Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pesta pernikahan perlahan berakhir seiring larutnya malam. Tamu-tamu mulai beranjak satu per satu meninggalkan ruang pesta yang megah, sementara para pelayan sibuk membereskan sisa-sisa perayaan.
Keluarga kedua belah pihak masih berdiri di sana, terus mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru yang berdiri di tengah ruangan. Elena tersenyum tanpa henti, hingga pipinya terasa kaku dan pegal.
Sejujurnya, ia tak pernah membayangkan akan berdiri di sini, menikmati pernikahan yang begitu mewah, ini adalah sesuatu yang bahkan tak pernah sempat ia impikan di kehidupan sebelumnya.
Elena melirik Sebastian yang sedang berbicara dengan beberapa tamu. Pria itu berdiri tegak, tenang dan terkendali seperti biasa, seolah peristiwa besar ini tak sedikit pun mengganggunya. Namun begitu percakapannya selesai dan pandangannya jatuh pada Elena, ketegasan di wajahnya perlahan meleleh. Ia berjalan mendekat.
“Sudah lelah?”
Elena mengangguk pelan. “Sedikit.”
Sebastian mengulurkan tangannya. “Ayo pulang.”
Elena menatap tangan itu sejenak sebelum menyambutnya dengan tangannya sendiri. “Pulang?”
“Ke rumah kita.”
Dua kata itu begitu sederhana, namun entah mengapa membuat hati Elena terasa hangat. Ia tersenyum. “Oke.”
Mereka berjalan berdampingan keluar dari ruangan itu. Di belakang mereka, Isabella masih berdiri di tempatnya. Matanya tak lepas dari sosok pasangan yang berjalan menjauh, tangannya mengepal erat di sisi tubuh.
***
Di dalam mobil, Elena akhirnya bisa menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya ke kursi. “Ah.. akhirnya selesai juga.”
Tak lama, Elena menguap tanpa sadar. Sebastian memperhatikannya. “Tidurlah.”
“Aku tidak mengantuk,” sanggahnya pelan, namun sesaat kemudian ia kembali menguap.
“Kau baru saja menguap,” kata Sebastian lembut.
Elena akhirnya menyerah dan memejamkan mata. Perlahan, kepalanya miring dan bersandar pada bahu Sebastian.
Pria itu terdiam sesaat, namun tak membangunkannya. Sebaliknya, ia sedikit mengubah posisinya agar Elena lebih nyaman, lalu membiarkan kepala wanita itu tetap bersandar di sana. Tatapannya jatuh pada wajah Elena yang terlelap.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sungguh-sungguh bahwa wanita di sampingnya adalah istrinya. Dan perasaan itu membuat hatinya terasa hangat.
***
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar yang megah. Elena terbangun dan mengerjap pelan. “Sudah sampai?”
“Ya.”
Ia turun dan menatap rumah itu lebar-lebar, tak percaya. “Ini.. bukan rumahmu yang lama.”
“Bukan.” Sebastian berdiri di sampingnya. “Ini rumah kita.”
“Kau membeli rumah baru?”
“Sebelum pernikahan.” Ia membukakan pintu utama. “Masuklah.”
Elena melangkah masuk dan terpaku di tempatnya. Rumah itu begitu luas, ruang tamunya didominasi warna-warna hangat dengan perabotan yang elegan dan modern. Di bagian belakang, terlihat taman yang asri dan kolam renang pribadi yang berkilau terkena cahaya lampu. Ia berjalan perlahan, takjub.
“Kapan kau menyiapkan semuanya ini?”
“Beberapa minggu lalu.”
“Untukku?”
“Untuk kita.”
Elena terdiam. Ia tak menyangka Sebastian telah menyiapkan segalanya dengan begitu teliti.
“Kamarmu di sebelah kanan, lantai dua,” kata Sebastian sambil menaiki tangga.
Elena mengikutinya. “Kamarku?”
Begitu pintu terbuka, mata Elena kembali membelalak. Kamar itu sangat luas, dan di dalamnya sudah tersedia pakaian-pakaian baru, sepatu, tas, bahkan perhiasan, semuanya tampak baru dan dipilih dengan selera yang sempurna. Ia berjalan mendekati lemari.
“Semua ini..”
“Untukmu. Aku tak tahu apa yang kau suka, jadi aku meminta asistenku menyiapkan beberapa pilihan.”
Elena menyentuh salah satu gaun dengan takjub. Dalam hati, ia hampir menangis bahagia. Ini bukan sekadar kehidupan baru… ini seperti hadiah dari surga.
“Kau suka?” tanya Sebastian lembut.
“Suka sekali,” jawabnya cepat, lalu berbalik menatapnya. “Terima kasih.”
“Kalau ada yang kurang atau tidak cocok, katakan saja.”
“Tidak perlu. Semuanya sempurna.” Matanya menangkap sebuah kotak kecil di atas meja. “Apa itu?”
Sebastian mengambilnya. “Buka saja.”
Di dalamnya, tergeletak sebuah gelang berlian yang berkilau indah. Elena tersentak kagum. “Cantik sekali.."
Sebastian mengambil gelang itu dan memasangkannya perlahan di pergelangan tangan Elena. “Hadiah pernikahan dariku.”
“Bukankah cincin sudah cukup?”
“Belum.” Ia menatapnya dalam. “Aku ingin memberimu sesuatu yang bisa kau pakai setiap hari.”
Elena tersenyum tulus. “Terima kasih, suamiku.”
Sebastian berhenti. Tatapannya berubah lembut namun dalam. “Panggil lagi.”
“Suamiku?” ulang Elena ragu.
“Ya.”
Elena tertawa kecil. “Suamiku.”
Sebastian tersenyum tipis, namun senyum itu terlihat begitu tulus. “Bagus.”
Sebelum Elena sempat bertanya, ia berkata, “Beristirahatlah. Aku ke ruang kerja sebentar.”
“Kau tidak istirahat juga?”
“Nanti.”
Ia baru saja melangkah pergi ketika Elena memanggilnya. “Sebastian.”
Ia berbalik. “Hm?”
“Selamat malam.”
Sebastian tersenyum lembut. “Selamat malam, istriku.”
Pintu tertutup. Elena berdiri diam sejenak, lalu meletakkan tangannya di dada.
'Kenapa jantungku berdebar begitu kencang?' Ia menggeleng pelan, mencoba menenangkan diri. Tidak boleh jatuh cinta.
'Yang penting sekarang aku sudah menjadi Nyonya Hale, dan hidupku akan baik-baik saja.'
Namun Elena tak tahu… di ruang kerja, Sebastian baru saja membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
[Tuan, kami telah menemukan siapa yang berada di balik dokumen palsu yang diberikan Nona Isabella kepada Nyonya Elena.]
Tatapan Sebastian seketika berubah dingin dan tajam. Ia mengetik balasan dengan cepat. Siapa?
Beberapa detik kemudian muncul balasan. Orang dari keluarga Arvienne.
Sebastian terdiam. Tangannya perlahan mengepal erat.
"Harusnya dari dulu aku tidak memberinya perhatian, sekarang dia malah melunjak, padahal pernikahan ini penting"
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