NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Belasan preman anak buah Kobra ikut tertawa liar dan mulai melangkah maju bersiap menyeret tubuh Laras ke dalam gudang.

Kesadaran Laras mulai memudar, pandangannya berkunang-kunang dan rasa putus asa yang luar biasa besar menelan hatinya.

"Apakah aku akan mati di tempat kotor ini dengan cara yang menjijikkan?" batin Laras mengeluarkan air mata keputusasaan.

Namun tepat di detik kedelapan, sebuah tangan yang sangat kuat dan hangat mencengkeram kerah belakang seragam Laras.

Tangan itu menarik tubuh Laras mundur ke belakang dengan kecepatan kilat, membawanya keluar dari kepungan asap hijau beracun tersebut.

Wusss!

Embusan angin yang sangat kuat tiba-tiba datang dari arah belakang, menyapu bersih sisa asap hijau itu hingga lenyap tak berbekas ke udara.

Laras membuka matanya dengan susah payah, dan melihat siluet punggung bidang seorang pria berdiri tegak melindunginya.

Pemuda asing yang tadi sempat ditodongnya dengan pistol kini berdiri menghalangi jalan Kobra dan anak buahnya.

"Satu hal yang paling aku benci di dunia ini adalah pria jelek yang menggunakan racun murahan untuk menindas seorang wanita," ucap Genta dengan suara yang sangat sedingin es.

Kobra menghentikan tawanya, matanya menatap tajam ke arah Genta yang tiba-tiba ikut campur dalam urusannya.

"Siapa kau bocah tengik?! Berani-beraninya kau menghancurkan Asap Pelumpuh Otot kebanggaanku dengan tenaga dalammu!" bentak Kobra murka.

Genta tidak menjawab pertanyaan itu, dia justru berjongkok di samping Laras yang masih bernapas dengan sangat berat.

"Bertahanlah sedikit Nona Inspektur, rasanya akan sedikit perih tapi ini akan menyelamatkan nyawamu."

Tanpa meminta izin, Genta menekan dua jari tangan kanannya dengan sangat keras pada titik saraf di bawah tulang selangka Laras.

Jleb!

Laras memekik kesakitan saat energi panas dan tajam menembus kulitnya masuk ke dalam aliran darahnya.

Namun ajaibnya, energi panas itu langsung mendorong keluar semua sisa racun manis yang tadi menyumbat paru-parunya.

Laras memuntahkan cairan kehitaman dari mulutnya, dan seketika itu juga napasnya kembali normal dan tenaganya berangsur pulih.

"K-kau... kau menyelamatkanku? Tapi bagaimana mungkin kau menetralkan racun secepat itu?" gumam Laras menatap Genta dengan pandangan penuh rasa takjub.

"Istirahatlah di sini dan tonton pertunjukannya, biarkan aku yang mengurus tikus-tikus got ini," ucap Genta berdiri kembali dan merapikan jasnya.

Kobra yang melihat korban tawanannya diselamatkan dengan mudah langsung menggeram marah seperti binatang buas.

"Sombong sekali kau bocah! Bunuh dia sekarang juga dan cincang dagingnya untuk makanan anjing!" teriak Kobra memerintahkan belasan anak buahnya.

Dua belas pria bertubuh kekar langsung menerjang maju membawa golok dan palu godam ke arah Genta.

Laras yang masih duduk di tanah langsung menjerit memperingatkan Genta dari bahaya.

"Awas di belakangmu! Mereka membawa senjata tajam!" teriak Laras panik mencoba meraih pistolnya kembali.

Namun Genta sama sekali tidak menoleh ke belakang apalagi merasa panik.

[Teknik Pukulan Penghancur Tulang Level 1 diaktifkan penuh.]

Brak!

Genta melangkah satu tindak ke depan dan melayangkan satu pukulan lurus yang terlihat sangat santai ke arah dada preman pertama.

Bugh! Krak!

Suara tulang rusuk yang hancur berantakan terdengar sangat nyaring, tubuh preman berukuran raksasa itu langsung terpental ke belakang menabrak tiga temannya sekaligus.

Keempat preman itu terkapar di tanah tanpa bisa bangun lagi, mengerang kesakitan dengan darah segar mengalir dari mulut mereka.

Delapan preman yang tersisa langsung menghentikan langkah mereka, mata mereka melotot ngeri melihat kekuatan monster yang ada di depan mata.

