NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: tamat
Genre:Chicklit / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sementara Rimba melaju kencang bersama Dio untuk mengepung pergerakan musuh di tingkat atas, suasana di dermaga pesisir justru berlangsung sangat tegang.

Bang Jaka dan Jamal tiba di lokasi pelelangan ikan.

Di sana, puluhan nelayan sedang berkumpul mengelilingi seorang pria berjas rapi—utusan dari musuh bisnis Rimba—yang memprovokasi mereka untuk tidak memuat ikan ke truk-truk pasokan pasar.

"Jangan mau dikasih harga murah sama pihak Rimba Suryo! Kasih saja ke kami, cash langsung turun sekarang!" teriak utusan musuh itu memanasi suasana.

"Tahan dulu!" suara Bang Jaka menggelegar, memotong kerumunan pedagang dan nelayan.

Bang Jaka melangkah maju bersama Jamal yang menggenggam erat amplop berisi sertifikat rumah Dayang.

Namun, bukannya langsung menyerahkan sertifikat itu, Bang Jaka justru menunjuk muka utusan musuh tersebut dengan tatapan tajam membakar.

"Kalian para nelayan mau saja dibodohi sama tikus kota ini!" seru Bang Jaka pada teman-teman seprofesinya.

"Kalian lupa siapa yang selama ini bantu pelelangan kita waktu diterjang badai dua tahun lalu? Siapa yang selalu beli ikan kita dengan harga adil tanpa potongan tengkulak? Dayang! Hari ini Dayang bahkan rela mau jaminkan sertifikat rumah peninggalan orang tuanya cuma demi memastikan isi perut kalian dan pedagang pasar tetap terisi!"

Para nelayan mendadak bisik-bisik, raut wajah mereka berubah serba salah dan bersalah.

Jamal ikut maju, mengangkat sertifikat rumah Dayang tinggi-tinggi.

"Mbak Dayang lagi sakit di rumah sakit dan apartemen, kakinya patah! Tapi pikiran dia cuma mikirin nasib kita di pasar! Apa kita tega meras orang sebaik Mbak Dayang cuma gara-gara perkataan orang asing ini?!"

Di saat yang bersamaan, dua mobil hitam meluncur cepat dan berhenti mendadak di dermaga.

Rimba turun bersama Dio dan beberapa petugas kepolisian serta tim hukumnya.

Utusan musuh itu seketika pucat pasi saat Dio menunjukkan bukti rekaman transaksi ilegal dan bukti sabotase kapal kargo yang berhasil dilacak tim IT perusahaannya.

"Bawa dia," perintah Rimba dingin kepada polisi.

Pria licik itu langsung diborgol dan diseret ke dalam mobil polisi tanpa sempat melawan.

Rimba melangkah mendekati Bang Jaka dan Jamal.

Ia mengambil sertifikat rumah peninggalan orang tua Dayang dari tangan Jamal, menepuk bahu pemuda itu, lalu menatap seluruh nelayan pesisir dengan wibawa penuh.

"Bapak-bapak sekalian. Saya Rimba Suryo," ucap Rimba mantap.

"Saya pastikan, seluruh panen ikan hari ini akan saya beli dengan harga dua kali lipat dari harga pasaran normal, dibayar tunai detik ini juga oleh tim keuangan saya. Dan tidak ada satu pun sertifikat atau harta warga yang perlu dijaminkan."

Sorak-sorai dan rasa haru seketika pecah di dermaga.

Para nelayan bersalaman dan meminta maaf atas kekhilafan mereka yang sempat terhasut provokasi.

Rimba memeluk sertifikat rumah Dayang di dadanya dengan senyum lega membuncah.

Kemenangan ini utuh, dan janji terbesarnya untuk calon istrinya telah tuntas dilaksanakan.

Sebelum armada truk pengangkut ikan berangkat meninggalkan dermaga, Rimba memanggil Bang Jaka dan Jamal.

