Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Areksa Kenapa?
"Kenapa harus aku yang datang sih, Ma?"
Areksa mengeluh dari balik meja kerjanya. Ponsel yang ia gunakan untuk menelepon diletakkan di dekat telinga, sementara matanya masih menatap beberapa dokumen yang belum selesai diperiksa.
Di seberang sana, suara Soraya terdengar santai.
"Memangnya kenapa? Mereka juga mertua kamu, Reksa."
"Iya, aku tau."
"Terus?"
Areksa menghela napas panjang "Ah, malas saja."
"Malas bagaimana? Mama dan Papa sudah minta kamu datang. Lagi pula ini acara perayaan ulang tahun pernikahan mereka."
Areksa bersandar di kursinya. "Kenapa Mama sama Papa baru bilang sekarang?"
"Karena awalnya Mama pikir kami bisa pulang hari ini. Tapi ternyata masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan."
"Terus?"
"Kami kemungkinan baru sampai besok siang. Kalau urusan Mama dan Papa bisa selesai lebih cepat, kami akan langsung pulang."
Areksa mengusap wajahnya. "Berarti aku benar-benar harus datang sendiri?"
"Iya."
"Ma..."
"Tolonglah, Nak." Nada memohon Soraya membuat Areksa akhirnya menyerah.
"Lagian palingan cuma pergi dua jam. Apa susahnya sih?" lanjut Soraya.
Areksa terdiam sebentar. "Iya, iya. Aku akan datang nanti malam."
"Nah, gitu dong." Soraya terdengar puas.
"Jangan pulang terlalu cepat. Mengobrol dengan mereka sebentar. Mama juga sudah bilang kamu akan datang."
"Baik."
"Sudah, Mama tutup dulu. Jangan lupa datang."
"Iya, Ma."
Panggilan pun berakhir.
Areksa meletakkan ponselnya di atas meja.
"Astaga..."
Baru beberapa detik kemudian ia teringat sesuatu.
Areksa menatap layar ponselnya lagi. "Tunggu."
Ia mengusap dagunya. "Aku lupa." Matanya membesar sedikit.
"Mana mungkin aku datang dengan tangan kosong? Mereka anniversary."
Areksa mulai berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerja. "Harus bawa kado."
Ia berhenti. "Tapi kado apa?"
Jamuan makan malam keluarga sebenarnya bukan sesuatu yang sulit baginya. Masalahnya, ia sudah lama tidak menghadiri acara keluarga seperti itu sendirian.
Biasanya Aruna yang akan mengingatkan. Mas, nanti kalau kita datang ke rumah Mama dan Papa, jangan lupa bawa sesuatu.
Kenangan itu membuat langkah Areksa terhenti.
Untuk sesaat, wajahnya berubah sendu.
Ia mengembuskan napas perlahan, lalu menggeleng. "Sudahlah."
Areksa mengambil ponselnya kembali. "Aku harus cari hadiah."
Ia membuka beberapa aplikasi belanja, kemudian mulai mencari.
"Jam?"
Dihapus.
"Parfum?"
Dihapus.
"Bunga?"
Areksa terdiam ketika melihat pilihan buket bunga di layar.
Entah kenapa, pikirannya justru tertuju pada seseorang yang setiap hari menghabiskan waktunya di taman belakang rumah.
Adira.
Areksa mengerutkan bibir. "Kenapa malah ingat dia?"
Ia segera mematikan layar ponselnya. "Fokus, Reksa. Cari hadiah untuk mertua."
***
Areksa akhirnya turun ke ruang keluarga setelah cukup lama berkutat dengan ponselnya di ruang kerja.
Ia masih terlihat berpikir ketika melihat Adira sedang duduk sambil melipat pakaian kecil milik Aretha.
"Adira."
Adira langsung menoleh. "Iya, Tuan?"
"Saya mau tanya."
"Tanya apa?"
Areksa duduk di sofa, lalu memperlihatkan layar ponselnya. "Malam ini saya harus datang ke acara anniversary mertua saya."
Adira mengangguk. "Terus?"
"Saya bingung mau membawa hadiah apa."
Adira memperhatikan layar ponsel itu sebentar.
"Hem..." Ia berpikir. "Mertua Tuan apa menyukai barang mewah atau apa begitu?"
