Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Brummm!
Suara mesin motor Scoopy hitam itu membelah jalanan kampung yang belum diaspal mulus.
Debu tipis beterbangan di belakang ban motor saat Akbar berkendara menuju pusat keramaian desa.
Tujuan utamanya saat ini adalah Warung Nasi Bu Tejo yang letaknya persis di sebelah balai desa.
Itu adalah warung makan terbesar dan paling ramai di kampung ini, terutama saat jam istirahat siang.
Semua pegawai desa, buruh tani, sampai ibu-ibu tukang gosip selalu berkumpul di sana.
Dan yang paling penting, Bu Tejo adalah salah satu orang yang paling keras menghina Akbar semalam sebelum dia melompat dari jembatan.
"Ini waktu yang sangat tepat untuk membungkam mulut besar wanita tua itu," gumam Akbar sambil tersenyum tipis di balik helmnya.
Ciiiit!
Suara rem cakram berbunyi pelan saat Akbar memarkirkan motor barunya tepat di depan warung nasi tersebut.
Suasana warung yang awalnya sangat bising oleh suara obrolan mendadak hening sejenak.
Puluhan pasang mata pengunjung warung langsung tertuju ke arah motor matic hitam yang mengkilap itu.
Mereka semua penasaran siapa pemuda beruntung yang membawa motor baru turun dari dealer ke warung kampung ini.
Akbar membuka kaca helmnya perlahan dan mematikan mesin motornya.
Cetek.
Suara standar samping diturunkan.
Akbar melepas helmnya dan menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan jari tangan.
Begitu wajah Akbar terlihat jelas, puluhan pasang mata itu seketika melotot kaget tidak percaya.
"Itu... bukannya si Akbar anak pembawa sial itu?" bisik seorang bapak-bapak berseragam Linmas.
"Gila, berita dari si Tono tadi pagi ternyata benar, dia beneran dapat motor Scoopy baru!" balas temannya yang sedang mengunyah tempe goreng.
Akbar sama sekali tidak mempedulikan tatapan aneh dan bisik-bisik warga di sekitarnya.
Dia melangkah dengan sangat percaya diri masuk ke dalam warung makan yang cukup luas tersebut.
Aroma kuah gulai dan ayam goreng langsung menusuk hidungnya yang memang sudah sangat lapar.
Di balik etalase kaca berisi aneka lauk pauk, berdiri sosok Bu Tejo yang sedang sibuk membungkus nasi.
Wanita paruh baya berbadan subur itu langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara langkah kaki Akbar mendekat.
Wajah Bu Tejo yang awalnya biasa saja mendadak berubah menjadi sangat masam dan penuh rasa jijik.
"Heh, mau apa kau datang ke warungku siang-siang begini anak kutukan!" teriak Bu Tejo tanpa basa-basi.
Suara cempreng Bu Tejo langsung membuat seluruh pengunjung warung menghentikan aktivitas makan mereka.
Semua orang kini fokus menonton tontonan gratis yang disajikan di depan etalase lauk pauk tersebut.
"Pergi sana jauh-jauh, nanti daganganku malah ikutan sial tidak laku gara-gara ketularan auramu!" usir Bu Tejo sambil mengibaskan centong nasinya ke arah Akbar.
Akbar hanya berdiri tegak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.
Dia menatap lurus ke mata Bu Tejo dengan sorot mata yang sangat tenang namun mengintimidasi.
"Aku datang ke warung makan tentu saja mau beli nasi, menurut ibu aku mau apa lagi ke sini?" jawab Akbar santai.
"Beli nasi katamu?" Bu Tejo tertawa keras bernada mengejek.
"Kau pikir aku tidak tahu kau itu gembel miskin yang kerjanya cuma memulung rongsokan?"
"Uang koin dua ribuan lecekmu itu tidak akan cukup buat beli makan di warungku ini, paham!"
Beberapa pengunjung warung yang tidak suka pada Akbar ikut tersenyum sinis mendengar hinaan Bu Tejo.
Mereka memang sudah terbiasa melihat Akbar ditindas dan direndahkan seperti itu setiap hari.
"Bu Tejo ini bicaranya jujur sekali tapi memang pedas," celetuk Pak RT Budi yang sedang makan di pojokan.
"Sudahlah Akbar, kamu pulang saja makan nasi aking di rumah, jangan bikin ribut di tempat umum begini," tambah Pak RT Budi sok bijak.
Akbar perlahan menoleh ke arah Pak RT Budi dengan tatapan meremehkan.
"Sejak kapan saya bikin ribut Pak RT? Saya dari tadi cuma berdiri diam mau pesan makan," balas Akbar telak.
