NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Gosip yang Bertebaran

Setelah beberapa hari mengabdi di pedalaman Kalimantan Timur dan berhasil mencetak rekor penjualan pertama, Fajar dipanggil kembali ke kantor pusat di Jakarta untuk menyerahkan laporan fisik dan evaluasi awal. Dengan langkah gontai namun sedikit terselip kebanggaan di dadanya, ia mendorong pintu kaca lobi utama.

Namun, baru lima langkah menginjakkan kaki di atas lantai marmer lobi, Fajar langsung merasakan ada yang janggal.

Bulu kuduknya meremang. Pasalnya, hampir setiap mata karyawan yang berpapasan dengannya langsung melirik penuh arti. Beberapa staf wanita yang sedang menunggu lift tampak saling berbisik sambil melirik ke arahnya dari balik map dokumen mereka.

Ada apa ini? Kok pada bisik-bisik ngelihatin gue? Apa resleting celana gue belum ditutup? batin Fajar panik sambil meraba ritsletingnya secara diam-diam. Aman.

Matanya lalu menangkap sosok yang sangat ia kenal sedang bersandar di dekat mesin absensi.

"Oi, Bayu!" panggil Fajar.

Bayu menoleh, dan matanya langsung membelalak kaget. Ia buru-buru menghampiri Fajar dengan setengah berlari. "Loh, Jar? Lu udah balik ke pusat? Beres urusan lu di hutan?"

"Udah nih, gue ke sini cuma mau nyerahin berkas ke direksi," jawab Fajar mengibaskan map di tangannya. "Ngomong-ngomong, ini kantor kenapa dah? Kok dari tadi banyak banget yang bisik-bisik ngelihatin gue?"

Bayu menatap sahabatnya itu dengan ekspresi tak percaya, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Ya elah... masa tokoh utamanya malah ga tau apa-apa?!"

"Apasih? Tokoh utama apanya?" Fajar makin bingung.

"Nih, lu lihat sendiri!"

Bayu merogoh saku celananya, membuka kunci layar ponsel, dan menyodorkannya tepat di depan wajah Fajar. Di layar itu, terpampang jelas sebuah grup chat angkatan karyawan dengan ribuan pesan yang belum terbaca. Topik hangat yang sedang dibahas dan diberi highlight tebal adalah: "Fajar Si Kepala Cabang Baru & Bu Direktur Resmi Pacaran LDR?!"

Mata Fajar seketika nyaris copot. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik.

"ANJIR!" umpat Fajar tertahan, wajahnya seketika pucat pasi. "Gila aja! Siapa yang nyebar gosip murahan begini?! Kan gue sama Kirana belum bikin kesepakatan go public!"

Bayu menyeringai tipis, melipat tangannya di dada. "Nah, itu dia masalahnya, Bro. Beritanya nyebar cepet banget kayak virus dari lantai atas. Pasti ada dalangnya yang gak sengaja denger sesuatu. Lu mau cari pelakunya? Atau mau fokus nyelesain kerjaan lu dulu? Terserah lu sih, gue cuma penonton, gak mau ikut-ikutan."

Fajar mendengus sebal. "Lah, kalaupun lu ikut bantuin gue, emangnya ada gunanya, Bay?"

"Yee... jangan ngeremehin! Gini-gini gue ini sumber informasi—"

"BAYU!"

Sebuah suara bariton yang menggelegar dari arah koridor sukses memotong ucapan Bayu. Seorang pria berkacamata tebal, yang tak lain adalah atasan dari divisi keuangan, berkacak pinggang dengan wajah merah padam.

"Kalau kamu masih mau gajimu utuh bulan depan, segera selesaikan jam istirahatmu dan kembali ke kubikel sekarang juga! Kerjakan laporan pajaknya!" omel atasan itu tanpa ampun.

Bayu langsung menegakkan tubuhnya, nyalinya ciut seketika. "Aduh... budak korporat dipanggil lagi. Yaudah, gue cabut dulu ya, Jar! Semoga lu selamat dari amukan netizen kantor!"

"Iya sana! Ingat, jangan lupa kerjain laporan lu. Kalau lupa nanti lu kena getaknya!" balas Fajar setengah meledek.

"Iya, bawel! Gue juga tahu, kocak!" seru Bayu sambil berlari terbirit-birit menuju lift.

Sepeninggal Bayu, Fajar terdiam di tengah lobi. Otaknya berputar cepat. Gosip ini pasti bersumber dari kejadian telepon malam itu. Ia teringat kembali pada isi email balasan Sinta kemarin: "Tolong jangan bucin ke Bu Direktur. Ruangan beliau jadi panas dari kemarin."

