Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Reuni Tak Terduga.
Beberapa jam berlalu hingga akhirnya acara selesai. Setelah para pemenang diumumkan, suasana aula kembali dipenuhi sorak dan tepuk tangan. Jun-seok berhasil meraih juara kedua.
Mereka berjalan beriringan menuju area parkiran sekolah sore itu yang terasa lebih riuh dari biasanya. Mobil-mobil keluarga berderet memenuhi sisi area parkir, sementara suara anak-anak bercampur dengan tawa orang tua yang masih terbawa suasana acara.
Jun-seok berjalan di antara Nala dan Junho sambil memegang map lukisannya erat-erat, seolah benda itu adalah harta karun paling berharga yang baru saja ia dapatkan.
Sementara itu, Junho membawa piala putranya dengan satu tangan.
“Junho?”
Suara itu membuat mereka bertiga menoleh.
Jinwoo berdiri tak jauh dari sana. Satu tangannya melambai, sementara tangan yang lain menggandeng putranya yang wajahnya benar-benar seperti versi mini dirinya. Di sampingnya, sang istri tersenyum hangat.
“Hyung,” balas Junho dengan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu Jinwoo di sana. Saat datang tadi, ia bahkan tidak melihat satu pun wajah yang dikenalnya.
Namun, belum sempat mereka melangkah mendekat, suara lain menyusul.
“Eh, ketemu juga!” serunya.
Jihwan muncul bersama anak kembarnya yang langsung sibuk saling menarik tas satu sama lain. Istrinya menyapa Nala lebih dulu dengan senyuman tulus.
“Presentasi Jun-seok, ya? Tadi Min-kyu tampil sebelum dia,” ucap Rena sembari melangkah mendekat dan memeluk Nala.
“Ah, iya? Aku tidak sempat melihat karena memang datang terlambat,” jawab Nala sambil tertawa kecil.
Tak lama kemudian, Yoohan datang menyusul. Tangannya menggenggam tangan istrinya, sementara anak mereka berjalan di depan dengan wajah yang terlalu serius untuk ukuran anak sembilan tahun.
“Sepertinya ini sekolah para anak jenius,” gumam Yoohan datar.
“Anakmu juga termasuk,” balas Jinwoo cepat.
“Sayangnya.” Yoohan mendengus, membuat tawa langsung pecah di antara mereka.
Tidak satu pun dari mereka menyangka akan bertemu di sana. Awalnya, mereka bahkan tidak tahu bahwa anak-anak mereka akan tampil di hari yang sama. Namun, setelah menyaksikan penampilan anak masing-masing, barulah mereka menyadari bahwa orang tua mereka juga hadir. Meski begitu, tidak ada yang menyangka akan kembali bertemu di area parkiran seperti ini.
Terakhir, Kiyoon datang dengan langkah santai. Satu tangannya berada di saku celana, sementara tangan lainnya membawa tas anaknya. Istrinya melambaikan tangan kepada Nala.
“Dunia sempit, atau memang kita semua selalu berakhir di tempat yang sama?” ujar Kiyoon sembari tersenyum kepada semuanya.
Orang-orang yang dahulu menjadi rekan satu timnya di SOLIX kini telah ia anggap lebih dari sekadar keluarga.
“Eonni... apa kabar?” ucap Eunchae sembari memeluk Nala.
“Aku baik,” balas Nala, membalas pelukan istri Kiyoon itu.
Setelah melepaskan pelukan, Nala mengalihkan pandangan kepada Si-an.
“Dia tampil lebih awal?” tanya Nala, menatap Si-an yang sedang asyik dengan gim videonya.
Eunchae menggeleng pelan.
“Dia tidak ikut tampil. Malu, katanya. Aku datang menemani Kiyoon. Dia memang datang untuk mengecek beberapa hal,” jelasnya, membuat Nala mengangguk.
Bagaimanapun, semua orang tahu kalau Kiyoon merupakan pemilik sekolah itu.
“Ya ampun, kau cupu sekali,” ledek Yul kepada Si-an. Hal itu membuat Seon-woo dan Min-kyu ikut mengangguk.
“Bukan cupu. Aku hanya malas,” jawab Si-an dengan percaya diri, matanya tetap terpaku pada layar.
“Apa pun itu, aku yang menang,” sahut Jun-seok dengan bangga.
Pernyataan itu membuat para orang tua kembali tertawa. Jinwoo bahkan tertawa sambil mengacak rambut Yul pelan.
“Kalian ini sama saja. Menang satu, kalah satu, besok ribut lagi. Selalu,” katanya, membuat Jun-seok menoleh kepada om-nya itu.
