Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 — Arya, Kamu Keterlaluan…
Hujan turun deras di Surabaya sejak siang.
Karina berdiri di bawah atap Stasiun Pasar Turi sambil memeluk payung lipat yang terlalu kecil. Air mengalir di tepi atap, memercik sampai ujung celananya.
Kereta dari Semarang sudah tiba sepuluh menit lalu, tetapi arus penumpang belum juga memperlihatkan orang tuanya.
Ia mencoba menghubungi Arya sekali lagi.
Nomornya tetap diblokir.
"Memangnya susah apa datang menjemput orang sakit?" gerutunya.
Dulu, setiap orang tuanya datang, Arya selalu tiba setengah jam lebih awal. Pria itu memeriksa jadwal kereta, mencari tempat parkir terdekat, dan membawa payung besar. Karina cukup berdiri di samping ibunya sambil mengobrol.
Hari ini, ia harus mengurus semuanya sendiri.
"Karina!"
Bu Marni melambaikan tangan dari tengah kerumunan. Di sampingnya, Pak Suryanto berjalan perlahan dengan wajah pucat. Satu tangannya menekan perut, sedangkan tangan lain menarik koper besar.
Karina bergegas mendekat. "Pak, jangan tarik sendiri."
Ia mengambil koper dari tangan ayahnya. Bu Marni langsung menyerahkan tas besar lain tanpa bertanya.
"Arya mana?" tanya ibunya.
"Nggak datang."
"Kamu sudah bilang bapakmu sakit?"
"Sudah."
Bu Marni mendecak. "Menantu macam apa itu?"
Karina menggigit bibir. Ia belum memberi tahu bahwa Arya bukan lagi menantu mereka. Di telepon, ia hanya mengatakan ada masalah dan meminta mereka datang agar bisa bicara langsung.
"Mobilnya di mana?" tanya Pak Suryanto lemah.
"Aku pesan taksi daring. Titik jemputnya di seberang."
Bu Marni memandang hujan yang membentuk tirai putih di depan stasiun. "Kenapa tidak suruh sopir masuk?"
"Area ini macet. Dia nggak bisa berhenti lama."
Ponselnya berbunyi. Pengemudi mengirim pesan bahwa ia sudah menunggu dan akan membatalkan pesanan jika mereka terlambat lima menit.
Karina membuka payung. "Ayo sekarang."
"Payungnya cuma satu?" Bu Marni menatapnya tidak percaya.
"Aku nggak tahu hujannya akan sederas ini."
"Arya biasanya bawa tiga."
Nama itu kembali terdengar seperti tuduhan.
Karina menyerahkan payung kepada ayahnya dan mengambil kedua koper. Bu Marni membawa tas serta map hasil pemeriksaan. Mereka berjalan menuju pintu keluar bersama arus penumpang yang berdesakan.
Begitu keluar dari atap, air hujan membasahi Karina dalam hitungan detik.
Roda salah satu koper tersangkut celah trotoar. Ia menariknya dengan tenaga, tetapi koper itu justru miring dan menabrak betisnya.
"Cepat sedikit! Bapakmu kedinginan," seru Bu Marni.
Karina ingin membalas, tetapi melihat bibir ayahnya yang pucat membuatnya diam. Ia menarik koper lagi dan terus berjalan.
Taksi berada hampir seratus meter dari pintu utama.
Air menggenang di sepanjang jalur. Sepatu Karina kemasukan air. Rambutnya menempel di wajah, sedangkan kedua lengannya mulai pegal.
"Telepon Arya," kata Pak Suryanto. "Suruh dia bawa mobil ke sini."
"Nggak bisa, Pak."
"Kenapa nggak bisa? Dia sibuk apa sampai membiarkan kamu begini?"
Karina menunduk dan terus berjalan. "Nanti aku jelaskan di rumah."
Mereka hampir sampai ketika pengemudi membunyikan klakson. Mobil lain mengantre di belakangnya.
Karina mempercepat langkah.
Ujung sepatunya menginjak permukaan licin. Kakinya tergelincir, tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan koper besar menarik lengannya ke belakang.
"Karina!"
Ia jatuh dengan lutut lebih dulu. Pergelangan kaki kanannya tertekuk, menimbulkan rasa sakit tajam yang membuat pandangannya memutih sesaat.
Koper terbuka karena pengaitnya tidak terkunci sempurna. Pakaian Pak Suryanto tumpah ke genangan.
Bu Marni menjerit. "Ya Allah, bajunya!"
Bukannya menolong Karina berdiri, ia lebih dulu memunguti pakaian. Pak Suryanto ingin membungkuk, tetapi rasa sakit di perut membuatnya terhuyung.