Fajar menelan ludah. Hmm... oke, enaknya gimana ya? Maksud 'kepanasan' itu apa coba? Masa iya Kirana kepanasan cuma gara-gara efek gue bucin lewat telepon? Atau dia lagi marah besar karena reputasinya terancam?

Fajar menghela napas panjang, menajamkan tekadnya. Ahh sudahlah, mending gue samperin Kirana langsung dan ngecek keadaannya daripada gue mati penasaran dan khawatir mulu.

Memperbaiki letak kerah kemejanya, Fajar pun melangkah mantap menuju lift khusus petinggi, menekan tombol lantai teratas untuk menuju langsung ke "kandang macan" alias ruang sang direktur.

Fajar melangkah keluar dari lift khusus petinggi dan berdiri tepat di depan pintu kayu jati kokoh bertuliskan 'Direktur Pemasaran'. Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, ia memutar kenop pintu perlahan.

Cklek... kriiit.

Suara engsel pintu yang berderit pelan itu sukses membuat sosok wanita di balik meja kerja raksasa menoleh.

Kirana yang sedang sibuk membolak-balik dokumen langsung menghentikan gerakannya. Tatapan mata elangnya yang dingin seketika sedikit goyah saat melihat siapa yang datang. Itu Fajar. Pria yang sukses membuat seisi kantor heboh, sekaligus pria yang sama yang sukses membuat tidurnya tidak nyenyak semalaman.

Fajar masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Suasana mendadak canggung.

"Ada apa ya, Bu?" sapa Fajar kaku, masih terbawa suasana hierarki kantor.

Alis Kirana terangkat sebelah. "Ibu?"

Fajar gelagapan, menggaruk tengkuknya. "Ehh... maksudnya, Kirana."

Kirana berdeham pelan, berusaha mempertahankan wibawa eksekutifnya dengan kembali menatap layar laptop. "Kenapa kamu kesini, Mas Kepala Cabang? Bukannya kamu harusnya menyerahkan laporan ke divisi terkait?"

Fajar melangkah maju mendekati meja kerja Kirana. "Emm... itu. Sinta tadi ngirim email balasan soal laporanku. Katanya ruangan ini kepanasan dari kemarin. Maksudnya apa sih, Na? AC sentralnya rusak atau gimana?" tanya Fajar dengan raut wajah kelewat polos.

Mendengar pertanyaan luar biasa tidak peka itu, Kirana langsung memijat pangkal hidungnya. "Cari aja jawabannya sendiri!" ketusnya, kesal karena pacarnya itu benar-benar tidak paham kode.

Melihat respons Kirana yang ketus, Fajar bukannya mundur, malah melangkah memutar meja dan berdiri tepat di hadapan kursi Kirana. Jarak mereka kini sangat dekat.

Kirana mendongak. Saat mata mereka bertemu, Fajar menatap wajah wanita itu lekat-lekat. Dalam jarak sedekat ini, terlihat jelas rona merah pekat yang menjalar dari pipi hingga ke telinga Kirana.

Fajar seketika panik. "Loh, Na? Kenapa mukamu merah banget?! Kamu sakit ya gara-gara kepanasan beneran?! Obatnya apa? Penyakitnya apa? Perlu aku panggilin dokter kantor sekarang?!"

Rentetan pertanyaan panik nan bodoh itu membuat Kirana menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. "Hmm... aku bukan sakit, Fajar," gumamnya pelan.

"Hah? Terus mukamu merah kenapa kalau bukan sakit?" cecar Fajar masih belum paham.

"Karena salting," jawab Kirana sangat pelan, nyaris seperti cicitan tikus.

Fajar mencondongkan telinganya. "Hah? Apa? Suara kamu kekecilan, Na. Gak kedengeran."

Habis sudah kesabaran Kirana. Merasa gengsinya sebagai direktur sudah hancur lebur, Kirana mengebrak mejanya pelan dan menatap tajam mata Fajar.

"KARENA KAMU BIKIN AKU SALTING, FAJAR!"

Teriakan Kirana menggema keras di dalam ruangan yang biasanya selalu hening itu. Saking kerasnya, siluet beberapa karyawan dan Sinta yang berada di luar ruangan terlihat membeku dari balik dinding kaca buram. Mereka pasti mendengarnya.

Fajar termenung. Ia mematung selama beberapa detik mencerna kalimat barusan, sementara dada Kirana naik turun menahan malu yang luar biasa.

Perlahan, kepanikan di wajah Fajar memudar, digantikan oleh senyum miring yang luar biasa menyebalkan—namun manis.

"Hah? Jadi... semalaman kamu kepikiran omonganku? Kamu rindu aku, ya?" goda Fajar, suaranya kini melembut dan berubah serak.

Kirana membuang muka, tak berani menatap mata Fajar.

