Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kebanggaan yang Tak Sempat Terucap
Nafasku masih tersendat, menahan gelombang sesak yang kembali merayapi dadaku. Di dalam kehangatan pelukan Kareen, ada satu rasa bersalah terbesar yang selama ini membusuk di dalam hatiku—sebuah penyesalan mendalam yang tak pernah sanggup aku utarakan kepada siapa pun, bahkan kepada Rayan sekalipun.
"Hal yang paling buat aku hancur..." suaraku tertahan, hampir tenggelam oleh suara hujan yang menghantam atap lorong. "Aku belum sempat memberikan apa-apa untuk Ibu."
Kareen tidak menyela. Ia tetap membiarkan tubuhku tersandar pada kehangatan dekapannya, mengelus punggungku pelan dengan ritme yang menenangkan, membiarkan suaraku mengalir bebas di antara sela jemarinya.
"Waktu aku masih kecil dan keluarga kami berantakan, Ibu yang berjuang sendirian setengah mati untuk memberi kami makan. Ibu menahan sakit, menahan malu, dan bekerja sampai tubuhnya ringkih," kataku dengan suara yang makin gemetar. "Tapi begitu aku sudah dewasa dan bisa mencari uang sendiri, Ibu justru sudah tidak ada..."
Air mata kembali menetes hangat di pipiku, menetes jatuh membasahi bahu kemejanya.
"Aku tidak sempat membelikan Ibu baju baru yang layak, tidak sempat mengajak Ibu makan enak di restoran, atau sekadar membuat Ibu tersenyum tenang tanpa perlu memikirkan besok kami bisa makan atau tidak. Setiap kali aku menerima amplop gaji atau melihat tabunganku bertambah, rasa bersalah itu selalu datang mengejar ku. Rasanya seperti pengingat bahwa aku terlambat."
Aku menunduk dalam-dalam, meremas ujung kemeja kerjaku sendiri. Mengutuk diriku yang merasa gagal karena baru bisa berdiri tegak setelah wanita paling berharga dalam hidupku pergi selamanya.
Kareen perlahan merenggangkan dekapannya. Kedua tangannya yang hangat memegang kedua bahuku dengan erat, memaksaku untuk menengadah dan menatap langsung ke dalam matanya. Di balik pendar remang lampu lorong gedung yang dingin, matanya menatapku lurus dengan ketulusan yang luar biasa.
"Reno, tolong dengarkan aku baik-baik," ucap Kareen. Suaranya tidak lagi sekadar ramah, melainkan begitu lembut, dalam, dan bergetar penuh penekanan.
Ia menatap tepat di manik mataku yang basah oleh air mata, menyalurkan setiap kata yang diucapkannya agar meresap sampai ke sudut terdalam jiwaku.
"Kamu tidak sendiri lagi, Reno. Kamu sudah melakukan hal yang sangat luar biasa, dan kamu begitu kuat. Ibumu pasti sangat bangga punya anak laki-laki sepertimu."
Kata-kata itu menghantam dadaku—bukan dengan rasa sakit yang menyiksa, melainkan dengan gelombang kehangatan yang seketika meluluhkan dinding rasa bersalah yang telah membelengguku bertahun-tahun.
"Ibumu melihat semua perjuanganmu dari atas sana," lanjut Kareen dengan ukiran senyum tipis yang amat tulus. "Beliau melihat bagaimana kamu tidak menyerahkan Rayan ke tangan orang lain, bagaimana kamu merawat adik mu dengan penuh kasih sayang sampai tumbuh menjadi anak yang sopan dan baik, dan bagaimana kamu bekerja keras tanpa pernah menyerah sedikit pun. Semua yang kamu lakukan untuk Rayan hari ini adalah bentuk bakti dan hadiah terbesar yang kamu berikan untuk Ibumu."
Malam itu, di bawah naungan hujan kota Bandung yang perlahan mereda, kalimat penenang dari Kareen akhirnya menyembuhkan luka yang paling dalam di jiwaku. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun berlalu, aku merasakan beban penyesalan itu perlahan terangkat dari pundakku.. Dalam hati aku bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita ini kenapa egoku seketika luluh di hadapannya? kenapa aku bisa bercerita sebanyak ini padanya, dan aku sendiri pun merasa nyaman.