Suasana di pelabuhan kini riuh rendah oleh sukacita para nelayan yang sibuk memuat tonan ikan segar ke dalam armada pendingin.

Tim operasional pabrik bergegas mengawal pengiriman menuju pabrik pengolahan agar proses produksi bisa langsung berjalan tanpa hambatan.

Sementara itu, Bang Jaka dan Jamal bersiap memimpin konvoi truk pasokan yang meluncur khusus menuju Pasar Matahari demi memenuhi kebutuhan para pedagang yang sudah menunggu.

Rimba menepuk bahu Bang Jaka dan Jamal dengan mantap.

"Bang Jaka, Jamal, kalian kawal pasokan ini ke Pasar Matahari. Pastikan seluruh pedagang dapat jatah ikan segar mereka hari ini."

"Siap, Mas Rimba! Ini pedagang di pasar pasti pada sujud syukur melihat ikan-ikan segar ini datang," sahut Jamal dengan binar mata bersemangat.

"Maturnuwun ya, Rim. Kamu benar-benar pimpinan yang pegang kata-kata," imbuh Bang Jaka lega sambil menggenggam erat tangan Rimba.

Namun sebelum mereka benar-benar berangkat, Rimba menahan langkah kedua pria itu sejenak.

Sorot matanya tajam dan penuh wibawa, memancarkan visi besar untuk masa depan.

"Tunggu sebentar. Ada satu hal penting lagi," kata Rimba tegas.

"Soal kejadian kapal tenggelam hari ini, kita tidak boleh cuma bergantung pada kapal sewaan atau armada lama. Mulai hari ini, saya bersama Dio sudah mengurus pembelian dua kapal kargo modern terbaru."

Bang Jaka dan Jamal terbelalak kaget mendengar pernyataan sang CEO.

"Kapal baru, Mas?" tanya Jamal tak percaya.

"Ya. Satu kapal kargo berkapasitas besar khusus untuk memperkuat armada utama Suryo Group, dan satu kapal armada pendingin khusus yang nantinya akan dikelola penuh oleh koperasi pedagang Pasar Matahari," jelas Rimba mantap.

"Jadi, kalau ada badai atau ancaman sabotase lagi di masa depan, rantai pasokan ikan untuk pasar dan pabrik ndak akan pernah terputus."

Bang Jaka menggeleng-gelengkan kepala penuh rasa kagum, sementara Jamal hampir tak bisa berkata-kata.

Dukungan dan investasi Rimba yang tak main-main untuk Pasar Matahari membuktikan betapa dalamnya rasa hormat sang CEO kepada Dayang dan seluruh komunitas pedagang kecil yang dicintainya.

"Matur nuwun sanget, Mas Rimba. Matur nuwun!" bisik Bang Jaka terharu.

Dengan dada dilapangi lega dan semangat meluap-luap, Bang Jaka dan Jamal segera naik ke kabin truk, memimpin irak-irakan pasokan menuju Pasar Matahari.

Sementara itu, Rimba langsung masuk ke dalam mobil mewahnya, menggenggam erat amplop berisi sertifikat rumah peninggalan orang tua Dayang yang berhasil ia selamatkan, lalu melaju cepat kembali ke apartemen.

Suara pintu apartemen yang terbuka membuat Dayang mendongakkan kepala.

Jantungnya berdebar kencang saat mendengar langkah kaki tergesa yang mendekat menuju kamar utama.

Tak lama kemudian, sosok Rimba muncul di ambang pintu.

Pria itu masih mengenakan kemeja yang sedikit berantakan dengan rambut yang tak selaris biasanya, namun matanya memancarkan binar lega yang luar biasa.

Rimba melangkah cepat, lalu tanpa ragu langsung berlutut di samping tempat tidur Dayang.

Dengan tangan yang sedikit bergetar dan mata berkaca-kaca, ia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.

Ia meletakkan amplop berisi sertifikat tanah dan rumah peninggalan orang tua Dayang itu tepat di atas pangkuan tunangannya.

