Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Bukan Tak Suka Perempuan
Nara
"Kau tahu orang bicara apa tentangmu?"
Bapak tidak menyuruhku duduk. Dia berdiri di balik meja kerja dengan ponsel terbuka pada grup keluarga besar. Di layar, puluhan pesan menumpuk di bawah satu voice note dari kerabat Solo.
"Saya tahu."
"Lalu kenapa kau diam?"
"Karena menjelaskan kehidupan pribadi kepada grup keluarga tidak akan menghentikan orang yang ingin bergosip."
Bapak meletakkan ponsel. "Ini bukan sekadar gosip. Mereka mempertanyakanmu sebagai penerus keluarga."
Aku hampir tertawa, tetapi wajahnya terlalu serius. "Kemampuan saya mengelola perusahaan tidak berubah karena menolak acara teh."
"Jangan pura-pura tidak mengerti." Suaranya turun. "Ucapanmu kepada Bu Marlina itu maksudnya apa?"
Aku memandang rak buku di belakangnya. Sejak kecil, percakapan dengan Bapak selalu menyerupai rapat: pertanyaan harus dijawab tepat, emosi diletakkan di luar ruangan. Kali ini dia bertanya sebagai ayah yang takut garis keluarganya berhenti padaku.
"Saya tidak tertarik pada perjodohan yang diatur tanpa persetujuan."
"Hanya itu?"
"Apa lagi?"
"Kau tiga puluh dua tahun. Tidak pernah memperkenalkan seorang perempuan. Setiap calon kau tolak. Sekarang kau mengatakan tidak tertarik di depan orang. Ibumu tidak tidur dua malam."
Aku menarik napas. Kemarahanku kepada Ibu sedikit surut. Cara beliau menghadapi takut memang salah, tetapi ketakutannya nyata.
"Saya bukan tak suka perempuan, Pak. Hanya belum ada yang cocok."
Itu jawaban yang kami berdua tahu tidak sepenuhnya benar. Ada seorang perempuan yang membuatku pulang lebih cepat, menyimpan sapu tangannya, dan kehilangan kendali setiap kali dia diperlakukan tidak adil. Masalahnya bukan tidak ada yang cocok. Masalahnya aku belum berani menyebut satu nama di ruangan ini.
Bapak memandangku lama. "Ada seseorang?"
Aku tidak menjawab.
"Nara."
"Kalau ada, saya akan bicara setelah saya tahu apa yang dia inginkan. Saya tidak akan memakai namanya untuk memadamkan rumor."
Bapak mengetuk meja sekali. "Jangan membuat keputusan yang menyeret keluarga sebelum memikirkan akibatnya."
"Itu juga alasan saya belum menyebut siapa pun."
"Dan kalau pilihanmu tidak sesuai?"
"Sesuai dengan ukuran siapa?"
Tatapannya mengeras. Aku teringat bibit, bebet, bobot yang dibacakan di meja makan. Percakapan ini belum menjadi pertengkaran, tetapi pagar itu sudah tampak di antara kami. Aku tahu suatu hari aku harus memanjatnya atau merobohkannya. Hari ini, tugasku hanya memastikan perempuan di balik pagar tidak dijadikan bukti untuk rumor yang bukan kesalahannya.
Mata Bapak menyempit. "Orang yang sama dengan alasanmu menolak daftar Ibu?"
"Saya menolak daftar itu karena tidak mau mempermainkan siapa pun."
"Kau selalu pandai menjawab tanpa memberi jawaban."
"Karena pertanyaannya menyangkut orang lain."
Bapak berjalan ke jendela. Sore menempel kelabu pada kaca. Dari bawah terdengar pintu dibuka dan suara langkah pekerja.
"Kalau begitu jangan bikin ibumu salah paham lagi," katanya. "Temui dia malam ini. Jelaskan bahwa tidak ada hal yang perlu ditakutkan."
"Saya akan jelaskan. Tapi Ibu juga harus berhenti mengatur pertemuan diam-diam."
"Bicarakan sendiri dengannya."
Nada itu menandai percakapan selesai. Aku mengambil ponsel, lalu membuka pintu.
Seorang pekerja rumah menunggu di koridor dengan wajah gelisah.
"Den Nara, maaf."
"Ada apa?"
"Bu Retno memanggil Sekar ke ruang keluarga. Katanya... katanya Sekar disuruh menyiapkan barang."
Segala ketenangan yang kupaksakan di depan Bapak runtuh.
"Sejak kapan?"
