NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Toilet cewek lantai dua Highland School itu literally punya akustik paling jernih se-antero gedung. Steviona lagi bersandar santai di dinding ubin yang sedingin es di dalam salah satu bilik yang terkunci. Niatnya cuma mau skip sepuluh menit pelajaran Sejarah yang mulai terasa mind-numbing.

Tapi, ketenangan eksklusifnya harus dirusak sama suara decitan sepatu yang sengaja diseret, disusul tawa cempreng annoying dari luar bilik. Tiga orang masuk. Dan aroma parfum fruity murahan yang menyengat hidung auto bikin mood Steviona anjlok ke dasar jurang.

"Kak, maaf... aku kemarin itu beneran lupa nggak nulis PR-nya. Jadi hari ini aku nggak bisa kumpulin tugas kalian."

Suara itu. Pelan, bergetar, dan kelewat pasrah.

Urat di pelipis Steviona berkedut. Ia mengenali nada memuakkan itu. Ariana.

Di dalam bilik, Steviona mendengus kasar. Tangannya merogoh saku rok abu-abunya, mengeluarkan ponsel, dan tanpa basa-basi langsung menekan tombol record audio. Sorot matanya menajam, menembus celah sempit pintu toilet.

Bodoh, batin Steviona sinis. Percuma lo dapat validasi jadi pacar tangan kanan klan Obsidian Omen, kalau mental tempe lo itu masih mendarah daging. Lemah.

Di area wastafel, Anes—kapten cheerleaders dengan seragam super ketat dan rok kependekan—berdiri berkacak pinggang. Di belakangnya, Dea dan Lily, dua antek setianya, menatap Ariana dengan raut wajah toxic maksimal. Mereka bertiga basically memang menaruh dendam kesumat. Bukan murni soal PR. Ini murni masalah ego. Mereka nggak terima cewek se-lugu dan se-clueless Ariana bisa menggeser mereka dan mengklaim posisi sebagai kekasih Alvaro, salah satu most wanted di Highland.

"Lo pikir gue peduli?!" bentak Anes, suaranya memantul nyaring di dinding keramik. Telunjuk ber-kuteks merahnya menekan bahu Ariana sampai gadis berkepang dua itu terdorong mundur. "Nggak, anjing! Gue nggak mau tahu. Kalau nanti circle gue dihukum gara-gara tugas biologi itu kosong, lo yang harus maju ke depan buat gantiin kita! Paham lo?!"

Ariana menunduk dalam, buku-buku jarinya memutih meremas ujung roknya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat, anxious parah dikepung tiga cewek agresif.

"Sumpah ya, lo tuh useless banget," Dea ikut menyambar, melipat tangan di depan dada dengan tatapan merendahkan. "Alvaro literally buta banget kali ya jadiin cewek modelan lo pacarnya? Apa coba yang bisa diandelin dari cewek sok polos kayak lo? Cuma modal nangis doang?"

Lily tertawa mengejek, suaranya nyaring menyiksa telinga. "Udahlah, guys. Nggak usah diladenin. Nggak lihat tuh bahunya sampai getar gitu? Bentar lagi juga berak di celana tuh anak. Pathetic banget, sumpah."

Tawa ketiga cewek itu meledak. Menggema penuh kemenangan.

Tapi tawa itu cuma bertahan tiga detik.

Di dalam bilik, kesabaran Steviona officially kedaluwarsa. Ia bukan pahlawan kesiangan yang tiba-tiba peduli pada ikatan persaudaraan. Ia hanya highkey muak. Muak melihat adiknya yang kelewat naif, dan jauh lebih muak mendengar bacotan cewek-cewek basic yang berani mengklaim kuasa di luar teritori mereka. Terlebih, Ariana membawa nama Lagustav. Dan nggak ada satu pun anjing liar yang boleh menggonggongi nama itu selain dirinya.

Steviona mematikan rekaman, memasukkan ponselnya, dan mundur satu langkah kecil. Ia mengangkat kaki kanannya.

BRAAAAK!

Pintu bilik toilet itu ditendang dengan kekuatan monster. Engselnya nyaris jebol dari kusen, membentur dinding dengan suara ledakan memekakkan yang membuat jantung empat gadis di luar seakan berhenti berdetak. Jeritan kaget geng Anes tertelan seketika di tenggorokan.

Pintu terbuka lebar. Dari balik bayangan, Steviona melangkah keluar.

Posturnya effortlessly badass. Tangannya masuk ke dalam saku rok, matanya yang sedingin es kutub utara langsung mengunci ketiga cheerleaders itu satu per satu. Udara di dalam toilet literally terasa disedot habis. Suhu ruangan anjlok ke titik beku.

