'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Keluarga Nelson
...~•Happy Reading•~...
Ketika sedang mengetik pesan untuk Papanya, terdengar suara pintu kamar Mamanya ditutup. Dia mengetik makin cepat dan segera kirim, lalu memakai celana panjang.
'Coba lihat ini, pikiran gak fokus, terganggu cuma karna 3 kali misscall. Apa yang mau dikerjakan harus tertunda.' Nelson menggeleng atas apa yang terjadi padanya.
"Nel, sudah belum? Mama tunggu di luar, ya." Teriak Bu Weny sambil keluar dari rumah.
Nelson segera keluar kamar. Dia terkejut melihat penampilan Mamanya di halaman. "Mama benar mau naik motor?" Nelson bertanya serius, karena Mamanya sudah memakai celana panjang, jaket dan helm.
"Iya. Biar cepat pulang."
"Baiklah. Mama tunggu, aku pakai jaket." Nelson kembali masuk ke dalam kamar.
"Mama Weny, pegangan yang kuat. Jangan membuat gerakan tiba-tiba, ya?" Nelson meledek Mamanya yang sudah duduk di belakang. "Ini bukan Papa Esra yang sudah tahu gaya Mama bergerak." Ucap Nelson sambil tersenyum dalam hati.
"Anak nakal. Orang tua lagi serius, mala diledekin." Bu Weny memukul punggung Nelson yang hendak keluar dari halaman.
"Peluk, Mama Weny. Nanti kalau aku sudah punya pacar... Hahaha..." Nelson jadi tertawa dengan pikiran yang terlintas untuk meledek Mamanya.
"Terus, ledekin Mama. Nanti gak jadi ke gunung." Ancam Bu Wenny, membuat Nelson kembali tertawa sambil membawa motor keluar dari komplek.
~•~
Menjelang malam mereka kembali ke rumah dan melihat Pak Esra sedang nonton televisi. "Maaf, Pa. Kami terlambat pulang." Bu Weny merasa bersalah, karena hampir lewat waktu makan malam.
"Papa kira kalian mau pindahkan swalayan ke gunung." Ucap Pak Esra serius. Nelson jadi tersenyum dengar protes Papanya.
"Abis putramu banyak bertanya, Pa. Mama ambil yang ini, ditanya. Apa ini cocok buat Kakek? Ambil itu, apa Kakek suka? Apa Kakek perlu? Dan banyak lagi pertanyaannya. Bikin Mama bingung. Ambil, taru, ambil, taru, ambil..." Bu Weny menceritakan kejadian di swalayan yang membuat mereka terlambat pulang.
"Bukan karna aku saja, Pa. Mama diajak ngobrol banyak kenalan." Nelson ikut melapor, tanpa melihat Mamanya yang sedang menata makanan di atas meja.
"Tambah itu lagi, Pa. Dia bikin lama dan pusing." Lapor Bu Weny.
"Loh, kok aku lagi, Ma? Itu kenalan Mama semua." Nelson protes dengan wajah jenaka, ingat para kenalan Mamanya yang curi-curi kesempatan melihatnya.
"Iya, mereka ajak ngobrol Mama karna melihatmu. Mereka tanya ini, itu, ujung-ujungnya mau daftar buat calon besan..." Bu Weny bercerita.
"Hhhhmmm... Dunia mulai bergeser. Bukan cuma para gadis mengejar pacar. Tapi para ibu ikut mengejar jodoh buat anak mereka." Pak Esra menggeleng.
"Pantesan tadi aku dengar ibu-ibu itu bilang, jangan ditikung, ya." Nelson jadi tersenyum ingat para ibu di swalayan saling mengingatkan kepada ibu yang lain.
"Kau dengar itu juga?" Tanya Bu Weny sambil tersenyum.
"Dengar, Ma. Kan, aku dekatin Mama mau ingatkan, Papa sendiri di rumah." Nelson menjelaskan sambil tersenyum melihat Papanya kembali menggeleng.
"Mama jadi pusing, banyak kenalan sedang khawatir dengan masa depan jodoh putri-putri mereka. Eh, melihatmu, mereka tanya A sampai Z tentangmu."
"Kenapa pusing, Ma. Itu malah bagus. Kalau buat calon mantu, ambil ayakan tepung, ayak satu, satu." Ucap Pak Esra sambil menuju ruang makan.
"Papa kira anak mereka terigu? Anak kita saja, yang... Ayo makan. Perut lapar bisa ngomong ke sana kemari, seperti perahu diayun ombak." Bu Weny tidak melanjutkan, karena lapar.