"Iya." Areksa mengangguk.
"Apalagi ibu tiri Aruna."
Adira menghentikan gerakan tangannya. "Jadi... itu ibu tiri Aruna?"
"Iya."
"Saya baru tau."
Adira tidak pernah terlalu banyak bertanya mengenai keluarga Aruna. Selama ini ia hanya mengenal Aruna dari sisi sahabat masa kecilnya. Seingatnya dulu, Aruna adalah gadis kecil yang selalu ditinggal kerja oleh orangtuanya.
"Kalau begitu, jangan kasih sesuatu yang terlalu sederhana," ujar Adira.
Areksa menatapnya. "Terus?"
"Kalau beliau suka barang mewah, bagaimana kalau Tuan memberikan perhiasan?"
"Perhiasan?"
"Iya. Bisa kalung atau gelang. Untuk suaminya mungkin Tuan bisa memberikan jam tangan."
Areksa mengangguk. "Masalahnya, saya tidak tau selera mereka."
"Kalau begitu pilih yang modelnya klasik."
Adira sedikit mendekat untuk melihat layar ponsel Areksa.
"Kalau untuk wanita, pilih yang elegan dan tidak terlalu ramai. Misalnya kalung dengan liontin berlian kecil. Kalau untuk pria, jam tangan model klasik biasanya aman."
Areksa membuka salah satu aplikasi toko perhiasan dan jam tangan. "Yang seperti ini?"
Ia menunjukkan beberapa pilihan kepada Adira.
Adira memperhatikan satu per satu. "Yang itu bagus."
"Kenapa?"
"Kelihatannya elegan. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap terlihat mewah."
Areksa langsung memilihnya. "Baik."
Jarinya bergerak cepat di layar.
Adira mengira Areksa masih akan mempertimbangkannya, tetapi beberapa detik kemudian pria itu sudah menyelesaikan pembayaran.
Adira sampai mengedipkan mata. "Sudah?"
"Sudah."
"Tuan tidak mau pikir-pikir dulu?"
"Kalau sudah ada yang bagus, buat apa dipikirkan lagi?"
Adira terkekeh kecil. "Memang gampang kalau punya uang."
Areksa menatapnya. "Kamu baru sadar?"
Adira langsung tertawa. "Bukan begitu maksud saya."
"Sudahlah." Areksa menyimpan ponselnya.
"Terima kasih sudah membantu."
"Sama-sama, Tuan."
Areksa kemudian berdiri. "Oh, iya."
Adira mendongak.
"Nanti malam biar Aretha tidur sama kamu, ya. Saya mau pergi ke acara anniversary itu."
Adira langsung mengangguk. "Siap, Tuan."
"Aretha biasanya tidur jam sembilan kan?"
"Iya. Saya akan menemani sampai dia tidur."
"Baik."
Areksa hendak berbalik, tetapi kemudian menambahkan, "Kalau dia rewel, hubungi saya."
Adira tersenyum. "Baik, Tuan."
Areksa pun pergi meninggalkan ruang keluarga.
***
Malam harinya, Areksa sudah selesai bersiap untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun pernikahan mertuanya.
Ia mengenakan kemeja rapi dengan jas yang membuat penampilannya terlihat semakin berwibawa. Setelah memastikan dompet dan ponselnya sudah dibawa, Areksa keluar dari kamar.
Sebelum pergi, ia mencari Adira yang sedang berada di ruang keluarga bersama Aretha.
"Adira, saya berangkat ya. Saya titip Aretha."
Adira yang sedang menyiapkan perlengkapan tidur Aretha langsung mengangguk. "Iya, Tuan. Tenang saja, saya akan menjaga Aretha."
Areksa mengangguk. "Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya."
"Iya."
Baru saja Areksa hendak melangkah menuju pintu, Bik Tini datang menghampirinya.
"Maaf, Den."
"Ada apa, Bik?"
"Dokter Kenzo ada di depan."
Areksa langsung menoleh. "Kenzo?"
"Iya, Den."
"Ngapain dia ke sini?"
Bik Tini hanya menggeleng. "Bibi juga kurang tau."
Areksa menghela napas kecil. "Ya sudah, Bik. Biar saya yang ke sana."
"Iya, Tuan."
Areksa berjalan menuju ruang tamu.