"Lagipula ini warung umum kan, selama saya bawa uang buat bayar, siapa pun tidak berhak mengusir saya."
Wajah Pak RT Budi langsung merah padam karena tidak menyangka Akbar berani menjawab omongannya.
Bu Tejo mendengus kasar dan mengebrak etalase kacanya dengan telapak tangannya yang gemuk.
Brak!
Suara gebrakan meja itu cukup keras membuat beberapa piring di atasnya bergetar.
"Oke, kalau kau memang ngotot mau beli, mana uangmu tunjukkan padaku sekarang!" tantang Bu Tejo dengan mata melotot.
"Jangan sampai kau sudah makan banyak tapi nanti malah kabur tidak bisa bayar."
Akbar tersenyum miring yang membuat wajahnya terlihat sangat arogan dan merendahkan.
Ini adalah momen yang sangat dia tunggu-tunggu untuk menyelesaikan misi harian dari sistem.
"Ibu mau lihat uangku? Boleh saja," ucap Akbar santai.
Akbar perlahan merogoh saku kemeja flanelnya yang sudah agak kusam itu.
Dia mengeluarkan dompet dan mengambil uang pecahan seratus ribu rupiah berwarna merah cerah yang jumlahnya sangat banyak.
Itu adalah uang sisa penarikan dari mesin ATM semalam yang masih berjumlah empat ratus ribu rupiah lebih.
Akbar sengaja menjatuhkan empat lembar uang seratus ribuan itu ke atas meja etalase kaca di depan Bu Tejo.
Plak!
Suara lembaran uang baru yang kaku berbenturan dengan permukaan kaca terdengar sangat merdu.
"Itu empat ratus ribu rupiah tunai, cukup kan buat beli seluruh lauk pauk sisa di etalase ibu ini?" tanya Akbar dengan nada sangat sombong.
Suasana warung makan itu mendadak menjadi sesunyi kuburan di tengah malam.
Mata Bu Tejo membulat sempurna hingga nyaris keluar dari kelopak matanya melihat tumpukan uang merah itu.
Pak RT Budi yang tadinya asyik mengunyah sampai lupa menelan makanannya saking kagetnya.
Semua pengunjung warung saling berpandangan dengan mulut menganga tidak percaya.
"Uang... uang dari mana kau dapat merah-merah sebanyak ini Akbar?" tanya Bu Tejo dengan suara bergetar dan nada yang tiba-tiba melunak.
"Bukan urusan ibu aku dapat uang ini dari mana," jawab Akbar ketus.
"Sekarang ambil piring paling besar, aku mau makan di sini sekarang juga."
"Pakai nasi putih hangat, lauknya rendang daging dua potong, ayam kampung goreng dua, sama udang balado seporsi penuh."
Bu Tejo langsung gelagapan dan buru-buru mengambil piring bersih dengan tangan yang sedikit gemetar.
Sikap kasarnya yang tadi langsung hilang menguap entah ke mana digantikan oleh kepatuhan karena melihat uang besar.
"I... iya Nak Akbar, tunggu sebentar ibu siapkan lauknya yang paling besar buatmu," ucap Bu Tejo mendadak sopan.
Warga yang melihat perubahan sikap Bu Tejo hanya bisa menelan ludah mereka dalam-dalam.
Mereka semua tahu kalau Akbar baru saja memenangkan motor Scoopy, tapi mereka tidak menyangka Akbar juga punya uang tunai sebanyak itu.
"Anak ini benar-benar ketiban durian runtuh atau jangan-jangan dia nemu harta karun di dasar sungai?" bisik seorang bapak-bapak penasaran.
Akbar mengambil piring makanannya yang sudah diisi penuh sampai menggunung oleh Bu Tejo.
Dia lalu berjalan dengan sangat santai mencari meja kosong yang ada di tengah-tengah warung.
Semua orang secara otomatis sedikit menggeser posisi duduk mereka untuk memberi jalan pada Akbar.
Aura Akbar saat ini benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari sosok pemuda penakut yang mereka kenal selama ini.
Akbar duduk bersila di atas tikar dan mulai menyantap makanannya dengan sangat lahap.
Nyam nyam nyam.
Akbar mengunyah rendang daging sapi itu dengan penuh kenikmatan.
Sudah bertahun-tahun lamanya lidahnya tidak pernah mengecap rasa bumbu daging semahal ini.
Biasanya dia hanya makan nasi dengan garam atau kecap manis kalau sedang tidak punya uang sama sekali.
Sementara Akbar makan dengan tenang, puluhan pasang mata warga masih terus mencuri pandang ke arahnya.
Rasa iri, dengki, dan penasaran bercampur aduk menjadi satu di dalam dada orang-orang kampung itu.