Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poor Riri
Jung Kook yang mengikuti Riri kehilangan jejak wanita itu. Tak mau menyerah, dia terus mencari sosok Riri sampai perhatiannya tertuju pada pria yang sedang berjalan. Pria itu mengenakan topeng, sama seperti pembunuh Riri.
Dengan cepat dia mendekati pria itu. Melihat pelaku pembunuhan Riri masuk ke dalam mobil, secepatnya Jung Kook ikut masuk ke dalam mobil.
Pria itu melepaskan dulu topeng Rahwana yang menutupi wajahnya, baru kemudian menjalankan kendaraannya. Sambil bersiul pelan, pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Jung Kook menatap pria di sampingnya lekat-lekat. Sorot matanya dipenuhi kemarahan dan kebencian. Beberapa kali dia melayangkan pukulan, tetapi tangannya hanya menembus tubuh pria di sebelahnya.
Mobil yang dikemudikan pria itu berbelok memasuki area parkir basement gedung apartemen Grand Amaris. Setelah memarkirkan mobilnya, pria itu segera menuju lantai 12.
Setelah memasukkan kode akses di panel pintu, pria itu memasuki unitnya. Dia langsung menuju kamarnya. Pria itu menggantung topeng Rahwana di dinding kamarnya, kemudian masuk ke kamar mandi.
Pria itu memasukkan pakaiannya yang terdapat cipratan darah Riri ke keranjang cucian lalu berdiri di bawah pancuran untuk membersihkan diri.
Sambil mengusak rambutnya, dia keluar dari kamar mandi. Pria itu mengambil laptop lalu menyalakannya.
Beberapa saat kemudian dia berhasil mengakses jaringan rekaman CCTV yang ada di sekitar lokasi pembunuhan. Daerah sekitar lokasi tampak sepi. Tidak ada satu orang pun yang melintas.
Pria itu menyunggingkan senyuman tipis. Kemudian pria itu melihat rekaman CCTV yang ada di unitnya. Matanya menyipit ketika melihat cahaya putih bergerak-gerak di ruang tamu dan dapur. Dengan cepat dia berdiri lalu keluar dari kamar.
Matanya menyapu sekeliling. Meski tidak bisa melihat, pria itu menyadari ada entitas lain di ruangan ini. “Apa kamu yang tadi muncul di hadapanku?” tanyanya. “Tunjukkan dirimu!”
Didorong kemarahan, Jung Kook pun memperlihatkan wujudnya pada pria itu. Sama seperti tadi, pria itu tidak menunjukkan ketakutan melihat wujud Jung Kook yang menyeramkan.
“Kenapa kamu membunuhnya? Apa salahnya?!” tanya Jung Kook dengan emosi.
“Tentu saja dia punya kesalahan, dia bukan wanita suci.”
“Apa salahnya padamu?”
“Apa dia harus punya salah padaku, baru aku boleh membunuhnya?” tanya pria itu santai.
“Dasar gila! Bahkan iblis pun kalah kejam darimu!”
“Hahaha!”
Pria itu malah tertawa mendengar umpatan Jung Kook. Dengan santai dia memasuki salah satu kamar yang ada di unitnya. Jung Kook dengan cepat mengikutinya masuk ke dalam kamar.
Pria itu melemparkan senyum yang sulit diartikan pada Jung Kook. Tak berselang lama, pria itu bermaksud keluar kamar.
Ketika membuka pintu, dia menoleh ke arah Jung Kook. “Apa yang kamu bilang benar, aku memang lebih kejam dari iblis seperti kalian. Ingatlah, di atas Lucifer masih ada aku. Hahaha!”
Pria itu keluar dari kamar lalu menutup pintunya.
“Brengsek!”
Jung Kook langsung melesat hendak menembus pintu. Namun tubuhnya terpental. Dia seperti menabrak dinding yang tidak terlihat. Tak mau menyerah, jin itu kembali mencoba. Namun lagi-lagi tubuhnya terpental.
Sementara itu di luar, pria itu menoleh ke arah pintu, sambil berkata pelan. “Semoga kamu betah tinggal di sana.”
Paginya di rumah kontrakan Nino dan Asep, dua kancing cetet itu tampak sedang menikmati sarapan bersama Gilang.
Dengan lahap Gilang menyantap kupat tahu yang dibelikan Nino. Nafsu makan pemuda itu memang besar, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang kurus. Dalam waktu singkat, kupat tahunya sudah tandas dimakan olehnya.
Gilang membasahi kerongkongannya dengan air teh tawar hangat.
“Hari ini kamu ada kuliah?” tanya Nino.
“Ada, Pak. Cuma satu mata kuliah aja. Nanti siang tapi.”
“Kamu jangan ke mana-mana sebelum kuliah. Di sini aja. Oh ya, jam tangan yang aku kasih jangan lupa dipakai. Di dalamnya terdapat GPS. Jadi kami bisa melacakmu.”