"Kenapa kalian berhenti?! Serang dia bersamaan dasar idiot!" bentak Kobra dari belakang yang juga ikut terkejut.

Para preman itu menelan ludah dan terpaksa kembali menerjang maju karena takut pada bos mereka.

Namun pertarungan ini sudah berakhir bahkan sebelum dimulai.

Genta bergerak seperti bayangan hantu yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang manusia biasa.

Bugh! Krek! Krak!

Setiap kali Genta melayangkan pukulan atau tendangannya, pasti ada tulang lengan, kaki, atau rusuk yang patah dengan sangat presisi.

Dia tidak membunuh mereka, namun dia memastikan mereka semua cacat dan tidak akan pernah bisa memegang senjata lagi seumur hidup.

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, dua belas preman bersenjata tajam itu sudah tergeletak menumpuk di atas aspal membentuk lautan manusia yang merintih.

Genta berdiri di tengah tumpukan tubuh itu tanpa ada setetes keringat pun di dahinya, jasnya bahkan tidak kusut sedikitpun.

Laras yang menonton seluruh pembantaian sepihak itu dari jarak dekat merasa jantungnya berhenti berdetak.

Dia belum pernah melihat ilmu bela diri yang sebrutal, seefisien, dan seindah ini sepanjang kariernya di kepolisian.

Sosok pemuda asing itu kini terlihat sangat bersinar dan mendominasi di mata Laras, membuat wajahnya tiba-tiba memerah tanpa alasan.

Genta perlahan menggeser pandangannya ke arah Kobra yang kini berdiri sendirian dengan tubuh gemetar hebat.

"Sekarang tinggal kau sendiri Tuan Kalajengking, tunjukkan padaku racun murahan apa lagi yang kau sembunyikan di dalam jubah usangmu itu."

Kobra menggertakkan giginya menahan rasa takut dan amarah yang meledak di kepalanya.

"Jangan sombong dulu kau bocah! Kau mungkin kuat secara fisik, tapi kau tidak akan bisa menghindari Jarum Kutukan Darah ini!"

Kobra mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, dan tiga batang jarum berwarna hitam legam melesat dari balik lengan bajunya.

Jarum-jarum itu terbang membelah udara dengan kecepatan luar biasa, mengincar titik buta di leher dan dada Genta.

Jarum hitam itu dilapisi racun korosif yang bisa melelehkan daging manusia dalam hitungan detik setelah menembus kulit.

Laras kembali menjerit ngeri melihat serangan mendadak itu.

Namun Genta hanya tersenyum meremehkan melihat trik kelas teri dari musuhnya.

[Mengeluarkan Item: Satu Set Jarum Emas Seribu Jiwa.]

Cahaya keemasan berkedip redup di telapak tangan Genta yang bergerak lebih cepat dari kilat.

Trang! Trang! Trang!

Tiga jarum hitam beracun itu bertabrakan di udara dengan tiga jarum emas yang dilemparkan oleh Genta.

Jarum hitam milik Kobra langsung hancur menjadi serpihan debu saat berbenturan dengan Jarum Emas Seribu Jiwa yang memiliki aura suci.

Namun serangan Genta tidak berhenti sampai di situ.

Satu jarum emas tambahan melesat menerobos pertahanan Kobra dan menancap tepat di tengah telapak tangan kanannya.

Jleb!

"Arrrgghhh!"

Jerit Kobra melolong kesakitan yang luar biasa mengerikan.

Jarum emas itu tidak hanya menembus dagingnya, tapi dengan paksa memaku telapak tangan Kobra ke daun pintu kayu gudang di belakangnya.

Lebih parah lagi, energi suci dari jarum emas itu mulai membakar dan membersihkan aura racun hitam yang ada di sepanjang jalur meridian lengan Kobra.

Rasa sakit dibersihkan paksa dari ilmu hitam terasa ribuan kali lipat lebih menyiksa dibandingkan dibakar oleh api sungguhan.

Kobra meronta-ronta di depan pintu gudang seperti cacing kepanasan, air matanya tumpah membasahi wajahnya yang penuh tato.

Genta melangkah pelan mendekati pria yang sedang menjerit itu, auranya benar-benar menunjukkan siapa penguasa absolut di malam ini.

"Jarum emasku ini akan menghancurkan seluruh ilmu racun yang kau pelajari dengan susah payah selama puluhan tahun."

"Sekarang katakan padaku, siapa bos besar di balik sindikat ini yang menyuruhmu meracuni warga kota dengan kosmetik murah ini?!"

