NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Hasil memuaskan?

Atmosfer di dalam balairung pertemuan semakin menegang pasca aksi Kaelen yang menggebrak meja kayu di hadapannya.

"Raja Kaelen dari Tidebay, mohon tenanglah terlebih dahulu, Yang Mulia," bisik Alistair lembut, berusaha meredakan emosi Kaelen yang tampak bergolak.

"Kenapa harus menyeret generasi muda untuk berperang? Bukankah kekuatan kita yang ada di sini sudah lebih dari cukup?"

Cetus Zack dengan nada congkak, merasa dirinya adalah yang terkuat di antara mereka.

"Tuan-Tuan sekalian, setelah melakukan pengamatan intensif selama beberapa pekan, kami khawatir ancaman yang akan kita hadapi jauh lebih besar dari perkiraan awal. Kami hanya mempersiapkan skenario terburuk serta solusi paling efektif yang wajib kita ambil," terang Alistair menerangkan kembali pertimbangan dewan.

"Heh! Kau pikir kami semua sudah terlalu tua untuk menabuh genderang perang, Profesor?" Sela Raja Horus dari Solaria, suaranya terdengar berat dan tajam.

"Saya sama sekali tidak meragukan kekuatan Anda, Yang Mulia," sahut Alistair sesopan mungkin.

Alistair menghela napas pelan sebelum melanjutkan, "Mohon maaf jika kata-kata saya menyinggung. Namun jika kita lihat dari silsilah, Anda, Raja Horus adalah Aetherist tertua dari generasi terdahulu. Sementara di sisi lain, wilayah Verdantia bahkan sudah kehilangan Aetherist seniornya. Kini hanya tersisa Nona Flora dari Verdantia."

Dengan isyarat tangan yang sopan, Alistair menunjuk ke arah gadis bersurai merah muda pendek di sebelah kiri Airyn.

"Tentu akan sangat sulit untuk menyatukan kombinasi kekuatan jika rentang usia dan perbedaannya sejauh ini. Namun melalui generasi muda, kita dapat membina hubungan dan ikatan yang solid demi mempertahankan martabat umat manusia," Tegas Alistair mendasar.

"Hahaha! Kau bisa bicara manis begitu sekarang, Profesor! Salahkan saja ibu dari bocah biru itu tujuh puluh tahun yang lalu!" Celutuk Horus tiba-tiba. Manik mata keemasannya melirik tajam ke arah Airyn, lalu bertumpu pada Kaelen.

Kaelen dan Airyn yang tidak paham arah pembicaraan itu hanya bisa terdiam. Sementara itu, beberapa pemimpin wilayah lainnya mulai berbisik-bisik seraya melirik curiga ke arah dua utusan Tidebay tersebut.

"Hal itu sudah terjadi di masa lalu, dan sekarang fokus kita adalah mencari jalan keluar terbaik, Tuan-Tuan sekalian," sela Seraphina akhirnya, memecah ketegangan dan bisik-bisik di ruangan.

"Nona Seraphina benar. Sekarang kita harus berfokus pada solusi, bukan saling menuding masa lalu. Mari kita lanjutkan diskusi ini khusus untuk para pemimpin wilayah, tanpa kehadiran para Aetherist muda. Khusus untuk Nona Flora, apakah pengawal Anda dibiarkan tinggal?" tanya Alistair pada gadis bersurai merah muda tersebut.

Flora mengangguk pelan, lalu bangkit dari kursinya dan melangkah keluar ruangan. Para pewaris muda lainnya ikut berdiri dan berjalan mengekor di belakangnya.

Sebelum melangkah pergi, Airyn mengusap lembut lengan pamannya. "Paman, aku keluar dulu ya. Paman hati-hati di dalam."

Kaelen tersenyum tipis dan mengangguk. Setelah Airyn membalas senyuman itu, ia pun melangkah keluar menyusul yang lain.

Klek.

Pintu ganda balairung ditutup rapat dari dalam. Begitu keluar, mata Airyn langsung mengedar ke sepanjang koridor, mencari keberadaan gadis bersurai merah muda yang berjalan duluan tadi.

"Mencari sesuatu, Putri?"

Airyn tersentak kaget saat sebuah suara tiba-tiba terdengar tepat di belakang tubuhnya. Ia buru-buru berbalik dan mendapati seorang pemuda bersurai nila dengan warna mata senada. Pemuda itu terbalut pakaian formal yang rapi dan menyunggingkan senyum ramah ke arahnya.

"A-aku... aku mencari gadis berambut merah muda tadi. Ah, Flora maksudku," ujar Airyn sambil berusaha mengingat nama gadis itu.

