NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: MAIN API DI BALIK ANCAMAN

Meskipun kebohongan Devan di meja makan pagi itu berhasil meredam ledakan emosi Ibu, sisa kecurigaan di mata wanita itu tidak pernah benar-benar padam. Ibu mulai menerapkan pengawasan yang jauh lebih ketat. Pintu kamar harus selalu dibiarkan terbuka sedikit, dan Ibu sering kali kedengaran melangkah pelan melewati lorong lantai atas di jam-jam tak terduga—mencari celah dari desas-desus atau perasaan janggal yang terus mengusiknya.

Namun bagi Devan, pengawasan ekstra yang ketat dari Ibu bukannya membuat pria itu gentar atau melangkah mundur. Sebaliknya, hal itu justru makin memicu gejolak posesif dan adrenalin di dalam dadanya. Bagi Devan, makin dunia mencoba memisahkan atau mengawasi mereka, makin kuat pula keinginannya untuk menegaskan bahwa Aluna adalah miliknya yang utuh.

Sabtu sore, cuaca di luar rumah berawan gelap. Ayah Danu sedang berada di halaman belakang membersihkan mobil, sementara Ibu sibuk di ruang laundry lantai bawah. Suara mesin cuci yang berputar konstan menyamarkan ketenangan remang di lantai atas.

Aluna sedang berdiri di dalam kamar mandi lantai atas yang pintunya sedikit terbuka, membasuh wajahnya di depan cermin wastafel. Air dingin menyegarkan wajahnya yang pucat akibat ketegangan beberapa hari terakhir.

Srett.

Tanpa bayangan atau suara langkah kaki, sosok tegap Devan menyusup masuk ke dalam kamar mandi. Dengan satu gerakan cepat dan halus, Devan menutup pintu kayu itu hingga merapat sempurna, lalu memutar kuncinya dari dalam.

Klik.

Aluna tersentak kaget. Ia membalikkan badan dengan jemari yang masih basah, matanya membelalak menatap Devan yang berdiri menjulang tepat di depannya.

"Kak Devan!" cicit Aluna panik dengan suara berbisik, dadanya naik-turun memburu. "Kamu gila? Ibu ada di bawah! Pintu kamar mandi ini tadi sengaja dibiarkan terbuka!"

Devan tak menjawab dengan kata-kata teguran. Pria itu melangkah satu titik maju, memangkas jarak di antara mereka hingga tubuh Aluna terdesak rapat menyandar pada pinggiran wastafel berbahan granit yang dingin. Devan menjangkau pinggang mungil Aluna, menariknya menyatu tanpa sisa dalam kungkungan tubuh tegapnya.

"Kakak rindu," bisik Devan serak tepat di depan bibir Aluna, suaranya sarat akan desakan gairah dan penumpahan rasa frustrasi yang ia tahan sepanjang minggu.

Sebelum Aluna sempat mengeluarkan bantahan atau dorongan untuk melepas diri, Devan menunduk dan menyambar bibir adiknya dengan ciuman yang sangat dalam, panas, dan dominan.

Ciuman Devan kali ini terasa amat menuntut, seolah memburu waktu dan menantang bahaya yang bisa meledak kapan saja di luar pintu. Aluna mendesah pelan di balik pagutan bibir yang memabukkan itu. Pertahanan dirinya yang rapuh hancur seketika di bawah dominasi hangat sang kakak tiri. Jemari Aluna yang basah merayap naik, meremas kuat kerah kaus Devan demi mencari pegangan di tengah gejolak perasaan terlarang yang makin membakar inderanya.

Devan memindahkan kecupannya menyusuri garis rahang hingga ke leher Aluna, menyesap kulit halus adiknya di tempat yang persis sama dengan tanda alergi rahasia mereka kemarin.

"Kak... j-jangan... Ibu bisa naik kapan aja..." bisik Aluna terengah-engah, tubuhnya gemetar lembut dalam pelukan erat Devan.

"Biarkan saja," jawab Devan dingin dan berbisik serak di leher Aluna. "Tidak ada satu orang pun yang bisa melarang aku menyentuh milikku sendiri."

Tepat di saat ketegangan dan keintiman mereka makin memuncak di dalam kamar mandi yang terkunci—

Klek... klek...

Gagang pintu luar kamar mandi mendadak bergoyang dari luar!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!