"Mas kembalikan sertifikatmu, Dayang." bisik Rimba dengan suara serak menahan haru.

Ia menggenggam erat kedua tangan Dayang, menempelkannya ke pipinya.

"Rumah dan kenangan orang tuamu aman. Ndak ada satu pun yang melayang."

Dayang menatap amplop cokelat itu dengan mata berbinar, air mata kebahagiaan menetes membasahi pipinya.

Namun, di balik rasa lega yang membuncah, sebuah rasa penasaran dan kebingungan hinggap di benaknya.

"Mas," panggil Dayang pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Rimba.

"Bukankah, Mas tadi tidak punya uang tunai karena Aset dan rekening Mas dibekukan sementara oleh permainan musuh? Lalu pembayaran untuk para nelayan pesisir tadi bagaimana, Mas? Bagimana Mas bisa melunasi ikan-ikan mereka dengan harga dua kali lipat secara tunai saat itu juga?"

Rimba mengulas senyum tipis, lalu mengusap air mata di pipi Dayang sebelum memberikan penjelasan panjang lebar.

"Begitu Mas keluar dari apartemen tadi, Mas tidak cuma mengandalkan dana pribadi yang sedang dibekukan, Sayang," ujar Rimba memulai penjelasannya dengan suara lembut penuh kepastian.

"Langkah pertama yang Mas lakukan bersama Dio adalah mendatangi konsortium perbankan mitra utama Suryo Group. Rekening operasional Mas memang dibekukan atas gugatan hukum sepihak dari musuh, tapi aset fisik serta valuasi saham Suryo Group yang tidak bermasalah jauh lebih besar dari sekadar likuiditas tunai. Dio bergerak cepat mengurus skema Emergency Bridge Loan—pinjaman dana darurat bernilai tinggi dengan agunan saham anak perusahaan yang ndak tersentuh konflik."

Rimba menggenggam jemari Dayang semakin erat, menjelaskan detail pergerakan cepatnya di lapangan.

"Dalam waktu kurang dari satu jam, pihak bank menyetujui pencairan dana tunai darurat dalam jumlah besar langsung ke rekening penampungan tim keuangan kita. Bukan hanya itu, begitu Mas tiba di dermaga bersama kepolisian dan Dio, kita berhasil membongkar bahwa dokumen penutupan rekening dan sabotase kapal kargo itu cacat hukum serta mengandung unsur pidana pemalsuan dokumen yang dilakukan utusan musuh."

Rimba melanjutkan dengan binar mata bangga. "Saat polisi memborgol utusan musuh itu di depan para nelayan, tim hukum kita langsung menekan otoritas perbankan untuk membuka kembali blokir sementara karena terbukti ada indikasi kejahatan finansial. Begitu blokir dibuka dan dana pinjaman darurat masuk, tim keuangan Suryo Group yang sudah siap di lokasi langsung melakukan transfer real-time dan pembayaran tunai di tempat untuk puluhan ketua kelompok nelayan."

Dayang mendengarkan setiap patah kata Rimba tanpa berkedip, terpesona oleh kecerdasan, kecepatan, dan ketegasan calon suaminya dalam membalikkan keadaan dalam hitungan jam.

"Jadi," sambung Rimba lembut, "para nelayan mendapatkan hak mereka secara adil dengan harga dua kali lipat, pasokan ikan untuk pabrik dan pasar selamat, musuh kita sekarang mendekam di tahanan polda, dan yang paling penting, sertifikat rumah peninggalan orang tuamu ini todak pernah tersentuh oleh tangan-tangan licik mereka sedikit pun."

Dayang tak sanggup lagi menahan rasa harunya. Ia memajukan tubuhnya dan langsung memeluk leher Rimba erat-erat, menyembunyikan tangis bahagianya di pundak kokoh sang calon suami.

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
😄
Muft Smoker
kebahagiaan dayang udh lengkap yx,,
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,

bahagia selalu dayang dan kluarga ,,


kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak pho ,, ☺️☺️☺️
total 2 replies
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!