“Tidak. Besok aku tetap menang, Samcheon,” sahut Jun-seok cepat, dagunya terangkat penuh keyakinan.
“Lihat? Percaya diri level warisan Junho.” Jinwoo menoleh kepada yang lain.
“Gen ayahnya kuat sekali,” gumam Yoohan datar, tetapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Junho berdiri agak ke belakang. Satu tangannya memegang piala Jun-seok, sementara tangan yang lain terselip di saku jas. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali menatap Nala, lalu kembali memalingkan wajahnya. Bukan dingin hanya lebih seperti sedang menahan sesuatu yang belum selesai.
Nala menangkap tatapan itu, tetapi memilih diam. Ia tahu, sekarang bukan waktunya.
Anak-anak mulai berkumpul sendiri, membentuk lingkaran kecil yang riuh. Seon-woo memamerkan mapnya, Min-kyu membantah dengan teori panjang soal “konsep”, Yul mengangkat bahu seolah semua itu tidak terlalu penting.
Sementara Jun-seok berdiri di tengah-tengah mereka dengan piala yang kini ia pegang sendiri. Matanya berbinar, wajahnya masih menyimpan kebanggaan atas pencapaian kecil yang terasa begitu besar baginya.
“Kalau begitu, kapan-kapan kita kumpul. Anak-anak main, kita bicara. Sudah lama juga, kan, kita berkumpul semuanya,” ucap Jinwoo, membuka suara lagi sembari menepuk tangan ringan.
“Di rumahmu?” tanya Jihwan.
“Boleh. Atau di mana saja. Yang penting tidak mendadak,” jawab Jinwoo sambil melirik Yoohan.
“Kalau mendadak, aku tidak datang,” balas Yoohan cepat.
“Kau selalu bilang begitu, tapi tetap datang,” sahut Kiyoon santai.
Tawa kembali pecah. Jinwoo kemudian menoleh kepada Junho dan Nala.
“Kalian juga, ya. Jangan sibuk terus. Anak-anak ini jarang bertemu lengkap seperti ini. Lagipula, kapan lagi kita berkumpul?” pintanya, membuat Junho mengangguk singkat.
“Kalau waktunya cocok,” jawabnya.
Nala tersenyum kecil.
“Kami usahakan,” katanya, membuat Jihwan terkekeh.
“Gampang membujuk Junho Hyung dan Nala Noona. Yang susah membujuk Taeyang dan Hoseung Hyung,” kekehnya geli sembari melihat ke arah anak-anak mereka yang sedang serius berdebat entah tentang apa.
“Taeyang... aku sudah lama tidak bicara dengannya. Aku bahkan lupa nomornya,” kata Yoohan, membuat Kiyoon menimpali,
“Dari dulu juga Hyung tidak pernah ingat nomor Taeyang Hyung. Kalian tenang saja. Aku akan pastikan dua manusia itu hadir,” katanya yakin.
“Lagi-lagi dia menggunakan kartunya sebagai maknae, padahal sudah bukan maknae lagi,” balas Jinwoo, membuat orang-orang dewasa itu tertawa pelan.
Kecuali Nala yang hanya tersenyum tipis dan Junho yang sama sekali tidak bereaksi.
“Tidak sadar umur,” ledek Jihwan.
“Kalian tahu kita memang sudah selesai, tetapi kalian tidak pernah mencabut hak maknae-ku. Jadi, aku akan gunakan sampai aku mati,” ucap Kiyoon bangga.
Tawa mereka kembali pecah. Namun, belum sempat percakapan itu berlanjut, suara teriakan dari arah anak-anak membuat tawa mereka terhenti.
“KALIAN DIAM! Aku bilang salah... Bukan begitu konsepnya!” jerit Yul kesal.
Semua kepala langsung menoleh ke arah mereka.
Anak-anak itu masih berdiri dalam lingkaran kecil, masing-masing membawa pendapat sendiri. Para orang tua saling berpandangan, bingung, lalu mendekat kepada anak-anak mereka. Wajah Yul terlihat memerah karena kesal, sementara anak-anak lainnya masih mempertahankan pendapat masing-masing.
“Kenapa, adeul?” tanya Jinwoo, menatap putranya.
“Appa! Mereka ini tidak percaya saat aku bilang kaki dinosaurus itu besar karena badan mereka juga besar. Mereka bilang kakinya besar karena Tuhan memang membuatnya besar. Masa konsepnya seperti itu?” rengeknya, mengadu kepada Jinwoo.
