NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Cahaya Pagi di Sudut Dapur

"Buatkan aku satu juga."

Aku menatap Bram, lalu rak bahan di belakangnya.

"Kalau Pak Darman tahu dua porsi hilang, hukumannya juga dua kali lipat."

"Catat atas nama saya."

"Bapak sering menyelesaikan masalah pakai nama sendiri?"

"Kalau masalahnya cuma dua genggam mi, iya."

Aku menahan senyum. "Baik. Tapi jangan protes kalau rasanya beda. Bumbu tadi sudah habis."

Kali ini aku tidak memasak sambil bersembunyi. Air kembali mendidih. Bawang putih kutumis sampai kuning muda, lalu segera kuangkat agar tidak pahit. Bram duduk tanpa memainkan telepon, tanpa mendesak, hanya memperhatikan setiap gerakanku.

Tatapan itu membuat tengkukku panas.

"Bapak belum makan malam?"

"Sudah."

"Lalu kenapa masih mau mi?"

"Baunya sampai kantor."

"Jadi Bapak keliling kesatrian tengah malam cuma karena bau bawang?"

"Saya sedang inspeksi."

Jawabannya terlalu cepat. Aku menunduk agar ia tidak melihat senyumku.

Mangkuk kedua kutaruh di depannya. Bram mencicipi satu suap, berhenti, lalu melanjutkan sampai setengah mangkuk tanpa berkata apa-apa.

Ia makan dengan punggung tegak, tetapi kecepatannya bukan milik orang yang sekadar ingin mencicipi. Dalam beberapa menit, kuah bumbu di dasar mangkuk sudah bersih. Bahkan potongan bawang yang menempel di sisi mangkuk ia kumpulkan dengan garpu.

"Dulu Wahyu juga makan begitu," kataku tanpa sengaja.

Gerakan Bram melambat. "Suamimu?"

Aku mengangguk. "Kalau pulang jaga malam, dia bilang cuma mau sedikit. Setelah itu pancinya ikut dikorek."

"Dia prajurit yang baik."

Aku menatapnya. "Bapak kenal?"

"Saya membaca laporan personelnya."

Jawaban yang aman. Tidak mengasihani, tidak pula berusaha mengambil tempat orang yang sudah tiada. Anehnya, itu membuatku nyaman.

"Terima kasih sudah bilang begitu."

Bram meletakkan garpu. "Anakmu mirip dia?"

"Matanya. Kalau sedang kesal, bibirnya mirip saya."

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa ingin tahu yang bukan sekadar pemeriksaan di wajahnya. Namun ia tidak melanjutkan pertanyaan.

"Nggak enak?"

"Kalau nggak enak, saya berhenti di suapan pertama."

"Orang biasanya bilang terima kasih."

Ia mengangkat mata. "Terima kasih."

Aku justru kehilangan kata-kata.

Sehelai bawang goreng menempel di sudut bibirku. Aku baru menyadarinya ketika tangan Bram terangkat. Ujung jarinya menyapu ringan kulit di dekat mulutku.

Tubuhku membeku.

Ia pun berhenti seolah baru sadar apa yang dilakukan. Matanya turun sepersekian detik ke selendang tipis di bahuku, lalu beralih ke mangkuk.

"Ada bawang," katanya datar.

"Bisa bilang."

"Sudah terlanjur."

Jantungku berdegup sampai telinga. Aku merebut dua mangkuk dan membawanya ke bak cuci.

"Sudah malam. Saya harus kembali ke Sena."

Bram berdiri. "Saya antar."

"Nggak perlu. Dari sini kelihatan."

Ia tidak memaksa. Namun aku merasakan tatapannya mengikuti sampai aku melewati pintu dapur.

Pagi berikutnya, dentang sendok sayur memukul panci membangunkan seluruh ruang makan.

"Siapa yang ambil mi?"

Suara Darman menggelegar di antara deret meja. Para prajurit berhenti mengunyah. Beberapa ibu Persit yang mengambil sarapan saling pandang.

Aku baru masuk sambil menggendong Sena. Kaki langsung terasa berat.

Darman mengangkat bungkus mi yang sudah terbuka. "Dua porsi. Margarin berkurang. Bawang goreng juga. Dapur satuan bukan warung dua puluh empat jam!"

Bu Ratna berdiri dekat panci nasi. Matanya jatuh pada wajahku, lalu pada Sena.

"Mungkin ada yang lapar malam-malam," katanya manis. "Orang baru kadang belum paham aturan."

Bisik-bisik muncul.