"Baru beberapa menit. Mbak Ratih juga di sana."
Aku tidak menunggu lagi. Jarak dari ruang kerja ke tangga hanya beberapa meter, tetapi rasanya terlalu panjang. Aku menuruni anak tangga dua sekaligus. Dari ruang keluarga terdengar suara Ibu.
"Mulai besok kau tak usah..."
"Bu, ini salah paham."
Suaraku memotong kalimatnya. Ketiga perempuan di ruangan itu menoleh.
Sekar duduk di ujung kursi dengan punggung tegak dan wajah sepucat dinding. Tangannya menggenggam rok. Ratih berada di seberang, sulit menyembunyikan kekecewaan karena aku tiba terlalu cepat.
Aku berdiri di samping Sekar, tidak menyentuhnya.
"Yang membuat saya bilang begitu bukan karena dia," kataku.
Ibu bangkit. "Kau membelanya lagi."
"Saya meluruskan kesalahan saya sendiri. Saya marah karena Bu Marlina menghina orang di rumah kita. Kalimat saya buruk, lalu orang memelintirnya. Sekar tidak menyebabkan itu."
"Sejak dia datang kau berubah."
"Berubah tidak selalu berarti dirusak."
Ratih mendengus. "Jadi dia membuatmu lebih baik?"
Aku menatapnya. "Setidaknya dia membuat saya sadar betapa mudahnya orang berkuasa menginjak orang yang tidak punya tempat pulang."
Ratih terdiam. Sekar menunduk lebih dalam.
Ibu menatap kami bergantian. "Kalau dia tetap di sini, rumor tidak berhenti."
"Kalau dia pergi, rumor akan menganggap keluarga mengaku bersalah. Lebih buruk, kita menghukum orang yang tidak melakukan apa pun."
"Aku ingin rumah ini tenang."
"Saya juga. Karena itu sumber masalahnya yang harus dibenahi. Buat klarifikasi bahwa saya menolak perjodohan, bukan perempuan. Minta admin menghentikan pembicaraan pribadi. Jangan lempar akibatnya kepada Sekar."
Ibu memijat kening. Aku tahu beliau mendengar logikanya, tetapi rasa malu membuatnya sulit mundur di depan Ratih.
Sekar tiba-tiba berdiri.
"Kalau Bu memang tidak menginginkan saya bekerja di sini, saya akan pergi," katanya. Suaranya bergetar, tetapi jelas. "Saya hanya mohon jangan bilang saya membuat Den Nara seperti apa pun yang orang tuduhkan."
Aku menoleh kepadanya. Dia bersiap menyerahkan satu-satunya tempat aman demi menjaga sisa harga dirinya.
"Kau tidak perlu pergi karena kesalahan saya," kataku.
"Den bukan satu-satunya yang memutuskan."
Kalimat itu menegurku tepat di tempat yang seharusnya. Melindunginya bukan berarti mengambil alih keputusan semua orang.
Aku menghadap Ibu. "Apakah Ibu menilai pekerjaannya buruk?"
"Tidak."
"Apakah dia terbukti melakukan sesuatu yang tidak pantas?"
Ibu diam.
"Tidak," jawabnya akhirnya.
"Kalau begitu jangan pecat dia karena rumor."
Keheningan berlangsung panjang. Ratih hendak bicara, tetapi Ibu mengangkat tangan.
"Sekar tetap bekerja," putusnya. "Untuk sekarang."
Udara masuk kembali ke paru-paruku.
"Terima kasih, Bu," kata Sekar.
"Namun jaga jarak. Jangan beri orang bahan baru."
"Baik."
Sekar berjalan keluar tanpa menatapku. Aku ingin mengejar, tetapi Ibu masih berdiri menunggu penjelasan yang lebih lengkap.
Di ambang pintu, aku melihat bahu Sekar turun sedikit, seolah baru meletakkan beban. Saat itulah sebuah rencana mengambil bentuk di kepalaku. Selama dia hanya dikenal sebagai pekerja rumah ini, siapa pun bisa mengancam gaji dan tempat tinggalnya setiap kali ingin menekanku.
Ruang itu harus aman dari rumor, amarah keluarga, dan kekuasaanku sendiri, sehingga pilihannya kelak benar-benar bebas tanpa rasa utang.
Aku harus memberinya jalan keluar yang terhormat, ruang untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Setelah itu, jika dia bersedia, aku akan datang kembali kepadanya bukan sebagai majikan yang menyelamatkan pekerja, melainkan sebagai lelaki yang meminta tempat di hidupnya.