Jinwoo mengerjap, lalu menahan senyum yang hampir lolos. Ia menatap Yoohan dan Jihwan, seolah meminta bantuan. Namun, keduanya justru sudah menunduk, bahu mereka bergetar menahan tawa.
“Yul-ah,” Jinwoo berdeham, mencoba terdengar serius. “Kaki dinosaurus itu besar karena—”
“Karena massa tubuh,” sela Yoohan cepat. Refleks akademisnya muncul lebih dulu daripada naluri sebagai orang tua. “Untuk menopang berat, struktur penyangga harus—”
Namun, ucapan Yoohan kembali terhenti.
“Tidak, Samcheon!” potong Min-kyu keras. Wajahnya masam. “Kalau hanya soal berat, kenapa burung yang badannya besar kakinya kecil? Itu soal evolusi, bukan cuma massa,” lanjutnya dengan bibir mengerucut.
“Ikh, Min-kyu, apa sih? Burung itu keturunan dinosaurus kecil, bukan yang besar. Lagipula, yang kita bicarakan dinosaurus darat, bukan yang terbang,” balas Seon-woo, tidak mau kalah. Tangannya terangkat seolah sedang mempresentasikan sesuatu di depan kelas.
“Dan Tuhan tetap menciptakan mereka, jadi argumen kalian tetap tidak lengkap kalau menghapus faktor penciptaan. Karena itu, alasan-ku lebih masuk akal,” sela Si-an tenang.
Jun-seok yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat pialanya sedikit, seperti palu sidang.
“Kalian salah fokus. Yang penting itu bukan kenapa kakinya besar, tetapi kenapa kita melukisnya besar. Itu pilihan sudut pandang,” katanya dengan nada sok dewasa yang membuat Nala refleks menutup mulut, menahan tawa.
Lingkaran kecil itu langsung riuh.
“Itu tidak ilmiah, Hyung!” balas Yul cepat.
“Itu seni!” jawab Jun-seok.
“Tapi harus ada dasar!” balas Min-kyu.
“Seni tidak selalu butuh dasar!” jawab Jun-seok lagi.
“Loh, kata siapa? Seni tanpa dasar itu bukan seni. Appaku bilang begitu,” Si-an ikut menyela, tidak ingin kalah.
“Ikh... kalian itu...” Jun-seok mengerutkan kening. “Bukan... akh!” gerutunya, mulai ikut kesal.
“Aku sudah bilang, kan? Dinosaurus memang kakinya besar karena badannya juga besar,” ucap Yul lagi, seolah-olah tidak menyadari bahwa topik pembicaraan sudah berpindah jauh.
“Tapi topiknya bukan itu sekarang!” jawab ketiganya serempak, sama-sama kesal pada Yul yang seenaknya kembali mengganti topik.
“Ikh... terserah aku saja,” ucapnya cemberut. Bibirnya mengerucut, sementara wajahnya mulai memerah. Matanya bahkan tampak berkaca-kaca karena kesal.
Suara mereka saling tumpang tindih, naik satu oktaf demi satu oktaf. Jinwoo membuka mulut lagi, Jihwan ikut mencondongkan badan, bahkan Yoohan sudah menghela napas panjang, bersiap masuk ke dalam debat yang jelas-jelas tidak akan ia menangkan.
Dan di saat itulah, suara Junho masuk. Tidak keras, tetapi cukup rendah dan tenang untuk memotong semuanya.
“Berhenti sebentar.”
Kata-kata itu menyela ucapan kelima anak tersebut dan anehnya, mereka langsung senyap.
Yul yang tadi hampir melompat-lompat mendadak menutup mulut. Min-kyu menghentikan gerakan tangannya. Seon-woo menurunkan bahu. Bahkan Si-an, yang biasanya paling tenang, ikut terdiam dan menoleh kepada Junho.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berani melanjutkan perdebatan, Junho hanya memandang mereka satu per satu dengan ekspresi tenang seolah-olah baru saja membubarkan rapat ilmiah paling tidak penting dalam sejarah keluarga mereka.
Junho melangkah mendekat satu langkah, tatapannya menyapu satu per satu wajah kecil di hadapannya—bukan untuk mengintimidasi, melainkan membaca.
“Kalian semua benar,” ucapnya akhirnya.
Beberapa pasang mata langsung membulat, merasa mendapatkan pembelaan. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama ketika Junho kembali berbicara.
“Dan kalian semua juga salah,” lanjutnya tanpa jeda.
“Samcheon...” rengek Yul sambil mengerutkan kening.
Junho berjongkok agar sejajar dengan mereka. Nada suaranya tetap sama, sabar dan terkendali, tanpa sedikit pun terdengar menggurui.
