Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMILIH SELIR
Arya mengusap keningnya. Setelah selesai menanam beberapa bibit gandum dan padi. Pria itu menatap beberapa pekerja yang tertawa lepas setelah selesai membajak sawah. Perasaan hidup yang belum pernah ia rasakan kini begitu hangat. Ia pikir, Ia hanya akan mati tanpa bisa melihat hal seperti ini.
Arya dan kakek Lin berteduh di sebuah pohon besar pinggir ladang.
"Arya, Bagaimana kondisi-mu?" Tanya kakek Lin, Arya menoleh sambil mengusap keringat di dahinya. "Baik, Bahkan sekarang pikiran-ku lebih jernih dari sebelumnya. Sebenarnya obat apa yang di berikan oleh tabib Julian?" Kakek Lin tersenyum. "Herbal yang berasal dari tanah negeri Xuan. Yang mulia, Mungkin ini terdengar mustahil. Tetapi, Aku yakin putraku bisa menyembuhkan penyakit gila anda." Ucap kakek Lin.
"Terakhir aku hanya bisa bertahan selama 2 tahun, itu pun jika tubuhku masih kuat. Terima kasih kakek Lin, Sudah membantuku dan istriku. Aku berhutang nyawa padamu." Arya menatap kakek Lin dengan senyuman lembut, "Aku berharap yang mulia sembuh, Dan bisa hidup lebih lama. Itu adalah hal yang paling baik." Arya mengangguk pelan. Semakin menetap, Arya semakin tahu bahwa dunia ini, Tidak semuanya berharap ia mati.
Kakek Lin tersenyum "Aku juga berharap, Yang mulia mau memberikan-ku cucu." Arya melotot seketika. "Ehem! Kakek lin ayo kembali membajak sawah." Ajak Arya, Kakek Lin mengangguk dan tersenyum.
****
Berbeda dengan kerajaan Xuan. Kondisi kerajaan Dariyan cukup parah. Raja Bastian termenung sendirian dengan dilema yang dalam.
"Bastian, Arya dan aluna...bagaimana?" Ibu suri berlinang air mata. Kedua matanya terlihat sayu seolah telah kehilangan setengah hidupnya. Raja Bastian menatap sang ibunda, Wajahnya terlihat pucat dan sedih.
"Aku bingung ibu, Memilih adik atau kerajaan. Bagaimana bisa aku mengabaikan Arya, Tetapi, Jika tetap berusaha mencari Arya, Aku akan kehilangan kepercayaan rakyat." Gumam Bastian murung.
"Rakyat adalah yang utama bagi raja, Lakukan tugasmu sebagai raja. Meskipun..." Ibu suri meneteskan air matanya. "Kita akan merasa kehilangan." Lanjutnya.
Di lain tempat, Zephira terlihat duduk di ujung ranjang miliknya, Matanya menajam dengan kedua tangan yang mengepal selimut.
"Mengapa? Mengapa kau mengabaikan-ku lagi!" Geramnya, Ia berjalan dan melempar semua barang-barang di dalam ruangannya dengan marah. Setelah itu, Tubuhnya jatuh terduduk. "Baskara, Aku bahkan menantikan-mu setiap malam, Tapi kau..." Suara gadis itu tercekat. Hatinya sesak sekali.
"Hey, Ku dengar ibu suri meminta pangeran baskara memilih selir." Beberapa pelayan mengobrol sambil berjalan, Dengan perasaan kacau, Zephira mendekat.
"Selir? Pangeran Baskara ingin mengambil selir?" Zephira menguping, Tetapi hatinya memanas.
"Ssttt! Itu karna yang mulia permaisuri tak bisa hamil. Sampai sekarang, Dia belum juga memberikan keturunan." Pelayan itu berbisik dengan pelan,
Darah Zephira mendidih. "Brak!"
Kedua pelayan itu terkejut, Mereka lupa bahwa mereka berada tepat di depan paviliun Zephira, Gadis itu menatap kedua pelayan itu dengan kedua mata tajamnya. " Beraninya kalian menggosip! Apakah kalian sudah tidak sayang lagi pada nyawa?! Hah!"
"Ampuni kami yang mulia." Kedua pelayan itu menunduk takut, Dan memohon dengan derai air mata. "Ampuni? Pengawal! Seret kedua wanita ini, Lalu bunuh seluruh keluarganya!" Perintah Zephira. "Ampuni kami yang mulia!" Kedua pelayan itu memohon sambil berlutut di bawah kaki Zephira. Hingga pada prajurit menyeret mereka tanpa belas kasih.
Zephira memegang kepalanya yang berdenyut sakit, Ia kembali masuk ke dalam paviliun. Pelayan pribadinya datang membawa sebuah berita. "Yang mulia, Anda baik-baik saja?" Tanya sang pelayan, Bernama Lena.
"MEMANGNYA KAU TAK MELIHAT!" bentaknya, Lena mundur beberapa langkah. Ia gemetar ketakutan. " Hamba...hamba membawa berita, Permaisuri." Ucapnya. Zephira menoleh dengan kedua mata merah.
"Apa?" Wajah Lena memucat. " Yang mulia tak mendatangi anda selama ini, Karna dia berada di paviliun kencana." Ucap Lena, Zephira menoleh bingung. "Paviliun kencana? Untuk apa dia ke sana?" Tanya Zephira tak habis pikir.
