panggil Lu Fan menghentikan tawanya sejenak, melambaikan tangannya dengan angkuh. "Cepat catat nilainya! Nol jin! Beban nol alur! Jangan buang-buang waktu kita hanya untuk menunggu keajaiban dari belati rongsok tidak berguna itu!"

Instruktur pembantu menghela napas panjang, memegang kuas tuliskannya dengan penuh keraguan. Ia menoleh ke arah Guru Mo Shen yang berdiri di panggung pengawas, meminta kepastian untuk mencoret nama Shen Jue dengan nilai terendah dalam sejarah seleksi akademi.

"Tunggu," potong Guru Mo Shen mendadak.

Suara Guru Mo tidak keras, namun mengandung getaran keheranan yang amat tajam. Kacamata berbingkai perak di pangkal hidungnya memantulkan pendar cahaya redup. Mata tua sang guru senior itu tidak menatap ke arah Shen Jue yang sedang membalikkan badan, melainkan terpaku lurus pada pilar Batu Uji Energi yang baru saja disentuh belati berkarat tersebut.

Instruktur pembantu mengerutkan alisnya heran. "Ada apa, Guru Mo?"

"Lihat warna pilar itu," bisik Guru Mo dengan nada suara yang bergetar halus.

Keheningan aneh perlahan merambat menyapu Lapangan Bintang, mengikis tawa ejekan para murid satu per satu. Ratusan pasang mata yang tadinya memandang rendah Shen Jue kini ikut beralih menatap pilar batu hitam di tengah lapangan.

Pilar batu yang terbuat dari batuan padat Lautan Selatan itu biasanya memancarkan pendar energi spiritual alami yang hangat dan berkilau halus, pertanda bahwa materialnya kaya akan daya tahan magis yang kokoh. Namun saat ini, pendar keemasan tipis di dalam inti batu itu mendadak meredup cepat.

Warna abu-abu gelap pada permukaan pilar batu itu perlahan memucat, berubah menjadi warna kelabu kusam yang mati, seolah seluruh esensi kehidupannya telah disedot habis sampai ke akar-akarnya oleh kekuatan ghaib yang tak terlihat.

Krek...

Sebuah bunyi retakan yang teramat halus memecah kesunyian lapangan.

Dari titik persis di mana ujung belati berkarat Shen Jue tadi menyentuh permukaan batu, muncul sebuah garis hitam setipis rambut. Garis itu tidak terbentuk karena dorongan pukulan fisik yang menghancurkan, melainkan seperti noda tinta kegelapan yang merayap alami membelah serat-serat batu dari dalam.

Krek... Krek... Krek...

Garis retakan tipis itu bercabang cepat ke segala arah, membentuk pola sarang laba-laba yang menjalar melingkupi seluruh batang pilar batu setinggi sepuluh meter tersebut. Setiap kali retakan itu bertambah panjang, pendar energi spiritual alami di dalam pilar batu mendadak padam seketika.

"I-ini... apa yang terjadi?!" seru Lu Fan terperanjat, melangkah mundur dua tindakan dengan wajah memucat.

"Kenapa batunya retak sendiri?!" tanya murid kota lain dengan suara gemetar ketakutan. "Padahal tadi dia sama sekali tidak memukul keras!"

Guru Mo Shen melompat turun dari panggung pengawas. Gerakannya begitu cepat bagai kilatan bayangan abu-abu, mendarat tepat di depan pilar batu yang kini dipenuhi ratusan retakan halus.

Guru Mo merenggangkan telapak tangannya, menempelkan jemarinya pada permukaan pilar batu yang memucat tersebut untuk mengalirkan energi spiritual pemeriksa. Namun, begitu energinya masuk ke dalam batu, wajah sang guru senior berubah menjadi sangat syok dan pucat pasi.

"Mati..." gumam Guru Mo dengan napas yang tertahan di tenggorokan. "Struktur energi internal batu ini... mati total. Tidak ada lagi aliran energi alami yang tersisa di dalamnya."

Batu Uji Energi bukan sekadar batu biasa. Ia diciptakan khusus dari material langka yang sanggup menahan hantaman beribu-ribu jin tanpa retak karena memiliki kemampuan menyerap dan menetralkan benturan energi. Tetapi saat ini, batu yang terkenal abadi itu tidak hancur oleh ledakan daya pukul, melainkan kehilangan ikatan energi dasar yang menyangga kepadatannya akibat reaksi pemutusan aliran alami dari belati Shen Jue.

Pukkk...

Dengan suara gumaman rendah yang menyedihkan, pilar batu setinggi sepuluh meter itu mendadak luruh secara perlahan. Lapisan luarnya bertransformasi menjadi butiran serbuk abu halus yang berjatuhan menumpuk di atas tanah batu, tak ubahnya seperti tumpukan abu kayu bakar yang tertiup angin sore.

Seluruh Lapangan Bintang mendadak dicengkeram oleh keheningan yang teramat mencekat. Tidak ada lagi suara cemoohan, tidak ada tawa ejekan, dan tidak ada lagi murid yang berani menyilangkan tangan di dada. Ratusan murid baru berdiri terpaku bagai patung bernapas, menatap tumpukan abu pilar batu dengan mata membulat lebar dan mulut ternganga tak percaya.

Lu Fan merasakan tenggorokannya mendadak sangat kering. Keringat dingin merembes keluar membasahi dahi dan belakang jubah sutra merahnya. Kerapatan empat alur dan delapan ratus jin milik pedang apinya yang tadinya dibanggakan setinggi langit kini terasa bagai mainan anak kecil yang tak berharga di hadapan fenomena mengerikan ini.

"G-Guru Mo..." panggil instruktur pembantu dengan tangan gemetar memegang kuas tulis. "Bagaimana... bagaimana saya mencatat nilai untuk Shen Jue?"

Guru Mo Shen berdiri mematung di samping tumpukan abu pilar batu. Matanya yang tajam di balik kacamata perak menoleh perlahan, menatap punggung Shen Jue yang sedang berjalan tenang kembali ke barisan murid desa.

Seumur hidupnya mengajar di Akademi Canglan, Guru Mo telah melihat ribuan jenius dengan Roh Senjata Tingkat Emas maupun Roh Binatang yang langka. Tetapi ia belum pernah menyaksikan ada sebilah belati kecil berkarat yang sanggup memotong dan membunuh aliran energi alami sebuah material purba hanya dengan satu ketukan halus tanpa tenaga.

"Tidak ada angka jin yang bisa mengukur tebasan ini," ucap Guru Mo dengan suara berat yang dipenuhi keheningan mendalam. "Dia tidak merusak kulit luar batu... dia menghancurkan fondasi energi di dalamnya."

Xi'er yang berdiri di barisan tengah menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya memancarkan binar takjub yang tak terhingga. Di sebelahnya, Gongsun Zhi memegang erat batang Tombak Besi Hitam-nya, dadanya bergemuruh hebat menyaksikan kekuatan sahabat barunya.

Shen Jue menghentikan langkahnya tepat di samping Xi'er dan Gongsun Zhi. Ia merapikan kerudung linen abu-abunya yang tertiup angin, lalu menatap Guru Mo dan seluruh lapangan dengan raut wajah yang tetap tenang, datar, dan tak tersentuh oleh keangkuhan.

Bagi Shen Jue, kejutan kecil ini barulah percikan awal dari kebangkitan rahasia yang tersembunyi di balik lapisan karat belatinya.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!