"Kemarin dia dapat nasi tambahan," ujar seseorang dari belakang.

"Sekarang ambil mi sendiri. Besok mungkin minta dapur khusus."

Aku mengenali suara perempuan yang mengejekku di tempat cuci. Kali ini ia cukup berani bicara tanpa merendahkan suara.

Sena bergerak gelisah. Keributan membuat bibirnya melengkung hendak menangis. Aku menepuk punggungnya sambil berdiri di antara puluhan tatapan.

"Jangan bawa bayi ke tengah urusan stok," kata Darman. Suaranya masih keras, tetapi matanya sempat memeriksa wajah Sena. "Duduk dulu. Nanti orang yang merasa mengambil datang ke dapur."

Aku hampir mengaku saat itu juga. Namun Bu Ratna melangkah mendekat.

"Kasihan Pak Darman kalau semua orang merasa boleh mengambil karena punya alasan," katanya. "Aturan dibuat justru untuk saat kita sedang susah."

"Benar, Bu," jawabku. "Karena itu pencatatan harus lengkap, termasuk siapa yang meminta makanan dibuat."

Alisnya bergerak. "Ada yang meminta?"

"Nanti saya jelaskan kepada petugas yang berwenang."

Wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak menyukai jawaban yang tak bisa dipelintir.

Aku maju satu langkah. Sebelum sempat bicara, pintu ruang makan terbuka.

Bram masuk bersama dua perwira. Suasana langsung senyap.

Darman memberi hormat. "Siap, Komandan. Kami sedang memeriksa kehilangan bahan."

Bram melirik bungkus mi. "Pagi ini ada lauk daging nggak?"

Darman berkedip. "Ada telur balado, Komandan."

"Saya tanya daging."

"Belum ada jatah daging sampai pekan depan."

"Kalau begitu fokus perbaiki menu. Prajurit habis latihan malam butuh makan cukup. Soal dua porsi mi, buat catatan dan laporkan ke logistik."

"Siap."

Ia berjalan ke meja depan tanpa sekali pun melihatku. Namun semua orang tahu pembicaraan telah ditutup.

Bu Ratna merapatkan bibir. "Dua porsi, ya?"

Aku menahan tatapannya. "Iya, Bu. Dua."

"Mbak tahu siapa yang makan?"

"Kalau Pak Darman meminta keterangan resmi, saya jawab resmi."

Sena menepuk dadaku dengan telapak kecil. Aku menggeser gendongan dan mengambil jatah sarapan.

Darman masih tampak tidak puas. Ia mencatat sesuatu di buku stok, lalu menunjuk salah satu prajurit dapur.

"Cari tahu siapa piket malam. Setelah sarapan, saya periksa kamar orang yang bertanggung jawab."

Beberapa kepala kembali menoleh kepadaku.

Aku duduk di ujung meja. Nasi di piring terasa kering, tetapi kupaksa menelan. Bram minum teh di meja depan, wajahnya tenang seolah semalam ia tidak duduk di dapur dan menyentuh sudut bibirku.

Sesaat sebelum pergi, ia meletakkan uang di bawah gelas kosong.

Jumlahnya lebih dari cukup untuk dua porsi mi.

Darman menemukan uang itu dan mengerutkan dahi. Bram sudah berjalan keluar.

Ia menghitung uangnya, lalu memeriksa buku stok. "Dua porsi mi nggak mungkin sebanyak ini."

"Mungkin sisanya untuk lauk daging," celetuk seorang prajurit muda.

Beberapa orang tertawa tertahan. Darman memukul meja dengan buku stok, tetapi ketegangan di ruangan sudah berubah. Tuduhan yang tadi mengarah kepadaku kini memiliki nama lain yang terlalu tinggi untuk mereka ucapkan sembarangan.

Bu Ratna mengambil piringnya dan pergi tanpa menyentuh telur balado.

Aku melirik uang di tangan Darman. Bram telah melindungiku tanpa membantah tuduhan secara terbuka. Cara itu membuat urusan stok tetap tercatat, tetapi juga membuat orang bertanya-tanya.

Dan pertanyaan di kompleks ini biasanya tumbuh lebih cepat daripada cabai di musim hujan.

"Komandan bayar apa?" gumamnya.

Tak seorang pun menjawab.

Menjelang siang, aku kembali ke kamar. Sena baru saja tertidur ketika tiga ketukan keras terdengar.

"Mbak Laras," suara Darman datang dari luar. "Kita perlu bicara soal mi tadi malam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!