Genta menekan pangkal jarum emas itu sedikit lebih dalam, membuat Kobra kembali melolong nyaring.

"Ampun! Cabut jarum ini kumohon! Aku akan bicara!" rintih Kobra tidak tahan lagi disiksa.

"Aku hanya anggota bawahan dari Sekte Ular Hitam! Kami disewa oleh seseorang dari Asosiasi Medis Kota untuk membuat wabah ini!"

Pengakuan mengejutkan itu membuat langkah Laras yang baru saja berhasil berdiri kembali terhenti mendadak.

"Asosiasi Medis Kota?! Kau berbohong! Mereka adalah pahlawan yang menyembuhkan pasien di kota ini!" bantah Laras tidak percaya.

Genta tertawa pelan dan menatap Laras dengan pandangan kasihan.

"Pahlawan dari mana Nona Inspektur? Mereka sengaja menciptakan wabah agar mereka bisa memonopoli penjualan obat penawarnya dengan harga gila-gilaan."

"Bisnis kotor orang berseragam putih itu terkadang jauh lebih mematikan dari preman jalanan."

Kobra mengangguk cepat membenarkan ucapan Genta, berharap nyawanya segera diampuni.

"Itu benar! Seseorang bernama Dokter Wijaya yang membayar sekte kami untuk memproduksi kosmetik racun ini sebulan yang lalu!"

Misteri di balik epidemi sisik merah akhirnya terbongkar secara utuh di malam itu.

Genta menarik kembali jarum emasnya, membuat Kobra jatuh tersungkur ke aspal dengan tangan kanan yang sudah lumpuh permanen.

Genta kemudian berbalik badan dan berjalan menghampiri Laras yang masih syok memproses kebenaran kotor tersebut.

"Tugasku sudah selesai di sini Nona Polisi, sisanya aku serahkan padamu untuk membersihkan sampah-sampah ini dan menyegel gudangnya."

Genta melambaikan tangannya santai tanpa berniat menunggu tim bantuan polisi datang.

Laras buru-buru menahan lengan Genta, wajahnya terlihat sangat panik takut kehilangan jejak pria hebat ini.

"Tunggu dulu! Aku belum tahu siapa namamu dan di mana aku bisa mencarimu untuk memberikan kesaksian resmi di kantor polisi!"

Genta menoleh sedikit dari balik bahunya, memberikan senyum miring yang sangat karismatik dan membekas di hati.

"Namaku Genta, dan aku tidak suka berurusan dengan birokrasi kepolisian yang lambat."

"Jika kau merindukanku, datang saja ke Klinik Tabib Genta di seberang gedung Asosiasi Medis Kota besok siang."

Tanpa banyak bicara lagi, Genta melesat pergi dan menghilang ke dalam pelukan kabut malam pelabuhan.

Meninggalkan Inspektur Larasati yang mematung dengan jantung berdebar sangat kencang dan wajah yang merona merah.

[Ding!]

[Misi menghancurkan dalang epidemi berhasil diselesaikan dengan sempurna.]

[Mendapatkan bukti kejahatan petinggi Asosiasi Medis Kota.]

[Poin Reputasi Master bertambah 8000 Poin.]

Suara notifikasi sistem menemani langkah pulang Genta malam itu, memberikannya senjata pamungkas untuk mengakhiri kesombongan Dokter Wijaya esok hari.

1
nurul khusna
❤❤
yani
💕💞💕
pricilia
🥰🥰
Anton barly
🥰🥰🥳🥳
fitri
/Gift//Gift//Gift//Gift//Gift/
Antoni gergio
💞💞💞💞💞
Angel
🌹🌹🌹🥰🥰🥰
Shinta geol
❤❤❤❤
clara
andai di dunia nyata ada🥹
Jamrud Khatulistiwa
sistem sangat pelit, setiap misi tdk sda hadiah
Jamrud Khatulistiwa
sistim tdk pernah memberi tahu hadiah yg diberikan
Jamrud Khatulistiwa
murid orang sakti mendapat sistem
Gege
katanya diawal sudah belajar banyak di gunung Rinjani.. nyatanya masih bergantung sama sistem...tapi gpp biar lebih op laah MC nyaaaah .pesen 10 hareem yaa Thor...jangan lembek..🤭
Cherlly: iya kaka,judul nya aja sistem kaka,next crita ya kaka saya lagi mikir lgi biar menarik 😊😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!