Begitu sampai, ia langsung melihat Kenzo yang berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Ngapain lo ke sini?"
Kenzo langsung menyeringai. "Hehe..."
Areksa sudah hafal ekspresi itu.
"Gue mau ngajakin Adira makan malam."
"Gak bisa." Jawaban Areksa keluar begitu cepat sampai Kenzo tertawa.
"Lah, kenapa?"
"Gue mau pergi. Adira harus jagain anak gue."
Kenzo menggeleng. "Ck. Tenang saja. Gue cuma mau makan di rumah lo doang kok."
Areksa menatapnya curiga. "Di rumah?"
"Iya. Gue bawa makanan."
"Terus buat apa ngajak Adira?"
"Ya makan bareng."
Areksa menghela napas. "Oke. Asal jam anak gue tidur, lo sudah pulang."
Kenzo langsung mengangkat kedua tangannya. "Iya, iya. Ya ampun, galak banget lo."
"Kenzo."
"Apa?"
"Jangan ganggu Adira terlalu lama."
Kenzo menyeringai semakin lebar. "Kenapa? Takut gue bawa kabur?"
Areksa menatapnya datar. "Jangan macam-macam."
"Siap, Bos."
Kenzo terkekeh, lalu melangkah menuju ruang keluarga.
Sementara Areksa hanya bisa menghela napas.
Sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik ke arah ruang keluarga.
Entah kenapa, memastikan Adira benar-benar ada di sana terasa lebih penting daripada yang seharusnya.
***
"Makasih, Dokter. Kita jadi ikut kebagian makanan juga," ucap salah seorang ART sambil tersenyum.
Kenzo mengangkat tangannya santai. "Sama-sama, Bibi cantik semuanya. Kalian bisa menikmati pizzanya."
"Iya, Dokter. Kami ke belakang dulu, ya."
Para ART yang sudah mendapatkan masing-masing pizza itu kemudian berjalan menuju area belakang rumah, tempat mereka biasa beristirahat.
Adira memperhatikan mereka sambil tersenyum. "Dokter baik sekali."
Kenzo mengambil satu potong pizza. "Ya masa aku makan sendiri? Mereka juga pasti lapar."
Adira mengangguk. "Iya juga."
"Yuk, makan."
Adira melirik ke arah kamar Areksa. "Tapi kita makan di ruang ini saja, ya. Aretha masih belum tidur. Saya harus menjaganya."
"Oke."
Mereka pun duduk di ruang keluarga. Aretha masih berada di bouncer sambil sesekali menggerakkan kedua tangan dan kakinya.
Kenzo memperhatikannya. "Aretha pintar, ya. Banyak kemajuan."
Adira tersenyum bangga. "Iya."
"Di usia tiga bulan dia sudah bisa tengkurap. Pasti kamu sering ngajarin tummy time, ya?"
Adira mengangguk. "Sesuai saran dokter juga kan." Kenzo terkekeh kecil.
"Adira."
"Iya?"
"Jangan panggil saya dokter."
Adira terlihat bingung.
"Tapi saya enggak enak."
"Santai saja. Panggil Kenzo."
Adira terdiam sebentar. "Hem... Kak Kenzo?"
Kenzo langsung tersenyum puas. "Nah, boleh. Mas Kenzo juga boleh."
Adira terkekeh kecil. "Ya sudah, Kak Kenzo."
Kenzo ikut tertawa. "Begitu dong."
Mereka kembali menikmati pizza sambil sesekali berbicara. Kenzo beberapa kali memperhatikan perkembangan Aretha, sementara Adira menjelaskan kebiasaan-kebiasaan kecil bayi itu.
***
Sementara itu, di rumah mewah milik Sisil dan Bara, suasana perayaan ulang tahun pernikahan mereka berlangsung meriah.
Para kolega bisnis Bara dan Areksa memenuhi ruang utama. Musik mengalun pelan, percakapan terdengar dari berbagai sudut ruangan, dan para pelayan sibuk menyajikan hidangan untuk para tamu.
Namun, di tengah keramaian itu, Areksa justru duduk sendirian.
Sejak tadi ia hanya sesekali menjawab sapaan orang yang datang menghampirinya.
Pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Bara dan Sisil akhirnya menghampirinya bersama Felicia.