“Saya harus pakai ini, Pak?”
“Iya. Kalau terjadi sesuatu padamu, kami bisa melacakmu dengan cepat.”
“Lagipula, apa kamu pikir dua makhluk itu bisa membantumu jika ada bahaya mendekat?” tanya Asep seraya melihat ke arah Nilan dan Prisa.
Gilang hanya mencibir saja. Dua arwah penasaran itu hanya bisa merepotkan saja. Yang satu sering tantrum, yang satu lagi sering merasukinya.
“Oh ya, si CEO udah ditangkap, kan, Pak?” tanya Gilang.
“Sudah.”
“Kalau begitu kasusnya Prisa selesai. Kok dia masih di sini? Biasanya kalau hantu sudah tahu siapa pembunuhnya, arwahnya sudah tidak penasaran lagi dan bisa pergi dengan tenang.”
“Kata siapa?”
“Lihat di film sih. Hehehe ….”
“Prisa akan terus gentayangan karena dia bunuh diri,” celetuk Eris yang sedari tadi menyimak pembicaraan Gilang.
“Lah tapi kan dia bunuh diri karena halusinasi dari obat yang dikasih Rian.”
“Iya, tetapi secara prosedur kematian, dia tetap bunuh diri.”
“Oh gitu,” kepala Gilang mengangguk paham.
Nino dan Asep segera membereskan peralatan bekas makannya. Keduanya bersiap pergi ke kantor Polda.
Semalam Maruli sudah diperiksa tim anti narkoba. Sekarang giliran mereka untuk melakukan interogasi terkait penjualan LSD pada Rian. Jika kesaksian Maruli sudah didapat, mereka hanya tinggal melengkapi berkas dan kasusnya akan segera dikirim ke kejaksaan.
***
Roh Riri yang sudah meninggalkan raganya melayang tak tentu arah.Tanpa sadar, dia sudah berada di sekitar kampus Global Prestasi. Dari ketinggian, dia memandangi lalu lalang mahasiswa di pelataran kampus.
Mata Riri kembali berkaca-kaca. Dia kembali mengingat masa-masa di mana dirinya masih berstatus mahasiswi. Kala itu, kehidupannya masih baik-baik. Usaha ayahnya masih berjalan dengan baik. Namun, setahun kemudian semua berubah.
Bisnis sang ayah harus gulung tikar gara-gara ditipu oleh temannya sendiri. Ayahnya sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan cukup banyak utang. Ibunya mengambil alih tugas sang ayah dengan menjadi tulang punggung keluarga.
Wanita itu bekerja keras siang dan malam demi bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, biaya sekolah Riri serta adiknya, dan membayar utang peninggalan suaminya.
Dua tahun kemudian fisik ibu Riri melemah. Dia juga harus terbaring di ranjang akibat gagal ginjal. Setiap dua minggu sekali, wanita itu harus menjalani cuci darah.
Riri yang sudah kuliah di semester enam harus mengubur impiannya. Wanita itu berhenti kuliah dan mulai bekerja.
Namun bekerja dengan bermodalkan ijazah SMA, cukup sulit juga. Hingga akhirnya dia mendapat tawaran sebagai LC di salah satu klub malam.
Meski bertentangan dengan nuraninya, Riri tetap menjalankan profesinya. Profesi sebagai LC mulai menuntut lebih banyak darinya.
Riri tidak hanya sekadar diminta menemani tamu yang datang untuk bersantai. Dia juga diminta melayani pelanggan-pelanggannya.
Bayaran yang diterimanya setelah melayani pria hidung belang cukup besar dan bisa digunakan untuk kepentingan keluarganya. Selama dua tahun menjadi LC, entah sudah berapa banyak yang menidurinya.
Kemarin adalah hari ulang tahunnya yang ke-23. Namun ternyata di hari itu juga nyawanya melayang, hanya berselang satu jam setelah usia bertambah.
Pada saat Riri memperhatikan para mahasiswa, pandangannya tertuju pada Prisa dan Nilan. Dia tahu jika dua wanita itu merupakan arwah yang bergentayangan seperti dirinya. Tanpa sadar Riri mengikuti Prisa dan Nilan.
“Kalian tunggu aja di luar kelas. Jangan ganggu gue belajar,” ujar Gilang sebelum masuk ke dalam kelas.
Nilan mengangguk, sementara Prisa hanya mengangkat jempolnya. Arwah wanita itu sudah lebih tenang setelah penyebab kematiannya terungkap dan pembunuhnya ditangkap. Keduanya duduk santai di pembatas lantai tiga sambil mengobrol.
Tanpa keduanya sadari, Riri sudah berada di belakang mereka. “Permisi,” ujar Riri pelan.
***
Kagak ada takutnya si pembunuh ka jin😂
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/