Setelah makan, mereka bertiga masih duduk di meja makan. "Benar Nel mau ke tempat Kakek?"
"Iya, Pa. Sambil menunggu ujian..." Nelson serius menjelaskan, agar Papanya tidak keberatan.
"Benar mau pakai motor?"
"Iya, Pa. Biar mudah bawah yang dibeli Mama dan mudah mau ke mana-mana di atas..." Nelson menjelaskan lagi.
"Kapan mau ke atas?"
"Besok pagi-pagi, Pa. Biar gak panas di jalan."
"Jangan berangkat terlalu pagi. Tunggu langit agak terang, baru berangkat. Supaya jalanan sudah rame dengan motor atau angkot."
"Makasih, Pa. Sudah ingatkan. Aku kok, lupa. Kalau terlalu pagi jalanan masih sepi." Bu Weny berkata sambil meletakan potongan buah pepaya dingin di atas meja.
"Baik, Pa." Nelson mengerti saran Papanya.
"Kalau begitu, mari Papa periksa motormu. Setelah itu, kau keluar isi bensin, full." Pak Esra khawatir terjadi sesuatu di jalan sepi dengan motor Nelson dan tidak ada yang bisa membantunya.
Bu Weny melihat suaminya dengan suasana hati yang berbeda ketika bilang mau periksa motor Nelson. 'Apa aku telah salah mengijinkan Nel pergi dengan motor?' Bu Weny membatin sambil melihat punggung kedua pria yang disayangnya berjalan keluar dari ruang makan.
Pak Esra dan Nelson ke garasi tempat penyimpanan perkakas. "Trims, Pa." Nelson tersentuh melihat Papanya memeriksa kondisi motornya dengan teliti dan cermat.
"Jangan lupa bunyikan klakson di setiap tikungan." Pak Esra mengingatkan, sebab Nelson baru pernah ke tempat Kakeknya naik motor. Mereka biasanya naik angkot, jadi hanya duduk hingga tiba di tempat.
"Iya, Pa. Aku akan hati-hati di jalan." Nelson tahu, Papanya sedang khawatir. Jadi dia dengar semua petunjuk Papanya untuk berkendaraan sendiri ke gunung.
"Kalau sudah di sana, fokus pada tujuanmu dan Kakek. Gak usah masukan ke hati omongan Om dan Tante Ridho yang mungkin agak kurang menyenangkan."
"Iya, Pa. Aku fokus buat tujuanku. Kalau Kakek ajak, baru aku ke Om dan Tante, atau ke mana yang Kakek ajak." Nelson mengerti, kondisi hubungan Papanya kurang harmonis dengan adik lelakinya.
"Ya, sudah. Ini pergi isi bensin sebelum terlalu malam." Papanya mengeluarkan uang dari saku celana.
"Gak usah, Pak. Aku masih punya uang. Aku belakangan ini jarang ke kampus, jadi masih ada ongkos yang Mama kasih." Nelson menepuk dompet di saku celana.
"Itu disimpan saja. Mungkin kau perlu beli sesuatu di jalan atau di gunung. Jadi gak nyusahin Kakek." Pak Esra tetap mendesak Nelson terima uang darinya.
"Thanks, Pa. Aku beli bensin pake uang Papa." Nelson tersentuh, akan kasih sayang dan perhatian Papanya yang menyiapkan motor dan bensin untuknya.
'Semoga aku bisa membalas kasih sayang mereka dan membuat mereka bangga.' Nelson membatin sambil mengisi uang pemberian Papanya ke kantong, lalu menemui Mamanya.
"Ma, aku pergi beli bensin, ya." Nelson pamit. Mamanya yang sedang membersihkan peralatan mengangguk sambil mengingatkan untuk berhati-hati.
Pak Esra menepuk punggung Nelson sebelum keluar. "Langsung pulang, supaya besok gak capek di jalan."
"Iya, Pa. Keperluanku sudah dibeli Mama. Jadi cuma beli bensin." Pak Esra mengangguk.
Setelah bunyi motor Nelson menjauh, Pak Esra masuk ke dapur. "Ma, ada apa, Nel tiba-tiba mau temui Kakeknya?" Pak Esra penasaran dan ingin tahu, sebab Nelson tidak pernah menunjukan gelagat mau ke tempat Kakeknya sendiri.
"Sebentar, Pak. Ini sudah mau selesai. Tunggu di depan ya." Bu Weny mau jelaskan, agar tidak disalahkan. Sekalian minta dukungan tentang kondisi hati putra mereka yang galau.
...~•••~...
...~•○♡○•~...