Karina menahan air mata dan mencoba bangkit sendiri.
Pergelangan kakinya tidak mampu menahan berat tubuh. Ia hampir jatuh lagi sebelum seorang petugas stasiun memegang lengannya.
"Mbak, sebaiknya duduk dulu. Kakinya mungkin terkilir."
"Taksi kami menunggu."
Pengemudi turun setelah melihat kekacauan itu. Bersama petugas, ia membantu memasukkan koper yang basah ke bagasi. Bu Marni mengantar suaminya masuk ke kursi belakang, sementara Karina berjalan terpincang-pincang tanpa payung.
Saat akhirnya duduk, seluruh tubuhnya basah. Pergelangan kakinya berdenyut hebat.
"Kamu ceroboh sekali," kata Bu Marni. "Kalau Arya datang, semua ini tidak akan terjadi."
Pengemudi melihat Karina melalui kaca tengah. "Mbak mau singgah ke klinik dulu? Pergelangan kakinya mulai bengkak."
Karina baru menyadari kulit di atas sepatunya membesar dan memerah. "Nggak usah. Antar ke Griya Asri saja."
"Tapi Mbak sedang hamil, kan? Sebaiknya jangan menahan sakit terlalu lama."
Bu Marni langsung menoleh. "Hamil?"
Karina tersentak. Ia lupa hasil pemeriksaan masih tergenggam di tangannya saat jatuh dan kini terlihat jelas.
"Nanti di rumah," katanya cepat.
Bu Marni merebut kertas yang lembap itu, membaca nama dan usia kehamilan, lalu menatap putrinya dengan campuran terkejut dan gembira. "Ini anak Arya?"
Karina tidak sanggup memberikan jawaban tegas di depan orang lain. "Nanti aku jelaskan semuanya."
Pak Suryanto menarik napas lega. "Kalau ada cucu, Arya pasti pulang. Dia memang marah, tapi dia bukan orang yang lari dari tanggung jawab."
Karina memalingkan wajah ke jendela. Justru karena mengenal tanggung jawab Arya, ia takut pada tes yang sudah diminta pria itu.
Karina memejamkan mata.
Ia ingin berkata bahwa semua ini memang salah Arya. Pria itu keterlaluan. Ayahnya sakit, hujan deras, dan dirinya sedang hamil. Bagaimana mungkin Arya tega membiarkannya?
Namun, suara kecil di dalam hatinya memberikan jawaban yang tidak ingin ia dengar.
Karena kamu sendiri yang menyuruhnya pergi.
Mobil bergerak meninggalkan stasiun. Dari balik jendela buram, Karina melihat seorang pria memayungi istrinya sambil menarik dua koper sekaligus. Perempuan itu berjalan tanpa membawa apa pun.
Pemandangan biasa tersebut menusuk lebih dalam daripada nyeri di pergelangan kakinya.
Dulu, ia juga selalu berjalan dengan tangan kosong.
Arya mengangkat semua koper. Arya mencari kendaraan. Arya memastikan ayahnya mendapat kursi. Arya menghadapi keluhan ibunya. Karina bahkan tidak pernah bertanya apakah lengan pria itu pegal.
"Sampai rumah, langsung hubungi Arya," kata Pak Suryanto dari kursi belakang. "Bapak mau bicara."
"Pak perlu istirahat dulu," jawab Karina.
"Bapak perlu tahu kenapa menantu Bapak tidak datang."
Bu Marni menyahut, "Bukan cuma tidak datang. Dia juga tidak mengirim uang untuk operasi. Dua ratus juta bukan jumlah besar kalau dia mau berusaha."
Karina menatap saldo rekeningnya melalui ponsel. Setelah sewa apartemen, belanja, cicilan, dan pengeluaran lain, uang kontrak yang ia kira akan membuatnya bebas ternyata berkurang cepat. Ia masih mampu membantu biaya operasi, tetapi angka itu tidak lagi terasa tanpa batas.
"Karina," panggil ibunya, "kamu dengar?"
"Dengar."
"Nanti panggil dia pulang. Ibu akan ajari dia bagaimana menghormati keluarga."
Karina menggenggam ponsel sampai buku jarinya memutih.
Ia membayangkan rumah di Griya Asri yang dingin, dapur tanpa makanan, dan kamar yang sudah kosong dari barang Arya. Untuk pertama kalinya, ia takut membuka pintu rumah sendiri.
Di Vila Kusuma, Arya sedang duduk di depan laptop. Ia menyusun proyek-proyek lama berdasarkan tanggal dan tanggung jawab. Ponselnya terbalik di meja, tidak sekali pun ia periksa.
Ia tidak tahu Karina jatuh di tengah hujan.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak punya kewajiban untuk tahu.