“Ilmu menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja. Seni menjelaskan bagaimana rasanya melihat sesuatu. Dan kepercayaan menjelaskan kenapa manusia membutuhkan makna,” katanya perlahan.
“Kaki dinosaurus bisa besar karena tubuhnya berat, karena evolusi, karena desain penciptaan dan di lukisan kalian, bisa besar karena kalian ingin menekankan kekuatannya.” Ia menoleh kepada Jun-seok.
Hening selama beberapa detik membuat anak-anak saling pandang, seperti baru saja diturunkan dari arena perang yang sebenarnya tidak pernah mereka sadari telah mereka masuki.
“Jadi...” Seon-woo mengangkat tangan dengan ragu. “Siapa yang menang?” tanyanya, jelas masih belum sepenuhnya memahami ucapan Junho.
Sudut bibir Junho terangkat tipis. Sangat tipis. Ia lalu menyentuh kepala putra sahabatnya itu.
“Tidak ada yang menang karena ini bukan lomba. Ini diskusi. Dan dengarkan Samcheon, dalam sebuah diskusi yang sehat, tidak ada yang mencari pemenang atau mencari siapa yang paling pintar. Yang ada adalah orang yang berbicara dan mendengarkan,” jawabnya.
“Berarti kita buang waktu?” gumam Min-kyu.
“Tidak. Kalian sedang belajar mendengarkan, dan itu bentuk kemenangan juga.” Junho menggeleng pelan.
Kelima anak itu hanya diam. Beberapa mengernyitkan dahi, sementara yang lain saling melirik, jelas masih mencerna penjelasan yang belum sepenuhnya masuk ke dalam kepala mereka.
“Betul juga... Terima kasih, Samcheon,” ucap Yul tiba-tiba. Anak itu langsung memeluk Junho tanpa aba-aba.
Junho sempat terdiam sesaat sebelum tangannya mengusap kepala Yul. Anak-anak yang lain kemudian ikut mendekat dan memeluknya, membuat Junho hampir kehilangan keseimbangan karena dikerumuni beberapa tubuh kecil sekaligus.
Kecuali Jun-seok, ia masih diam di tempatnya, pialanya masih berada di tangannya. Tatapannya tertuju kepada Junho, seolah-olah sedang menyimpan dan memikirkan baik-baik setiap perkataan ayahnya.
Dari belakang, Jinwoo mengembuskan napas lega. Setidaknya, sidang dinosaurus itu akhirnya resmi ditutup.
“Lihat, kan? Kalau Junho yang bicara, semuanya selesai,” bisiknya kepada Jihwan.
“Padahal aku sudah siap ceramah setengah jam,” gumam Yoohan datar.
Nala menatap Junho cukup lama, ada sesuatu di dadanya yang terasa menghangat sekaligus menyesakkan. Ia memperhatikan cara pria itu berbicara kepada anak-anak—tenang tanpa merendahkan, tegas tanpa mematahkan, dan sabar tanpa membuat mereka merasa salah hanya karena memiliki pendapat yang berbeda.
Sesuatu yang dulu begitu ia kenal. Nala segera mengalihkan pandangan sebelum perasaannya terbaca terlalu jelas.
Di saat yang sama, Jun-seok mendekat kepada ayahnya. Tangannya menarik ujung jas Junho pelan, membuat pria itu menundukkan kepala untuk menatapnya.
“Daddy... berarti lukisanku tidak salah, kan?” tanyanya setelah beberapa saat diam. Junho menoleh kepadanya lalu mengangguk mantap.
“Tidak. Lukisanmu jujur,” jawabnya.
Senyum Jun-seok langsung mengembang lebar. Ada rasa lega yang tampak jelas di wajahnya, seolah-olah satu hal yang sejak tadi mengganjal akhirnya menemukan jawaban.
“Kalau begitu, besok kita debat lagi soal naga!” seru Yul tiba-tiba. Semangatnya kembali seketika.
“Tidak,” jawab semua orang dewasa serempak.
Tawa langsung pecah.
Anak-anak sempat cemberut, tetapi beberapa detik kemudian mereka ikut tertawa. Pelukan mereka kepada Junho pun terlepas satu per satu, digantikan oleh suara riuh yang kembali memenuhi area parkiran.
Sore itu, di parkiran sekolah seni yang mulai dipenuhi para orang tua dan anak-anak yang hendak pulang, perdebatan kecil tentang dinosaurus berakhir bukan dengan kemenangan, melainkan dengan pengertian. Dan bagi anak-anak seusia mereka, mungkin itulah pelajaran paling berharga yang mereka dapatkan hari itu.