Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : TAK PERNAH CUKUP
Pagi itu Laura bangun lebih awal dari biasanya. Semalam ia hampir tidak bisa tidur karena memikirkan kegiatan kampus yang ia lewatkan. Bukan hanya karena tugas kelompoknya, tetapi juga karena ia tahu dosen yang membimbing mereka cukup tegas terhadap mahasiswa yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas.
Setelah bersiap, Laura turun ke ruang makan. Suasana rumah masih cukup sepi. Dinda belum terlihat, begitu pula kedua orang tuanya. Laura mengambil sarapan sederhana sebelum berangkat. Ia tidak ingin terlambat lagi.
Di dalam mobil, pikirannya terus tertuju pada apa yang akan dikatakannya kepada dosen nanti. Laura sebenarnya tidak suka mencari alasan. Ia selalu berusaha menyelesaikan tanggung jawabnya sendiri, tetapi kemarin ia tidak memiliki pilihan lain. Ayahnya sudah memintanya menemani Dinda dan membatalkan kegiatannya di kampus.
Sesampainya di kampus, Laura langsung menuju ruang dosen setelah memastikan jadwal perkuliahannya. Ia mengetuk pintu perlahan.
"Silakan masuk."
Laura membuka pintu dan melihat dosennya sedang membaca beberapa dokumen. Ia berdiri di depan meja dengan sedikit gugup.
"Selamat pagi, Pak. Saya Laura Prayoga."
Dosen itu mengangkat wajahnya dan langsung mengenali Laura. "Laura. Duduklah. Saya memang ingin berbicara denganmu."
Laura duduk di kursi yang tersedia. Ia merapikan ujung bajunya sebelum akhirnya berkata, "Saya ingin meminta maaf karena kemarin tidak bisa hadir dalam presentasi kelompok."
"Saya sudah mendapatkan penjelasan dari anggota kelompokmu bahwa kamu memiliki urusan keluarga. Tapi saya ingin mendengarnya langsung dari kamu. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Laura terdiam sejenak. dia tidak ingin menceritakan masalah keluarganya terlalu jauh. Baginya, persoalan rumah adalah sesuatu yang seharusnya tetap disimpan sendiri.
"Kemarin ayah saya meminta saya menemani adik saya untuk mengurus beberapa keperluan keluarga. Saya sudah mencoba menjelaskan bahwa ada kegiatan kampus, tetapi akhirnya saya tetap harus pergi bersama mereka."
Dosen itu menghela napas. "Saya mengerti kamu memiliki kewajiban keluarga, Laura. Tetapi kamu juga memiliki tanggung jawab sebagai mahasiswa. Kamu termasuk mahasiswa yang jarang sekali bermasalah dengan kehadiran, jadi saya cukup kecewa ketika kamu tidak muncul."
Laura menundukkan kepala. "Saya mengerti, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Kalau diperbolehkan, saya ingin mengganti tugas atau melakukan presentasi susulan."
Dosen itu menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk. "Baik. Kamu bisa melakukan presentasi susulan minggu ini. Hubungi anggota kelompokmu dan pastikan bagianmu tetap selesai."
Senyum kecil muncul di wajah Laura. "Baik, Pak. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan."
"Jangan diulangi lagi." kata dosen nya.
"Iya, Pak." jawab Laura.
Laura keluar dari ruangan itu dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya masalahnya di kampus tidak sebesar yang dia bayangkan. Laura segera menghubungi teman-teman kelompoknya dan meminta materi yang tertinggal.
Hari itu Laura kembali menjalani perkuliahan seperti biasa. dia berusaha berkonsentrasi meskipun pikirannya sesekali kembali kepada rumah. Laura merasa bersalah karena harus meninggalkan teman-temannya kemarin, tetapi dia juga tidak tahu apa yang bisa dilakukannya selain menuruti permintaan ayahnya.
Ketika jam kuliah terakhir selesai, teman-temannya mulai mengajaknya makan bersama.
"Laura, ikut kami, yuk. Kita mau makan di tempat biasa," ajak salah satu temannya.
Laura tersenyum dan menggeleng. "Kalian duluan saja. Aku ada urusan."
"Urusan apa?" tanya teman teman nya.
"Ada pekerjaan." jawab Laura sedikit ragu.
Temannya terlihat heran. "Kamu kerja?"
Laura terdiam sebentar sebelum mengangguk. "Iya, paruh waktu."
"Sejak kapan?" tanya salah satu teman nya.
"Sudah beberapa bulan." jawab Laura.
Temannya mengerutkan kening. "Kenapa kamu tidak pernah cerita?"
Laura hanya tersenyum. "Tidak ada yang perlu diceritakan."
Padahal ada alasan yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun.Laura bekerja karena dia membutuhkan uang tambahan.
Uang yang diberikan ayah dan ibunya setiap bulan memang cukup untuk beberapa kebutuhan dasar, tetapi tidak cukup untuk membayar semuanya. Biaya kuliah, buku, tugas, transportasi, kebutuhan pribadi, dan berbagai keperluan lainnya terus bertambah.
Laura sudah beberapa kali meminta tambahan uang, tetapi setiap kali melakukannya, dia justru merasa seperti sedang meminta sesuatu yang terlalu besar.
Karena itu, Laura memilih mencari jalan sendiri.dia tidak ingin terus bergantung kepada orang tuanya.
Laura kemudian berpamitan kepada teman-temannya dan pergi menuju tempat kerjanya.
Sore itu, kedai tempat Laura bekerja cukup ramai. dia segera mengganti pakaian dengan seragam dan mulai membantu melayani pelanggan. Pekerjaan tersebut melelahkan, tetapi Laura sudah terbiasa. Setidaknya ketika bekerja, pikirannya bisa teralihkan dari rumah.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa.Ketika akhirnya pekerjaan selesai, Laura melihat jam di dinding.Sudah hampir pukul sepuluh malam.