"Ah, mau cari sama-sama?" tawar pemuda itu santai.

"Tidak usah, nanti malah merepotkanmu..."

"William. Namaku William. Cobalah bersikap lebih santai, Putri," potong pemuda itu terkekeh pelan.

"Aku punya nama, tahu! Berhentilah memanggilku 'Putri'," cetus Airyn menimpali.

"Oh, maaf-maaf. Tapi bagiku, Tiara itu artinya Putri, jadi kurasa kau lebih cocok dipanggil begitu," goda William sambil tersenyum tipis.

Menyebalkan sekali, gerutu Airyn dalam hati. Ia langsung membalikkan badan tanpa membalas ucapan itu.

"Aku cari sendiri saja!" tekat Airyn melangkah pergi.

"Hei, tunggu aku!" William justru terkekeh dan mengejar langkah Airyn dari belakang.

Sementara itu di dalam balairung, perdebatan masih belum menemui titik terang.

"Sebagai pengawal Nona Flora, saya menegaskan bahwa saya tidak mengizinkan beliau ikut serta dalam rencana pelatihan perang ini," ujar ksatria pelindung bernama Robert dengan nada tegas.

"Aku pun tidak akan pernah mengizinkan keponakanku diseret ke dalam masalah ini!" Kaelen menimpali tak kalah keras.

Kasak-kusuk kembali memenuhi ruangan besar itu.

"Profesor, kita tidak akan mendapatkan kepastian jika terus begini," bisik Seraphina cemas di samping Alistair.

Alistair memejamkan mata sejenak, memijat pelipisnya seraya membetulkan letak kacamatanya.

"Tuan-Tuan sekalian, tolong pertimbangkan ini demi masa depan seluruh umat manusia," pangkas Alistair mencoba membujuk.

"Kurasa tidak ada salahnya mendidik para penerus kita untuk bersiap perang," ujar seorang pria bersurai ungu plum yang sejak tadi tenang, Jove dari Voltara.

"Tentu saja! Keturunanku tidak ada yang lemah, kami semua kuat!" seru Zack tak mau kalah.

Para tetua lainnya mulai kembali berdebat, saling membanggakan kekuatan wilayah masing-masing. Kaelen dan Robert memilih tetap bungkam. Begitu pula dengan seorang pria bersurai putih bersih yang sedari tadi hanya diam menyimak dari ujung meja.

Para profesor dan dewan tampak makin kebingungan menghadapi perpecahan pendapat dari para penguasa elemen ini.

"Adakan saja pemungutan suara," ujar pria bersurai putih dengan iris mata perak itu akhirnya membuka suara.

"Tuan Isar dari Frostport?" tanya Alistair memastikan maksud pria dingin tersebut.

"Dia menyuruh kita melakukan voting. Siapa yang setuju pewarisnya diikutsertakan dalam pelatihan perang, dan siapa yang tidak setuju. Begitu, kan?" Arthur dari Ashforge memperjelas.

Isar hanya mengangguk pelan tanpa mengubar kata-kata.

"Itu ide yang sangat bagus! Ayo Profesor, hitung saja suara terbanyak!" seru Zack tak sabaran.

Mau tak mau, Profesor Alistair mengangguk setuju dan membuka sesi pemungutan suara.

"Baiklah, Tuan-Tuan sekalian. Bagi yang tidak setuju jika para penerus dipersiapkan untuk menghadapi ancaman perang, silakan angkat tangan Anda."

Kaelen menjadi orang pertama yang mengangkat tangannya dengan mantap, berharap mayoritas suara berada di pihaknya. Robert menyusul segera setelahnya. Tak lama kemudian, Neil dari Galecrest ikut mengangkat tangan.

Namun setelah menunggu beberapa saat, tidak ada lagi tangan yang terangkat. Hanya ada tiga suara yang menolak.

Alistair menghela napas lalu melanjutkan, "Selanjutnya, silakan angkat tangan bagi yang setuju untuk melatih para penerus demi persiapan perang."

Lima orang sisanya—Zack, Horus, Arthur, Jove, dan Isar—mengangkat tangan mereka tanpa keraguan sedikit pun. Kalah telak, mayoritas pemimpin wilayah menghendaki anak-anak muda itu untuk dilatih bertarung.

"Baiklah, Tuan-Tuan. Hasil resmi telah didapatkan. Para penerus dari delapan wilayah akan dididik dan dipersiapkan untuk menghadapi potensi ancaman perang," pangkas Alistair mengetuk palu keputusan.

Para pemimpin yang setuju tersenyum puas, sementara Kaelen hanya sanggup memaku terdiam, meratapi nasib keponakannya yang kini resmi terseret dalam pusaran bahaya benua.

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!