Paviliun kencana adalah paviliun yang paling ujung di dalam kediaman putra mahkota. Paviliun paling kecil, Tetapi paling indah. Lena menelan salivanya kasar. "Yang mulia, Memelihara seekor ayam, Dia bahkan memberinya makan setiap ada waktu luang."
"APA!" Zephira menatap Lena dengan wajah mengetat. AYAM? Baskara lebih mementingkan memelihara ayam dari pada menemaninya?
"Aku...harus membunuh ayam, Itu!" Zephira berjalan dengan cepat. Tetapi ucapan pelayannya menghentikan langkahnya. "Yang mulia, Ibu suri juga meminta anda untuk datang sore ini ke aula Cendana, Membantu ibu suri dan pangeran baskara memilih selir."
Jantung Zephira seakan berhenti, Bukankah menyingkirkan Aluna bisa membersihkan langkahnya. Mengapa justru malah berbanding balik dengan rencananya.
"Mengapa harus ada selir?! Pangeran Arya bahkan bersumpah tak mengambil selir! Mengapa baskara tak melakukan hal itu!" Teriaknya, Kedua matanya memerah tetapi hatinya terlalu sakit untuk diam.
"Yang mulia, Itu karna pangeran baskara adalah calon raja. Ia harus segera memberikan keturunan untuk dinasti Dariyan. Anda...harus sabar—." Ucap Lena,
PLAK!
Lena tersungkur dengan tamparan keras, Zephira menamparnya. " Mengapa aku bisa kalah dari gadis bodoh itu, Mengapa dia selalu mendapatkan yang terbaik? Bukankah aku sudah melakukan semuanya!" Teriak Zephira ia kembali mengamuk.
"Yang mulia, Mohon tenang." Lena memohon sambil memegang sebelah pipinya yang sakit. "Mengapa! Mengapa aku harus mendapatkan ini? Mengapa baskara melakukan hal ini padaku!" Zephira jatuh terduduk, menangis putus asa.
"Yang mulia, Posisi anda akan tetap aman. Pilih saja selir yang paling menurut." Ucap Lena, Wajah Zephira perlahan kembali tenang, Benar. Semua masih berada di dalam kendalinya.
"Kau benar, Siapapun selir yang tidak menurut. Akan langsung aku singkirkan." Desisnya tersenyum seperti orang gila. Lena mengangguk takut. "Yang mulia, Mari kita bersiap untuk pergi ke aula Cendana." Zephira mengangguk.
***
AULA CENDANA
Ibu suri duduk dengan wibawa yang mematikan. Lampion tersusun rapih menghiasi aula besar itu. Dengan wangi dupa pohon Cendana.
Ibu suri duduk di singgasananya, Di sebelahnya baskara yang hanya diam sambil menatap beberapa selir kondidatnya. Terakhir, Zephira, Gadis itu duduk di sebelah baskara dengan Lena yang berada di belakang.
5 gadis cantik itu menunduk sopan, " Yang mulia ibu suri. Mereka adalah para gadis terhormat kerajaan Dariyan." Ucap bibi Long, Pelayan tua kepercayaan ibu suri. Ibu suri mengangguk dan tersenyum.
"Perkenalkan diri kalian." Ucap bibi Long, Di mulai dari sisi kanan. " Namaku Namira, Putri dari Junaid, Mentri tingkat 3." Gadis itu menunduk anggun. Baskara menatapnya, Wajahnya memang cantik, Tetapi sepertinya ia terlihat galak.
"Lanjutkan." Perintah baskara.
"Yang mulia, Aku Mira. Putri dari jendral Wijaya." Gadis kedua ini terlihat anggun dan ramah, Senyumnya pun manis. "Bagaimana baskara?" Ibu suri menatap baskara. Baskara menggeleng, Ia tak suka gadis yang terlihat begitu akrab.
"Aku Jelita. Putri dari pedagang terkaya di kerajaan Dariyan. Salam kenal yang mulia baskara." Ucapnya dengan genit, Wajahnya menatap baskara dengan centil.
Zephira terlihat tenang, Meskipun hatinya mendidih. "Lanjutkan!" Teriak Zephira.
"Aku Luna, Putri dari tuan Samsudin. Panglima perang utama." Ucap gadis yang terlihat kalem dan dingin. Zephira menatapnya dengan penasaran.
"Terakhir." Bibi Long menatap gadis yang sedang gugup itu, "A..aku...Yena, Putri keluarga Adiputra. seorang bangsawan kelas 1." Ucapnya dengan gugup, Wajahnya terlihat lebih polos dari keempat wanita itu.
Zephira menatapnya tajam, Ia tak menyukai yena. Karna gadis itu mengingatkannya pada Aluna. Bodoh dan gagap.
"Aku memilih gadis itu." Baskara menunjuk yena, Keempatnya menoleh kaget. Bahkan seharusnya yena tak pernah di pilih oleh siapapun.
"Yang mulia, Dia—." Zephira menghentikan mulutnya, Saat baskara mengangkat tangannya. " Aku berhak memilih." Tegas baskara. Zephira mengatupkan bibirnya kesal.
"Pilih-lah, 2 untuk mengisi Harem." Ucap ibu suri, Yena yang sudah terpilih memilih memundurkan langkahnya.
Tinggallah 4 orang gadis. Namira, Mira, Jelita dan Luna.
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