Laura menghela napas. Tubuhnya benar-benar lelah. Namun masih ada satu hal yang lebih membuatnya khawatir.
Rumah.
Laura tidak tahu apakah ayahnya masih terjaga atau tidak.Laura segera pulang,Begitu sampai di rumah, Laura membuka pintu dengan hati-hati. dia berharap semua orang sudah tidur sehingga dia bisa langsung masuk ke kamar tanpa harus menjelaskan apa pun.
Namun harapan itu tidak sesuai kenyataan.Lampu ruang keluarga masih menyala.Richard duduk di sofa dengan wajah serius. Helena berada di sampingnya, sementara Dinda sedang memainkan ponselnya.
Laura berhenti di ambang pintu.
Richard langsung melihat jam tangannya sebelum menatap Laura."Dari mana kamu?"
Laura menggenggam tali tasnya. "Dari kampus, Yah."
"Jangan bohong." bentak ayah nya.
Suara Richard terdengar lebih keras.
Laura hanya diam.
Richard berdiri dari sofa. "Kampus sampai jam sepuluh malam?"
Laura menundukkan kepala. "Aku memang dari kampus, tapi setelah itu aku pergi bekerja."
Dinda yang sejak tadi diam langsung menoleh. "Kerja?"
Laura tidak menjawab.
Richard menatapnya dengan penuh kekecewaan. "Kamu sadar sekarang sudah jam berapa?"
"Maaf, Yah."
"Maaf?" Richard berjalan mendekat. "Kamu pulang selarut ini dan yang bisa kamu katakan hanya maaf?"
Laura menahan napas. "Aku tidak bermaksud membuat siapa pun khawatir."
"Yang kamu lakukan bukan membuat khawatir. Kamu membuat malu keluarga!"
Laura tidak tahu berkata apa,Kalimat itu terasa lebih sakit daripada bentakan sebelumnya.
"Malu?" tanyanya pelan.
"Iya. Apa yang akan orang-orang pikirkan kalau mereka tahu anak keluarga Prayoga bekerja di kedai seperti itu?"
Laura menggenggam tangannya sendiri."Aku hanya bekerja untuk membantu kebutuhan kuliahku."
Richard tertawa pendek, tetapi bukan tawa bahagia. "Membantu kebutuhan kuliah?"
dia menatap Laura dengan tajam"Apa uang yang Ayah dan Ibu kasih setiap bulan tidak pernah cukup?"
Laura tidak langsung menjawab"dia ingin mengatakan bahwa uang itu memang tidak cukup. dia ingin mengatakan bahwa biaya kuliah tidak murah. Laura ingin mengatakan bahwa setiap kali meminta tambahan, dia selalu merasa seperti sedang menyusahkan orang tuanya.
Namun semua kata itu tertahan di tenggorokannya "Uangnya cukup untuk sebagian kebutuhan, Yah," jawab Laura akhirnya. "Tapi biaya kuliah, buku, tugas, transportasi, dan kebutuhan lainnya juga banyak. Aku tidak ingin terus meminta uang kepada Ayah dan Ibu."
Helena ikut berbicara. "Kalau memang kurang, kamu bisa bicara baik-baik kepada kami. Tidak perlu sampai bekerja diam-diam seperti ini."
Laura menatap ibunya."Aku pernah bilang, Bu."
Helena terdiam.
Laura melanjutkan dengan suara yang semakin pelan, "Aku pernah minta uang untuk membeli buku. Ibu bilang aku harus belajar mengatur uang."
Suasana ruang keluarga mendadak hening.Dinda menatap Laura, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Richard menghela napas panjang. "Itu bukan alasan untuk membuat keputusan sendiri."
Laura mengangguk perlahan. "Baik, Yah."
"Mulai sekarang berhenti bekerja. Ayah tidak mau kamu pulang malam seperti ini lagi."
Laura mengangkat wajah. "Tapi, Yah—"
"Tidak ada tapi." bentak ayah nya.
Laura hanya bisa diam tidak tahu harus menjawab apa.
Richard kemudian kembali duduk di sofa. "Kamu seharusnya fokus kuliah. Jangan melakukan sesuatu yang membuat nama keluarga ini terlihat buruk."
Laura hanya mengangguk "Baik."
Laura pun berbalik dan berjalan menuju kamarnya.Tidak ada yang melihat bagaimana matanya mulai berkaca-kaca.
Begitu pintu kamar tertutup, Laura meletakkan tas kerjanya di atas kursi dan duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat lelah. Namun yang paling melelahkan bukanlah pekerjaannya.
Melainkan perasaan bahwa apa pun yang ia lakukan selalu dianggap salah.
Laura mengambil dompet dari dalam tas. dia mengeluarkan uang hasil kerjanya hari itu dan menghitungnya perlahan.
Jumlahnya tidak banyak,Tetapi uang itu cukup untuk membantu membayar sebagian kebutuhannya.Laura menatap uang tersebut sambil tersenyum pahit.
"Kalau aku berhenti bekerja, bagaimana aku membayar semuanya?"
Air matanya akhirnya jatuh,Laura segera mengusapnya dan menarik napas panjang. dia tidak boleh menyerah. Bagaimanapun juga, dia harus tetap menyelesaikan kuliahnya.
Laura tidak tahu berapa lama lagi dirinya sanggup terus bertahan seperti ini.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Laura mulai merasa bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi tempat yang paling membuatnya ingin pergi.
Dan tanpa Laura sadari, seseorang yang selama ini selalu mengingat dirinya sedang bersiap datang ke rumah itu.
Kakek Arthur.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