"Weee... ternyata gitu," kekeh Fajar puas, menumpukan kedua tangannya di pinggiran kursi Kirana, mengurung wanita itu. "Berarti sama dong. Aku juga kangen banget sama kamu. Pulang kerja nanti, mau kencan lagi?"

Kirana menggigit bibir bawahnya, berusaha keras memasang wajah galak meski gagal total. "Hmm... mau. Tapi kamu harus fokus kerja dulu! Selesaikan urusanmu di pusat hari ini. Nanti sore aku chat di WA, dan kamu harus langsung balas!" ancam Kirana dengan sisa-sisa wibawanya.

Fajar terkekeh pelan, mundur selangkah dan memberikan hormat ala militer dengan gestur yang sangat luwes. "Siap laksanakan, Pacar Tercintaku."

Mendengar gelar itu meluncur dengan mulus dari bibir Fajar di tengah-tengah jam kantor, wajah Kirana kembali memerah padam untuk yang kesekian kalinya hari itu.

Beberapa jam berlalu dengan cepat. Setelah berkutat dengan tumpukan dokumen dan rapat evaluasi di kantor pusat, jam pulang kerja akhirnya tiba. Fajar melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu sambil meregangkan otot-otot bahunya yang kaku.

Sambil menunggu di pinggir trotoar, ia menatap langit sore Jakarta dan tersenyum sendirian mengingat kejadian hari ini.

"Gila, sebulan ini bener-bener kayak rollercoaster," gumam Fajar pada dirinya sendiri. "Mendadak dikirim ke pedalaman jadi Kepala Cabang, kerjaan numpuk... dan yang paling konyol, niat awal gue pengin hidup damai sama Mbak Sinta sang sekretaris, suratnya malah nyasar. Dan plot twist-nya, gue malah lebih tertarik, baper, dan nunduk sama direkturnya. Haa... jalan hidup gue emang aneh banget."

Sambil terkekeh pelan menertawakan nasibnya, Fajar mengangkat tangannya, menyetop sebuah taksi yang lewat untuk segera pulang ke rumah orang tuanya mumpung ia sedang berada di Jakarta.

Setibanya di rumah, kehangatan yang sangat ia rindukan selama di Kalimantan langsung menyambutnya. Baru saja membuka pintu, aroma gurih kaldu yang sangat familier langsung menusuk hidung.

"Wah, anak Ibu akhirnya pulang juga dari hutan! Ayo cepat mandi terus makan, Ibu udah masakin sup ayam kesukaanmu," sambut sang Ibu yang baru keluar dari dapur dengan senyum lebar.

"Wih, mantap! Makasih, Bu. Emang masakan Ibu kasta tertinggi," puji Fajar, langsung meletakkan tas kerjanya di atas kursi.

"Aduh, udah umur 30 tahun kelakuannya masih aja persis kayak anak balita dikasih permen," celetuk sang Ayah dari arah ruang keluarga, matanya masih fokus menonton siaran berita sore di TV.

Fajar mencibir pelan sambil melonggarkan dasinya. "Yee... mending Fajar dong, Pak. Biar gini juga udah kerja banting tulang sampai ke luar pulau. Lha, Bapak di rumah kerjanya ngapain aja selain ngopi?"

Mendengar balasan telak itu, sang Ayah langsung menurunkan korannya. "Ehh, berani ngelawan lu ya sama orang tua sekarang?" ancam Ayah pura-pura bersiap melempar bantal sofa.

"Udah, udah! Kalian berdua ini kalau ketemu bawaannya berantem melulu!" potong Ibu dari ruang makan, suaranya naik satu oktaf dengan tangan berkacak pinggang. "Ayo, Ayah juga makan. Cepet ke meja makan sekarang sebelum supnya dingin!"

Mendengar titah mutlak dari penguasa rumah, Ayah seketika terdiam. Tanpa banyak protes, ia mematikan televisi dan berjalan gontai menuju ruang makan.

Fajar yang melihat pemandangan itu menahan tawa setengah mati. "Hahaha, langsung lesu. Suami kok takut istri sih, Pak?" ledek Fajar berbisik saat mereka berpapasan.

Ayah melirik sinis ke arah anak bujangnya itu, lalu menepuk pundak Fajar pelan dengan senyum penuh arti. "Wah, wah... kalau kamu berani ngomong gitu, hati-hati karma turun ke kamu loh, Jar. Bapak dengar-dengar pacarmu itu direktur yang galaknya minta ampun, kan? Bapak jamin, nanti kamu bakal jauh lebih takut istri daripada Bapak."

Fajar langsung kicep. Tawa di bibirnya seketika lenyap saat bayangan wajah dingin Kirana yang sedang memarahinya tiba-tiba melintas di pikiran. Ayahnya benar, soal urusan takut istri, masa depan Fajar sepertinya sudah bisa dipastikan.

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!