"Makasih, Nak, untuk hadiahnya," ujar Sisil sambil tersenyum. "Itu sangat mewah."
Areksa mengangguk. "Sama-sama, Ma. Semoga Mama suka."
"Tentu saja. Mama suka sekali."
Felicia kemudian menyentuh lengan Areksa. "Kak, ayo kita ke sana."
"Saya di sini saja."
Felicia menggeleng. "Gak enak, Kak. Banyak yang mencari Kak Reksa tadi."
Areksa menghela napas. "Hm... iya."
Akhirnya ia berdiri dan mengikuti Felicia.
Namun baru beberapa langkah, pikirannya kembali melayang.
Sekarang sudah hampir jam berapa?
Areksa diam-diam melihat jam tangannya.
Ia membayangkan Aretha yang mungkin sudah tidur.
Dan Adira... Pikirannya berhenti di sana.
Pasti sekarang dia masih bersama Kenzo.
Entah kenapa bayangan itu membuat langkahnya terasa semakin berat.
Areksa memasukkan satu tangan ke saku celananya. Kenapa gue harus mikirin mereka?
Ia mencoba memusatkan perhatian pada orang-orang di sekelilingnya.
Beberapa kolega bisnis menyapanya. Ia membalas dengan senyum tipis dan percakapan seperlunya.
Tetapi sesekali matanya kembali melirik jam tangan.
Dua jam. Ia hanya bilang akan pergi selama dua jam.
Dan sekarang, ia justru merasa dua jam itu terlalu lama.
Semoga Aretha sudah tidur.
Areksa menghela napas pelan.
Lalu muncul satu pikiran lain yang justru lebih mengganggunya. Dan semoga Kenzo benar-benar pulang tepat waktu.
***
"Makasih, ya, Adira, untuk makan malamnya."
Adira tersenyum. "Harusnya saya yang berterima kasih sama Kak Kenzo. Sudah baik mau menyenangkan busui ini."
Kenzo tertawa. "Iya dong. Saya dokter, jadi saya tau kalau membahagiakan busui juga termasuk booster buat ASI."
Adira langsung terkekeh. "Memangnya begitu, Kak?"
"Ya, kurang lebih begitu." Kenzo mengangkat bahu. "Pokoknya jangan sampai busui stres."
Adira mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit pulang ya. Nanti Areksa marah lagi."
Kenzo menunjuk beberapa kamera CCTV yang terpasang di sudut ruangan. "Lihat tuh, banyak CCTV. Aku bisa diawasi dari mana-mana."
Adira tertawa kecil. "Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
"Pasti."
Kenzo berjalan menuju pintu, lalu menoleh. "Next week ketemu lagi, ya."
"Iya, Kak."
Kenzo melambaikan tangan sebelum akhirnya keluar.
Adira menutup pintu utama dan memastikan pintunya terkunci. Setelah itu, ia berjalan menuju kamar Areksa.
Aretha sudah terlelap di dalam boks bayinya.
Adira mendekat dan memastikan posisi selimut bayi itu tetap rapi. "Selamat tidur, Sayang."
Ia kemudian mengambil beberapa perlengkapan yang masih berada di sekitar boks dan merapikannya sebelum bersiap beristirahat.
Sementara itu, di tempat lain...
Areksa baru saja menerima segelas soda dari salah seorang pelayan.
"Terima kasih."
Ia meneguk minuman itu beberapa kali.
Namun beberapa saat kemudian, Areksa mulai merasa tidak nyaman.
Tubuhnya tiba-tiba terasa panas.
Ia melonggarkan sedikit kerah kemejanya dan menarik napas panjang.
Kenapa panas sekali?
Areksa menatap gelas di tangannya.
Ia memang berada di ruangan yang cukup ramai, tetapi pendingin udara tetap menyala.
Ia kembali meneguk soda tersebut, berharap rasa panas itu hanya karena terlalu lama berada di tengah keramaian.
Namun bukannya membaik, tubuhnya justru terasa semakin tidak nyaman.
Areksa menyentuh dahinya. "Kenapa gue?"
Felicia yang berada tidak jauh darinya memperhatikan perubahan wajah Areksa.
"Kak Reksa?"
Areksa menoleh. "Iya?"
"Kakak kelihatan tidak enak badan."
Areksa menggeleng. "Enggak. Mungkin cuma kepanasan."
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