"Woy." Satu kata mengalun dari bibir Steviona. Rendah, berat, tanpa intonasi marah, tapi damage-nya setara dengan embusan napas malaikat maut. "Bosen idup lo pada?"

Anes memucat, tapi egonya sebagai penguasa palsu sekolah memaksanya untuk tetap mengangkat dagu. Ia menatap nyalang ke arah Steviona.

"Jangan ikut campur, murid baru," ancam Anes, suaranya berusaha keras disetabilkan meski kakinya sedikit goyah melihat aura membunuh gadis di depannya. "Lo nggak tahu siapa kita. Mending lo cabut sebelum lo ikut kena masalah."

Sudut bibir Steviona perlahan tertarik ke atas. Seringai iblis yang sangat, sangat mematikan terukir jelas. Langkah pelannya mendekat, memangkas jarak hingga mengurung geng Anes di dekat wastafel. Ariana yang melihat kedatangan kakak tirinya langsung menahan napas, tersandar lemas di dinding.

"Gue nggak perlu tahu nama gerombolan sampah kayak kalian," bisik Steviona tajam, matanya menatap tepat ke dasar pupil Anes. "Not important. Lepasin dia... sebelum gue beneran hilang kendali dan ngubah toilet ini jadi UGD."

Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anteknya, emosi Anes meledak. Matanya melotot. "Habisi dia, Dea, Lily!"

Itu adalah perintah paling bodoh yang pernah keluar dari mulut Anes seumur hidupnya.

Dea maju, tangannya terulur berniat menjambak rambut cokelat panjang Steviona. Too slow. Dengan refleks predator yang terlatih di dunia bawah tanah Rusia, Steviona memiringkan kepalanya menghindari serangan. Tangan kirinya bergerak secepat kilat, menangkap pergelangan tangan Dea, dan memelintirnya ke belakang hingga terdengar bunyi 'krek' yang sukses bikin Dea menjerit histeris. Tanpa ampun, Steviona menghempaskan tubuh Dea hingga menabrak pintu toilet sampai ambruk.

Melihat temannya tumbang dalam dua detik, Lily panik. Ia mencoba melayangkan tamparan, tapi Steviona hanya menunduk sedikit, menjadikan bahunya sebagai tumpuan, lalu menghantamkan siku kanannya telak ke ulu hati Lily. Napas Lily putus seketika. Cewek itu terbatuk hebat, jatuh berlutut sambil memegangi perutnya yang kram parah.

Formasi hancur berantakan. Nggak sampai lima belas detik.

Kini, tersisa Anes. Gadis yang tadinya arogan itu sekarang mematung, freeze total. Tubuhnya bergetar hebat saat sepatu bot Steviona melangkah pelan mendekatinya.

Steviona tidak memukul Anes. Ia hanya merogoh kerah kemeja seragam cewek itu, mencengkeramnya kuat-kuat hingga Anes terpaksa berjinjit. Wajah mereka hanya berjarak lima sentimeter. Bau teror menguar pekat.

"Dengar baik-baik," desis Steviona, suaranya sangat tenang tapi menjanjikan neraka. "Mulai sekarang, kalau lo atau kroco-kroco lo ini berani natap dia lebih dari tiga detik... gue pastiin, karir sok bossy lo di sekolah ini tamat, dan tulang lo nggak akan ada yang nyambung dengan benar. Ngerti?"

Mata Anes membelalak ngeri. Air matanya menetes saking paniknya. Bau pesing tiba-tiba menguar di udara. Cairan kuning hangat merembes turun dari balik rok lipit Anes, menetes ke atas lantai marmer putih.

Dia ngompol.

Steviona melirik ke bawah dengan tatapan jijik yang maksimal. Ia melepaskan cengkeramannya dari kerah Anes, seolah menyentuh kain itu menularkan penyakit, lalu mendorong bahu Anes menjauh.

Gadis berambut panjang itu menepuk-nepuk tangannya yang tidak kotor, lalu menoleh ke arah Ariana yang masih terpaku tak percaya.

"Cuci muka lo," perintah Steviona absolut, tanpa sisa kelembutan sedikit pun. "Nangis di depan sampah kayak gini literally cuma jatuhin harga diri klan kita."

Tanpa repot-repot mengecek sisa napas tiga cheerleaders yang masih menggelepar dan menangis di lantai toilet, Steviona memutar badannya dan berjalan keluar, meninggalkan keheningan berdarah yang akan terus menghantui mental Anes selamanya.

1
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!